
Selepas Aldo meninggalkannya, siang itu Reva menjaga ibu yang sedang istirahat hingga akhirnya dia tertidur dan elusan penuh kasih sayang itu membuatnya bangun.
"Ibu." Panggilnya sambil mengusap mata yang masih belum sepenuhnya melihat jelas.
"Kau sudah bangun sayang, Ibu sangat menghawatirkanmu." Ibu menatapnya penuh kasih sayang.
"Aku tidak apa-apa ibu, aku sudah disini." Reva mengelus tangan yang sudah mulai keriput itu.
"Mana suamimu?" Tanya ibu.
"Sedang keluar ibu, mungkin ada urusan." Jawabnya pelan.
Ibu tersenyum masih tak puas memandang wajah cantik anak gadisnya. "Ibu tau kau di tahan sayang, kakakmu sengaja merahasiakan dari ibu, tapi ibu mendengar dia sedang bicara dengan rekannya untuk mencari bukti untuk pembebasanmu." Ibu berurai air mata.
"Maaf ibu." Reva menunduk sedih.
"Kau tidak perlu minta maaf, Tuhan sedang memberimu ujian." Jelasnya halus.
"Benar sekali, saat ini Tuhan sedang memberiku ujian, Aku sungguh tidak tahu apakah akhirnya akan bahagia atau sebaliknya." Jawabnya hanya di dalam hati. Reva tersenyum manis untuk menghibur ibunya, "Lekaslah sembuh ibu, aku sudah tidak apa-apa." Reva kembali memeluknya.
"Kakak, kau belum sholat?" Ayu masuk dengan wajah segar sehabis Ashar.
"Iya, sudah jam lima." Reva melirik jam dinding lalu kemudian beranjak menuju kamarnya.
Sepi....Kembali sepi rasa hatinya ketika masuk di kamar yang dulu jadi tempat pertama kali menikmati waktu berdua saat setelah akad nikah, hari ini pun dia melakukan akad yang sama dengan wanita yang lain. Sungguh hancur hatinya membayangkan mereka bersama, sore yang indah ini akan sangat indah bagi mereka yang sedang menikmati waktu berdua, tidak baginya dia sangat terluka.
"Dia kemana?" Sungguh merasa konyol sekali menanyakan hal itu, sudah pasti dia ada di rumah mewah yang menjadikannya seorang tuan muda. Mengingat suami yang selalu menjadikannya ratu setiap waktu, tak disangka di tempat lain ada ratu yang siap menjadikannya sebagai raja, Reva kembali menangis.
Hingga malam hari, waktu sudah menunjukan pukul 21:09 Reva masih berharap dia kembali seperti saat dulu Aldo hanya sibuk bekerja, tapi saat ini dia tidak perlu lagi bekerja, "Pupus sudah rindunya padaku " Waktu berlalu dengan kegalauan Reva seorang diri.
Malam yang dingin kian merayap, Pintu kamar itu tertutup rapat mungkin pemiliknya sedang menangis, dan terlalu lelah menangis hingga tertidur dengan bantal yang di banjiri air mata. Menjelang subuh, Adzan berkumandang dengan merdunya, membangunkan setiap orang yang hatinya ingin beribadah.
Reva bangun dan melaksanakan sholat, sungguh hanya Tuhan saja tempat mengadu, tidak pada ibu, tidak pada kakak, tidak juga pada orang yang teramat ia cintai. Sungguh kejam dunia ini, di saat cinta menemukan jalannya, mestilah akan ada hati yang harus terluka.
Mungkin karena semalam dia tidak makan, sehingga sehabis sholat subuh perutnya sudah minta di isi. Reva turun dengan perlahan mengambil makanan di dapur dan menyantapnya sendirian.
"Sayang." Suara pria itu begitu dekat, membuat Reva menghentikan suapan ke mulutnya.
Dia menoleh, Aldo sudah melingkarkan tangannya memeluk dan mencium pipi yang menoleh itu.
__ADS_1
"Kenapa kau disini?" Reva merasa terkejut dan gugup.
Aldo mengernyitkan keningnya, "Aku memang disini." Jawabnya santai, Aldo mengambil piring dan ikut makan bersamanya.
"Harusnya kau bersama istrimu." Ucapnya tanpa melihat, bibirnya sedikit mengerucut.
Aldo tampak berfikir, "Ah iya, dia belum tau." Gumamnya dalam hati. Aldo pura-pura tidak mendengar.
"Setelah aku melahirkan, aku ingin kau menjatuhkan talak padaku."
Aldo menghentikan aktifitas makannya. "Kau ingin berpisah dariku?" Aldo menatap tajam.
"Iya."
"Kenapa? Apa kau sudah tidak menginginkan aku?" Aldo menahan gejolak di dadanya.
"Iya."
"Apa karena Dev?" Tanyanya pelan.
"Tidak."
"Mas dengarkan aku, Tidak ada laki-laki yang bisa adil di dunia ini."
"Aku tidak perlu adil aku sudah_"
"Mas aku mohon, dengarkan aku!" Reva setengah berteriak, membuat Aldo mengalah.
"Satu hari kau bersamaku, satu hari kau bersamanya, itu adil. Tapi, dua kali kau tersenyum padanya, tiga kali kau tersenyum pada ku, itu sudah tak adil. Begitupun sebaliknya mas, begitu juga yang lainnya. Aku wanita biasa yang penuh kekurangan, hatiku tak cukup besar untuk menerima kenyataan. Aku tidak sanggup membayangkan mu bersamanya, bermanja, bercinta dan sebagainya." Reva menutup telinganya.
"Kau tidak sanggup membayangkannya, maka jangan kau bayangkan." Aldo mulai menurunkan suaranya.
"Mana mungkin aku tidak membayangkannya mas." Reva memegang dadanya.
"Kau tidak sanggup membayangkannya berarti kau sangat mencintaiku, takut kehilanganku." Aldo meraih tangan yang lentik itu.
Reva menahan gejolak di hatinya, dadanya naik turun menekan pedih yang menghujam hingga ke ulu hati. "Sebaiknya lepaskan aku biarkan aku sendiri."
"Itu tidak akan pernah terjadi, sampai mati aku tidak akan melepaskanmu." Aldo tetap dengan jawabannya.
__ADS_1
"Kau egois." Reva menangis.
"Aku egois bagai mana?, aku menikahi Bella karena aku tidak mau kau di kurung di dalam sana, kau sedang mengandung anakku. Apa aku harus diam saja?" Aldo mulai tersulut emosi.
"Aku lebih baik selamanya di sana dari pada harus berbagi dengan wanita lain, aku tidak mau." Reva semakin menangis.
"Aku tidak pernah membagi cintamu dengan orang lain. Aku sudah menceraikannya!!" Aldo sudah tidak tahan berdebat dengan istrinya.
Reva menggeleng, tangannya kembali sibuk memotong makanan di piringnya, hanya memotong.
"Kau tidak percaya?" Aldo menatap wajahnya. Reva diam tak menatapnya juga tidak merubah posisinya. "Baiklah kalau tidak percaya, kau bisa tanya David atau orang-orang yang hadir di sana, aku tidak memaksa. Tapi, jangan sampai permintaanmu itu ada alasan yang lain." Ucapnya menekan kalimat terakhir.
Reva masih diam membeku.
"Aku harus bekerja hari ini. Jika harus keluar izin padaku." Ucapnya lagi segera berlalu meninggalkan Reva tanpa menciumnya seperti biasa.
***
"Selamat pagi pak Aldo." Pegawai Cafe menyapanya, sedikit heran pagi-pagi sekali bosnya sudah datang.
"Selamat pagi." Jawabannya singkat tanpa tersenyum.
"Hey, tumben pagi sekali kau sudah datang." David menyapa rekannya yang masih terlihat kusut.
"Hanya sedang ingin bekerja." Jawabnya acuh.
"Aku kira sedang ingin bercinta." David menggodanya sambil tersenyum lebar.
Aldo menggeleng tersenyum kecut, tangannya sibuk membuka laptop di atas mejanya.
"Apa masalahmu belum beres?" David mendekatinya.
"Reva malah ingin berpisah, apa itu tidak gila?" Jawabnya frustrasi.
"Mungkin takut kecewa, kau harus sabar meyakinkannya." David mencoba menenangkan Aldo.
"Aku hanya takut ada alasan yang lain, entah jika itu perasaanku saja." Aldo menyandar mengusap wajahnya.
"Berpikirlah positif, tenangkan dirimu dulu baru kau bicara padanya, kita semua butuh waktu untuk merefresh otak kita masing-masing, kita semua baru saja mengalami hal yang buruk." David menepuk pundaknya.
__ADS_1