Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
130. Ternyata


__ADS_3

Suasana yang mereka ciptakan sendiri dengan berkhayal hal yang indah membuat keadaan semakin tak terkendali, gadis itu semakin bersikap manja begitu juga Dev semakin menggila dengan keinginannya untuk membuat Mey mengandung. Sedikit harapan baginya mungkin jika Mey mengandung anaknya akan merubah keadaan dan bisa bersama selamanya.


Begitu juga di malam selanjutnya, mereka kembali pergi mencari makan dan banyak buah-buahan yang tiba-tiba saja menjadi favorit gadis itu. Dev menuruti semua maunya dan tak jarang sedari pulang kerja ia menelepon Mey dan membelikan sesuatu yang ia mau. Namun setiap kali Dev bertanya perihal kehamilan Mey selalu menjawab tidak, membuat Dev kecewa namun tak bisa apa-apa.


"Sayang, benar kau tidak hamil?" tanya Dev di pagi itu, mereka duduk di rumput yang hijau di puncak bukit dekat rumahnya, sungguh Dev masih di buat penasaran.


"Aku sangat menginginkannya Dev, tapi mungkin belum saat ini." kata-katanya meluluhkan hati.


Dev menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pria tampan itu semakin bingung. "Apa milikku ini tidak ada isinya?" gumam Dev.


Gadis itu terkekeh geli mendengarnya. "Bukan tidak ada isinya, tapi kurang banyak!" ungkapnya masih tertawa.


"Itu sudah sangat banyak Mey." jawabnya ikut tertawa.


"Tapi aku masih ingin yang lebih banyak." Mey menggodanya.


"Kau sengaja?" Dev mulai menggelitik tubuh kecil itu.


"Tidak, aku serius." jawabnya dengan tertawa bahagia, tangan kecilnya berusaha menahan tangan besar yang menggelitik seluruh tubuh imut itu.


"Kau pikir bisa melawanku?" canda Dev lagi, pria itu merapatkan giginya menahan gemas dan juga rasa sayang yang membuncah luar biasa.


"Ampun Dev, aku menyerah." tawanya tertahan dengan nafas yang tersengal-sengal, tubuh kecil Mey sudah menelentang pasrah.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan milikku." ucapnya menggendong tubuh kecil itu penuh semangat, mengajaknya berputar-putar dengan ringannya ia memeluk dan mencium dengan gemas sekali.


Hingga akhirnya tiba hari di mana ayah Mey kembali dari perjalanannya.


Hari itu Dev baru saja pulang bekerja, ia langsung masuk dan beristirahat di kamarnya. Niat hati ingin segera bertemu Mey namun dengan keberadaan ayahnya Dev tak akan berani. Bukan tidak berani, namun Mey selalu melarang Dev untuk tidak memberitahu tentang hubungan mereka. Dev berbaring sambil memainkan ponselnya, melihat foto-foto yang membuatnya tertawa juga bahagia. Gadis cantik dan imut itu selalu mengisi hari-harinya, berbagai cerita dan rasa sudah mereka jalani bersama. Dan rasa rindu itu semakin menggebu karena melihat banyak foto di dalam ponselnya. Dev beranjak keluar dari kamar dan melihat tangga menuju ke atas, ingin rasanya ia naik dan segera berjumpa kekasihnya Mey.


Tanpa terasa kakinya maju selangkah demi selangkah menaiki tangga, rasa rindu yang tak tertahankan itu membuat kakinya berjalan tanpa sadar semakin naik keatas. Sayup-sayup terdengar suara yang begitu aneh, membuat Dev memasang telinganya lebih tajam dan langkahnya semakin naik ke atas.


Suara itu semakin jelas dan sepertinya itu suara ayahnya, dan itu bukan suara biasa melainkan suara sedang bercinta.


Jantung Dev berdegup kencang, hatinya sudah tidak karuan dengan pikiran yang menebak-nebak. Dan akhirnya dengan langkah pasti Dev naik hingga dapat melihat apa yang ada di lantai atas tersebut.


"Mey." ucapnya pelan, menahan sesak di dada dan air mata, nafasnya seakan berhenti lemas seluruh tubuhnya. Ingin rasanya menjatuhkan diri dari atas tangga agar segera mati dan tidak menyaksikan pemandangan yang membuatnya nyeri.


"Setega itu kau membohongiku Mey." ucapnya pelan, melangkah menuruni tangga dengan tak bertenaga. Dev kembali masuk ke dalam kamarnya mengumpulkan nyawa yang ia rasa sempat hilang karena pemandangan itu, ia tertunduk lemah. Ingin rasanya segera kabur dari rumah mewah itu, namun ingat kontrak kerjanya masih beberapa Minggu lagi. Dan lagi, Dev butuh kejelasan dari Mey yang terlihat polos tapi menipu.


Lama ia menunggu hingga akhirnya suara deru mobil terdengar menjauh, artinya pria itu sudah pergi walau Dev tidak tau sudah berapa lama ia datang atau mungkin sengaja datang sejak pagi saat Mey di rumah sendiri.


Dev berdiri dengan menarik nafas, mengumpulkan kekuatan untuk berbicara pada gadis itu. Gadis yang akhir-akhir ini menemani malam panjangnya. Dan sudah berhasil membuatnya jatuh cinta. Dengan segenap rasa kecewa ia keluar dari kamarnya berharap rasa kecewa itu memberinya kekuatan untuk mengahadapi kenyataan.


Perlahan langkahnya berlalu dari ruangan itu, hingga sampai di lantai atas. Dev melihat sofa besar itu sudah rapi namun pintu kamar Mey terbuka dan dapat di lihat selimutnya berantakan. Dev memberanikan diri mendekati kamar itu, namun tak menemukan Mey di sana. Kamar itu seperti sedang sengaja di hancurkan seluruh isinya, barang-barang Mey berantakan di lantai dengan semua peralatan make up milik Mey pecah hancur tak bersisa.


"Dev." panggil Mey begitu pelan, wajah menjadi pucat dan terlihat gugup.

__ADS_1


Dev diam tak bicara namun tatapan kecewa itu begitu membuat gadis itu mengerti bahwa tadi Dev melihat semuanya. Tak salah gadis itu mendengar langkah kaki menaiki tangga, dan ternyata benar bahwa Dev menyaksikan aktivitas panasnya.


Gadis itu menunduk dengan handuk masih melilit di tubuhnya, dia tak berani menatap wajah tampan yang selalu ia puja-puja di setiap malam mereka bersama.


"Mengapa Mey?" tanya Dev, wajah dan tatapannya begitu dingin.


Mey tak bergeming, masih berdiri terpaku tanpa berani menatap, tangan kecilnya bertaut.


"Mey jawab!" Dev membentaknya membuat tubuh kecil itu bergetar dan semakin takut. "Kau menipuku, kau bilang mencintaiku, kau bilang ingin punya anak dariku. Dan ternyata aku bercocok tanam pada lahan umum." Dev tersenyum sinis, matanya di selimuti amarah.


Tetap tak ada jawaban tapi kali ini isak tangisnya mulai terdengar, tubuh kecil itu berguncang menahan gejolak yang hanya dia sendiri yang tahu.


"Aku harap benihku tidak pernah tumbuh di dalam perutmu itu. Kau benar-benar menjijikan!" Dev berlalu meninggalkan Mey sendirian.


"Dev!" Mey memanggilnya dengan isak tangis menyedihkan, namun tak di dengar malah pria itu semakin jauh.


Mey meraih pakaian yang tergeletak di sofa dan langsung memakainya sambil berjalan ke arah tangga, ia mempercepat langkahnya mengejar langkah Dev, dan sepertinya akan meninggalkan rumah itu.


"Dev tunggu, tunggu aku Dev." Mey mengejar Dev yang sedang menuju kendaraannya di halaman.


"Minggir." ucap Dev terdengar begitu menakutkan.


"Tidak Dev, aku tidak mau." Mey menghadang Dev yang akan menaiki sepeda motornya.

__ADS_1


"Minggir kataku!" bentakan itu kembali membuat tubuh itu bergetar.


__ADS_2