Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
32. Takut dia mengambilmu


__ADS_3

"Ada apa mas?" Reva masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Tidak, hanya melihat-lihat saja. Apa kau menyukai Mawar putih?" Aldo merangkul istrinya.


"Oh.. Itu dari perusahaan baru yang menawarkan kerjasama. Dia menawarkan proyek pembangunan hotel." Reva menjelaskannya.


"Bukankah Ayu sempat bilang bahwa Galih Anggara meminta kerjasama juga?" Aldo duduk di meja sambil memeluk istrinya.


"Iya, tapi masih belum ada kelanjutannya mas, mungkin dia sedang sibuk dengan urusan yang lain." Reva menjelaskan, tangannya melingkar di leher Aldo.


"Apa kau akan menerima kerjasama dengannya? Dia masih menyukaimu sayang." Aldo bertanya serius.


"Mungkin iya, tapi sekarang aku sudah menikah denganmu. Kau tak usah khawatir." Ucapnya lembut sekali.


"Aku takut dia berusaha mengambilmu dariku." Aldo mengelus pipi istrinya.


"Tidak, dia tidak seperti itu." Reva tersenyum hangat.


"Baiklah, aku harus pulang, mandi dan bekerja." Aldo mencium pipinya lalu beranjak keluar.


"Ayu, keruanganku bersama pak Rudi sekarang." Reva menelepon.


Tak berapa lama Ayu dan pak Rudi masuk ruangan.


"Duduklah, kita bahas masalah keuangan kita."


Mereka mulai membahas laporan keuangan dan masalah yang sedang mereka hadapi. Ayu yang tampak gelisah dan tidak berkonsentrasi setelah mendengar uang perusahaan tidak di bayarkan tepat waktu dari pihak Hartawan.


"Kita laporkan saja kak, kita bisa menuntut mereka. Ini sudah keterlaluan." Ayu sangat geram mendengarnya.


"Mereka sengaja memancingmu datang ke hadapan mereka. Kita cari solusi yang lain, dan aku akan mengeluarkan uang pribadiku. Aku rasa cukup untuk sementara, lalu kita akan menerima projek baru." Reva tampak sabar mengambil keputusan.


"Baiklah, tapi aku tak akan tinggal diam. Mereka licik sekali." Ayu mengepalkan tangannya.


"Sudahlah, nanti kita pikirkan lagi. Sekarang kau urus saja projek pembangunan hotel, atur pertemuan kita secepatnya." Reva menatap kedua rekan kerja dihadapannya.


"Aku akan mempelajari berkasnya, juga Rencana Anggarannya." Pak Rudi undur diri segera melakukan pekerjaannya.


"Aku jadi tak bersemangat." Ayu kembali keruangannya dengan langkah yang malas. Meninggalkan Reva yang sedang memijat kepalanya sendiri.


***


Hartawan Group.

__ADS_1


"Aku sudah mengambil hasil tes DNA!" David setengah berbisik.


"Jangan bicarakan disini, kita keluar." Aldo berjalan lebih dulu di ikuti David di belakangnya.


Mereka ke kantin dan memilih kursi yang paling sudut. David memesan kopi lalu ikut duduk bersama Aldo.


"Apa hasilnya?" Aldo penasaran. Ia melihat sekeliling mereka memastikan semua aman.


David membuka Amplop coklat di tangannya.


"Cocok." Aldo terperangah membacanya. Dia langsung mengambil foto dan mengirimkannya kepada Ayu. Sedangkan David sibuk mengirimkan hasilnya kepada Pak Hartawan. Keduanya diam tak bicara sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Selanjutnya, apa yang akan terjadi?" David memecah keheningan.


"Aku tidak tau, aku khawatir dengan Istriku dia pasti kena imbasnya." Aldo menautkan jari-jarinya.


"Aku ikut keputusanmu, aku sudah tidak nyaman bekerja disini." David mengungkapkan pendapatnya.


"Aku juga, Bahkan semalam aku pergi ke cafe yang pernah ku buka, aku akan mengembangkannya. Aku tidak mau istriku tersakiti."


"Aku mau bergabung denganmu, kita buka bersama." David menatap temannya.


"Kita atur saja setelah pulang kerja. Kita cari tempat yang strategis." Ucapnya yakin.


"Setuju!" David tersenyum lega.


***


Reva berlari masuk dengan wajah yang tegang dan sangat khawatir. Dia melihat berkas sudah berhamburan, Ayu duduk bersandar di dinding meremas rambut panjangnya.


"Ayu." Reva memeluknya dengan lembut sekali. Ayu menyandar di bahunya, ia teringat saat Ayu depresi beberapa tahun yang lalu. Reva selalu menenangkannya merawatnya bahkan saat dia memuntahkan obat di bajunya. Kala itu Reva menangis melihat keadaannya, Melihat Reva menangis barulah Ayu berusaha sekuat tenaga untuk sembuh.


"Kak, Aku benar-benar anaknya." Air mata Ayu terus mengalir.


"Tidak apa-apa, kita tidak bisa memilih dari siapa kita terlahir. Kau tidak boleh menyesalinya, yang terpenting kau harus tetap kuat seperti Ayu yang selalu menjagaku, jangan buat ini semua kelemahan bagimu." Reva mengelus pundak Ayu di dalam pelukannya.


"Mereka memanfaatkan aku untuk menjeratmu kak. Aku akan membalasnya, aku akan hancurkan mereka." Tangisnya mereda, tapi tatapan penuh amarah kini yang terlihat.


"Tapi bukan hanya itu, sebenarnya dia juga menginginkan suamiku." Ucapnya lirih.


Ayu melepaskan pelukanya dan menatap wajah Reva. Ia nampak berfikir sesuatu yang sulit ditebak.


***

__ADS_1


Malam itu Reva duduk dikamar sendirian, jam dinding menunjukan pukul 11:30. Kali ini Aldo memberi kabar akan pulang larut malam, tapi tetap saja dia tak bisa tidur. Hingga ia lelah bersandar dan akhirnya terlelap.


Perlahan pintu kamar terbuka, Aldo masuk dan langsung melihat di ranjang istrinya tidur dengan bersandar. Aldo mendekat dan merubah posisi istrinya, menidurkannya di bantal dan menyelimutinya.


"Maaf sayang, kau pasti baru saja tertidur." Aldo mencium keningnya, lalu bergegas mandi untuk membersihkan diri.


*


Pagi yang Cerah, Aldo sedang memeluk istri kecilnya di balkon. Reva menyandar di dada bidang Aldo dan menikmati udara pagi bersama.


"Kenapa selalu pulang malam mas, tidak bisakah pulangnya lebih awal?" Reva menoleh wajah suaminya.


"Maaf sayang, untuk sementara saja. Aku janji akan secepatnya menyelesaikan pekerjaanku, lalu setelahnya waktuku hanya untukmu." Aldo mencium pipi istrinya yang halus.


"Tapi..?" Reva menghentikan ucapannya.


"Tapi apa, heemm.. Apa tidak bisa tidur karena tidak di peluk?" Aldo mulai menggodanya.


"Iya." Reva tersenyum dengan pipi yang merona. Malu, ah malu sudah tidak penting lagi saat ini. Dia hanya ingin selalu bersama suaminya, dia ingat ada Bella yang bisa kapan saja datang kekantor atau kemanapun suaminya berada. Datang dengan pakaian minim bahan, oh itu membuat hati Reva berolah raga memikirkannya.


"Aku juga sama sayang, ingin selalu di dekatmu. Tapi ini hanya sementara, lagi pula aku tidak sendirian bekerja, aku bersama David." Jelasnya, itu membuat Reva sedikit lega.


***


"Selamat siang Nyonya Amelia." Ayu langsung duduk tanpa di persilahkan terlebih dahulu.


Ny. Amelia menatap gadis bertubuh langsing itu dengan tajam. "Besar juga nyalimu anak har*m."


"Benar, anak har*m yang terlahir atas rasa cinta, lebih baik dari pada tidak dianggap istri." Tatapannya tak kalah mematikan.


"Berani sekali kau, Ibumu tak lebih dari wanita mur*han yang datang dan menyerahkan diri pada suamiku." Amelia tersulut emosi, tangannya menggenggam erat.


"Dan suamimu tidak pernah menginginkanmu." Ayu menjawabnya dengan tenang dan wajah yang datar.


"Kau tau apa hah? Kau hanya bocah ingusan. Dan satu lagi, wajahmu itu sangat menjijikan sama seperti ibumu." Wanita itu berteriak tak terkendali.


"Ibuku sangat cantik, tentu membuat kau iri padanya. Dan satu lagi, kau ingin putri kesayanganmu itu memiliki nasib yang sama sepertimu. Ingin memiliki laki-laki yang tidak mencintainya sama sekali, aku pastikan dia akan menderita." Ayu menyilang tangan di depan dadanya.


"Anakku akan mendapatkan apa yang dia inginkan." Ucapnya penuh amarah.


"Itu tidak akan pernah terjadi, Asal kau tahu. Aldo telah menikah dengan bosku, dan anakmu hanya akan menangis membasahi bantal di setiap malam-malamnya." Ayu mendekatkan wajahnya tanpa takut sedikitpun.


Nyonya Amelia tercengang duduk di kursinya, ia sudah kehabisan kata-kata. Dia sama sekali tidak menyangka anak yang dianggap bisa ia manfaatkan malah tak gentar sedikitpun berhadapan dengannya. Di tambah lagi, gagal sudah keinginannya untuk mengendalikan Aldo karena dari semua bawahan suaminya hanya dia yang mengetahui semua rahasia perusahan juga rahasia dirinya.

__ADS_1


"Apa perusahaan anda kekurangan uang hingga kau tak mampu membayar kami? Jika iya, kami akan sumbangkan kepada perusahaanmu, aku akan membuatkan surat keterangan hibah untukmu. Aku juga akan mengundang media agar lebih seru." Ucapnya lagi, lalu Ayu pergi melenggang keluar begitu saja.


Ny. Amelia melempar gelas yang ada di mejanya. Entah apa lagi yang akan dia lakukan.


__ADS_2