
Hari demi hari berlalu, Mereka menikmati hari bahagia tanpa berpikir itu adalah bahagia yang salah. Mey merasa sangat nyaman dengan kondisi mereka saat ini, begitu juga Dev, yang tadinya ia malas karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk pulang ke rumah itu, tapi berbeda saat ini, seakan waktu ia bekerja sangat lama dan ingin segera tiba di rumah untuk berjumpa dengan Mey. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah Mey dan Mey seorang.
Sore itu, Dev memacu sepeda roda duanya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hatinya begitu bahagia karena beberapa waktu ini ia selalu menghabiskan malam panjang dengan Mey yang manja. Begitu juga malam ini, Dev sudah berjanji akan mengajaknya keluar. Namun tiba di rumah itu, mobil mewah milik ayahnya Mey sudah terparkir dengan sempurna di halaman rumah itu, Dev sedikit kecewa, namun tak apa karena ia berpikir masih ada hari esok.
"Selamat sore pak!" Dev menyapa pria itu sepertinya dia baru saja menjumpai Mey dari lantai dua.
"Selamat sore Dev, terima kasih kau sudah menjaga Mey dengan baik. Ku rasa dia betah dan tidak protes di tempat ini, bisa ku lihat dari raut wajahnya Mey selalu ceria." ucap pria itu duduk sejenak di sofa ruang tamu.
"Hanya terkadang Mey minta jalan-jalan di sekitar sini, hanya untuk makan jajanan di pinggir jalan." jelas Dev dengan wajah meyakinkan.
"Oh, apa benar begitu?" pria itu sedikit memiringkan wajahnya dengan alis bertaut.
"Maaf jika itu membuat anda marah, tapi ku pastikan tak ada hal apapun selain hanya makan di sekitar tikungan, itupun tak sampai ke kota." tambah Dev lagi.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang jika Mey senang dan tidak bersedih seperti sebelumnya." pria itu beranjak, meninggalkan amplop berisi uang di atas meja, dengan telunjuk mengarah ke amplop tersebut menandakan itu untuk Dev.
"Terima kasih." Dev menunduk hormat.
"Aku akan ke luar kota selama sepuluh hari, jika proyekku berhasil masa kerjamu akan berakhir bulan depan. Tapi jika belum berhasil kau akan bekerja denganku selama enam bulan lagi." ucapnya dengan wajah datar, pria itu berlalu setelah mendapatkan anggukan dari Dev.
Dev menghantar kepergian pria itu hingga mobilnya tak terlihat lagi, bahkan sudah nampak menuruni tikungan berliku di bawah sana. Perjalanan naik turun menuju bukit itu begitu meliuk-liuk dan bisa di lihat seperti ular.
Pelukan hangat itu tiba-tiba menghambur dari belakang, tangan kecil itu mengusap-usap di dada bidangnya. Tubuh tentara muda yang masih berusia dua puluh satu tahun itu tampak begitu pas di pelukannya.
Dev menggenggam dan mengelus jari-jari itu, menoleh dan melihat gadis itu menyembunyikan kepalanya di bahu belakang. Dev berbalik dan menggendong gadis itu masuk ke dalam kamar Dev dan berbicara di sana.
__ADS_1
"Kita akan berpisah Dev." ucapnya sedih.
"Tinggallah di sini Mey, kita menikah." Dev menatap wajah cantik itu dan mengelusnya.
"Itu tidak mungkin Dev."
"Kenapa sayang, apa karena aku hanya seorang tentara dengan gaji yang sedikit?" tanyanya pelan, Dev sungguh berharap bisa memiliki Mey.
Mey menggeleng, tatapan sendu itu membuat Dev semakin menyayanginya. Dan lagi-lagi bujukan itu tidak berhasil malah berakhir dengan aktivitas panas yang memabukkan keduanya hingga entah berapa kali kegiatan itu semakin menjadi dan berakhir dengan rasa lelah.
"Bagaimana jika kau benar-benar mengandung anakku Mey, bahkan bulan ini kau tak mendapat tamu bulanan?" Dev cemas melihat gadis itu selalu ingin menghabiskan waktu bersamanya tapi tidak mau untuk di nikahi.
"Hanya perubahan hormon Dev, aku sudah melakukan tesnya." jawabnya tersenyum tanpa rasa khawatir.
Gadis itu tak menjawab, tentu Dev semakin frustasi. Pria itu semakin bingung dan sungguh bisa gila memikirkan Mey yang memiliki prinsip yang aneh. Tapi lagi-lagi Dev tak bisa berbuat apa-apa, selain menikmati hari-harinya dengan pasrah. Di tambah lagi gadis itu begitu manja plus wajah cantik dan tubuhnya yang selalu menggoda, Dev kesulitan berpikir jernih jika sudah di dekatnya.
"Dev, aku ingin jalan-jalan ke kota malam nanti. Kita makan di perempatan yang terkenal dengan masakan pedas itu, aku sangat ingin menikmatinya." ucap Mey di suatu malam, gadis itu terlihat begitu bersemangat.
"Baiklah, setelah mandi." ucap Dev dengan tatapan jahilnya. Wajah cantik itu tersenyum manis, dia selalu menyukai tatapan jahil Dev yang setiap hari selalu membuat hatinya berbunga-bunga.
Tak butuh waktu lama, Dev sudah bersiap dengan tampilan terbaiknya. Dev menghampiri Mey yang duduk di kasur dan sejak tadi diam terpaku menatap padanya.
"Apa aku ini sangat tampan?" Dev menggodanya, dengan kalimat percaya diri dan nafas yang begitu dekat deng wajah cantik Mey.
"Tentu saja, itu sebabnya aku ingin sekali punya anak darimu." ucapnya terdengar menggoda.
__ADS_1
"Ah sayang, kita tidak usah jalan-jalan." Dev memeluknya dengan gemas.
"Aku lapar Dev!" gadis itu mengerucutkan bibir merahnya.
"Baiklah, aku harap kau sedang mengidam anakku." ucap Dev tertawa.
"Anggap saja iya, malam ini kita habiskan waktu dengan berkhayal tentang hal yang bahagia." ucap Mey menggandeng Dev menuju mobil mereka.
"Itu ide bagus." Dev menyalakan mobil dan segera melajukan mobilnya turun jauh ke bawa sana.
Tiba di tempat makan yang mereka tuju, Mey benar-benar melampiaskan keinginannya dengan makanan pedas itu. Hidung yang meruncing itu sampai berwarna merah karena menahan pedas dan nikmat bersamaan. Dev sampai melongo di buatnya, tak pernah ia melihat Mey makan dengan tingkat kepedasan seperti itu sebelumnya.
"Ku rasa kau benar-benar mengidam Mey?" tanya Dev begitu bahagia juga cemas tak terkira.
"Tidak. Eh Iya, kan sudah ku katakan kita sedang berkhayal malam ini." ucap gadis itu terus melahap makanan miliknya.
Dev memeluknya erat sekali, membuat sendok yang di pegang Mey sampai terjatuh. Dia tak peduli gadis itu kesulitan bernafas, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah memiliki Mey seutuhnya. "Jangan tinggalkan aku Mey, hiduplah denganku. Aku janji akan membuatmu bahagia dan tidak akan mengecewakanmu." ucap Dev memohon dan menyembunyikan wajahnya di leher gadis itu.
"Dev aku ingin makan!" serunya dengan berusaha melepaskan pelukan Dev.
"Dengarkan aku Mey, aku ingin kau benar-benar mengandung dan kemanapun kau pergi kau tak akan bisa melupakan aku." ucap Dev penuh harap, tapi sangat tegas.
"Dan kau akan menemukan aku." ucap gadis itu tanpa merasa bersalah.
"Tentu." jawab Dev yakin, namun kembali lagi ia tak bisa sepenuhnya menikmati suasana malam itu, karena ucapan gadis itu 'kita hanya sedang berkhayal'.
__ADS_1