
"Kau benar-benar ingin mati bocah ingusan." Preman itu menertawakan Aldo yang masih memakai seragam sekolah.
"Itu benar, jika bukan aku maka kau yang akan ku habisi." Aldo berdiri di samping pria berjas itu.
"hahahah..!" Mereka tertawa bersama-sama, mereka sungguh tidak yakin dengan kemampuan bocah seperti Aldo.
Aldo tersenyum manis sekali, semakin membuat mereka tertawa terbahak-bahak. "Hey bocah cantik, kau serius ingin berkelahi?" ucap salah satunya melihat wajah Aldo yang putih dengan bibir merah itu terlihat benar-benar cantik.
"Tidak percaya?" Aldo balas bertanya, ke tiga orang di hadapannya masih tertawa hingga memegangi perutnya.
"Baiklah, sudah cukup bermain-mainnya. Kita akan mencoba tarian bocah cantik ini." Mereka kembali tertawa, tapi tidak untuk salah seorang yang mendekati Aldo. Pria itu melihat mata Aldo yang begitu tajam, dia mulai serius dan berpikir, yang di hadapinya adalah orang yang benar-benar ingin berkelahi.
Pria itu meninju, meleset. Lalu menendang, Aldo menghindar dan sedikit mundur. Hingga akhirnya perkelahian semakin sengit, dan Aldo menang. begitu juga dengan dua yang lainnya, mereka maju bersamaan dan Aldo berhasil membuat satu tangan mereka berputar arah. Jeritan menyakitkan itu terdengar menakutkan bagi rekannya yang lain, hingga membuat mereka berlari terbirit-birit.
"Nak." Panggilan pria berjas itu menyadarkan Aldo yang masih di selimuti emosi.
"Iya." Aldo berbalik dan sedikit tersenyum.
"Kau masih sekolah?" tanyanya pada Aldo.
"Iya, aku baru saja selesai ujian." jawab Aldo, begitu tenang.
"Apa kau mau bekerja denganku?" tanya pria itu begitu berharap, matanya menelusuri setiap lekuk wajah Aldo.
"Apa yang bisa ku lakukan, bahkan aku tidak pernah bekerja apapun."
"Kau hanya bertugas menemaniku, ikut kemana aku pergi." ucapnya masih dengan tatapan penuh harap.
"Tapi aku_"
"Kau bisa sambil kuliah, aku akan membiayai pendidikan mu, kau juga akan mendapatkan gaji. Silahkan katakan saja berapa gaji yang kau minta?" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Beberapa saja, asal aku bisa melanjutkan pendidikanku." Aldo tak banyak meminta. Bibir pria berkumis tertarik melengkung ke atas, dia begitu lega anak laki-laki yang di ajaknya bekerja tak begitu berambisi dengan gaji yang akan dia dapatkan.
"Dua puluh juta di awal, tapi kau melanjutkan pendidikanmu di kota K." jelas pria itu lagi.
"Baiklah, aku setuju. Kapan aku mulai bekerja?" Aldo berbicara tanpa basa-basi.
"Kapan saja kau bisa, besok-pun aku sudah sangat ingin kau bekerja denganku." jawabnya dengan bahagia.
"Baiklah. Namaku Aldo." Aldo mengulurkan tangannya dengan penuh percaya diri.
Pria itu tersenyum melihat keberanian pria muda itu, dia menyambut jabatan tangan Aldo. "Hartawan." ucapnya. "Ini kartu namaku, kau kirim nomor ponselmu segera." tambahnya lagi, memberikan kartu nama setelah bersalaman.
"Akan aku kirimkan." Aldo menunduk hormat.
"Sampai bertemu lagi." Pak hartawan menepuk pundak Aldo kemudian berlalu kembali melajukan mobilnya.
Enam bulan telah berlalu, Aldo sudah bekerja sambil melanjutkan pendidikannya di kota K, ikut dengan pak Hartawan membuatnya begitu merasa di hargai, pria itu ternyata memiliki perusahaan yang memiliki cabang di banyak kota. Aldo bekerja dengan baik dan belajar dengan baik, hingga pada bulan ke enam bertepatan satu semester pendidikannya, Aldo sudah menguasai banyak hal tentang dunia bisnis. Dia tampak begitu piawai menyelesaikan semua pekerjaan, terlebih lagi dalam mengusut segala kecurangan di dalam perusahaan cabang milik bosnya. Terkadang harus beradu otot untuk menyelesaikan masalahnya, tentu itu tak keberatan bagi Aldo karena dia sudah biasa.
Hari itu Dev pulang dengan bahagia, bertemu dengan ibu setelah enam bulan ia pergi menyelesaikan pendidikan militernya.
"Dev, kau ada di rumah?" Suara teman barunya melalui sambungan telepon.
"Ada, kau datang saja." Dev sedang berada di rumah hari itu.
Tiga puluh menit setelahnya, Rey sudah ada di depan rumah Dev, Rey menoleh ke sana-kemari mencari rumah sahabat barunya.
"Hey." Dev melambaikan tangan kepada Rey yang sedang membuka kaca helm, duduk di kendaraan roda duanya.
"Ah, aku sampai masuk ke gang sana, untung tidak terlalu jauh." Rey tertawa begitu manis dengan hidung mancung wajah seperti orang Asia timur tengah.
"Itu biasa, banyak orang yang menyasar, tapi akhirnya bertemu juga." Dev mengajak rekannya itu masuk.
__ADS_1
"Kau tahu, ayahku sedang sakit. Ini aku baru akan pergi ke rumah sakit." Rey duduk di sofa ruang tamu itu.
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu." Dev mengambil jaket dan segera menuju motornya yang terparkir di halaman depan rumahnya.
"Ayah sakit apa?" Dev berjalan bersamaan dengan Dev, setelah tiba di rumah sakit langsung menuju ruangan Ayah.
"Ayah sudah lama sakit ginjal." Rey membuka pintu ruangan ayah di rawat.
"Kakak!" gadis berkerudung itu masih berseragam sekolah menengah pertama, tepatnya baru kelas dua, dia memeluk Rey begitu erat.
"Kau baru pulang? Kakak rindu sekali padamu." Rey membalas pelukan itu, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah sakit semakin parah, aku takut kak." ungkapnya dengan berlinang air mata.
"Sudah, ayah akan sembuh kau jangan menangis." Rey menenangkan adiknya.
Dari balik tubuh Rey, Dev melihat gadis itu begitu cantik, hidung dan matanya seperti Rey yang tampan. tapi bibirnya sedikit tebal di bagian bawah, membuat pesonanya begitu menggoda. Lama ia memperhatikan wajah imut dan masih sangat belia itu, sekilas gadis itu menatap Dev yang masih terpaku, matanya begitu meneduhkan.
"Ah sayang sekali masih begitu kecil." gumam Dev di dalam hatinya.
Gadis itu berlalu keluar tanpa berkenalan. Lama tidak bertemu, bahkan saat ayah Rey meninggal setelah dua tahun kemudian, mereka juga tidak bertemu, apalagi berkenalan.
Saat itu Dev sedang bertugas di luar kota, kota besar dan suasana baru yang berbeda dari tempat kelahiran. Hari itu, seorang pria paruh baya sedang berbicara padanya, pria itu adalah pengusaha kaya yang memiliki banyak rumah, apartemen, dan beberapa cabang perusahaan. Dia sedang mencari seseorang untuk menjamin keselamatan seseorang yang begitu dia sayangi.
"Aku sedang mencari orang yang bisa menjaga rumahku dan memastikan keamanannya, aku hanya butuh penjagaan di malam hari." ucapnya menatap Dev yang terlihat pendiam dan tak banyak bicara.
"Aku bisa, tapi siang hari aku harus bekerja." Dev menjawab dengan pelan, tentunya pengusaha itu menawarkan gaji yang lumayan.
"Tak masalah, aku hanya butuh kau menjaga putriku di sore hingga pagi. aku ingin putriku selalu aman." Pria itu begitu berharap Dev bisa menjaganya.
"Baiklah aku setuju, tapi aku_"
__ADS_1
"Kau tinggal di rumah putriku!" tambahnya lagi dengan begitu yakin.