Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
48. Mengambilnya kembali


__ADS_3

Setelah doa bersama Reva dan Aldo membagikan amplop berisi uang kepada anak-anak yatim yang hadir, Reva selalu tersenyum melihat wajah anak-anak yang tumbuh dengan tanpa orang tua. Sungguh itu membuatnya terharu mengusap kepalanya satu persatu.


"Jangan lupa makan yang banyak ya." Ucapnya mengarahkan mereka ke meja besar yang sudah penuh terisi makanan. Mereka makan dengan rapi dan teratur sekali semakin membuat Reva terkagum-kagum menyaksikannya.


"Lihat apa sayang?" Aldo tak berhenti mengusap punggung istrinya dengan mesra.


"Mereka pintar sekali mas, aku sangat takjub melihatnya." Reva tak mengalihkan pandangannya.


"Duduklah dulu, kau pasti lelah." Aldo mengajak istrinya duduk di kursi yang tak jauh darinya.


"Mau makan sayang!" Ibu mendekati Reva yang terlihat lelah.


"Tidak Bu, sebentar lagi." Reva menyandar dengan meminum air putih yang sudah disediakan di dekatnya.


"Sayang aku menemui David dan yang lain sebentar, janji tidak akan lama." Ucapnya memegang tangan Reva.


"Iya mas, temui saja lagi pula aku tidak apa-apa." Ibu tertawa melihat keduanya.


"Iya, ibu disini." Ibu ikut duduk menemani.


"Dia ingin menempel terus." Ucap ibu setelah Aldo bergabung dengan Rey, David dan Dev. Reva tersenyum mendengar ucapan ibu, begitulah kenyataannya.


Sejenak memperhatikan para undangan sudah mulai sepi. Reva beranjak merasa perutnya berbunyi sudah minta di isi.


"Bi, ambilkan buah pir hijau ya, aku lapar." Pintanya pada bi Tuti.


"Iya non, tunggu sini ya!" BI Tuti segera ke dalam mengambil buah kesukaan majikannya. Reva mengisi piring dengan nasi, lauk dan lain-lainnya sambil menunggu buah pir hijau dari bi Tuti.


"Nih non. Mau makan di dalam saja atau di mana?" Tanyanya lagi.


"Di sini saja bi." Jawabnya halus.


"Ya udah saya tinggal ya, bantuin ibu sama mbak Alisa." Ucapnya meninggalkan Reva.


"Sepertinya mas Aldo ada di sana." Dia membawa makanannya menuju Aldo berada, satu tangannya memegang dua buah pir dan satunya lagi memegang piring membuatnya harus berjalan pelan dan hati-hati. Tapi tanpa sengaja anak-anak yang belum pulang sedang bermain dan hampir menabrak, Reva menghindar dan mengangkat makanannya lebih tinggi sehingga membuat buah ditangannya terlempar ke depan.

__ADS_1


"Mas." Kata-kata itu tak sengaja lolos dari bibirnya, saat ketika matanya melihat pria tak asing menangkap buahnya yang jatuh.


"Iya." Jawaban itu juga seperti tak berdosa, keduanya saling menatap terkejut tak percaya.


Aldo yang sedang mengobrol tak jauh dari mereka segera mendekat, antara kesal juga tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Sini, ini milikku." Aldo mengambil buahnya dari tangan Dev yang masih terpaku.


"Sudah di tanganku berarti milikku. Jangan mencoba mengambilnya kembali." Jawabnya kembali meraih buah yang sudah di ambil Aldo. Kata-kata yang belum pernah di dengarnya selama ini, membuat Aldo memicingkan matanya.


"Baikah, jika kau merasa itu milikmu. Ambil saja." Jawabnya, berlalu dengan satu tangan memeluk istrinya, dan satunya membawakan piring makanan.


"Mau makan sayang, duduk di sini ya?" Sengaja Aldo mengajaknya duduk tak jauh dari sana. Reva hanya mengangguk, karena sebenarnya dia takut Aldo kembali marah saat seperti bersama Gara.


"Mas mau makan?" Tanyanya mengalihkan pikiran suaminya yang sudah mulai terlihat kacau.


"Nanti aku makan, yang penting sekarang kau habiskan ini." Aldo memandangi istrinya sangat dekat, sesekali merapikan potongan ayam yang ada di piring istrinya. Hatinya sudah tidak tenang memikirkan ucapan yang seperti di sengaja.


"Kau bilang tak akan lama, aku sudah lapar menunggumu." Reva berbicara sambil terus mengunyah.


"Heemm. Aku ingin makan di dekatmu." Jawabnya lagi. Sudah pasti membuat Aldo sangat bahagia dan berbunga-bunga, dia tersenyum sambil terus memandangi wajah cantik yang sedang makan dengan nikmatnya.


"Mau minum?" Aldo bertanya sambil meraih air mineral yang tersusun rapi di samping mereka. Reva mengangguk seperti anak TK yang sedang menunggu di bukakan botol minuman. Sungguh hal seperti itu yang di sukai suaminya, Aldo akan senang jika ia bermanja dan meminta hal sekecil apapun padanya.


"Habiskan sayang." Aldo kembali menyemangati Reva yang nampaknya sudah kenyang.


"Sudah mas. Aku makan buah saja." Reva menggigit buah yang lumayan besar.


"Sayang jangan begitu, sebaiknya di potong dulu." Aldo melepas buah dari tangan Reva perlahan. Lalu membawanya masuk dan tak lama kemudian sudah kembali dengan buah yang sudah di potong rapi.


"Habiskanlah." Ucapnya masih setia menunggui istrinya. Sesekali dia melihat ke arah Dev berada, masih penasaran dengan yang barusan di dengarnya. "Apa yang dia pikirkan sebenarnya?" begitu hati Aldo masih gelisah.


"Sayang masuklah ke dalam sebentar lagi aku menyusul, udara malam tidak bagus untukmu." Aldo mengelus tangan yang lentik itu.


"Iya." Jawabnya singkat, Reva mengerti Aldo tak ingin dirinya berlama diluar karena hal yang barusan terjadi walaupun itu tidak sengaja. Dia pun beranjak masuk dengan di iringi tatapan Aldo hingga punggungnya tak terlihat lagi.

__ADS_1


Aldo kembali mendekat dengan yang lainnya, ada Rey juga kali ini sehingga Aldo harus mengontrol sedikit emosinya.


"Ayo makan, aku sudah lapar." Aldo mengajak semuanya makan dengannya.


"Aku juga sudah lapar." David berjalan mendahului yang lain menuju meja yang sudah di siapkan. Yang lainnya juga ikut makan bersama.


"Aku pulang dulu." David berpamitan sesaat setelah selesai mereka makan bersama.


"Terimakasih sudah datang." Aldo menepuk pundak rekannya itu. David menuju mobilnya.


"Aku juga harus pulang. Terimakasih undangannya." Kali ini Dev yang berpamitan. Dia segera berlalu tanpa menunggu jawaban Aldo juga Rey. Aldo hanya diam berfikir untuk bicara, tapi ada Rey juga disana. "Sepertinya ini bukan waktu yang tepat." Gumam Aldo di dalam hati.


***


Sepanjang jalan dia masih memikirkannya, melihat wajah itu lagi sedari dekat, mendengar suara lembutnya memanggil sangat membuatnya kacau. "Secantik itu wajahnya ketika mengandung." Dia bergumam sendiri.


Terkadang sangat ingin dia kembali. Malam yang sepi membuat ia meratapi cinta yang sudah menepi.


sekian lama menyayangi dengan sepenuh hati hingga akhirnya telah terganti.


Sungguh lelah, entah sampai kapan aku bisa melupakan ini semua. Andai bisa ku lakukan merebutmu kembali, tapi sungguh tak pantas aku bersamamu. Seperti langit dan bumi jarak antara kita sangat jauh sekali.


Tak disangka cinta yang dulu sangat menggebu, kini menguap hilang berlalu.


"Bodoh sekali aku datang kesana hari ini." Dia tersenyum kecut, menertawai dirinya sendiri.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria tampan sedang melamunkan hal yang sama. "Aku rasa dia sedang memikirkan istriku." Gumamnya dalam hati. Lelah dengan kegelisahannya lalu ia masuk ke dalam kamar ikut berbaring dan mengelus kepala istrinya yang sudah tertidur pulas, memperhatikan wajahnya yang cantik dan damai, lalu beralih pada perutnya yang terlihat penuh.


"Sudah hampir Empat bulan." Gumamnya pelan, sambil mengelus dan mengusap perut istrinya. Tentu elusan yang hangat itu membangunkannya.


"Mas." Panggilnya perlahan membuka mata.


"Iya, tidurlah sayang." Aldo memeluk dan mengusap kepalanya hingga beberapa saat dia kembali terlelap dalam mimpi.


"Sampai mati, aku tidak akan menyerahkan milikku!!"

__ADS_1


__ADS_2