
"Assalamualaikum ibu ..!"
"Oh sayang, kenapa baru menelepon ibu, apa kau tidak rindu ??"
"Tentu saja aku rindu, kapan kak Alisa akan melahirkan, .?" Reva duduk di halaman belakang.
"Sepertinya Minggu depan. Kakak iparmu tidak mau di operasi, jadi dia akan menunggu dengan sabar, Alisa ingin menikmati setiap prosesnya dia ingin berjihad katanya." Ibu menjelaskan
"Itu bagus sekali ibu, kak Alisa memang hebat tetap Istiqomah. Aku jadi terharu." Reva bahagia mendengar kakak iparnya yang belum genap dua tahun mualaf tapi tidak pernah menyerah.
"Sayang, Ayu mana ??
"Dia ada di dalam bu, tadi ada pria yang titip salam untuknya. dia jadi kesal !"
"Coba kau panggil sebentar, ibu ingin bicara."
"Baiklah, ibu tunggu sebentar.!" Reva masuk dan tak lama keluar bersama Ayu.
"Hallo nyonya ..!!"
"Sayang, kapan kau bisa memanggilku ibu ?"
"Maaf..!" Jawabnya pelan.
"Ada apa sayang, apa kau baik-baik saja ?" Tanya ibu.
"Aku baik-baik saja."
"Sayang, jangan marah jika ada yang mencintaimu, bisa jadi dia adalah laki-laki yang akan menjagamu dunia dan akhirat. Jodoh itu rahasia Tuhan. Jangan membenci laki-laki, tanpa mereka kita tak akan ada di dunia, jangan berkeras hati."
Ayu menatap bosnya. "Iya .. aku akan memikirkannya."
"Kalau begitu ibu tutup telepon nya, hati-hati di sana ya. Ibu menyayangi kalian. !"
"Aku juga.." Matanya berkaca-kaca, sudah sangat lama sekali tak mendengar kata itu dari mulut ibunya yang saat ini entah dimana.
"Sini..!" Reva menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Ayu, kita akan menyewa jasa siapa untuk mencari ibumu ?" Reva ingat semalam mereka membicarakan itu.
"Aku tidak tau !"
"Kau bilang semalam sudah ada."
"Entah lah..." Ayu menarik nafas berat.
"Kalau aku meminta Aldo untuk mencarinya, apa kau setuju ?" Reva menatap sekretaris nya penuh harap.
"Apa dia akan bersedia .??" Ayu jadi meragukan itu.
"Aku akan berbicara dengannya, lagi pula dia tidak terlalu sibuk. Mungkin dia kenal dengan Detektif atau orang-orang Pak Hartawan."
"Benar juga, mungkin mereka kenal Detektif, Pak Hartawan orang yang Hebat." Ayu tertarik dengan ide bosnya.
***
Di tempat lain, Aldo dan David sedang mengendarai Motor barunya.
"Kita belanja Dulu, aku harus membeli seragam yang baru, !!" Aldo berbicara dengan David yang sedang mengemudi.
Namun tiba-tiba motor mereka hampir di tabrak sepeda motor dari arah berlawanan. beruntung David banting setir ke kiri dan akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi jatuh di pinggiran jalan.
"Padahal aku sudah pelan...!!" David bersungut-sungut.
"Kau tidak apa-apa ??" Aldo menghawatirkan temannya.
__ADS_1
"Tidak, hanya lututku sakit. Tapi tidak apa-apa, hanya sedikit ." David mengangkat kendaraannya. Mereka berdua mengecek keadaan sepeda motor nya, tak ada yang rusak, hanya lecet sedikit saja.
Tapi David menemukan sesuatu.
"Aldo... !!" David memperlihatkan temuannya,
benda kecil bulat sedikit pipih.
"Alat Sad...!!" belum selesai berbicara mulutnya sudah di tutup oleh David.
"Apa kita jadi belanja ? " David memberikan kode, mengedipkan matanya sambil berbicara.
"Ah iya, kita beli seragam yang baru." Jawab Aldo sambil mencari sesuatu yang lain, dia khawatir masih ada yang lainnya tidak hanya satu.
"Kenapa kau beli seragam yang baru, bukankah seragammu sudah ada dari kantor ?!" sambung David masih dengan berpura-pura.
"Celana seragam ku robek, robeknya di bagian inti, jadi aku tidak bisa memakainya." Aldo menjawabnya asal.
"Kenapa bisa Robek di bagian itu, apa peliharaan mu sudah tumbuh gigi ?" tanyanya lagi.
"Tidak, .. Aku menjemurnya di pagar, karena terburu-buru aku menariknya. Kemarin saat aku ingin memakainya, ternyata sudah robek. Kenapa kau bilang punyaku tumbuh gigi, apa itu artinya..??" Aldo menahan tawa.
"Ahh .. Jangan sampai punyaku tumbuh gigi, nanti istriku jadi takut.." David mengacungkan jempol.
Aldo menginjak Alat penyadap itu, memastikan sudah tak ada yang lainnya, lalu mereka pulang.
Sesampainya di rumah,.
"Kita sudah tidak aman, terutama aku..!!" Aldo khawatir.
"Artinya kita harus cepat, kita harus pecahkan masalahnya, besok aku akan menemui Pak Hartawan. Agar masalah ini cepat selesai." David menyandarkan badannya.
"Aku juga ingin ini cepat selesai. Aku lelah bermain detektif -detektifan seperti ini." Aldo kembali memikirkan Reva.
"Aku mau nya begitu, tapi aku tidak tau bagai mana melamarnya,. ??"
"Ya kau katakan saja kau ingin menjadikannya istrimu. "
"Tidak sesederhana itu." Aldo tampak menahan nafas berat. "Dia tunangan sahabatku, dia sakit dan tidak akan menikahinya. Lalu dia ingin aku menikahinya." Tambahnya lagi.
"Apa kau mencintainya ??" David semakin ingin tahu.
"Tentu saja,. . Aku tidak bisa memikirkan apapun jika sudah di dekatnya. Jujur saja, aku sudah tidak tahan lagi sangat ingin menikahinya." Aldo tersenyum tapi juga khawatir.
"Kau siapkan dirimu, diterima atau tidak itu hasil akhir, yang penting kau sudah berusaha. Tapi yang kulihat dia juga mencintaimu. !!"
"Aku juga merasa begitu, tapi dengan kondisi begini, aku takut malah membuatnya marah."
"Kau sabar saja. Kalau dia jodohmu, Tuhan akan menunjukan jalannya." David menyemangati.
"Apa kita hubungi Ayu saja ?" Aldo memberi usul.
"Kau saja. Aku tidak berani !"
"Kau ini." Aldo mengambil ponselnya dan menghubungi Ayu.
"Hallo"
"Ini aku !"
"Dari mana kau tau nomorku ?!" Tanya Ayu ketus.
"Kau kan Bekerja sama dengan bos ku, aku tau semua datamu. "
"Sudah ku duga. Aku ingin bertemu dengan mu, kita perlu bicara !!" Suaranya terdengar marah.
__ADS_1
"Aku yang menelpon kau yang mengajak bertemu, apa kau merindukan teman ku ini ?" Aldo menggodanya lagi.
"Di taman dekat Restoran xxx sekarang." Ayu langsung memutuskan teleponnya.
"Menyeramkan sekali..!" Aldo melihat ponselnya sendiri.
"Ayo kita berangkat..!!" mereka beranjak pergi.
***
"Mana Reva, apa dia tidak ikut..??" Aldo melihat ke sana kemari mencari sosok gadisnya.
"Tidak, aku pergi sendirian, aku perlu bicara denganmu.!!" Dia memasang wajah yang datar.
"Ada apa, apa ada yang penting ?" Wajah Aldo menjadi serius.
"Siapa kalian sebenarnya. Aku tidak percaya kalian hanya pegawai biasa. Terutama kau !!" Menunjuk wajah Aldo.
Membuat Aldo dan David saling pandang. "Baiklah, kami orang kepercayaan pak Hartawan, kami sedang membongkar rahasia orang-orang kantor yang berkhianat bahkan mengancam nyawa nya." Aldo memegang jarinya sendiri, dia khawatir ayu akan memusuhinya dan akan sulit bertemu dengan Reva.
"Aku ingin minta bantuan pada mu." Ayu masih dengan wajah datarnya, membuat David tak berani bicara.
"Katakan saja." Jawab Aldo.
"Aku ingin menemukan ibuku, aku ingin kau mengenalkan ku dengan siapapun yang bisa menemukannya !!" Tatapan nya sedikit memohon.
Aldo dan David kembali saling pandang.
"Ayu, sebenarnya.... Aku menemukan ini di bawah meja pak Hartawan ?" Kali ini David bicara, walaupun dengan sangat hati-hati.
Ayu mengambil foto di tangan David, sejenak dia memperhatikan, lalu matanya terlihat sedih.
"Apa kau mengenalnya ?" Sambung David lagi.
"Dia Ibu ku, bagai mana bisa foto ibu ada di sana ??" matanya mulai berkaca-kaca.
"Kami tidak tahu, tapi aku janji padamu, akan menyelesaikan itu secepatnya." David seperti dapat hadiah satu Milyar. Akhirnya ada celah untuk mendekati pujaan hati yang galak.
"Aku akan membantu, aku ingin ini segera berakhir, aku ingin hidup tenang." Aldo juga meyakinkannya.
"Itu benar, dia ingin melamar bosmu itu." Lalu David menutup mulutnya dengan tangan karena Aldo memelototi nya.
"Kau benar-benar ingin melamarnya ?" tatapan tajam sang sekretaris kembali ia perlihatkan.
"Iya. Tapi aku takut dia ....??!!" Aldo menghentikan kata-kata nya.
"Pastikan kau tidak main-main dengannya. Jika kau tidak serius, lebih baik kau urungkan saja niatmu itu." Ucap ayu dengan santainya.
"Aku tidak akan mengurungkan niatku. Aku akan melamar Reva secepatnya. "
"Mengapa terburu-buru??" Tambah Ayu lagi.
"Aku ... takut kehilangan. ." Jawab Aldo pelan.
Ayu hanya menatapnya dengan senyum sinis. "Ternyata kau sudah jatuh cinta berat dengan nya." Ayu beranjak mengambil tasnya akan pergi.
"Tunggu !" David memanggilnya.
Ayu hanya menoleh.
"Aku akan membantu mu. Apa aku boleh menghubungimu jika aku memerlukannya ?" Tanya David ragu-ragu.
"Iya, dia memiliki nomor ku." Ayu menunjuk Aldo lalu pergi dengan mobilnya..
Aldo dan David terdiam dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1