
Reva tertegun menatap punggung pria yang masih perhatian padanya, kian menjauh namun masih melekat kenangan semasa dulu, saat semua masih baik-baik saja. Sungguh tak mudah menghapus semua dari ingatan, tapi itu bukanlah cinta, hanya sebatas sebuah kenangan.
Tangan kokoh dan hangat tiba-tiba memeluknya dari belakang, mengecup pipinya seakan sedang meluapkan kerinduan, menghentikan lamunan yang tak perlu dipikirkan.
"Benarkah kau tidak bisa jauh dariku?" Tanyanya begitu pelan.
Reva menoleh wajah yang bersembunyi di lehernya itu. "Iya. Aku sudah tak bisa lagi lari darimu mas." Ucap Reva begitu lembut dan tulus.
Aldo tak beranjak dari posisinya, malah semakin dalam bersembunyi di leher dan bahu istrinya, kata-kata yang tulus itu sungguh membuatnya bahagia, tapi juga membuatnya tertusuk pedih hingga ke ulu hati. Wanita yang dulu dia kejar cintanya, kini mengatakan tak akan pergi meskipun di khianati, itu membuatnya terharu, tapi juga semakin takut kehilangan.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu sayang. Tidak pernah." Ucapnya. Kemudian Aldo duduk setengah berlutut dan menggenggam jari-jari kecil itu.
"Iya." Jawab Reva, sungguh wajah itu terlihat sangat pasrah kali ini. Aldo semakin tak kuasa melihatnya, ingin segera merengkuh tubuh yang berisi itu ke dalam pelukannya dan tak mau di lepas lagi.
"Istriku jangan bersedih, aku tidak akan melakukan itu." Ucapnya tulus, dia bahkan tak peduli sedang berada di tempat umum. Reva tersenyum manis, sudah tak ada lagi yang perlu ia ucapkan untuk suaminya.
"Ayo kita pulang!" Suara Alisa membuyarkan keduanya, Aldo segera berdiri dengan tangannya masih memegang erat.
"Iya kak." Reva beranjak dari duduknya.
"Ini makananmu, kakak duluan saja, lagi pula sudah ada suamimu." Alisa melirik Aldo, sudah ia duga pria itu tak akan melepaskan istrinya sebentar saja. Reva tersenyum melihat Alisa sudah berlalu.
"Ayo sayang?" Aldo merangkulnya keluar dari Resto itu. "Apa mau makan di taman itu?" Tanya Aldo lagi menunjuk taman di dekat Restoran.
"Tidak mas, kita pulang saja." Ucapnya, tangan Aldo tak pernah lepas dari pinggang istrinya.
*
"Hallo sayang." Alisa baru saja tiba di rumah, dia sedang menyapa Ayra yang sedang digendong Rey suaminya.
"Kau pulang sendirian, dimana dia?" Rey tak melihat adiknya bahkan di dalam mobil.
"Kau seperti tidak kenal adik iparmu itu, bahkan bersamaku dia tidak percaya." Alisa memutar kedua bola matanya, lalu mengambil Ayra dari gendongan Rey.
"Entahlah, aku jadi bingung sendiri." Rey duduk tampak berpikir.
__ADS_1
"Apa yang kau bingungkan, bukankah sudah jelas dia itu tergila-gila pada adikmu." Alisa ikut duduk menimang Ayra.
"Justru itu, tapi di foto ini, dia tertangkap dua kali mengantar anak bosnya itu." Rey memperlihatkan foto di ponselnya pada Alisa.
"Tapi menurutku tidak begitu. Mereka itu saling mencintai, bukan hanya adik iparmu, tapi Reva juga. Aku mendengarnya tadi saat mereka bicara." Alisa seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kau tahu, tadi kami bertemu Dev, dia sempat bicara serius pada adikmu." Tambahnya lagi.
"Lalu?" Rey menatap Alisa, dia sangat ingin tahu.
"Dia sepertinya masih belum rela, entah karena takut Reva tidak bahagia atau apa aku tidak tahu." Jawab Alisa.
"Aku pusing memikirkan urusan mereka tak ada habisnya, yang satu masih tak bisa berhenti memikirkan, yang satu sangat takut kehilangan, dan satunya tak memiliki ketegasan, itu melelahkan sekali." Ucapnya.
"Harus tegas bagai mana? Adikmu juga serba salah. Jika bersikap kasar nanti kesannya malah seperti tidak tahu terima kasih karena Dev lah mereka bisa bertemu dan bersama. Jika terlalu halus malah terlihat seperti memberi harapan. Lalu dia harus bagaimana?" Alisa tidak terima Reva juga disalahkan.
"Entahlah, aku menyerah saja. Biar mereka urus sendiri." Jawab Rey beranjak pergi.
"Dasar lelaki." Alisa bersungut sendiri, matanya menatap kesal pada suaminya.
Tak berapa lama, Aldo dan Reva sudah tiba di rumah. Aldo keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Reva.
"Baiklah, aku juga sudah sangat lapar." Alisa ikut masuk sambil menggendong Ayra.
"Ayam bakarnya memang enak, lain kali aku akan membelinya lagi." Alisa sangat menikmati potongan ayam yang sedang dia kunyah, wanita bule itu tampak bersemangat menghabiskan makanannya.
"Dulu aku sering makan di tempat itu Kak, saat belum menikah." Reva sedikit bercerita.
"Dengan orang yang menemuimu tadi sayang?" Aldo bertanya dengan meliriknya.
"Maaf." Ucapnya, Reva merasa bersalah.
"Tak apa, aku mendengar semua pembicaraanmu dengan mantan tunanganmu itu." Aldo lebih terlihat santai membahasnya.
"Kau mengikuti kami?" Reva menatapnya heran.
"Tentu saja, aku juga melihatnya berdiri di belakang dinding restoran demi mendengar pembicaraanmu." Ucap Alisa tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Benarkah?" Reva kembali menatap wajah Aldo.
"Bukan hanya aku, kakak juga menguping." Aldo tak mau kalah dan membalas mengatai Alisa.
"Ish kau ini." Alisa mengernyitkan hidung mancungnya, membuat mereka tertawa bersama.
Reva tau, Alisa tak akan meninggalkannya sendirian, meskipun dia adalah orang yang terbiasa hidup di Eropa, tapi dia adalah wanita yang sangat menjaga pergaulannya terlebih lagi saat di sudah memeluk agama Islam. Istri Rey yang sangat luar biasa, meskipun sikapnya masih mengikuti cara negara asal Ayahnya, tapi kepribadiannya sungguh jauh berbeda.
"Mana makananku?" Rey masuk dengan memegang perutnya, dia memang belum makan.
"Ini sayang, duduklah di dekatku." Alisa menunjuk potongan ayam yang masih utuh.
"Ah terima kasih, istriku ini memang yang paling baik." Rey duduk dan memuji istrinya.
"Oh itu terdengar menggelikan." Ucap Alisa sambil menyuapi Ayra, Rey terkekeh mendengar ucapan istrinya. Rey menyadari, dia memang tak pandai merayu.
"Sepertinya aku harus belajar darimu?" Rey berbicara pada Aldo yang sedang menuangkan air putih untuk istrinya.
"Aku juga tidak pandai merayu." Jawabnya serba salah.
"Kau pikir aku sudah lupa, saat di rumah sakit kau merayunya, bahkan aku sudah mengatakannya padamu waktu itu." Jawab Rey, dia mulai memotong ayam di piringnya.
"Itu, aku tidak merayu, aku benar-benar mengungkapkan isi hatiku." Aldo tak mau kalah.
"Terserah kau saja." Rey malas berdebat karena perutnya sudah sangat lapar.
Reva hanya tersenyum dan terus makan, semakin besar usia kandungannya nafsu makannya semakin meningkat, tak jarang dia malas beranjak saat sesudah makan. Sudah tentu dia kekenyangan, dan Aldo tak pernah melarangnya memakan apapun.
"Sayang ini buahmu, habiskan saja." Aldo mengambil piring yang berisi buah yang sudah di potong.
"Kau tidak lihat dia sudah kekenyangan, apa perutnya tidak akan meledak?" Alisa gemas sekali melihat tingkah Aldo.
"Tidak Kak, ini hanya buah." Aldo menunjuk piringnya.
"Aih.. Kau makan saja jika masih muat." Alisa meninggalkan meja makan dengan membawa Ayra.
__ADS_1