
"Aku juga ingin mati." ucapnya lirih.
"Kau tidak boleh mati, anak yang di titipkan Allah itu tidak bersalah. Adi juga sangat ingin hidup dengan kalian berdua, tapi Tuhan tidak mengizinkannya." Dev menjeda ucapannya. "Adi begitu mencintaimu, sama seperti aku dulu sangat mencintai Mey. Dia rela menyerahkan semua yang dia miliki untuk kau dan calon anaknya. Hargai cintanya yang begitu besar itu." ucap Dev lagi.
"Aku harus bagaimana?" ucapnya masih dalam tangis yang pilu.
"Lanjutkan hidupmu, ini hanya ujian Erita. Tak selamanya langit itu mendung dan gelap menghalangi matahari, akan ada terang setelah hujan. Kau tak perlu khawatir ke depannya seperti apa, tuhan sudah mengatur semua dengan baik, bahkan setelah ini, akan ada kehidupan yang baik untukmu." Dev mencoba menghiburnya, karena dia tahu persis rasanya kehilangan. Bedanya, dulu itu dia sendirian, tak ada yang menghibur bahkan memberikan nasehat untuk menenangkan hati.
"Aku tidak sanggup menjalani ini dengan kondisi hamil tanpa suami. Dan ku dengar mereka semua sedang sibuk mencarikan ayah untuk anakku, jujur saja aku tidak mau." Erita menunduk.
"Jika kau tidak mau kau katakan saja. Kau bisa tinggal di rumah Adi, dengan uang yang dia siapkan untukmu. Dia mengatur semuanya seakan dia sudah tahu akan meninggalkan dirimu." Dev tersenyum lembut.
"Kau benar, aku saja sampai heran dengan sikapnya." Erita memejamkan mata, ia sedang menetralkan hati yang selalu bergejolak dan berdenyut nyeri ketika mengingat Adi.
"Aku akan mengunjungimu nanti jika kau sudah tinggal di sana. Dan jika periksa ke dokter kau hubungi aku saja, aku bersedia menjadi suami pura-puramu. Jika dokter bertanya aku akan menjawab seperti ayah sesungguhnya, kau tidak perlu khawatir." Dev memberinya semangat.
Erita menoleh, wajah sembabnya tampak serius, mata bulatnya menatap Dev dengan tak berkedip.
Lama, lalu kemudian dia tertawa.
"Mengapa kau tertawa, aku serius!" Dev menatap heran Erita, ia memang sedang tidak bercanda.
"Aku sedang membayangkan kau pura-pura menjadi suamiku, aku sulit membayangkan bagaimana wajahmu itu jika sedang bersandiwara." Erita kembali tertawa.
"Kau meremehkan aku?" Dev menjadi kesal sekali, selama mereka menjadi tetangga Dev tak pernah melihat Erita tertawa.
"Tidak, bukan begitu maksudku, hanya aku sedang membayangkannya, dan ku rasa itu lucu." dia masih tertawa.
__ADS_1
"Terserah kau saja, niatku hanya ingin membantu." Dev beranjak dari duduknya.
"Malah dia tertawa." pria itu berjalan sambil bersungut-sungut, membuat Erita semakin geleng-geleng kepala.
Berita kehamilan Erita tidak mungkin di tutupi, gadis itu sungguh tak berdaya dengan kenyataan yang menimpa dirinya. Hinga hari itu, ayah Erita datang dengan hati yang sangat sedih, ia juga tak mungkin memarahi anaknya, karena sudah jelas jika Erita tidak bersalah. Meskipun orang tua dan juga Davit menyatakan akan bertanggung jawab sepenuhnya tapi tetap saja mereka tidak akan tenang jika seorang anak gadis tengah hamil tanpa suami.
"Erita, ayah sarankan kau menikah saja dengan keponakan calon mertuamu itu Nak, ayah tidak tega membiarkan kau sendirian tanpa status yang jelas." ayah berbicara serius.
"Aku tidak mau Ayah, biarlah aku menjalani ini semuanya sendiri. Lagi pula aku sudah punya tempat tinggal dan tabungan yang cukup untukku hidup sementara bersama anak ini." Erita menunduk melihat perutnya yang masih rata.
"Walau bagaimanapun juga kau butuh suami." ayah tetap memberikan saran.
"Aku akan memikirkannya." Erita tak mungkin membantah, tapi juga ia tak mau menerima.
Hari-hari berlalu, Erita sudah mulai masuk bekerja. Kali ini ia bekerja menggantikan Adi sesuai janji David, ia tak lagi sibuk di dapur, ia hanya mengawasi dan mengarahkan pegawainya untuk bekerja. Hari-hari yang lelah itu ia jalani sendiri, meskipun ada Aji yang selalu membantunya tetap saja ketika keluhan ibu hamil itu datang ia merasa sendirian.
Tak sekali Dua kali ia melamun membayangkan jika Adi masih ada dan memanjakan dirinya dengan ucapan dan sentuhannya yang nakal, juga buah-buahan yang di belinya dalam jumlah banyak agar Erita tak kekurangan apapun untuk di makan. Itu hanya khayalan, entah di mana pria itu sekarang, apakah di antara awan, apakah di antara bintang, dan apakah dia bisa melihat betapa Erita sedang merindukannya, mengingatnya, ingin bersamanya? Jika dia masih ada, tentu dia akan selalu menempel dengan Erita, dia senang sekali memeluknya dalam waktu lama.
"Halo!" Erita menjawabnya.
"Ini sudah bulan ketiga bukan? Jadwalmu periksa kehamilan." suara tetangga di seberang sana.
"Kau hafal sekali." Erita sedikit menggerutu, ia sedang asyik mengenang mantan kekasihnya.
"Tentu saja, aku ayahnya." Dev mengajaknya bercanda.
"Baiklah, jangan sampai kau tidak bersungguh-sungguh jika di hadapan dokter. Aku tidak mau malu karena aktingmu jelek!" Erita mengingatkannya.
__ADS_1
"Iya." jawabnya singkat, langsung mematikan ponselnya dan menuju Cafe menjemput Erita.
Benar saja hanya tiga puluh menit pria itu sudah datang, dengan seragam militernya ia turun dan mendekati Erita. Dia benar-benar mendalami akting sebagai suami dan calon ayah yang baik.
"Jangan terlalu mendalami aktingmu, nanti kau terjerat cinta lokasi." ucap Erita tak canggung lagi, mereka sudah biasa mengobrol hal pribadi, saling menggoda juga saling mengatai.
"Kau rasa dirimu masih cantik, bahkan sebentar lagi kau akan terlihat gendut seperti kardus mesin cuci." ucap Dev sambil menunjuk toko elektronik di pinggir jalan.
"Kau juga sangat jelek, jangan merasa dirimu tampan." Erita kesal sekali, bibir merahnya mengerucut.
"Aku tidak merasa tampan. Ah aku jadi curiga kau sering mengagumi aku, melirik wajahku yang tampan ini." Dev menggodanya dengan sangat percaya diri.
"Ih, aku bahkan malas sekali melihat wajahmu." Erita membuang muka tak mau menatap Dev yang tersenyum menggoda dirinya.
"Hahaha... Aku tidak yakin." Dev masih terus menggodanya.
Sejenak mereka terdiam dengan pikirannya masing-masing, hingga tiba di sebuah klinik Dev berhenti dan mengajak Erita masuk ke dalamnya.
Dokter Tiga puluh Lima tahunan itu menyambut ramah, mengajaknya ke ruang periksa dan meminta Erita berbaring.
"Apa ada keluhan ibu Erita?" tanya dokter itu, ini kali kedua Erita periksa, tapi di bulan lalu ia datang sendiri.
"Masih mual di pagi hari Dok." jawabnya pelan, Dev mendampinginya dengan sabar, berdiri dekat sekali di samping Erita.
"Ini suami anda?" tanya dokter itu ramah sekali.
"Iya, saya suaminya." jawab Dev yakin dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Ah, rupanya seorang tentara. Anda harus menjadi istri yang kuat, siap di tinggal dalam waktu yang lama." kelakar dokter itu lagi.
"Benar sekali Dokter, itu sebabnya istriku terkadang harus pergi sendirian termasuk saat periksa kemari." jawabnya tepat sekali.