Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
78. Cinta gila


__ADS_3

Reva melonggarkan pelukannya, ingin melihat mata bening dan menghanyutkan itu. "Kau adalah imamku, bukankah kau yang akan membawaku kemana jalan menuntunmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi, tidak di dunia saja tapi selamanya." Ucapnya sungguh tulus.


"Istriku sayang, hal yang paling membuatku bersyukur hidup di dunia ini adalah memiliki dirimu, ketika pertama kali melihatmu aku berkhayal dapat melihatmu dari dekat. Sungguh Allah Tuhanku mengabulkan semua itu, bahkan memilikimu dan memiliki anak darimu, anak kita." Aldo kembali memeluknya, mendekap perut istrinya hingga tak berjarak.


"Aku juga sangat bersyukur memilikimu mas." Reva menyandarkan kepalanya di dada bidang terdamai milik suaminya.


Rasa sayang yang luar biasa itu selalu saja menguasai hati, semakin ingin selalu dekat dan ingin meleburkan rasa yang sama. Menikmati malam panjang berdua, menyalurkan rindu yang menggebu, tak habis meski memadunya setiap waktu. Kata-kata indah selalu di ucapkan pria perayu itu di sela permainan yang semakin membuatnya pasrah. Cinta gila, cinta abadi, cinta sesungguhnya, egois kah?


Sementara di tempat lain, seorang wanita belia mendatangi rumah duka itu dengan langkah perlahan, wajahnya yang tak bersemangat semakin membuatnya semakin menyedihkan.


"Kak Abidzar!" Panggilnya pelan, tentu masih di dengar Abidzar yang masih tertunduk lesu.


"Bella, terima kasih sudah datang, kakakmu sudah meninggalkan kita." Ucapnya sesenggukan masih berurai air mata.


"Aku baru saja mengetahuinya, maaf aku terlambat datang." Bella mendekati kakak iparnya, istri abidzar adalah saudara keponakan jauh dari Pak Hartawan, selama ini keluarga istri Abidzar (Lena) tidak pernah terlihat seperti keluarga bagi Bella, karena keluarga Lena adalah orang biasa, itu tidak di sukai nyonya Amelia. Tapi berbeda dengan Hartawan sendiri, keluarga tetaplah keluarga, meski istrinya tidak suka dia tetap sering mengunjungi keluarga jauhnya. Hingga akhirnya persahabatan antara Hartawan dan Abidzar semakin dekat yang terjalin antara klien dan pengacara, Abidzar bertemu dengan keponakan jauh Hartawan tersebut ketika Pak Hartawan mengantarkan uang untuk biaya pengobatan Lena kala itu, Abidzar sempat mendampingi proses pengobatan Lena di rumah sakit besar di Jakarta, hingga mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Lena dan Abidzar memiliki seorang putra yang masih sangat kecil berusia satu tahunan. Ketika sehabis melahirkan keadaan Lena yang memang sudah sakit-sakitan semakin parah dan tak kunjung membaik, hingga beberapa waktu lalu Abidzar sempat membawanya ke Singapura untuk operasi kanker di kepalanya. Tapi apalah daya, walaupun sudah berusaha namun Tuhan lebih sayang kepada Lena. Tinggallah Abidzar kini dengan putra semata wayangnya yang harus tetap melanjutkan hidup tanpa istri tercinta.


Hingga larut malam, Bella masih tak beranjak seolah ikut terlarut dengan kesedihan.


"Bella?" Tak sengaja David melihat anak mantan bosnya itu duduk menyendiri, walau ramai orang di dalam ruangan itu namun dia hanya diam tak bicara juga tidak melakukan apa-apa.


Mendengar namanya di sebut, barulah dia menoleh. "Kak David." Jawabnya pelan.

__ADS_1


"Kau dengan siapa? Ini sudah larut malam." David melihat sekelilingnya tak ada orang-orang Hartawan di sana.


"Aku sendirian, tadi naik taksi." Jawabnya masih terlihat tak bersemangat.


"Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu." David mengajaknya beranjak, Bella menurut dan berjalan mengikuti David.


Di perjalanan Bella hanya menatap lurus ke depan, hanya nafasnya saja yang masih teratur, bahkan jarinya enggan bergerak. David sesekali meliriknya di kaca depan, sungguh dia kasihan, itu Sebabnya David bersedia mengantar Bella untuk pulang, lagi pula pak Hartawan adalah orang yang baik, tak ada salahnya kali ini David membalas kebaikannya walaupun pak Hartawan telah tiada.


"Bella, lain kali kau jangan pergi sendirian, kau itu perempuan." David mencoba menasehati gadis itu, meski tak menjaganya seperti bodyguard tapi sedikit nasehat barangkali dapat di dengarnya dan mungkin bermanfaat.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Kau masih muda, jangan terlalu larut dalam peristiwa masa lalu, masih banyak laki-laki yang akan mencintaimu setulus hati. Nikmati hidupmu, cari titik kebahagiaan itu walaupun berada di lubang semut. Kau pasti bisa!" David menyemangati.


"Itu katamu, mana tau setelah menikah kau memiliki anak?" David tak mau kalah dengan keputusasaan gadis itu.


"Itu tidak mungkin." Jawabnya menunduk dan sedih.


"Mungkin saja jika kau membuka hatimu. Lihat abidzar, dia kehilangan istrinya dan harus merawat anaknya, berarti dia harus mencari wanita yang bisa merawat anaknya. Jika kau bisa membuka hati, carilah pria yang sudah memiliki anak dan anak yang membutuhkan ibu." David tak mau melihat wajah gadis di sampingnya itu, ada sedikit rasa takut jika ucapannya malah menyinggung. Tapi sudah terlanjur dia ucapkan jadi harus siap jika wanita di sampingnya akan menangis memarahinya.


Bella tak menjawab, entah benar marah atau sedang mencerna ucapan David. David lebih memilih diam, dari pada menambah keadaan semakin runyam, anak gadis orang menangis di dalam mobil bersamanya, bisa-bisa membuat orang salah paham.

__ADS_1


Hingga beberapa saat setelahnya, mobil mereka sudah tiba di depan pagar rumah mewah bertingkat itu, David tidak mematikan mesinnya, hanya membiarkan Bella turun dan masuk ke rumahnya dengan aman, barulah setelahnya David berbalik arah.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengawasi mereka dengan tatapan heran dan marah. Yang pasti tidak ada yang salah di antara mereka, hanya sedang ingin membalas budi antara anak mantan majikan dan asisten kepercayaan saja, jika ada yang salah maka itu adalah kesalahan orang yang melihatnya mengambil kesimpulan tanpa bertanya pada orang yang ada di dalamnya. Bukankah di dalam kehidupan nyata itu sering terjadi.


Sementara di dalam rumah mewah itu.


"Dari mana saja kau Isabella?" Wanita arogan itu sedang duduk menunggunya.


"Dari rumah kak Lena, dia meninggal." Bella melanjutkan langkahnya menuju kamar atas.


"Kau bisa meminta salah satu orang-orang mama jika ingin keluar." Nyonya Amelia masih ingin bicara.


"Tidak perlu mama." Bella tetap melangkah pelan.


"Lain kali harus dengan supir, jika tidak mama tidak akan mengizinkanmu keluar rumah." Wanita itu berkata tegas.


Bella hanya menarik nafas, ia malas berdebat dengan ibunya, sudah tentu hasilnya akan sama, wanita itu tidak akan mau mengalah, semua harus berjalan sesuai dengan keinginannya saja. Sungguh sangat lelah kehidupan yang dia jalani, tanpa ayah yang selalu menyayangi, tanpa Aldo yang dulu sangat melindungi.


Sendiri ini kapankah berhenti, adakah seseorang yang tersisa untuk mengobati luka ini.


Jika memang cinta itu buta, lalu di mana letak orang yang tak melihat kekurangannya.

__ADS_1


***


Pagi yang cerah,


__ADS_2