
Rey meninggalkan David untuk melihat keadaan adiknya. Kekhawatirannya kini berkali lipat, dalam keadaan hamil jangankan di tahan di rumahnya saja terkadang dia tak nyaman, butuh banyak hal untuk menjaga moodnya, dan yang pasti dia butuh suami.
Rey membuka pintu, di lihatnya adik yang manja itu masih terbaring lemas. Jika hari-hari biasanya di habiskan dengan bermanja-manja, bagaimana dengan esok? Rey benar-benar pusing memikirkan jalan keluarnya.
"Apa adikku ingin makan sesuatu?" Tanyanya, tersenyum hangat.
"Tidak, aku lemas." Jawabnya, wajahnya masih terlihat pucat. "Dimana Aldo kak?" Tanyanya lagi.
"Dia sedang keluar, ada urusan sedikit." Rey belum siap mengatakan yang sebenarnya. "Sungguh adikku ini membutuhkan pria bucin itu." Gumam Rey di dalam hati.
"Apa akan lama?" Reva tampak gelisah, padahal baru di tinggal sebentar saja.
"Tidak, sebentar lagi dia kembali." Rey menenangkannya. Duduk menatap wajah adik kesayangannya, wajah yang teduh itu harus menanggung beban yang begitu berat.
"Kak, aku ingin melihat Ayu." Ungkapnya sedih.
"Dia sudah sadar, kakak barusan dari kamarnya. Kau pulihkan tenagamu, baru setelahnya kau bisa merawat Ayu." Rey merayunya agar mau istirahat. "Atau kakak belikan makanan di luar agar kau sibuk mengunyah, itu akan membuatmu rileks."
"Iya. Aku ingin mangga merah kak, jangan terlalu matang." Nafsu makannya memang tak pernah padam.
"Baiklah, tunggu sebentar disini." Rey mengangkat telunjuknya mengarah ke kasur.
Reva mengangguk kemudian Rey meninggalkannya keluar. Reva merasa bosan dengan posisi tidurnya, rasanya dia ingin sekali bangun dan keluar, tapi ingat dia sedang mengandung, ada nyawa yang harus selalu di jaga membuatnya kembali tenang.
Mendengar suara pintu terbuka, dia segera berbalik melihat siapa yang datang. Bibir yang cantik itu tersenyum manis sekali melihat yang datang adalah orang yang selalu ada di hati.
"Mas." Panggilannya manja.
"Iya sayang." Aldo memeluknya mesra sekali walau hatinya menahan gejolak takut dan cemas.
"Aku mencarimu mas, kenapa lama sekali." Wajah cantiknya mendongak melihat dan menghirup nafas yang menghembus tepat diwajahnya. Aldo diam tak mampu bicara.
"Hanya ada urusan sebentar. Makan dulu ya?" Aldo melonggarkan pelukannya dan menyiapkan makanan yang dia bawa, kali ini Aldo menyuapinya.
"Aku bisa makan sendiri mas." Tolaknya.
__ADS_1
"Tidak, biar aku yang menyuapimu." Aldo mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut istrinya. Reva tersenyum selalu merasa bahagia bila bersamanya, hingga makanan itu habis tak tersisa Aldo masih memandangi wajah yang masih mengunyah itu.
"Minum mas." Ucapannya lembut dan manja, membuat Aldo tersenyum dan memberikannya minum dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, aku ingin bicara." Ucap Aldo lembut.
"Ada apa mas?" Tanyanya.
"Orang yang menabrakmu adalah pak Hartawan, dia meninggal." Aldo berucap pelan, tangannya menggenggam erat jari kecil mainannya.
"Lalu bagai mana mas, apa aku akan di tahan polisi?" Reva mulai cemas sekali.
"Mungkin di mintai keterangan, kau jangan takut aku akan selalu bersamamu. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu." Aldo meyakinkanya.
"Tapi memang bukan kami yang salah mas, mobilnya yang mengebut tak terkendali." Reva mengingat kejadian yang menakutkan itu, membuat wajahnya menjadi tegang.
"Iya sayang, kau katakan saja yang sebenarnya. Mudah-mudahan mereka hanya memintai keterangan saja." Aldo mendekapnya erat, mencoba menenangkan istrinya yang sudah khawatir.
*
Tidak disangka di kantor polisi sudah menunggu seorang wanita arogan dengan dua orang pria berjas, dua pengacara handal yang akan siap melayani wanita cantik dan anggun itu.
"Pak Tomy," Aldo terkejut melihat pria empat puluhan itu berdiri bersama Nyonya Amelia.
"Maaf pak Aldo." Pria itu menunduk. Di ikuti senyum sinis dari wanita di sampingnya.
Aldo terdiam tidak mampu berkata apa-apa, hatinya tidak menentu saat istrinya masuk ke ruang pemeriksaan bersama Nyonya Amelia dan dua pria itu. Aldo mengusap kasar wajahnya membayangkan istrinya sendirian.
"Kau bilang sudah mendapatkan pengacara." Rey ikut merasa bingung.
"Pengacaraku berpihak padanya." Aldo meremas rambutnya sendiri.
"Aku yang akan masuk, kau cari pengacara yang lain." Rey menyusul Reva ke dalam.
Aldo sibuk menelepon beberapa orang untuk mencari bantuan, terakhir dia menelpon David. "David apa kau punya kenalan pengacara selain rekan kita di Hartawan Group?"
__ADS_1
"Tidak ada, Pengacara yang hebat sudah berpihak semua pada mereka. Hanya ada satu yang bisa kita andalkan, tapi dia sedang keluar negeri." David menjelaskannya pada Aldo.
"Siapa?" Aldo mendapat sedikit harapan.
"Bapak Abizar. Dia yang memegang surat kuasa dan warisan dari pak Hartawan untuk Ayu." Jelasnya.
"Bisakah kau memintanya cepat kembali?" Aldo sangat berharap.
"Tidak bisa, Istrinya sedang operasi." David menjawabnya dengan nada terdengar sedih.
Aldo terduduk lemas pikirannya sangat kacau. Hingga satu jam berlalu tampak Nyonya Amelia keluar dengan menatap sinis dan tajam ke arahnya. Kemudian di susul Reva dan Rey yang sudah tampak berjalan ke arahnya tapi di iringi polisi wanita. Wajah Aldo semakin pucat melihatnya dengan berbagai fikiran yang tidak menentu.
"Sayang." Aldo meraih ke dalam pelukannya.
"Mas, aku di tahan." Air matanya sudah turun berhamburan,wajah teduh itu terlihat lesu semakin menyakiti perasaan Aldo.
"Kenapa istriku ditahan, dia yang di tabrak. Bukan sebaliknya." Aldo tidak terima.
"Pak mohon tenang dulu. Jika buktinya sudah lengkap maka hasilnya akan di putuskan. Untuk sementara istri anda kami tahan" Polisi wanita itu menjelaskan.
"Tidak, tunggu sebentar." Aldo meraih lengan istrinya. "Sayang.. Aku janji akan mengeluarkanmu dari sini apapun caranya. Aku mohon, kau jangan menangis, jangan banyak fikiran, jangan takut. Ingat anak kita ada di dalam sini." Aldo mengusap perutnya yang membuncit, matanya sudah basah.
"Iya, aku tidak apa-apa mas. Aku minta maaf padamu karena pergi tanpa izin dulu padamu." Ucapnya sedih.
"Tidak sayang, ini bukan salahmu. Jangan memikirkan apapun, pikirkan saja aku selalu mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Aldo menciumi pipinya, kening, hidung dan semua di wajahnya.
Reva di bawa masuk kedalam sel tahanan di ikuti Rey dan Aldo yang masih tak rela melepas istrinya. Tangannya bertaut di antara jeruji dingin itu, Aldo menangis melihat wajah cantik itu ada di dalam sana.
"Kakak, jangan beritahu ibu bahwa aku ada disini." Pintanya pada Rey.
Rey menatap sendu pada adik kesayangannya, dia bingung harus menuruti permintaannya atau tidak. "Iya." Jawabnya singkat dan bergetar.
Aldo jatuh merosot dengan posisi berlutut masih memegang tangan istrinya. "Maafkan aku sayang, aku benar-benar tidak berguna." Lirihnya.
"Tidak mas, ini ujian untuk kita berdua. Jangan menangis." Reva berusaha lebih tegar.
__ADS_1