
"Selamat malam Nyonya." Adi menyapa Reva dan Ayu dengan ramah sekali.
"Jangan memanggilku Nyonya, panggil aku kakak saja, kau adik sepupu David." Ucap Ayu menatap pria itu.
"Aku juga, kau panggil aku dengan panggilan yang sama." Reva menyahut.
"Baiklah kakak yang cantik-cantik." Adi tertawa dengan sedikit menunduk.
"Apa banyak saudara di kampung halaman David yang butuh pekerjaan?" Ayu menanyainya, mengingat dia akan menjadi bos di perusahaan barunya.
"Mungkin banyak kak, dan disini juga ada beberapa pegawai baru, itu termasuk satu orang wanita yang sedang menghidangkan minum untuk suami kakak dan teman-temannya." Adi menunjuk pegawai wanita yang lumayan cantik.
"Apa dia keluarga kita?" Ayu bertanya lagi, sedikit penasaran dengan wanita berwajah cantik, tubuh berisi dan putih.
"Bukan kak, dulu dia adalah teman kak David saat masih SMA." Jawab Adi, tingkahnya sedikit gugup.
Ayu menjadi curiga, memicingkan mata dengan pikiran yang sudah kemana-mana. "Dia mantan kekasih suamiku begitu?" Ayu menatap dingin.
"Aku tidak tau kalau itu. Aku permisi kakak, masih banyak pekerjaan." Merasa sedang di interogasi Adi segera meninggalkan meja itu.
Ayu masih terkejut, hal yang baru saja di dengarnya sungguh membuatnya sangat gelisah. "David bekerja bersama wanita itu setiap hari kak." Ucapnya dengan hati tak karuan.
"Tapi itu belum tentu seperti yang kau pikirkan." Reva mencoba menghibur walaupun dia tahu Ayu sedang khawatir dan cemburu.
Hening setelahnya, Ayu sibuk dengan pikirannya sendiri, Reva juga tidak berani mengatakan apapun. Terlebih lagi pegawai wanita itu terlihat sering mencuri pandang pada David, membuat Reva khawatir adiknya itu akan mengamuk.
"Sayang, apa kau mengantuk?" David mendekati Ayu tanpa mereka sadari kapan laki-laki itu berdiri di samping mereka.
"Tidak." Ayu tidak tersenyum hanya menjawab singkat, David lalu menatap Reva seakan bertanya.
"Kau disini saja, aku ingin ke toilet." Reva beranjak menuju meja di mana suaminya berada. Sudah tentu Aldo berdiri segera mendekatinya. "Ada apa sayang? Apa lelah?" Aldo memeluk pinggang istrinya.
"Hanya ingin kebelakang mas."Jawabnya.
__ADS_1
"Di kamar saja, lebih higienis." Aldo mengajaknya.
Sementara di meja depan, David sedang bingung dengan sikap Ayu yang berubah dingin dan lihat kesal.
"Sayang kau marah karena apa?" David menggenggam tangan kecil itu.
"Itu mantan pacarmu?" Ayu menunjuk pegawai wanita yang juga sedang melihat ke arah mereka.
"Kata siapa?" David balik bertanya.
"Jawab saja, daripada aku menghajarnya di sini." Mata tajam itu kembali terlihat.
"Hanya teman dekat saat sekolah, aku juga baru tahu beberapa hari ini dia bekerja di sini, mungkin Adi butuh pegawai yang cukup banyak sehingga dia meminta beberapa orang di kampung untuk datang kemari." David berkata jujur.
"Aku ingin pulang, aku sudah tidak nyaman di sini." Ayu merajuk dengan wajah di tekuk.
"Baiklah kita pulang, tunggu sebentar ya." David memintanya menunggu.
Sejenak David meninggalkannya untuk berpamitan pada rekan-rekan yang lain, terutama pada Abidzar. Tak lama setelahnya David mendekat dengan Abidzar ikut dengannya.
"Terima kasih kak Abi, maaf aku tidak datang saat saudara sepupuku meninggal, aku sama sekali tidak tahu." Ayu tampak menyesal dan turut bersedih.
"Terima kasih kau menganggapku keluarga, aku sangat mencintai istriku. Tapi dia sudah pergi dan yang tersisa hanyalah Akbar, putraku bersama Lena, sepupumu." Ucapnya sedih.
"Aku ingin bertemu dengan dengan putramu." Ayu menatap wajah sedih itu.
"Ah iya, sebentar lagi dia akan kemari. Tadi dia di rumah ibu, di dekat sini." Jawab Abidzar.
"Benarkah? kalau begitu aku akan menunggunya. Lagi pula ini baru pukul 20:30." Ayu kembali duduk melupakan kekesalannya.
"Ada apa, sepertinya seru sekali?" Aldo mendekati mereka bertiga.
"Kami sedang menunggu putra Abidzar. Dimana istrimu?" David tak melihat ibu hamil yang selalu mengekor itu.
__ADS_1
"Sedang istirahat di kamarku, dia tidak bisa duduk terlalu lama." Aldo menoleh pintu kamarnya masih tertutup.
Sedangkan di meja lain, tampak Rey, Anggara dan Dev masih duduk bersama. Melihat Ricky dan Ricko sedang merayu gadis-gadis yang masih belia duduk di Cafe menghabiskan malam Minggu.
"Kakak tau, dia menghabiskan makanan di rumah Aldo waktu itu. Dia selalu ingat rasa rendang buatan Reva." Anggara terkekeh mengingatnya.
"Dia memang pandai memasak." Rey ikut tertawa. "Terima kasih atas bantuan mu." Rey berkata penuh hormat dan serius.
"Jangan sungkan kak, kita tidak sedang dinas. Dan rencananya aku ingin keluar dari militer." Anggara merasa tidak enak dengan sikap Rey yang terlalu formal, walaupun sebenarnya memang harus seperti itu kepada Sersan Anggara.
"Sayang sekali jika keluar, tidak mudah sampai di titik ini." Rey menatap Anggara.
"Perusahaan kakek tidak ada yang mengelola, Papa tidak mau membantu semenjak mama meninggal. Hanya aku yang kakek punya kak." Anggara menunduk sedih sekali.
"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu." Rey memberi semangat.
Mereka terlibat obrolan serius, tapi tidak dengan Dev, dia hanya diam. Hingga di meja depan itu terdengar sedikit heboh.
"Ini dia putraku, keponakanmu nona." Abidzar menggendong Akbar dan memberikannya pada Ayu.
"Kau tampan sekali sayang!" Ayu terlihat antusias, begitu juga David dan Aldo membuat suasana menjadi Ramai. Ketiga orang itu berebut menggendong putra rekannya itu.
"Dia senang sekali di gendong olehku!" Aldo berseru dengan bangga. Membawanya berkeliling Cafe dan mencarikan roti untuk Akbar. Tentu anak itu senang sekali, terlihat bahagia dan tertawa. Hingga Sedikit lama, Akbar menangis dan mencari seseorang dengan panggilan mama.
"Sayang tidak ada mama di sini." Aldo mengusap-usap punggungnya, namun tiba-tiba Akbar berhenti menangis mendengar panggilan seorang wanita.
"Bella!" Aldo menatapnya tak percaya, seakan kesulitan menelan ludahnya sendiri, hatinya bertanya kenapa dia ada di sini.
"Sayang ikut mama!" Ucapnya pelan, wanita muda itu mengambil Akbar dari gendongan Aldo, wajah gadis itu tampak sendu masih menatap Aldo tak berkedip.
"Bella!" Aldo masih terheran dengan kedatangannya malam ini yang menyebut dirinya mama pada Akbar. Aldo diam terpaku dengan sejuta keheranannya.
Bella berbalik membawa Akbar dengan tatapan itu sulit sekali dia alihkan. "Bella tunggu!" Aldo mengejar Bella.
__ADS_1
Bella berhenti dan menoleh. "Bella aku minta_" Belum selesai Aldo bicara, seseorang sudah memukulnya hingga terjatuh.
Bella yang menyaksikan itu langsung menghadang dan melindungi Aldo dengan Akbar dalam pelukannya. "Stop jangan pukul dia, aku mohon." Bella berdiri menyamping berada di tengah-tengah antara Aldo dan pria yang terlihat beringas. Pria itu ingin kembali memukulnya, membuat Bella terdorong tak sengaja, dia ikut terjatuh bersama Akbar yang mulai menangis.