Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
180. Rumah baru kita


__ADS_3

"Selamat pagi sayang, apa kiriman dariku sudah sampai?" Adi sedang menghubungi Erita lewat telepon.


"Kau mengirim pakaian begitu banyak, aku bisa membelinya sendiri, lagi pula uangmu sudah kau kirimkan semuanya padaku." jawab Erita merasa semuanya berlebihan.


"Itu pantas untukmu, aku malah merasa masih kurang." Adi tidak pernah mau mendengar penolakan dari Erita apalagi protes, ia tak peduli.


"Terserah saja." jawab Erita menyerah.


"Besok kita menikah, tapi aku tidak kuat jika tidak bertemu denganmu hari ini." rayunya seperti biasa.


"Alasan." jawab Erita mengetahui pria itu selalu seperti itu.


"Ah aku akan ke rumahmu sebentar, aku ingin mengajakmu membeli cincin pernikahan kita." Adi menemukan alasan untuk bertemu, padahal cincinnya sudah ia beli.


"Tidakkah kau saja yang membelinya?" Erita malas jika harus keluar.


"Sebentar saja sayang, di toko yang paling dekat, atau kau mau jariku tidak di isi dengan cincin dan aku akan di lirik banyak gadis-gadis di luaran sana." Adi menggoda calon istrinya.


"Baiklah." Erita tentu akan mengalah.


"Tunggulah, aku akan segera sampai." ucapnya menutup sambungan telepon, Erita jadi berpikir jika sebenarnya pria itu sudah di jalan, ia segera masuk dan mengganti pakaiannya.


Benar saja tak begitu lama Adi sudah datang dengan senyum mengembang menatap wajah cantik kekasihnya.


"Dasar!" Erita tertawa masuk ke mobil lebih dulu, melewati pria yang selalu tersenyum dan mengaguminya.


"Aku sangat merindukanmu, aku sudah tidak sabar menunggu besok." Adi melajukan mobil mereka menuju rumahnya, mereka akan melihat rumah baru yang baru saja di beli Adi meskipun belum lunas.


"Ini rumah siapa?" tanya Erita melihat sekeliling tampak menenangkan, dia menyukainya.


"Ini rumah kita, untuk kita tinggali bersama anak kita." Adi meraih tangan Erita, mengajaknya masuk melihat semua yang ada di dalam sana.


"Bukankah kau sudah tidak punya uang." tanya Erita polos sekali.

__ADS_1


"Kemarin Kak David memberiku uang, pak Aldo juga memberikan uang. Jadi ku pikir akan berguna jika ku belikan rumah ini saja, walaupun tidak mewah tapi ini cukup nyaman untuk kita. Aku belum melunasinya, masih seratus juta lagi yang belum ku bayar, mudah-mudahan tak sampai setahun aku sudah melunasinya." Adi begitu yakin.


"Bayar pakai uang yang kau kirimkan saja, lagi pula itu terlalu banyak." Erita benar-benar tulus.


"Kau pegang saja, jika nanti aku tak mampu melunasinya maka terpaksa." Adi tersenyum aneh.


"Kalau begitu aku saja yang akan membayarnya, lagi pula sama saja baik nanti atau sekarang, uang yang ini atau yang nanti." Erita mengeluarkan ponselnya.


Adi tersenyum, ia tak pernah menyangka gadis itu begitu baik dan tulus, ia tak pernah melihat sikap egois di dalam dirinya, membuat Adi memikirkan kesalahannya.


"Maafkan aku Sayang, aku menghancurkan hidupmu, aku jahat padamu, aku sungguh-sungguh minta maaf." Adi memeluknya erat, hatinya selalu merasa bersalah.


"Sudah, bukankah kau seorang playboy, mengapa harus merasa bersalah seperti itu." Erita mengusap bahu lebarnya.


"Aku serius Erita, apa kau mau memaafkan aku?" tanya Adi dengan wajah berharap.


"Aku sudah memaafkan-mu." Erita tersenyum manis, wajahnya terlihat meneduhkan.


"Jangan memelukku, nanti kau bisa khilaf." Erita mendorong tubuh pria itu.


"Tidak, aku janji akan menahannya hingga besok kita bersama. Dan akan mengulanginya hingga kau tidak bisa berjalan setelah menikah nanti." Adi masih memeluknya erat.


"Aku akan siap jika sudah menikah." Erita yang polos itu kini mulai berani, sedikit bercanda membuat mereka semakin bahagia.


"Dimana ayah dan ibumu?" tanya Erita tak menemukan siapapun, rumah itu masih kosong.


"Mereka ada dikontrakkan, nanti setelah kita menikah baru akan pindah kemari. Mereka juga tak akan lama, harus pulang dan merawat tanaman sayur di sawah. Mereka orang yang sederhana, bahkan terlihat sungkan jika berhadapan dengan orang baru, atau orang yang berduit. Mertuamu hanyalah orang kampung yang tidak akan banyak menuntut padamu, kita hanya akan tinggal berdua." Adi berbicara banyak.


"Ayahku juga orang biasa saja, hanya laki-laki yang selalu berpikiran positif pada siapa saja, ia juga tak akan banyak menuntut padamu." Erita ikut menjelaskan tentang ayahnya.


"Aku tau, bahkan ayahmu terlalu baik. Aku menyayangimu, aku sangat beruntung memiliki keluarga seperti Aji dan Ayahmu, mereka tak menolakku." Adi masih merangkul bahu Erita, duduk di sofa satu-satunya di rumah baru itu.


"Aku juga beruntung akan memiliki suami seperti dirimu, kau baik sekali." Erita memujinya.

__ADS_1


Adi memang orang baik, hanya saja rasa sakitnya di campakkan membuat ia melupakan rasa cinta yang sesungguhnya, ia sempat membenci semua wanita dan hanya berniat mencicipi mereka sepuas hati tanpa menikahinya, hanya bermain saja dan itu tanpa cinta. Tapi berbeda setelah bertemu Erita, dia benar-benar jatuh cinta dan rela mengejarnya, selalu di hindari membuat pria itu nekat dan akhirnya mendapatkannya dengan memaksa.


"Apa orangtuamu tahu perihal kehamilanku." Erita bertanya meskipun sedikit ragu.


"Tahu, dan aku mengakui semua kesalahanku." Adi menoleh wajah cantik itu.


"Aku malu." Erita menunduk, membayangkan betapa ia tak berharga di mata kedua orang tua Adi nanti.


"Mereka menyalahkan aku, mereka tidak akan membuatmu merasa malu." Adi tersenyum dan meyakinkannya.


"Terimakasih masih menganggapku berharga." ucapnya sendu, mata bulatnya menatap lembut.


"Kau memang sangat berharga untukku." Adi kembali memeluknya erat, hingga sedikit lama.


"Ayo kita pulang." ajak Erita pelan.


"Kenapa?" tanya Adi, tersenyum menggoda.


"Ucapanmu ingin menahan, tapi tanganmu tetap bergerak dengan lincah." Erita menunjuk tangan besar Adi sudah berada di antara kancing kemejanya.


Pria itu terkekeh geli, dan akhirnya menyerah dan segera mengajak Erita keluar dari rumah baru mereka, pulang dengan senyum tak henti mengembang, tangan tak lepas dari genggaman, juga tatapan penuh cinta yang selalu terpancarkan. Mereka sedang bahagia, semuanya tinggal menunggu akad saja.


*


"Ibu berangkatlah bersama Kak David, aku harus menunggu temanku yang akan mengantarkan sertifikat rumah." Adi meminta kedua orangtuanya masuk ke mobil David. Di pagi yang cerah itu mereka semua sedang bersiap berangkat ke rumah Erita, sebelum sholat Jum'at mereka akan melakukan akad nikah di sana.


"Apa sebaiknya kau saja yang berangkat lebih dulu, sertifikat rumahnya nanti saja setelah kita pulang." ibunya menasehati.


"Tidak apa-apa ibu, hanya sebentar." Adi meyakinkan, membuka pintu untuk ibunya di mobil David.


"Baiklah." ibunya menurut, hingga mereka berlalu meninggalkan Adi sendirian.


"Adi!" suara wanita yang tak asing itu terdengar mengejutkan Adi.

__ADS_1


__ADS_2