Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
89. Kita akan mengulanginya


__ADS_3

Ayu merengut tak suka terus digoda, menarik selimutnya semakin tinggi menutup hingga leher jenjang yang sudah ternoda. Tentu ulah David yang sedang menggila, pria berwajah India itu sangat luar biasa dan tak pernah lelah.


"Aku berangkat sayang." David mengecup keningnya, lalu beranjak meninggalkan Ayu yang kembali tidur.


Ayu membuka matanya sedikit setelah David berlalu, dia tersenyum tipis dengan tampak berpikir. Sungguh dia merasa sedang bahagia, tak pernah menyangka bisa keluar dari penderitaan yang menyakitkan itu, mengenal orang-orang baik dan mendapatkan suami yang super tampan, gagah dan baik sekali tentunya.


"Kakak benar, tuhan sedang memberikan aku hadiah atas kesabaranku." Ucapnya sendiri, menatap sekeliling kamar dengan tersenyum haru, hingga tatapannya jatuh tertuju pada foto suaminya yang sedang memakia jas dan terlihat keren sekali, "Dia suamiku." Gumamnya pelan.


Memikirkan David membuat kantuknya hilang, perlahan Ayu turun dari ranjang dan melangkah keluar, ingin melihat sekeliling rumah suaminya, dari balkon Ayu melihat kebawah, ada taman kecil di sisi kiri, ada air mancur mini di tengahnya, tak lupa pohon mangga yang sedang berbuah. Dia tersenyum kecil, dia ingin melihat semuanya. Turun ke lantai bawah yang begitu luas, ada ruang makan dan dapur yang bersih, wajar saja bersih laki-laki tak mungkin memasak, lagi pula di cafe mereka bisa makan apa saja, Ayu menggeleng memikirkan hal itu.


Hingga ke samping dan bagian belakang tak lupa dia menelusuri. "Akan indah sekali jika banyak bunga seperti di rumah ibu!" Ayu bicara sendiri sejenak berhenti di bawah pohon mangga yang masih pendek dengan buah yang beberapa biji. Daunnya sudah berhamburan jatuh di bawah, Ayu mencari sapu lidi dan ingin membersihkannya. Sungguh itu terbiasa dia lakukan saat di rumah ibu. Aktivitas yang menyenangkan untuknya walau terkadang mendapat teguran dari ibu. Secara tidak sadar dia sedang merindukan rumah itu.


Sedang asyik bekerja sambil memikirkan berbagai hal, tapi terdengar suara dering ponsel dari kamarnya. Bergegas Ayu naik ke atas mengambil ponsel dan ternyata yang menelepon adalah Reva.


"Assalamualaikum kakak."'Ayu sangat merindukannya.


"Wa'alaikum salam sayang, kau sedang apa?" Suaranya terdengar lembut sekali.


"Aku sendirian di rumah kak, David bekerja." Ayu berbicara sambil duduk di kursi balkon rumahnya yang memanjang.


"Menikmati rumah baru." Reva terdengar menggodanya.


"Aku justru teringat rumah ibu, aku rindu sekali kak." Ayu diam sejenak. "Kakak sedang apa?" Ucapnya mengalihkan kerinduannya.


"Aku ada di kantor, sekarang sudah ada kamar di ruanganku jadi aku bisa beristirahat." Reva berbicara terdengar bahagia.

__ADS_1


"Baguslah, dia sangat memanjakanmu." Ayu ikut bahagia mendengarnya.


"Kau juga harus cepat hamil, agar anak-anak juga saling menjaga seperti kita. Dan David akan sangat menyayangimu tentunya." Reva memberi semangat untuk Ayu.


"Iya kak, aku juga ingin cepat hamil sepertimu. Tentu anak kita akan tumbuh bersama, saling menyayangi dan menjaga." Ayu ikut membayangkan.


"Dia tak akan melepaskanmu jika kau sudah mengandung, dia akan melakukan apa saja untukmu. Sungguh itu sangat menyenangkan sekali." Ucap Reva setengah berbisik, sudah pasti dia sedang menikmati hal itu.


"Doakan aku kak." Pinta Ayu singkat.


"Tentu saja, dan yang harus kau lakukan berusahalah lebih keras." Reva terkekeh di seberang sana, membuat Ayu tersenyum geli mendengarnya. Reva sangat paham sekali wajah adiknya sudah memanas, tentu dia tak bisa berkata apa-apa lagi. "Ya sudah, aku ingin istirahat, menunggu kakak iparmu selesai bekerja." Ucapnya lagi.


"Iya." Lagi-lagi jawaban yang singkat.


"Assalamualaikum sayang." Reva menutup teleponnya. Ayu menjawab salam lalu menatap ponsel di tangannya agak lama.


***


Sementara di cafe David tampak sibuk dengan catatan persiapan bahan-bahan makanan yang akan semakin di perbanyak, Adi yang menjadi asisten mereka kini sudah mahir bekerja, sudah memperbanyak menu dan tentunya pelanggan yang bertambah lumayan banyak. Itu semakin membuat Aldo dan David menjadi sangat lega, mereka tak perlu khawatir jika meninggalkan Adi sendirian menangani cafe.


"Aku pulang lebih awal nanti." David bicara pada asisten sekaligus sepupunya itu.


"Iya, tak apa aku bisa menghandle semuanya. Kakak masih pengantin baru, silahkan habiskan waktu mu dengan tenang dan bahagia." Adi tersenyum menggodanya.


"Kau ini." David hanya tertawa ringan, walaupun sebenarnya ia malas meninggalkan Ayu sendirian di rumah tapi tentu ia tak akan meninggalkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Aku mengerti kak, aku juga pernah mengalaminya." Adi kembali serius mengecek catatan pegawai yang baru saja di serahkan padanya.


"Lalu kenapa kau belum mencari penggantinya?" David melirik sepupunya itu.


"Aku masih takut bertemu orang yang salah, bukankah diselingkuhi itu hal yang sangat menyakitkan?" Adi tersenyum getir.


"Dia tak pantas untukmu, makanya kau ikhlaskan. Nanti akan ada wanita baik hati yang akan mengejarmu, terlebih lagi sekarang kau sudah bekerja. Kami sibuk dengan pekerjaan istri-istri kami, jadi posisimu di sini sangat kamu butuhkan. Bekerjalah dengan baik, jangan kecewakan kami." David bicara serius.


"Tentu saja, aku sudah merasakan sedihnya menjadi orang yang miskin sekali, itu juga alasan istriku selingkuh. Dan untuk selanjutnya aku ingin mencari wanita sederhana saja, dari keluarga miskin yang bisa menerima kekuranganku sepenuhnya terlebih lagi aku seorang duda." Adi tampak bijak dengan segudang pengalaman pahit.


"Itu bagus." David menepuk pundaknya.


Sore hari David terburu-buru untuk pulang menemui istrinya, sehabis Ashar Ayu sudah berganti pakaian dan memasak makanan seadanya, lemari pendingin itu tak banyak berisi makanan, karena ibu David hanya belanja sedikit saat sebelum dia pulang ke kampung halamannya. Ibu David adalah wanita yang sangat pengertian, tak banyak bicara dan sangat sabar. Mungkin kesabaran David saat merawat dan menungguinya di rumah sakit mewarisi sikap ibu, dan sikap bijaksana itu di dapatnya dari ayah mertua.


"Sayang kau sedang apa?" Tiba-tiba David sudah ada di depan pintu dapur.


"Aku terkejut David." Ayu sedikit menekan dadanya.


"Kenapa terkejut, apa sedang memikirkan aku?" David memeluk tubuh semampai dengan rambut di kuncir berantakan itu.


"Tentu saja, siapa lagi yang harus aku pikirkan jika bukan dirimu." Ayu tersenyum dan mulai mengimbangi sikap David.


"Memikirkan yang mana?" David menggodanya menatap wajah cantik di dalam pelukannya itu sudah menghangat.


"Semuanya." Jawab Ayu, senyumnya tak pernah berhenti mengembang.

__ADS_1


"Tidak usah di pikirkan, kita akan mengulanginya." David mencium pundak lembut dan tipis itu, menghisap wangi aroma yang membuatnya mabuk kepayang. Selalu terbayang dan ingin segera menuntaskan.


__ADS_2