Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
169. Tidak dengan Erita


__ADS_3

"Tidak usah, aku sudah sarapan." Erita menolak namun percuma, Adi sudah memesan makanan untuknya.


"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai tanda perkenalan kita." Adi tak henti memandang wajah gadis yang baru dikenalnya.


Erita menunduk tak berani melawan tatapan tajam itu, rasa risih dan terganggu dengan pandangan mata yang seakan melucuti semua pakaiannya, gadis polos tentu akan bergidik ngeri.


"Aku tinggal dulu, silahkan menikmati suasana keramaian ini." Adi meninggalkan Erita dengan sedikit tersenyum menggoda.


Ah pria berpengalaman tentu tahu sekali gadis polos seperti Erita, bahkan melihat sikap yang pemalu seperti itu akan membuatnya semakin menginginkan lebih dekat dengannya.


Lama berada di sana membuat Erita mengantuk dan tentu bosan! Aji masih terlihat sibuk di belakang dengan beberapa koki yang tak mendapat waktu istirahat. Erita menghampiri kakaknya, ia ingin pulang lebih dulu dan sungguh ingin istirahat saja di rumah.


"Kak, boleh aku pulang?" tanya gadis itu.


"Tapi Kakak masih sibuk sekali." Aji tampak bingung.


"Aku bisa naik taksi, Kakak tidak perlu khawatir." jawabnya meyakinkan Aji.


"Biar Kakak pesankan."


"Tidak usah Kak, aku punya aplikasinya." jawab Erita lagi.


"Baiklah, maaf kakak tidak bisa mengantarkan mu." Aji berucap serius.


"Tidak apa-apa Kak." Erita berlalu keluar menuju lobi Cafe, gadis itu memesan taksi dan menunggu di luar Cafe.


"Mau kemana?" Adi mendekat dan melihat wajah cantik itu.


"Mau pulang kak." jawabnya singkat, ia tidak berani melihat wajah Adi yang terlihat sangat mengagumi dirinya.


"Kurasa Aji sedang sibuk, apa tidak sebaiknya istirahat saja di kamar." Adi menawarkan.


"Tidak usah Kak, lebih baik pulang saja. Lagi pula aku bisa bermain dengan keponakanku dia pasti sudah menunggu." Erita tersenyum sedikit, tentu ia sedang berpikir Dimitri sudah ada di depan rumahnya.


"Oh." pria itu tersenyum dan masuk ke dalam meninggalkan Erita.


Lama gadis itu menunggu namun taksi yang di pesan tak juga datang, hingga ia bosan dan berjalan ke depan untuk mencari taksi yang lewat saja.


"Kau belum pulang juga?" Adi yang sudah melajukan kendaraannya kemudian mundur karena melihat Erita.

__ADS_1


"Taksiku tidak datang juga." jawabnya jujur.


"Ayo masuk, aku akan mengantarmu." Adi meminta Erita masuk ke dalam mobilnya.


"Tidak usah, aku masih bisa menunggu." tolaknya halus, dan ia juga baru saja mengenal pria itu.


"Tidak usah takut, aku sudah lama bekerja di sini, kau bisa adukan aku pada kakakmu jika aku macam-macam." Adi meyakinkan gadis itu.


Erita jadi berpikir, ia sudah sangat lelah menunggu taksi dan sepertinya Adi orang baik.


"Ayo!" Adi turun dan membukakan pintu untuk Erita.


Akhirnya gadis itu menurut, ia duduk di samping Aji dan menunduk sopan.


Mobil melaju perlahan dengan sesekali Adi melirik gadis di sampingnya, dengan penampilan yang sederhana serba panjang itu dia terlihat anggun sekali, mata yang bulat, hidung yang kecil dan meruncing membuat pikiran Adi melayang dan merayap di tempat yang jauh.


"Rumahmu lewat sini?" tanya Adi memulai obrolan.


"Iya, di depan nanti ada gang." jawabnya halus.


Lagi-lagi caranya bicara membuat pria itu semakin gemas, ia ingin sekali menggigit bibir dan hidung Erita yang serba mungil. Berada disampingnya membuat Adi panas dingin.


"Iya kak." jawabnya pelan.


Adi tersenyum manis, ia sudah jauh berkhayal mendengar suara gadis itu.


"Itu rumahnya kak." Erita menunjuk rumah berhalangan luas di depan mereka.


"Oh, berarti tidak terlalu jauh jika ingin berkunjung ke rumahmu." Adi memutar setir mobilnya hingga terparkir di depan rumah Erita.


Erita turun dari mobil itu di sambut Dimitri yang berlari memeluk gadis itu.


"Bibi pulang!" teriaknya senang, namun ada yang lebih senang yaitu pria yang di dalam rumah duduk bosan tanpa siapapun, ia keluar ingin melihat Erita di depan rumah bersama anaknya.


Namun hal yang membuat wajah manis itu berubah kesal, tak menyangka jika Erita diantar oleh pria yang di saksikan berbuat mesum dengan mantan istrinya. Dev mendekat dengan wajah yang tidak ramah, tentu dia ingin sekali menendang pria itu.


"Hey, kau ada di sini?" Adi terlihat salah tingkah, ia juga melihat anak laki-laki itu begitu dekat dengan Erita, sudah pasti itu anak yang di bicarakan Reina padanya waktu itu.


"Ya! Aku tidak suka kau mengantar Erita, apalagi mendekatinya." ucap Dev tanpa basa-basi.

__ADS_1


Adi menoleh gadis itu, ia jadi berpikir apa mereka adalah keluarga?


"Dia adik temanku." jawab Adi tak ingin terlihat bersalah.


"Aku tahu, tapi aku yakin Aji tidak tahu kau sedang mengantar adiknya." Dev berucap tenang namun hatinya kesal sekali.


"Apa kau menyukainya?" tebak Adi, ia melihat Dev begitu memperhatikan gadis itu.


"Bukan urusanmu, tapi aku harap kau tidak mendekatinya lagi." Dev sedikit tersenyum.


"Aku juga menyukainya, kau tidak bisa melarang ku." jawab Adi terlihat berani.


"Kau tidak pantas mendekati gadis baik-baik seperti dia." Dev berkata pelan.


"Kau juga tidak pantas dekat dengannya, kau bahkan sudah punya anak dari mantan pacarmu." Adi juga berkata pelan sambil tersenyum sinis.


"Baiklah, kita sama saja. Jadi ku harap kau menjauhinya juga aku." Dev tak kehabisan kata-kata.


"Kau pikir aku percaya?" tanya Adi tak mau mengalah.


"Aku lebih dekat dengannya bahkan hanya berbatas dinding, jangan kau samakan dia dengan Reina wanita peliharaanmu itu." Dev semakin sinis.


"Aku akan memperlakukan wanita sesuai keinginannya, tidak akan bermain-main jika dia benar-benar wanita baik, begitu juga sebaliknya aku akan senang bermain-main jika dia bukan wanita baik."


"Sekali lagi ku katakan, tidak dengan Erita." ucap Dev dingin.


Mereka lama saling beradu pandang hingga akhirnya Adi harus kembali ke Cafe menggantikan Aji yang sedang sibuk sekali.


Dev mendekati Erita dan Dimitri yang sedang duduk si kursi rumah Erita.


"Lain kali lebih baik naik taksi daripada pulang bersamanya." Dev langsung saja mengatakan kekhawatirannya terhadap Erita.


"Kau mengenal pria tadi?" tanya Erita menatap wajah tampan itu dengan penuh tanya.


"Tentu saja, aku kenal dia dan juga kakakmu, Aji pasti tidak suka jika dia tahu Adi mengantarmu pulang." Dev tersenyum lembut pada gadis itu.


"Bukankah mereka rekan kerja, mengapa kakak tidak suka?" Erita jadi penasaran.


"Karena dia tidak baik, walupun aku juga bukan orang baik. Aku hanya ingin kau jauh darinya, dia hanya akan merusak dirimu, dan aku tidak suka." ucap Dev lembut sekali.

__ADS_1


Wajah gadis itu merona, entah mengapa dia menyukai kata-kata terakhir itu. artinya Dev adalah orang yang menghawatirkan dirinya seperti Aji.


__ADS_2