Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
174. Kapan kita menikah.


__ADS_3

Aku akan menikahimu." hanya ucapan itu yang lolos dari mulut Adi.


"Kau pikir aku mau?" Erita masih mengamuk, mendorong-dorong tubuh Adi sekuat tenaga.


"Kita harus menikah Erita, aku mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu. Tidak kah kau khawatir jika kau sampai hamil?" ucapnya tak meninggikan suara.


"Aku benci padamu, aku sangat benci!" teriaknya sambil menangis, tangan kecil itu mengepal dan masih memukul.


Adi memegang dua tangannya, mencoba menenangkan dan meredam amarahnya. Adi menatap wajah sembab itu dengan tulus dan lembut.


"Maafkan aku, aku tidak punya cara lain untuk mendekatimu Erita, kau selalu menghindar dan itu membuat aku putus asa. Sungguh aku terpaksa membuatmu tak punya pilihan selain menerimaku."


"Aku tidak ingin menikah, aku mau bekerja dan memulai karier sendiri, tapi kau merusaknya." mata bulatnya menatap tajam penuh amarah.


"Aku akan bertanggung-jawab, aku akan menikahimu secepatnya, ataupun harus menunggu kau bersedia." jawab Adi yakin.


Erita menarik tangannya dan ia tak mau lagi berhadapan dengan pria kurang ajar itu. ia berlalu menuju ruangan belakang mengambil tas dan segera pergi.


Jalan yang mulai sepi kendaraan terlihat menyedihkan untuknya, langkah yang terasa nyeri, hatinya juga nyeri, hidupnya berantakan. Air matanya terus berjatuhan, terkadang membasahi hijabnya, terkadang jatuh di jalanan, dia sedang hancur dan putus asa.


"Ayo naik ke mobil, aku akan mengantarmu pulang Erita." pinta Adi lembut, pria itu menyusulnya dan membujuknya.


Erita seakan tak mendengar, ia terus berjalan dengan langkah lemas dan ngilu.


"Erita! Kau pasti tidak nyaman berjalan kaki begini." Adi kembali membujuknya.


"Aku memang tidak nyaman, dan lebih tidak nyaman melihat wajahmu." ucapnya dengan penuh benci.


"Kau boleh membenciku tapi tolong, naiklah dan aku akan mengantarmu. Aji akan pulang dan dia tidak akan suka melihatmu begini." Adi kembali mencari alasan untuk membuatnya naik ke mobil bersamanya.


"Aku akan pulang sendiri." jawabnya masih sangat emosi.

__ADS_1


Adi tak lagi memaksa, ia kembali ke mobil dan mengikutinya dari belakang. Hingga hari mulai gelap gadis itu masih berjalan sendirian, mungkin rasa kecewa dan sakit hatinya mengalahkan rasa takut sendirian di jalan yang sepi. Namun akhirnya Adi tak tahan lagi melihat Erita masih menangis dan berjalan dengan pelan sekali.


Adi turun dan menggendong Erita masuk ke mobilnya dengan paksa.


"Lepas." Erita memukul bahu Adi.


"Aku mau turun, aku tidak sudi duduk berdua denganmu." Erita menjerit-jerit di dalam sana tapi Adi sudah mengunci dan dia juga masuk ke dalam mobil siap melajukan mobilnya.


"Kau tuli! turunkan aku!" teriaknya lagi, namun jalanan sepi dan tak ada rumah di tempat itu membuat Adi tak peduli dengan suara keras Erita.


"Kau benar-benar jahat!" Erita menangis menahan kesal gadis itu menendang dan memukul dengan seluruh tenaga yang tersisa.


Adi sungguh geram kali ini, entah karena pukulan Erita keras dan menyakitinya. Pria itu kembali memegang dua tangan Erita dan menguncinya.


"Dengar Erita, aku bisa melakukannya di sini. jangan memancingku untuk mengulanginya." ucap Adi, sudah pasti membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Diamlah dan menurut, jika tidak aku akan kembali mengulanginya sesuka hatiku. Kau tahu sayang, rasanya nikmat sekali." ucap Adi dengan mata yang kembali berkilat menahan sesuatu.


Kali ini Erita tak punya pilihan, gadis itu diam dengan sesenggukan tak henti terdengar di dalam mobil yang mulai melaju. Adi tak mau menoleh lagi, namun ekor matanya tetap bisa menangkap gadis itu menyandar dan pasrah, menatap langit yang menggelap di tinggalkan mata hari. Ada rasa iba di hatinya namun semua sudah terjadi, dan lagi dia tidak sedang bermain-main melainkan akan menjadikannya istri.


"Kita sudah sampai Erita." ucap Adi lembut.


Menyadarkan Erita dan gadis itu meraih tali tas yang melingkar di lengannya, tentu saja ia akan pulang dan melanjutkan tangisnya.


Namun lagi-lagi tangan kokoh Adi meraihnya, menahannya sejenak dan mendekatkan wajahnya.


"Aku mencintaimu Erita." Adi mengecup pipi Erita, gadis itu membuang muka.


"Jangan menolak ku sayang, aku sudah mendapatkan semua milikmu, melihatnya dan menikmatinya." ucap Adi lagi mengingatkan.


Dada gadis itu bergemuruh hebat, ingin sekali mencakar wajah pria mesum itu hingga kulitnya habis terkelupas. Belum lagi ia meluapkan kemarahannya, pintu rumah tetangganya itu terbuka.

__ADS_1


Erita segera turun tanpa menoleh Adi, atau siapapun juga karena wajahnya sembab dan memerah. Dia membuka pintu dan menutup rapat, entah bagaimana dia melewati malam ini sendirian.


Dev menatap tajam pada pria di dalam mobil, dia bisa menebak jika Erita sedang tidak baik-baik saja.


Adi tak peduli dan menyalakan kendaraannya, pria itu segera pergi menghindari Dev yang terlihat curiga.


*


Semenjak hari itu, Erita tidak masuk selama dua hari. Tapi kemudian ia memberanikan diri untuk masuk dan bekerja seperti biasa. Kejadian itu masih tersimpan rapat, walau ingin sekali Erita memberi tahu Aji, namun lagi ia tidak ingin di nikahkan dengan Adi si brengsek yang merusak hidupnya. Hari-hari ia lewati dengan sibuk memikirkan dirinya yang seakan sudah tidak berguna.


"Erita!"


Hari itu Adi mendekati Erita dengan senyum mengembang, mata hitamnya menatap penuh kerinduan.


"Aku sedang sibuk." Erita bahkan tak mau menatap wajahnya, tangan kecilnya sangat sibuk dengan piring-piring yang tersedia minta diisi seluruhnya.


"Aku hanya ingin tahu kabarmu, dan memikirkan ucapanku untuk melamar dirimu." Adi masih berdiri di samping gadis itu, suaranya pelan dan sedikit berbisik.


"Aku tidak mau membahas itu." Erita acuh dan melirik teman-temannya yang lain takut mereka mendengarnya.


"Nanti sore kau pulang setengah Tiga, aku akan menunggu di depan. Aku ingin bicara denganmu tentang kita." ucap Adi masih dengan suara pelan.


"Kalau aku tidak mau?" jawab Erita tanpa menoleh.


"Aku akan melakukannya lagi di setiap waktumu sendiri. Dan aku tak peduli orang lain tahu lalu kita akan segera menikah tanpa lamaran." jawab Adi santai meninggalkan Erita yang menahan marah.


Tak punya pilihan, dia tak mungkin membuat dirinya malu.


"Ada apa?" suaranya ketus dan mengejutkan Adi yang berdiri, pria itu sudah menunggu Lima belas menit yang lalu.


"Masuklah, kita bicara di tempat lain." perintahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Erita menurut masuk ke dalam mobil, hati yang bengkak itu masih bernafsu untuk memukul dan menendang pria yang sedang menyetir, namun tak sampai terjadi hingga di tengah jalan yang lumayan sepi.


"Kapan kita menikah?" tanya Adi.


__ADS_2