
Beberapa hari berlalu, tapi Erita tak melihat batang hidung pria itu muncul di hadapannya. Harusnya itu tak masalah tapi entah mengapa Erita jadi memikirkannya. Terlebih lagi keberangkatan pria itu tinggal beberapa Minggu lagi, itu artinya ia tak akan memiliki suami pura-pura lagi saat periksa bulan depan.
Dengan hati yang semakin bimbang, Erita meraih ponsel di dalam tasnya sambil melihat pegawainya sibuk melayani pengunjung Cafe yang tidak terlalu ramai hari ini.
"Assalamualaikum, ada apa Erita." jawaban di seberang sana membuat Erita sedikit merasa lega.
"Wa'alaikum salam, kemana saja kau tidak memperlihatkan batang hidungmu." Erita berbicara tanpa khawatir dia akan tersinggung, padahal sebelumnya ia begitu sopan memanggilnya Kak Dev.
"Kau merindukan aku?" tanya pria itu begitu percaya diri.
"Tidak juga, hanya sedikit heran tak melihatmu." jawab Erita lagi.
"Bilang saja jika kau rindu, begitu saja tidak mau mengaku." Dev sedikit menggodanya.
"Apa yang bisa ku rindukan darimu, ku rasa tidak ada." jawabnya kesal.
"Baiklah, aku akan menjemputmu pulang nanti. Mau makan apa?" tanya Dev terdengar sedang bahagia.
"Di dekat taman saja." Erita ingat di dekat rumah mereka ada taman yang begitu ramai di sore hari.
"Kalau begitu jangan pulang sebelum aku datang." ucap Dev lagi dengan suara merayunya.
"Jika tidak lama, jika terlalu lama aku akan pulang." Erita pura-pura tidak mau menunggu.
"Tidak, percayalah aku akan menjemputmu." Dev meyakinkannya.
"Iya." Dev menutup panggilan ponselnya lebih dulu.
*
Hingga sore hari, Dev keluar dari mobilnya dan mendekati Erita yang sudah berdiri di depan Cafe, pria itu terlihat senang sekali melihat ibu muda yang sedang mengandung itu berdiri menunggunya.
"Ayo!" ajaknya langsung menuju mobil, dan mereka melaju perlahan menuju taman di dekat rumah mereka.
"Mau es krim?" Dev ingat waktu itu Erita membeli es krim bersama Dimitri.
"Iya." jawabnya tersenyum.
Dev membelinya dan membawa es krim itu pada Erita yang sedang duduk di bangku taman.
"Terimakasih." ucap Erita lagi.
"Makanlah, aku suka melihatmu makan es krim seperti saat itu bersama Dimitri." Dev menatapnya lembut.
__ADS_1
"Kau memperhatikanku." Erita tertawa.
"Tentu saja, hanya kau tak mau melihatku." Dev masih tersenyum dengan mata tak berkedip.
Erita menikmati es krimnya dengan santai, mata indahnya melihat kesana-kemari menikmati suasana sore itu.
"Erita." panggil Dev setelah lama berdiam.
"Hem?" Erita menoleh.
"Tiga Minggu lagi aku akan pergi." ucapnya serius, menyapa wajah Erita dengan sendu dan tak melewatkan setiap incinya.
"Aku tahu, lalu?" tanya Erita tak mengerti.
"Aku sudah menemukan asisten rumah tangga yang pas untuk Dimitri, aku sudah tidak terlalu khawatir karena ibu itu tinggal tidak jauh dari rumah kita." Dev menjeda ucapannya. "Tapi ada satu hal yang masih membuatku khawatir." tambahnya lagi.
"Apa?" tanya Erita ikut serius mendengarkan ungkapan Dev.
"Kau." jawabnya menatap wajah Erita.
"Kau tak perlu khawatirkan aku, ada Kak Aji di sini." jawab Erita tersenyum dan menunduk.
"Erita." panggilnya lagi.
"Bolehkan aku menjadi ayah untuk anakmu?" ucap Dev tampak serius, tak ada candaan dalam ucapannya.
"Kau sudah menjadi ayahnya." Erita tertawa.
"Aku serius Erita, sebelum aku pergi izinkan aku menikahimu agar saat kau melahirkan anakmu kau tidak perlu menanggung pertanyaan yang membuat hatimu sakit. Aku tahu aku tidak pantas untukmu, taoia ku rasa aku bis manjadi suami di atas kertas demi anakmu, juga harga dirimu." tambahnya lagi.
"Itu percuma jika kau pergi." Erita masih tak mau terlalu menanggapi.
"Aku akan pergi dalam waktu lama, aku juga tidak menjamin aku akan kembali dengan selamat. Daerah yang akan ku datangi penuh dengan konflik senjata, dan seperti yang ku katakan padamu aku ingin sekali meninggal dengan hormat."
"Itu bunuh diri." ucap Erita pelan dan kali ini terdengar sedih.
"Itu berbeda, aku berjuang sepenuh hati bukan minta di bunuh." jawab Dev tersenyum.
"Kau menikahiku lalu kau pergi dan tidak kembali. Itu sama saja seperti Adi, meninggalkan luka yang dalam dan sangat sulit di sembuhkan." Erita tersenyum getir.
"Berbeda Erita, aku pergi untuk bertugas, mana tahu dosaku yang sudah menumpuk ini Allah ampuni dengan Syahid." Dev tampak tenang.
Erita memperhatikan wajah tampannya, entah mengapa membayangkan ia pergi membuat ia gelisah, hatinya benar-benar gelisah.
__ADS_1
"Bagaimana Erita? Jika kau bersedia, aku akan mengurus berkas pernikahan kita dan kau tercatat sebagai istriku. Aku akan tenang pergi bertugas meskipun aku akan tetap selalu memikirkan kau dan Dimitri. Tapi paling tidak saat kau melahirkan kau memiliki status istriku dan anakmu sebagai anakku, adik dari Dimitri, bocah yang selalu merepotkan dirimu." Dev mengingat anaknya selalu saja mememanggil dan mengganggu Erita.
"Itu tidak benar, aku menyukai Dimitri, bahkan sebelum aku mengenalmu sedekat ini." jawab Erita polos sekali.
"Kalau begitu kau tak keberatan menjadi istriku?" tanya Dev tak mau membuang kesempatan.
"Hah!" Erita tak mampu lagi berkata.
"Aku tidak akan menyentuhmu, aku sangat tahu diri Erita. Tapi sungguh aku menyayangimu dan dia akan memiliki ayah saat lahir, itu membuatku tenang dan tidak selalu memikirkan dirimu yang sendirian." Dev meyakinkannya.
"Kau membuatku marasa menjadi beban." Erita meletakkan es krim yang sudah meleleh itu di bangku taman.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan." ucapnya tulus.
"Aku ingin Dimitri tinggal bersamaku." pinta Erita tak kalah serius.
"Itu hanya akan merepotkanmu Erita, biarkan dia di rumah, jika kau butuh dia kau bisa menghubunginya, dia akan datang melalui jalan tikus." jawab Dev menujuk arah jalan gang sempit yang menjadi jalan cepat menuju rumah Erita.
Erita tertawa. "Benar juga." ucapnya baru menyadari jika ada jalan pintas menuju rumahnya.
"Apa kau bersedia?" tanya Dev lagi.
"Aku harus bicara dengan Kakak, jika ia setuju, aku akan bersedia."
"Biar aku yang berbicara dengan Aji, kau tak perlu khawatir." Dev begitu senang dapat meyakinkan Erita.
"Ayo kita pulang?" ajak Dev merasa sudah selesai dengan obrolan mereka.
"Ke rumah kita saja." ajak Erita, ia memang ingin melihat keadaan rumah semenjak Aji tinggal sendiri.
"Jangan-jangan mirip kapal pecah?" Dev tertawa mengetahui isi kepala Erita.
Mereka tertawa bersama.
Malam itu Dev benar-benar berbicara serius dengan Aji, ia sedang berusaha meyakinkan niatnya hanya sekedar membantu Erita.
"Apa Kakak yakin?" Aji bertanya pada Dev, sebenarnya Aji sendiri yang tidak yakin.
"Iya." jawab Dev bersungguh-sungguh.
"Aku perlu bicara dengan Erita lebih dulu." Aji masih tak mau terburu-buru.
"Baiklah." Dev hanya bisa berusaha, selebihnya terserah Tuhan saja.
__ADS_1