
Reva terkejut dan langsung menoleh ke asal suara. "Mas." Ucapnya, melihat Aldo berjalan cepat kearahnya meraih tangan Gara dan membuangnya kasar.
"Kita pulang sayang." Aldo memegang kedua tangan Reva, yang terlihat kesulitan berdiri. Sekilas Reva melihat sorot mata suaminya tajam dan dingin, ini pertama kali dia melihat itu.
"Kaki ku sakit mas." Ucapnya meringis. Benar saja Aldo langsung menggendong dan membawanya pergi tanpa menoleh Galih Anggara yang masih duduk di tempat mereka terjatuh.
Di dalam mobil keduanya tak saling bicara, Aldo menatap lurus ke depan, sorot matanya masih tajam dan dingin, wajahnya datar dengan bibir tertutup rapat.
Sesekali Reva menolehnya kemudian kembali menatap ke depan. Kali ini Reva sangat takut melihat suaminya diam membisu, bagaimana menjelaskan kesalahpahaman ini, entahlah. Hingga mobil sudah berhenti di depan rumah mereka. Aldo keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuknya. Reva menatap wajah tampan yang dingin itu mendekatinya lalu menggendongnya masuk kedalam.
"Bi, ambilkan air hangat untuk mengompres kakinya." Perintah Aldo pada asisten rumah tangga yang baru saja menghampiri.
"Iya mas." BI Tuti langsung ke belakang mengambil air hangat dan membawanya ke kamar majikannya.
Aldo membaringkannya di ranjang, melepas sepatu yang di kenakan istrinya lalu mengompresnya sendiri.
"Sini biar saya saja mas, sekalian di pijat biar ga sakit lagi." Aldo mundur membiarkan istrinya di pijat bi Tuti.
"Sakit bi!" Reva meringis ketika kakinya sedikit di tarik paksa.
"Habis ini ga sakit lagi non, emang jatuhnya gimana posisinya?" Tanya wanita berdaster itu.
"Kepleset bi, posisinya duduk." Reva melirik suaminya yang masih diam tak mengatakan apapun.
"Aduh non, kalo lagi hamil bisa keguguran jatuh kayak begitu!" Sontak membuat Aldo jadi semakin kesal.
"Sudah ku bilang jangan macam-macam di sana, malah berduaan sampai pegang-pegang seperti orang pacaran." Aldo mendengus kesal pergi ke kamar mandi, tanpa memberi kesempatan Reva menjawabnya.
"Udah non, besok juga sembuh. Saya ke bawah dulu ya, siapin makan malam." BI Tuti tersenyum dan segera berlalu. Dia tidak mau terlibat dalam perang pengantin baru.
Aldo sudah selesai mandi dan berganti pakaian, sepertinya dia akan pergi.
"Mas, aku bisa jelaskan semuanya." Reva mencoba mengajak bicara. Aldo sibuk dengan pakaiannya.
__ADS_1
"Mas, dengarkan aku!" Reva agak mengeraskan suaranya kali ini.
"Apa?" Aldo menatap wajah istrinya, tapi tak ada kehangatan terpancar di wajahnya.
"Aku tidak sengaja mas, dia hanya mencoba menahan ku agar tidak jatuh." Jelas Reva padanya.
Aldo berbalik berdiri menghadap istrinya. "Aku tidak suka istriku di sentuh siapapun. Tapi sepertinya kau memberi kesempatan padanya untuk menyentuhmu." Ucap Aldo dengan aura dinginnya.
"Mas aku tidak begitu, kau jangan menuduhku tanpa berfikir lebih dulu." Reva kesal mendengar kata-kata suaminya.
"Kalau tidak memberi kesempatan lalu apa, kau berjalan berdua dengannya, apa kau masih menyukainya?" Aldo meninggikan suara.
"Mas, tolong jaga bicaramu." Suaranya terdengar parau, dia mulai menahan tangis.
Aldo keluar meninggalkan Reva sendirian dikamar, dia pergi bekerja tanpa mencium kening istrinya. Cemburu sudah menguasai hati, ingin rasanya marah dan menghajar seseorang, pikirannya kacau ketika mengingat pria itu sangat menikmati suasana berdekatan dengan istrinya.
Hingga tiba di Cafe, Aldo duduk di kursinya menyandarkan tubuh yang lelah berharap lelah di hatinya juga sedikit berkurang.
David tertawa, jelas dia sudah tau, baru saja Ayu menelepon dan bercerita padanya. Tapi dia tak ingin membuat temannya itu semakin emosi, David memilih meninggalkannya.
Hingga pukul 20:00 Aldo menyibukkan diri dengan laptopnya, berusaha untuk melupakan masalahnya.
"Ada temanmu." David memanggil Aldo mengarahkan jarinya pada meja tak jauh dari mereka. Aldo kemudian meninggalkan laptopnya dan menghampiri pria yang sudah duduk di sana.
"Tumben kau datang kemari." Aldo sangat tak ramah kali ini.
"Aku hanya sedang galau, jadi aku kemari." Ucap pria itu terlihat santai.
"Apa yang membuatmu galau?" Aldo menatapnya penuh selidik.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Dia balik bertanya.
"Apa istriku menghubungimu?" Tanyanya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Tidak, kenapa kau menanyakan itu padaku?" Pria itu jadi heran.
"Setiap kali kami ada masalah kau selalu meneleponku, kali ini kau datang kemari mengatakan kau sedang galau." Aldo menatap tajam padanya.
"Kau tidak percaya pada ku?" Pria itu merendahkan suaranya.
"Tidak. Aku bahkan tidak percaya siapapun sekarang." Aldo membuang pandangannya ke lain arah.
"Kau boleh tak percaya padaku, tapi kau harus percaya pada istrimu. Jika kau hanya mengandalkan emosi seperti ini, aku yakin istrimu sedang tidak baik-baik saja."
Aldo tak menjawabnya.
"Terkadang aku iri padamu, kau bisa menikmati hari-harimu bersama orang yang kau cintai, sedangkan aku hanya pasrah menjalani sisa hidupku. Seandainya aku boleh meminta, aku ingin menjadi dirimu sebentar saja. Karena kau memiliki semua yang aku inginkan, harusnya kau bersyukur." Tambahnya lagi dengan suara pelan dan sedih.
"Maaf." Aldo kemudian beranjak meninggalkannya sendirian.
***
Pintu kamar terbuka, ternyata memang tak ditutup semenjak dia pergi. Dia mendekati istrinya yang sedang memejamkan mata, begitu lembut, cantik dan damai tergambar diwajahnya. Di atas meja ada beberapa bekas obat dan air putih, sepertinya dia minum obat hingga tertidur. Aldo mendekati tubuh ramping itu, mengelus jemarinya yang halus dan lentik. Dulu ia sangat bangga saat pertama kali menggenggamnya di rumah sakit. Aldo beralih memperhatikan wajah yang tertidur pulas, bahkan saat ia melihatnya di ponsel Dev untuk pertama kali hatinya sudah ingin memiliki. Tak terbayang bahagianya bisa bertemu di Vila dan melihat wajah itu secara langsung. Sungguh rasa itu tak pernah berubah bahkan semakin besar menguasai hati dan jiwa. Sangat takut kehilangan.
Aldo memeluk dan menciumnya, nafasnya berat penuh penyesalan sudah menuduh dan marah padanya. "Sayang, maafkan aku." lirihnya. Ternyata itu membangunkan gadis itu, matanya mengerjap indah.
"Mas." Panggilnya, lirih dan sedih terdengar.
Aldo langsung mendekapnya erat, menciumi kepala dan pundak tanpa henti. "Sayang maafkan aku. Aku terbawa emosi hingga melukai hatimu." Ungkapnya penuh penyesalan.
Reva membalas pelukannya, dia tak bicara apapun. Hanya deru nafasnya saja yang terdengar lantang berhembus di telinga Aldo.
Aldo melonggarkan pelukannya melihat wajah yang di ajaknya bicara. "Sayang, apa kau masih marah." Tanyanya.
Reva menggeleng, lalu kembali memejamkan matanya dengan memeluk lengan Aldo. Sepertinya obat yang di konsumsinya masih berpengaruh, dia benar-benar ingin istirahat.
"Aku sangat mencintaimu sayang. Maafkan aku." Ucapnya, berbaring memeluknya erat. Tadinya dia ingin istrinya sedih dan menyesal, tapi pada akhirnya dialah yang bersedih dan menyesal, cinta sudah membuatnya serba salah.
__ADS_1