Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
21. Ilmu baru


__ADS_3

Rey berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Reva.


"Ibu, ibu... Bangun Bu!!" Rey menepuk lengan ibunya yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan wajah menelungkup di samping Reva.


"Hemm.... Ada apa Rey." Ibu bangun dengan mengusap wajahnya.


"Bu, Alisa akan melahirkan, dia ada di ruangan bersalin!" ucap Rey dengan nafas yang sedikit memburu.


"Benar kah, Ayo kita kesana!" Ibu beranjak sambil membetulkan hijab lalu Rey menutup pintunya.


"Kak!" Aldo bingung melihat Rey yang terburu-buru, ingin sekali dia bertanya.


"Tolong kau jaga Reva, kami akan ke ruang bersalin, Alisa akan melahirkan." Ibu menjelaskannya.


"I.. Iya.. Aku akan disini Bu." Aldo sedikit gugup.


Rey dan ibunya masuk ke ruangan bersalin. tampak Alisa sedang menahan sakit di pinggang dan perut nya.


"Sayang." Ibu memegang tangan Alisa dan mengusap kepalanya.


"Ibu, ini sakit sekali." ucap Alisa wajahnya sangat tegang.


"Sayang kau yakin akan melahirkan secara normal, tidak di operasi saja?" Rey sangat khawatir melihat istrinya.


"Tidak, Aku masih kuat menahannya." Alisa menggenggam tangan Rey. Tak lama Dokter dan ke dua suster datang memasuki ruangan.


"Ibu mohon maaf, bisakah ibu keluar dulu. agar kami bisa melakukan tugas kami dengan benar." Dokter itu meminta.


"Tapi dok?" Ibu menatap menantunya yang sedang kesakitan dan mendekatinya.


"Sayang, kau harus kuat. Ingat kau sedang berjihad, imbalannya adalah Surga Allah. Tapi jika kau tidak kuat, operasi pun tak apa-apa. Kami semua menyayangi mu." Ibu mencium kening Alisa.


"Iya Bu, do'akan aku agar aku bisa Bu." Alisa mulai menangis.


"Itu pasti sayang."


"Silahkan Bu, hanya suaminya saja yang menemani." Salah satu suster meminta ibu keluar.


"Iya sus." Ibu keluar dengan berat hati, sangat tidak tega meninggalkan menantu yang sedang berjuang antara hidup dan mati.


Di luar ibu tampak gelisah, kesana kemari menggenggam tangannya.


"Ibu."


Ibu di kejutkan suara Aldo memanggil. membuat nya menghentikan kegiatan mondar-mandir yang tidak disadari sudah berapa kali ia lakukan.


"Kau tidak tidur ?"


"Tidak." Aldo mendekati ibu Ani.


"Duduk lah bu, kalau berdiri terus ibu akan lelah." Aldo mengajak Ibu duduk dengannya.


"Kau benar, tapi sungguh ibu tegang sekali, baru saja Reva kecelakaan sekarang Alisa Melahirkan." Ibu meremas tangannya sendiri.


"Ibu, aku minta maaf, aku juga merasa bersalah atas kecelakaan yang Reva alami." Aldo menjeda ucapannya." Jika saja aku tidak melamar Reva kemarin, mungkin dia tidak akan jadi begini." Aldo menunduk.

__ADS_1


Ibu memperhatikan Aldo yang duduk di samping nya.


"Ibu tidak menyalahkan siapa pun. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk Reva." Ibu berkata dengan suara yang lembut.


Aldo masih menunduk seperti menyesali dan sangat merasa bersalah.


"Jika Reva adalah jodohmu, tuhan akan mendekatkannya padamu. Kau berdoa saja, dan berusaha." Ucap ibu lagi dengan tersenyum.


"Apa aku layak menjadi menantu ibu?" Aldo bertanya dengan ragu-ragu.


"Kau tampan sekali, seharusnya Reva juga menyukai mu." Ibu tertawa, dia tak ingin anak muda di sampingnya menjadi tegang.


Aldo ikut tertawa, sambil mengusap-usap tengkuknya, pujian dari calon mertua membuatnya salah tingkah.


Hampir satu jam mereka menunggu tapi belum ada yang keluar dari ruang bersalin. Ibu kembali cemas "Kenapa lama sekali," ibu berdiri memandangi pintu ruangan bersalin.


Tapi kemudian pintunya terbuka, dokternya keluar bersama suster di belakangnya dengan membawa Bayi mungil.


"Dok." Ibu mendekati dokternya.


"Anak ibu sudah melahirkan, bayinya perempuan, akan di bawa ke ruang bayi untuk di bersihkan." Ucapnya.


"Syukurlah, Alhamdulillah." Ibu mengusap wajahnya.


Rey keluar dari ruangan.


"Ibu, aku akan mengadzani bayiku dulu." Rey mengikuti dokter yang membawa bayinya.


"Alisa bagai mana?" Tanya ibu khawatir.


"Dia sehat Bu, suster sedang membersihkannya, sebentar lagi ibu boleh masuk untuk menemaninya." Ucap Rey sambil melangkah meninggalkan ibunya.


Aldo yang sedari tadi hanya menyimak dan turut bahagia. Tba-tiba dia teringat Dev. sejak tadi dia tak melihat temannya itu. Aldo membuka ponsel untuk menghubunginya. " tidak aktif." Gumamnya.


Sekali lagi dia mencoba, tetap sama tidak aktif juga. "Apa dia sudah pulang? Tapi pulang kemana?" Aldo tampak berfikir.


"Nak, ibu harus menyusul Rey dulu, mungkin dia butuh ibu untuk mengurus bayinya."


"Iya Bu,"


"Sebaiknya kau tidur, kau pasti lelah." Ucap ibu lagi sambil beranjak meninggalkan Aldo.


Aldo memang sangat mengantuk, dia menyandarkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata.


***


"Hey, bangun." Rey menepuk bahunya.


Aldo menarik nafas dan membuka matanya.


"Kak." Ucap Aldo sambil mengusap matanya.


"Kita sarapan, aku lapar!!" Ajak Rey, entah mengapa Rey jadi kasihan melihat pria yang ikut repot berjaga di depan kamar istrinya, menemani ibunya dan selalu memperhatikan adiknya.


"Iya kak. Aku ke toilet dulu." Ucap Aldo.

__ADS_1


"Aku tunggu di kantin."


***


"Hallo!"Aldo menerima panggilan ponselnya.


"Kau tidak pulang, apa hari ini kau akan bekerja?"


"Iya, sebentar lagi aku pulang."


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya David.


"Iya," jawabnya singkat.


Aldo mematikan ponsel dan langsung menemui Rey di kantin.


"Duduk lah, aku sudah pesan nasi goreng dua, kalau kau tidak suka kau pesan lah yang lain. " Tanya Rey.


"Itu saja kak, aku lapar sekali. Terakhir aku makan siang bersama Reva kemarin siang." Ungkapnya.


"Aku juga sama." Keduanya tertawa.


"Kak, Apa semalam Dev pulang?" Tanya Aldo.


"Iya. Aku yang mengantarnya."


"Aku coba menghubungi nya tapi tidak aktif." Aldo menjelaskan.


"Kau sibuk merayu adikku, sampai teman mu hilang kau tidak tau!" Rey menertawainya.


"Aku benar-benar tidak tahu kak." Aldo jadi salah tingkah.


"Sebaiknya kurangi sedikit Bucin mu itu, demi menjaga kewarasan." Candanya lagi.


"Apa bisa begitu, setahu ku tidak bisa?" Ucapnya polos sekali.


"Entahlah, aku juga tidak begitu mengerti." Rey jadi berfikir.


"Apa dulu dengan kak Alisa tidak mengalaminya?" Aldo jadi penasaran.


"Yang Bucin Alisa, bukan aku!"


Aldo jadi heran mendengarnya.


"Apa yang kakak lakukan sehingga membuat kak Alisa bucin?" Aldo jadi sangat ingin tahu, dia berfikir itu adalah ilmu baru.


"Aku sedikit mengacuhkannya, karena kami beda Agama. Dan karena aku sedikit memberi harapan tapi tak terlalu memperlihatkannya dia jadi mengejarku."


"Benarkah begitu?" Aldo seperti memikirkan sesuatu.


"Kau tidak boleh mencobanya saat ini, kesempatan mu hanya sedikit!" Rey seperti sudah tau apa yang di pikirkannya.


"Lalu aku harus bagai mana?" Aldo sudah kehilangan rasa malunya kali ini.


"Kau ini, nikahi dulu adik ku, itu jika kau berhasil." Ucapnya.

__ADS_1


Membuat Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ayo makan, aku sudah tidak tahan."


__ADS_2