
Pukul 10:30, acara telah selesai. Beruntun ucapan selamat tak terputus dari semua orang yang hadir di ruangan besar itu kepada pemimpin baru yang cantik dan tangguh. Tentu membuat David sangat bangga memiliki istri seperti dirinya, pria itu selalu berdiri di sampingnya.
"Ayu, aku akan pulang karena harus menemani ibu. Sekali lagi selamat untukmu." Reva memeluknya sejenak.
"Terima kasih kakak, setelah acara ini selesai aku pasti akan menyusulmu." Jawabnya tersenyum.
"Tidak perlu terburu-buru, ibu hanya butuh istirahat." Kemudian berpamitan bersama Aldo suaminya.
"Sayang aku dan Anggara hari ini akan melihat lokasi proyek baru, aku akan mengantarmu pulang lebih dulu. Kemungkinan aku akan pulang malam karena lokasinya agak jauh." Aldo menyalakan mesin mobilnya, dengan sekilas menoleh istri yang sedang duduk menyandar di sebelahnya.
"Iya mas." Jawabnya hanya menurut saja.
"Mau membeli sesuatu?" Aldo menawari saat melewati berbagai macam kedai makanan dan buah-buahan berjejer di pinggir jalan.
"Buah saja mas, itu ada nangka." Reva menunjuk salah satu penjual buah yang ada di tengah-tengah. Jika tidak diperhatikan penjual itu nyaris tidak terlihat, mata ibu hamil memang tajam luar biasa.
Aldo menghentikan laju mobilnya dekat dengan kedai yang di maksud istrinya, ia turun dan segera membeli nangka. "Apa ada lagi sayang?" Tanya pria itu sedikit mendekat ke pintu mobil.
"Sudah mas." Jawabnya, tampak Aldo segera membayar dan membawa buah tersebut masuk ke dalam mobil.
"Makasih ya mas, ini harum sekali." Reva sudah tidak sabar ingin segera menikmati buah itu.
"Iya sayang." Aldo tersenyum, melihat wajah itu semakin hari semakin berisi. Begitu bahagianya ketika sang istri meminta sesuatu walaupun itu hal yang kecil, jika bisa bulan pun akan di petiknya untuk membuat istrinya bahagia.
Hingga tiba di rumah Aldo turun membuka pintu untuk Reva, dan seperti biasa dia akan menghantarkan istrinya hingga ke dalam rumah. "Sayang aku harus kembali bekerja, Anggara sudah menunggu." Aldo melirik jam tangan, lalu kemudian meraih tubuh gemuk istrinya, mengecup sekilas kening, pipi dan bibir mungil nan merah itu, tangannya mengelus dan memeluk bagian yang berisi calon bayi. "Ayah pergi dulu sayang." Ucapnya, sedikit membungkuk dan mengecupnya.
"Hati-hati mas." Reva meraih tangan hangat itu dan menciumnya.
"Iya istriku." Jawabnya tersenyum manis, Reva tak melepas tatapannya hingga ia menghilang dari balik pintu dan terdengar deru mobil yang perlahan menjauh.
__ADS_1
Reva masuk ke kamar besar yang saat ini di tempati ibu, membuka pintu itu perlahan dan melihat kedalam ibu sedang berselimut.
"Ibu!" Reva terlihat khawatir mendekati ibu, karena ibu tidak pernah memakai selimut tebal begitu jika siang hari.
"Nak." Suara ibu terdengar pelan.
Reva meraba kening ibu, dan sungguh ia terkejut ternyata ibu sedang demam. "Bu, kita ke rumah sakit saja ya." Reva semakin cemas dengan keadaan ibunya mengingat semalam darah ibu naik pesat.
Tanpa menunggu jawaban ibu, Reva keluar memanggil bi Tuti untuk membantu membawa ibu ke mobil.
"Non jangan nyetir sendiri, minta pak satpam saja ya, bibi takut." Ucap asisten rumah tangga itu, sejujurnya dia bukan takut dengan kecelakaan, tapi takut Aldo akan marah dan mengamuk jika istrinya di biarkan menyetir sendirian.
"Enggak Bi, aku bisa kok asal bibi bantu ibu masuk ke dalam mobil." Ucap Reva meminta ibu duduk lalu berdiri di bantu bi Tuti dan langsung menuju mobil.
"Non, sama pak satpam ya?" Bi Tuti masih terlihat khawatir.
"Aduh bisa gawat ini. Mas Al bakalan marah, ngamuk pasti." Bibi bicara sendiri dengan raut wajah bingungnya.
Tiba di rumah sakit Reva segera turun dan meminta suster untuk segera membawa ibu masuk. "Ibu tiduran saja, jika berjalan ibu tidak akan mampu." Reva membujuknya sepertinya ibu tidak mau menurut saat suster memintanya berbaring dan membawanya masuk ke ruang rawat.
"Ibu tunggu di luar ya, biar dokter periksa pasien dulu." Suster itu meminta Reva menunggu di luar.
Reva berdiri dengan perasaan khawatir, meskipun dokter sudah terlihat sibuk memeriksa ibunya tetap saja rasa khawatirnya tak berkurang. Dia menuju kursi tunggu yang berbaris didinding itu, kakinya terasa nyeri terus-terusan berdiri. Reva membuka ponsel dan menghubungi Rey kakaknya.
"Assalamualaikum, ada apa Dik?" Suara Rey di seberang sana.
"Wa'alaikum salam kak, aku sedang berada di rumah sakit, ibu tadi demam." Ucap Reva terdengar khawatir.
"Apa? ibu demam? Lalu bagaimana aku masih bekerja." Suara Rey terdengar cemas.
__ADS_1
"Nanti sore saja kak, ibu sudah di periksa dokter." Reva mencoba menenangkan kakaknya.
"Baiklah, setelah pulang kerja aku langsung ke sana." Jawab Rey, kemudian mengakhiri panggilan telepon.
Niat hati ingin menghubungi suami, tapi mengingat ia baru saja berangkat bekerja Reva mengurungkan niatnya. Sungguh dia tahu jika suaminya sedang sibuk walaupun tetap meluangkan waktu untuk menghantarkannya pulang terlebih dahulu. Jujur jika di saat santai saja dia selalu menginginkan Aldo selalu disisinya, apalagi saat seperti ini, Reva begitu menginginkan dia selalu ada.
"Reva?" Suara itu mengejutkannya. Reva melihat ke arah sumber suara yang sudah begitu ia kenal, dia tidak menjawab, hanya menatap dan sedikit tersenyum.
"Siapa yang sakit?" Tanya pria itu lagi.
"Ibu mas." Jawabnya pelan, Reva berdiri lalu menunduk.
"Ibu sakit apa?" Tanya Dev, pria itu duduk di jejeran kursi terpisah.
"Hanya demam." Jawab Reva, kemudian duduk kembali dan menatap ke arah pintu di mana ibu sedang di periksa. "Mengapa mas ada di sini?" Reva bertanya dengan sedikit gugup.
"Aku sedang menunggu obatku, kebetulan dokternya belum datang." Dev berusaha tidak menatap wanita yang duduk dengan serba salah itu, walaupun pada akhirnya masih melirik juga. "Mana suamimu?" Tanyanya lagi.
"Dia sedang bekerja." Jawab Reva menatap sekilas.
Tak lama kemudian dokter sudah keluar dari ruangan rawat itu, Reva segera berdiri dan mendekat. "Bagaimana keadaan ibu dok?" Reva bertanya dengan nada khawatir.
"Ibu anda mengalami tekanan darah tinggi, dan sepertinya disertai stress. Beliau harus di rawat untuk sementara agar bisa beristirahat dengan maksimal, karena ibu anda memiliki riwayat penyakit jantung." Dokter itu menjelaskan
"Ini terdengar berbahaya dok!" Wajah Reva semakin cemas.
"Kami sudah memberinya obat, anda tidak perlu khawatir." Dokter itu tersenyum kemudian berlalu.
Reva segera masuk ke ruangan ibu, tampak wanita yang sudah beruban itu sedang memejamkan mata. Reva mendekat dan menggenggam tangan hangat ibu dengan penuh kasih sayang. Entah mengapa kali ini Reva takut sekali akan kemungkinan yang buruk, sungguh saat hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan, sosok ibu sangatlah dia butuhkan.
__ADS_1