
Malam yang cerah semakin indah malam dingin terasa syahdu, hujan deras semakin membuat rasa semakin menggebu, begitulah pengantin baru. Berbeda dengan yang masih sendiri, kerjanya hanya merindu, membayangkan sesuatu yang jauh tak menentu, galau gelisah menjadi satu hingga larut malam selalu begitu.
Seorang pria menikmati indahnya gemerlap bintang duduk seorang diri dengan di temani sepi. Menengadah ke atas sana, memandang bulan di temani bintang hanya berdampingan muncul di waktu yang sama tapi tidak bisa menghabiskan waktu berdua.
Sewaktu debar cinta terasa melanda, membangkitkan rindu padanya di ketika itu. Sejenak lalu tersentak sedari lamunan, kini sebenarnya dialah yang telah ditinggalkan. Walau mencoba menabur cinta namun baginya tiadalah arti karena takdir sudah memilih, sehingga yang tersisa hanyalah luka sendiri.
"Galau?" Terdengar suara seseorang wanita menyapa di belakang dia duduk sendiri.
Pria itu menoleh, hanya melirik sejenak lalu kemudian kembali menatap langit yang jauh.
"Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir!" Wanita itu kembali berkata, matanya juga memandang jauh di atas sana.
"Kau terlalu menikmati serial kungfu Sun Go Kong!" Akhirnya pria itu menjawab.
"Itu lebih baik dari pada setiap malam hanya menonton bintang, mereka tak dapat di ajak bicara." Wanita itu ikut duduk di sampingnya.
"Aku tidak butuh teman bicara." Jawabnya tak menoleh.
"Kau bisa gila jika tak memiliki teman bicara, manusia di ciptakan sebagai makhluk sosial. Nikmati hidupmu!" Wanita itu mencoba memberinya semangat.
"Tau apa bocah sepertimu?" Dev menoleh sejenak, sedikit tertarik dengan wanita yang masih sangat muda.
"Aku juga pernah merasakan putus asa." Jawabnya terlihat menikmati malam.
"Kenapa?" Dev melihat gadis itu berwajah manis, dengan rambut bergelombang, tak terlalu tinggi.
"Aku pernah memiliki kekasih, tapi tidak di hargai dia bahkan menganggap aku hanya sekedar mainan. Sakit sekali dianggap remeh oleh orang yang kita cintai" Ucapnya tersenyum getir.
"Kasihan." Dev tersenyum sinis, membuang pandangannya ketempat yang jauh.
__ADS_1
"Ish, kau mengatai aku kasihan, kau sendiri lebih menyedihkan." Wanita itu merasa kesal, tapi tak juga pergi.
"Dia tidak menghianati aku, akulah yang memintanya menjauh dariku karena aku mencintainya." Dev menunduk, sedikit menemukan tempat untuk mengeluarkan kegelisahan.
"Baik sekali, aku jadi tidak percaya ada laki-laki seperti dirimu. Malah yang aku tau laki-laki yang terlihat sempurna akan mencari yang lebih sempurna, yang jelek saja belagu, apa lagi yang sempurna." Ucap gadis itu melihat wajah Dev.
"Jadi secara tidak langsung kau menganggap aku sempurna?" Dev memicingkan matanya.
"Ya, kau tau setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Selagi ada waktu untuk menikmati hidup mengapa harus bersikap seperti sudah mati." Gadis itu tersenyum sedikit, lalu dia beranjak meninggalkan taman itu.
Dev menatapnya dari belakang, memikirkan apa yang wanita itu katakan. Cukup menarik, mungkin besok akan menjadi lebih baik jika merubah sedikit rasa putus asa itu menjadi semangat untuk menikmati sisa umur di dunia ini. Dunia yang hanya sementara, seperti sandiwara, dan kita semua adalah pemain di atasnya. Bukankah peran kita di dunia sudah di atur.
Sementara di tempat lain, sepasang pengantin baru sedang menikmati waktu berdua, sedang mereguk madu asmara sedang saling menyentuh dan merayu. Suara nan nan lembut menggema terdengar merdu tapi di ganggu dengan suara dering telepon.
"David ada telepon!" Ayu meminta suaminya mengangkat ponselnya yang tak henti berbunyi.
"David angkatlah sebentar." Ayu meminta David menjauh, tangan lembut itu mendorong sedikit bahu David.
Dengan kesal David beranjak, wajahnya terlihat kecewa. "Siapa yang menghubungiku malam-malam begini mengganggu saja." David bersungut-sungut sambil meraih ponselnya.
"Ada apa?" David menjawab teleponnya dengan nada kesal, matanya masih menoleh istrinya yang sedang bersembunyi di balik selimut.
"Hahaha. Aku tidak lama, hanya memberitahumu, malam Minggu kita berkumpul di cafe, Abidzar memintaku menghubungimu." Suara Aldo yang terdengar sedang menertawakannya.
"Kenapa tidak dia saja yang menghubungiku?" David meluapkan kekesalannya.
"Tadi kami bertemu di kantor istriku, dia sedang bersama Anggara, mereka baru saja pulang dari kantor istrimu itu katanya sudah selesai." Aldo menjelaskannya pada David.
"Iya. Dasar kau sengaja menggangguku sudah tau aku masuk kerja malam Sabtu dan minggu." David merasa di kerjai.
__ADS_1
"Aku hanya takut kau bolos kerja, biasanya pengantin baru malas bekerja. benar tidak?" Aldo semakin membuatnya jengkel.
"Itu kau tau, bahkan teleponmu ini terdengar berisik sekali di telingaku." David memarahinya.
"Sudah kalau begitu kau lanjutkan lagi." Aldo memutuskan sambungannya, seolah tau David sedang merasa sangat terganggu.
"Dasar tidak tau diri, sengaja sekali dia menelepon memberitahukan hal yang tidak penting." David berbicara sendiri sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.
Ayu terkekeh geli melihat David kesal sekali, walaupun kembali memeluknya tapi panggilan telepon itu sungguh membuat semangatnya menghilang.
"Sayang tidak boleh begitu, mungkin yang di ucapkannya memang penting." Ayu mengelus bahu David yang kekar, membuat David menarik nafas, mencoba menetralkan perasaannya yang sempat bercampur aduk.
"Sebenarnya memang penting sayang, Abidzar hari ini sudah datang ke lokasi dan dia akan menyerahkan kantormu itu hari Senin." David mengelus wajah tirus Ayu yang putih bersih itu.
"Apa aku boleh ikut?" Ayu menyelipkan tangannya di antara bahu David, dia sedikit merayu.
"Apa tidak sebaiknya kau kerumah kakakmu?" David merasa Aldo tak akan bisa keluar dengan mudah mengingat semenjak hamil Reva ingin selalu ikut kemana saja suaminya pergi.
"Tapi sepertinya dia akan ikut ke manapun Oppa KW itu pergi, semakin hari dia semakin menempel saja." Ayu merasa lucu dengan kelakuan kakaknya.
"Aku rasa kakakmu itu sedang jatuh cinta pada suaminya."David ikut tertawa. "Bahkan sangat-sangat cinta, doa rekanku itu sedang di kabulkan tuhan, bahkan dia sedang mendapatkan lebih dari apa yang dia minta." David mengingat kedua orang yang sedang mereka bicarakan.
"Bukankah itu bagus, mereka jadi tak terpisahkan." Ayu menatap wajah sedikit berjambang itu dengan penuh cinta.
"Kita juga, kau harus tetap jatuh cinta padaku sampai tua." David membalas tatapannya dengan tak kalah mesra, menyibak rambut halus yang sedikit mengganggu pemandangan di wajah cantik itu.
"Tentu saja, kau selalu membuat aku jatuh cinta." Ayu bersikap lebih hangat dan lembut sejak sesudah menikah.
"Aku akan selalu membuatmu jatuh cinta padaku, hanya menyebut namaku. Tidak ada waktu untuk melupakanku walau sedetik saja." David menatap bola mata bening itu. Semangat yang sempat padam kini kembali menyala, dengan penuh kasih sayang dia mendekap erat istri tercinta.
__ADS_1