Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
171. Terjebak cinta duda


__ADS_3

"Aji tumben kau datang malam-malam begini, mana Erita?" Reva menyapa anak pamannya itu dengan ramah, mempersilahkan dia masuk dan duduk bersama.


"Erita ada di rumah kak, aku hanya ingin bertamu sekalian bicara." ucapnya ragu, wajah polosnya terlihat lucu.


"Bicara apa?" Reva bertanya dengan suara lembutnya.


"Tentang Erita Kak, aku ingin dia ikut bekerja bersamaku, itu juga kalau kakak sudah tidak begitu repot mengurus Zahira." ucapnya terbata-bata.


"Boleh saja, sebenarnya kakak tidak sedang repot, lagipula kakakmu ada di sini sekarang. Tapi kenapa Erita tidak bicara langsung, bukankah kemarin dia ada di sini?" tanya Reva begitu penasaran.


"Oh, itu sebenarnya_ aku yang ingin dia bekerja kak." jawab Aji masih dengan menunduk dan ragu.


"Kenapa Aji, apa uang jajan yang Kakak berikan terlalu sedikit?" tanya Reva halus.


"Bukan, bukan Kak. Tapi_ " dia kembali berpikir.


Reva menjadi sangat heran dengan adik sepupu jauhnya itu, ia ingin sekali mengetahui alasannya akan tetapi tak mungkin ia memaksanya.


"Kakak ambil minum untukmu." Reva beranjak sebelum akhirnya Aldo datang dan duduk bersama Aji.


"Kak!" Menyapa gugup.


"Apa kau sudah makan? Jika belum kau makanlah dulu." tanya Aldo pada pria lugu itu.


"Sudah kak." jawabnya sungkan.


"Kau ini tidak usah terlalu sopan begitu." Aldo jadi ikut serba salah melihat Aji begitu menghormatinya.


Dia tersenyum kaku.


"Ada apa?" tanya Aldo tahu pasti ada yang penting sehingga pria pendiam itu datang padanya.


"Aku ingin mengajak Erita bekerja di Cafe." ucapnya langsung menjawab.


"Boleh, kau atur saja di waktu yang dia nyaman, sebaiknya di siang hari." jawab Aldo tak keberatan.


"Terimakasih." ucapnya, lalu terdiam.


"Memangnya ada apa?" tanya Aldo masih menangkap kebingungan di wajah Aji.


"Sebenarnya, aku ingin tahu tentang teman kakak, tentang kak Dev." jawab Aji.


"Dia temanku, dari kecil aku bersamanya."

__ADS_1


"Sebenarnya, aku mengajak Erita bekerja karena aku tidak ingin Erita terlalu dekat dengan dia, aku takut Erita jatuh cinta dengan orang yang baru dia kenal." jelasnya memberanikan diri.


"Apa Dev menyukai adikmu?" tanya Aldo penasaran.


"Sepertinya, begitu." jawabnya pelan.


"Sebenarnya dia adalah orang baik, dia itu pernah bertunangan dengan kakakmu hingga karena satu alasan dia meninggalkan kakakmu dan meminta aku menikah dengan Kakakmu." jelas Aldo serius.


Aji masih menyimak, dia sudah pernah mendengar itu, namun tak terlalu peduli karena dia pikir tidak penting untuk dirinya.


"Kau tahu alasannya meninggalkan kakakmu?" Aldo menatap serius. "Dia terkena HIV."


"Apa?" Aji membulatkan matanya, pria itu sungguh terkejut mendengar itu semua.


"Iya, itu sebabnya kami pernah bertengkar karena dia tidak sanggup melupakan kakakmu." jelas Aldo lagi.


"Tapi kemarin dia menikah?" tanya Aji dengan wajahnya masih sangat heran.


"Benar, tapi kau tahu sendiri istrinya seperti apa, jujur saja wanita itu bukanlah yang di inginkan Dev, seleranya tidak seperti itu. Dia tidak menyukai wanita yang terlalu berani, tapi dia berusaha menerima karena ingin melupakan kakakmu. Tapi malah hancur begitu, wanita itu tidak menyukai kehadiran Dimitri."


"Dimitri itu anak siapa?" Aji sungguh-sungguh ingin tahu.


"Anak Dev dengan wanita masa lalu yang menularkan penyakit HIV itu padanya, beruntung dia memiliki anak kecil itu dan sungguh dia tidak bersalah. Dimitri sehat, dia tidak mewarisi penyakit kedua orang tuanya, itulah keajaiban." Aldo tersenyum.


"Apa adikmu menyukainya?" tanya Aldo dengan hati-hati.


"Sepertinya begitu Kak." jawabnya lagi, wajahnya terlihat khawatir.


Aldo jadi ikut khawatir kali ini, ia tidak tahu harus berkata apa.


"Ada apa mas?" tanya Reva lembut sambil membawa minuman dan makanan ringan untuk dua orang pria yang terlihat sedang berpikir.


"Sayang, duduklah sebentar." Aldo menepuk kursi di sampingnya.


"Aji sedang khawatir, dia takut Dev dan Erita saling menyukai." ucapnya tanpa basa-basi.


"Hah!" wanita cantik itu menatap Aji dengan bingung.


"Itu sebabnya dia kemari dan minta izin untuk mengajak Erita bekerja." jelas Aldo lagi.


"Atau kita pulangkan saja dia ke kampung kak?" pria itu sungguh sedang buntu.


"Kau ajak erita bicara. Kalau hati sudah merasa, berpisah jauhpun akan tetap merasa ada. Jarak tak akan dapat memisahkan perasaan seseorang, aku rasa berikan saja dia pengertian, mungkin dengan begitu Erita bisa paham." Reva menjawabnya halus.

__ADS_1


"Bagaimana jika dia tetap menyukainya?" jawab Aji semakin cemas.


"Kau cobalah dulu, soal Dev kau tak perlu khawatir, dia tak akan menyakiti adikmu, dia sungguh paham dengan keadaan dirinya. Dia tidak akan menyentuh adikmu apalagi mengambil adikmu dengan paksa, percayalah dia tidak begitu." Aldo meyakinkannya.


"Baiklah, aku rasa aku memang perlu meyakinkannya." jawab Aji tak menemukan jalan lain.


"Minumlah, jangan terlalu kau pikirkan. Tuhan sudah mengatur semuanya dengan baik." Reva tersenyum sedikit menghibur adik sepupunya yang lugu itu.


Aji tersenyum walau hatinya semakin tak menentu, hingga tak lama kemudian ia berpamitan untuk pulang.


"Aku harus pulang Kak." ucapnya beranjak dari kursi empuk itu.


"Iya, dan ingat jangan memarahi adikmu." pesan Aldo dengan menepuk punggung Aji.


"Iya." jawabannya.


Rumah kediaman mereka tampak tertutup, namun seorang lelaki masih duduk di depan dengan menyalakan rokok di tangannya.


"Kak!" Aji menyapa.


"Kau sudah pulang?" tanya Dev pada pria yang baru saja memarkirkan sepeda motor miliknya.


"Iya, hanya sebentar ke rumah kak Aldo." jawabnya duduk sebentar tak jauh dari kursi Dev.


"Oh, ada apa kau ke sana?" tanya Dev terlihat akrab.


"Hanya minta izin untuk mengajak Erita bekerja." jawabnya jujur.


"Ke Cafe itu?" tanya Dev menatap Aji serius.


"Iya." Aji tersenyum sedikit.


"Mengapa tidak kau minta saja Erita bekerja di kantor kakakmu, di sana lebih aman dan punya masa depan yang baik."


"Benar, tapi untuk sementara aku bisa sambil menjaganya." jawab Aji sedikit ragu.


"Kau tahu, tadi siang Adi mengantarkan Erita pulang, jujur saja aku tidak suka karena sudah jelas dia bukan orang baik, ku rasa kau lebih baik menjauhkan adikmu dari orang seperti dia." jelas Dev dengan menatap jauh ke jalan di depan sana.


"Benarkah?" tanya Aji tak percaya.


"Kau tanyakan saja pada adikmu, aku khawatir apa yang kau lihat itu dia tak akan bisa menahannya jika sering berdua dengan adikmu." Dev menatap serius wajah Aji yang juga sedang memperhatikan dirinya.


Aji menunduk sejenak, ia jadi serba salah. Dia sekarang benar-benar bingung, kesal tapi tidak tahu harus kesal pada siapa. Mengajak Erita datang ke sana malah menjadi keputusan yang salah, harapan gadis itu akan memulai karier dari nol, tapi malah terjebak cinta duda.

__ADS_1


"Apa kakak Menyukai Erita?"


__ADS_2