Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
147. Siapa Dimi?


__ADS_3

"Sepertinya dia anak baik mas." Reva masih menatap punggung anak itu hingga menghilang dari balik pintu.


"Iya." Aldo mengajak istrinya naik ke atas untuk beristirahat, perjalanan jauh membuatnya lelah dan rindu tentunya.


"Halo Dev, aku ingin memperlihatkan seseorang padamu." Aldo sudah tidak sabar ingin memberi tahu sahabatnya perihal anak yang mirip itu.


"Seseorang? Siapa?" suara Dev terdengar penasaran.


"Aku akan kirim fotonya." Aldo mengakhiri panggilan telepon, dan langsung mengirimkan sebuah foto.


Beberapa menit berlalu, tak ada respon, tak ada balasan atau panggilan. "Ah apa dia tidak melihat bahwa anak itu mirip dengannya?" Aldo jadi gelisah. Lama ia menunggu dengan hati yang penasaran, tapi tak kunjung dapat jawaban.


Suara deru mobil terdengar berhenti di halaman rumahnya, Aldo yang sedang menyandar menjadi sedikit menoleh melihat siapa yang datang.


"Dimana kau bertemu dengan anak ini?" Dev masuk dengan buru-buru langsung memperlihatkan foto yang dikirim Aldo.


"Kau penasaran sekali hingga datang kemari secepat kilat?" Aldo tak langsung menjawab.


"Katakan padaku dimana kau menemukannya?" Dev terlihat sangat tidak sabar.


"Aku jadi curiga?" Aldo masih saja bermain-main.


"Kau_" Dev tidak jadi melanjutkan kata-katanya, ia tahu sahabatnya sedang menguji kesabaran.


"Duduk!" Aldo memberi perintah kali ini, tampak pria itu menurut dengan pasrah.


Aldo tersenyum menang, sedikit merasa aneh dan lucu. "Aku menemukannya di Bali bersama Anggara, dia menolong Anggara saat kena copet. Kau tahu, dia hidup sendirian tanpa orang tua seperti aku, ibunya sudah meninggal dan ayahnya masih ada tapi berada di tempat yang jauh, aku kurang mengerti." jelas Aldo.


"Bali?" Dev tampak memikirkan sesuatu.


"Ayah!" panggilan itu membuyarkan lamunan Dev, pria itu menoleh ke arah sumber suara yang membuatnya semakin terkejut.


Lama ia memperhatikan wajah anak yang mendekat ke arah Aldo, dan seperti anak itu juga sedang memperhatikan dirinya. Mata yang sama, bentuk pipi dan rambut yang sama, hidungnya sama, hanya bibirnya yang berbeda, bibir itu mengingatkan Dev pada seseorang, Mey.


Anak kecil itu terpaku melihat Dev, tanpa terasa butiran bening jatuh di sudut pipinya seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Dimi, mengapa kau menangis?" Aldo jadi terheran-heran melihat kejadian yang aneh menurutnya.


Anak itu langsung mengusap air matanya berulang-ulang, lalu pergi masuk kembali ke kamarnya.


Aldo ingin mengejar anak itu namun ia juga bingung melihat Dev yang masih tertegun dengan mulut terbuka.


"Dev." Aldo mencoba untuk menghentikan lamunan pria itu.

__ADS_1


"Boleh aku bicara dengannya?" tanya Dev dengan suara pelan.


"Biar aku saja, aku rasa dia sedang terkejut melihatmu. Tapi, kenapa dia menangis saat melihatmu?" tanya Aldo.


"Tolong kau tanyakan siapa nama ibunya, aku mohon padamu untuk membuatnya nyaman. Aku merasa dia adalah_" Dev menghentikan ucapannya.


Aldo menunggu ucapan itu di lanjutkan, namun sepertinya Dev tidak yakin.


"Aku pulang." ucapnya berlalu dengan langkah yang lemas.


"Aneh sekali." Aldo bergumam sendiri.


"Mas, siapa yang datang?" Reva baru saja turun dengan wajah yang mencari orang yang datang.


"Sudah pulang sayang, tadi Dev yang datang menemui Dimi, dia begitu penasaran hingga memintaku untuk menanyakan siapa nama ibunya." Aldo meraih tangan istrinya untuk duduk.


"Apa dia mengenalnya?' Reva jadi penasaran sekali.


"Aku tidak tau sayang, atau jangan-jangan?" Aldo tampak berpikir.


"Jangan-jangan apa mas?" tanyanya lagi.


"Ayo kita tanyakan." Aldo beranjak menuju kamar Dimi di ikuti Reva di belakangnya.


Tampak anak itu sedang duduk di ranjang empuk dengan mata sendunya sedikit basah, dia baru saja menangis.


"Kenapa kau menangis sayang?" Aldo ikut menanyainya.


"Kata ibu, ayahku ada di tempat yang jauh, aku rasa dia sudah melupakan aku." ungkapnya dengan suara kecil khas Dev saat kecil.


"Apa dia mirip paman yang tadi?" Aldo menebak apa yang dia pikirkan.


Dimi diam tidak menjawab, wajahnya menunduk tak berani menatap.


"Boleh Ayah tahu siapa nama ibumu?" tanya Aldo, dia juga sudah sangat penasaran.


Dimi menatap wajah Aldo, sejenak ia terdiam. "Meisya." jawabnya kemudian.


"Oh, kalau ayahmu?" tanya Aldo ingin tahu lebih banyak.


Dia kembali menunduk, entah apa yang dia pikirkan membuat Aldo jadi menebak-nebak.


"Baiklah, kau jangan menangis, kau boleh bermain di depan ada mainan untukmu, nanti akan ayah belikan lagi saat akhir pekan." Aldo berusaha menghiburnya.

__ADS_1


"Baik Ayah, terimakasih." jawabnya begitu sopan.


Aldo meninggalkan Dimi sendirian, paling tidak wajah polos itu sudah tidak menangis.


"Ayah!" Panggilnya tiba-tiba.


Aldo berbalik di ikuti Reva yang juga penasaran. "Ya." jawab Aldo.


"Apa paman yang tadi tinggal di dekat sini?" tanya Dimi dengan wajah polosnya mendongak ke atas melihat Aldo yang sudah di ambang pintu.


"Iya, rumahnya tidak jauh. Jika kau menyukainya kita akan ke sana bersama-sama." Aldo menjelaskan.


Anak itu tersenyum, Aldo jadi lega kali ini Dimi tak lagi bersedih, walaupun di satu sisi ia masih memiliki banyak pertanyaan, antara anak itu dan sahabatnya.


"Mas, menurutmu ada apa dengannya?" Reva menutup pintu kamar Dimi perlahan.


Aldo menoleh pintu lalu mengajak Reva duduk di ruang keluarga.


"Aku jadi curiga Dev pernah melakukan itu dengan seseorang, dan jangan-jangan?" Aldo menatap wajah Reva seakan mencari jawaban.


"Tunggu!" Aldo membuka ponsel dan mengirim pesan untuk Dev, tentu Dev sedang menunggu kabar darinya tentang nama ibu dari anak kecil yang baru saja sehari tinggal di rumahnya.


"Mas!" Reva kembali memanggil Aldo dengan tatapan sulit di artikan.


"Ada apa sayang?" Aldo meraih tubuh berisi itu kedalam pelukan hangatnya.


"Dulu kau bekerja dengan gaji besar dan kedudukan yang tinggi, Apa kau pernah bermain perempuan?" dapat di lihat dari wajahnya wanita cantik itu sedang khawatir.


"Hah!" Aldo menunduk menatap Reva tak percaya.


"Aku sedang bertanya mas?" ucapnya lagi.


"Aku tidak pernah bermain perempuan, bahkan tidak pernah dekat dengan wanita." jawab Aldo jujur, dia memang tidak pernah bermain wanita.


Reva menatap wajah Aldo mencari kebenaran atas kata-katanya, dia tidak percaya. Wajah tampan dan banyak uang mana mungkin dia tidak pernah pacaran, wanita sudah jelas akan mengejarnya.


"Kenapa?" Aldo mendekatkan wajahnya, ia tahu istrinya sedang khawatir akan masa lalu.


"Aku takut kau meninggalkan benih yang bisa saja sudah tumbuh menjadi pohon muda." jawabnya membuang pandangannya tak mau menatap Aldo.


"Ah, sayang." Aldo memeluknya. "Aku bukan laki-laki murahan seperti yang dikatakan adik angkatmu yang menyebalkan itu." Aldo terkekeh geli.


"Bisa saja mas, itu buktinya! Jika tidak pernah menanam mana mungkin akan tumbuh dengan subur?"

__ADS_1


__ADS_2