Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
178. Kita menikah


__ADS_3

Pagi hari, Aji sudah berangkat lebih dulu karena akhir pekan ini ia akan berhadapan dengan pelanggan yang meningkat berkali-kali lipat dari hari biasanya.


Sedangkan Erita masih berdiam di kamar mandi dengan wajah yang tegang sekali, tangan kecilnya gemetar ketika meraih benda kecil itu dari wadah yang telah ia sediakan. Menarik nafas dan menghembuskannya, ia berharap jika hasilnya sesuai dengan doa yang selalu ia minta.


Garis dua, membuat gadis itu terduduk lemah di dinding yang dingin. Memejamkan matanya lagi dan mengatur nafas agar jantungnya tidak keluar dari rongga dada. Sejenak kemudian ia berdiri dan keluar menuju halaman belakang, menarik nafas dan mencoba untuk tidak lagi menangis, dia sudah lelah selama satu bulan kerjanya hanya menangis saja.


Tangan kecil Erita meraih ponsel di saku baju tidurnya yang sederhana.


"Ada apa sayang?" tanya pria di seberang sana, membuat gadis itu semakin heran ternyata Adi tahu nomor ponselnya yang baru.


"Aku hamil." jawab Erita lemas.


"Aku sudah tau." jawab pria itu terdengar bahagia.


"Kita menikah." ucap Erita semakin lemas.


"Iya." jawab Adi senang sekali.


Erita langsung mematikan sambungan teleponnya, menyandar di pohon mangga itu dengan tatapan putus asa.


"Sudah ku katakan kau hati-hati dengannya!" suara Dev mengejutkan Erita.


Dia tak ingat jika hari ini pria tetangganya itu sedang libur bekerja.


"Sudah berapa lama?" tanya Dev lagi.


"Satu bulan." jawab Erita jujur, tak ada gunanya ia tutupi.


Dev menatap gadis yang masih menyandar itu, wajahnya terlihat sedih bukan bahagia seperti wanita yang akan menikah.


"Aku tak punya pilihan." ucap Erita lagi.


"Aku juga tak bisa berbuat apa-apa, semoga ini yang terbaik." ucap Dev terdengar pasrah.


"Aku benci kenyataan seperti ini, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa, terkadang aku ingin sekali menyingkirkan benih haram ini dari perutku." ucapnya masih terselimuti amarah dan kecewa.

__ADS_1


"Dia tak bersalah Erita, seperti Dimitri juga tidak terlahir dari ikatan yang sah. Dan kau masih beruntung memiliki kesempatan untuk menikah." Dev menatap iba pada gadis itu, dia bisa menebak jika kehamilannya bukanlah yang dia inginkan.


"Jika aku bisa memilih!" ucapnya pelan.


"Sayangnya kita tidak bisa." Dev tersenyum lembut.


"Jangan katakan pada Kakakku, aku tidak mau dia kecewa." pinta Erita berlalu masuk kembali ke dalam dengan langkah lemahnya.


"Iya." Dev hanya bisa menarik nafas.


Erita duduk di meja makan, melihat berbagai macam buah yang di belikan Adi untuknya. Ia sedang berusaha berdamai dengan diri sendiri, tak ada gunanya ia menolak dan acuh pada Adi, toh pada akhirnya dia akan menikah juga, satu-satunya pria yang mau menikahinya, dan lagi pula tak akan ada laki-laki lain yang bersedia menikah dengannya selain Adi. Meraih dan mengupas jeruk itu dengan pelan, mata bulatnya menerawang jauh tak tau kemana, hingga jeruk itu terkupas semuanya.


"Jangan melamun." suara tak asing itu membuat Erita menoleh, ia lupa mengunci pintu sehingga Adi bisa masuk dengan mudah.


Erita tak menjawab, masih dengan wajah lemas dan tangan memegang jeruk.


"Aku akan menyuapimu." Adi meraih jeruk dari tangan Erita dan menyuapkannya satu persatu.


"Aku mau mandi, kau akan terlambat jika aku tak segera bersiap." Erita beranjak setelah mengunyah jeruk yang di berikan Adi.


"Erita!" panggilnya tapi tak terdengar jawaban.


Adi memberanikan diri masuk ke kamar mandi, dan ia terkejut melihat gadis itu sedang memegang kakinya duduk bersimpuh tak bisa berdiri.


"Kenapa tak memanggilku!" Adi segera meraih dan menggendong Erita menuju kasurnya.


"Aku malu." jawab Erita tak berani menatap Adi.


"Untuk apa malu, aku sudah tau semuanya." jawab Adi melirik tubuh yang hanya terbalut handuk kecil itu. Pria mesum seperti Adi tentu sudah tidak bisa menahan gejolak yang membangkitkan sesuatu di bawah sana.


"Aku bisa sendiri." Erita duduk di ranjangnya, namun lagi-lagi handuk yang pendek itu memancing untuk di buka.


Pria yang sudah berpengalaman seperti Adi tak akan menyia-nyiakan itu semua, membantu Erita menyandar di bantal dengan mengelus kaki yang terkilir, pada akhirnya elusan itu naik dan bibirnya sudah menempel di bibir Erita.


Gadis itu memberontak namun terlanjur sudah di kuasai Adi sehingga tak berguna walau harus melawan. Adi terlalu lincah mengendalikan Erita dengan semua sentuhannya dan mengulang kembali semua yang dia lakukan dengan lebih leluasa. Erita masih berusaha menahan Adi agar tak melakukannya lagi, tapi lagi-lagi Adi membuatnya pasrah dan ikut menikmati permainan yang akhirnya usai dengan tangan kecil Erita memeluknya erat.

__ADS_1


Wajah puas Adi masih bersembunyi di rambut Erita yang basah, pria itu enggan melepas dan terus menghembuskan nafasnya di leher Erita yang wangi.


"Aku sesak." ucap Erita.


"Maaf sayang." Adi beranjak, mengecup seluruh wajah Erita menggenggam tangan dan juga mengecup jari-jari kecil itu berkali-kali. Ia kembali fokus pada kaki yang terkilir dan memijatnya sejenak.


"Sakit!" ucap Erita ketika Adi sedikit menarik telapak kakinya.


"Setelah ini tidak sakit lagi." Adi tersenyum melihat tubuh Erita sudah bersembunyi di balik selimut tebalnya.


"Tidak usah bekerja ya!" Adi kembali memeluk dan mengecup kening Erita.


"Aku akan bekerja." jawabnya keras kepala.


"Tapi kau lelah, lagi pula kakimu sakit." Adi mengelus kaki Erita.


"Sudah tidak lagi." Erita menggerak-gerakkan kakinya.


"Baiklah, segera bersiap dan kita akan pergi bersama." Adi tak henti tersenyum, hatinya sangat bahagia pagi ini.


"Keluarlah, aku tidak bisa ganti baju jika kau masih disini." Erita mengusir pria itu dari kamarnya.


"Aku saja yang mengganti bajumu." Adi kembali menggodanya.


"Tidak mau, kau akan melakukannya lagi." Erita menggerutu.


"Rasanya enak sekali sayang, kau luar biasa." Adi semakin menggodanya.


"Ini dosa kita Adi, aku merasa diriku sangat kotor hari ini." ucapnya sedih.


"Aku akan langsung ke rumah orang tuamu nanti sore bersama Kakakmu. Aku tidak akan membiarkanmu merasa berdosa, akulah yang berdoa di sini." Adi membelai wajah Erita.


Erita menatap wajah Adi, sedikit memperhatikannya dari dekat, pria itu tidak buruk, bahkan tampan jika di perhatikan. Apalagi baru saja pria itu melakukannya secara nyata, Erita jadi ingin menghilang dari sana.


"Aku sangat mencintaimu." Adi sedikit mencubit pipi Erita, keluar meninggalkan gadis itu memakai pakaiannya.

__ADS_1


Hingga tiba di Cafe, Erita tak lagi canggung di hadapan Adi. Dia tak lagi kesal berlebihan jika Adi mendekatinya, berusaha menerima.


__ADS_2