Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
136. Positif


__ADS_3

"Lusa kami akan berangkat menuju Bengkulu, pasukan gabungan akan berkumpul di sana dan aku harap kau juga mengantar kepergianku." Dev menatap wajah cantik di sampingnya.


"Iya, aku akan ikut bersama kak Alisa." jawabnya pelan.


Suasana di halaman kantor itu lumayan sejuk, rimbunan pohon yang berjejer membuat panas terik tak begitu terasa.


"Apa kau masih kuat menungguku pulang enam bulan lagi?" kali ini Dev menggodanya secara langsung.


"Tentu saja mas, kau menungguku sudah hampir tiga tahun, bagaimana aku yang hanya kau minta menunggu enam bulan, harusnya itu tak seberapa." jawab Reva sedikit menunduk.


"Tapi ku rasa kau tidak akan kuat. Menahan rindu itu sungguh berat, apa lagi sebelumnya kau sudah memikirkan banyak hal." Dev tertawa sedikit mengangkat alisnya.


"Memang iya, aku bahkan sudah berharap menjadi istrimu secepatnya." jawabnya polos.


"Dan aku juga sudah sangat berharap, aku sering berkhayal menjadi suamimu itu pasti sangat menyenangkan." Dev mendekatkan wajahnya, menyelami bola mata indah itu dengan penuh cinta. Jujur saja bukan hanya cinta tapi ingin menyentuh dan memilikinya.


"Sabar ya mas." ucapnya sambil tersenyum, sepertinya ia sengaja sedikit mendorong dada Dev agar tak terlalu dekat.


"Aku sudah tidak sabar sayang." Dev kembali mendekatkan wajahnya.


"Harus sabar, jika tidak sabar nanti_"


"Nanti apa?" Dev memotong ucapannya dan semakin menggodanya dari dekat.


"Nanti khilaf mas!!" Reva sudah tidak tahan di goda terus-menerus, akhirnya ia sedikit berteriak dan membuat Dev tertawa terbahak-bahak. Sungguh gadis itu sangat lucu, tidak hanya di telepon tapi saat berhadapan juga terlihat sangat lucu baginya.


"Baiklah, aku akan sabar dan tidak khilaf. Aku akan menunggu waktunya tiba dan akan menghabisimu dengan sejuta khilaf yang ku tahan selama bertahun-tahun." ucapnya lagi setengah berbisik. Gadis itu meremas jarinya sendiri, bergidik ngeri membayangkan ucapan itu begitu menyeramkan.


"Kau menakutiku mas?" Bibirnya mengerucut.

__ADS_1


"Tidak, hanya sedang gemas melihat istriku lucu sekali." Dev tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya.


Reva tersenyum dan menunduk, wajah cantik itu selalu terlihat malu-malu.


"Tunggu aku sayang, enam bulan tak akan lama, kita akan bersama setelahnya. Kita akan menjalani hari bersama, memiliki anak yang lucu hingga menua bersama. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, apalagi menyakitimu, aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, mencintaimu dan menyayangimu hingga ajal menjemput kita. Jaga hatimu!" Dev menunjuk dada gadis itu namun tak sampai menyentuh.


"Iya." jawab Reva pelan dan tatapan penuh cinta.


"Besok aku akan berangkat bersama Rey lebih dulu, kau dan Alisa menyusul bersama sopirmu saja agar tidak lelah." ucap Dev.


"Iya mas." gadis itu mengangguk.


Dev beranjak dari duduknya dia harus pulang dan segera bersiap. Namun rasa hati masih kurang dengan pertemuan ini, ingin rasanya memeluk erat tapi?


"Aku pulang, jangan lupa untuk selalu merindukan aku." Dev melihat wajah itu lagi.


"Aku selalu merindukanmu mas." jawabnya pelan dan sendu.


"Pulanglah." ucap Reva sedikit menghindari sentuhan jari Dev padanya.


Dev tersenyum dan pelan menurunkan tangannya, berlalu dengan tanpa menoleh lagi karena sudah pasti membuatnya sulit untuk pergi.


Beberapa waktu Dev berada di Papua dan sibuk dengan berbagai hal, namun di sela kesibukan mereka semua di wajibkan untuk menjalani berbagai tes kesehatan. Hasil tesnya menyatakan dia tidak akan memiliki keturunan, itu cukup membuat Dev terpukul mengingat saat bersama Reva mereka selalu membicarakan keinginan untuk segera memiliki anak.


Hari itu mereka saling bercerita namun pada akhirnya bertengkar perihal keinginan untuk memiliki anak. Dev takut Reva kecewa dengan kekurangannya, namun lain hal gadis itu bersikeras masih ingin mempertahankan hubungan mereka dan tidak mempermasalahkan kekurangan Dev.


"Aku tidak mau pernikahan kita Batal mas!" ucapnya marah.


"Tapi aku tidak bisa membahagiakanmu." Dev masih bersikeras.

__ADS_1


"Aku akan mengambil dua anak laki-laki yang pernah kita kunjungi saat di panti asuhan." Reva masih tak mau kalah.


"Aku takut kau bosan denganku suatu saat, lebih baik kau cari laki-laki yang lain." Dev kesal dan sedikit keras kepala.


"Tidak, aku tidak mau. Kita harus tetap menikah walau apapun yang akan terjadi aku tidak takut." Reva juga kerap kepala, dan Dev mematikan sambungan teleponnya.


Saat itu Reva masih kesal dan tidak mau menghubungi Dev, begitu juga sebaliknya. Namun hal yang tak terduga Dev malah meminta seorang juniornya untuk menghubungi Reva dan merayunya. Entah apa yang di pikirkan pria itu hingga meminta orang lain untuk mendekati tunangannya.


"Mas, apa maksudmu memberikan nomor ponselku pada laki-laki yang aku tidak kenal?" suara gadis itu terdengar marah.


"Aku hanya ingin kau mendapatkan laki-laki yang sempurna untuk mendampingimu bukan seperti aku." jawabnya, semakin membuat kesal.


"Sekalipun kau menyuruhku untuk menikah dengan orang lain aku akan tetap kembali padamu mas, aku akan kembali padamu walau apapun keadaannya." ucapnya semakin emosi.


Hingga saat-saat pertengkaran itu berlalu, mereka berbaikan dan kembali memutuskan untuk saling menunggu dan akan menikah beberapa bulan lagi.


Namun lagi-lagi manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan yang akan menentukan segalanya. Di ujung tugas yang mereka emban, hasil tes kesehatan terakhir menyatakan Dev Positif HIV.


Hidupnya hancur seketika saat membaca hasil tes tersebut, bayangan masa lalu yang begitu kelam mendadak terangkat kembali seakan baru saja terjadi. Harapan untuk menikah dan bahagia kini sirna sudah, hanya terduduk lemas tanpa bisa berucap apa-apa menikmati kehancuran ini sendirian.


Reva, itu nama yang terakhir dalam pikirannya, sudah pasti gadis itu tak akan memilihnya kali ini, jikapun gadis itu bersedia bertahan tapi sudah pasti Rey Tak akan merelakan. Walau terbersit pikiran ingin memaksakan kehendak namun hasil tes ini sudah tentu Rey akan mengetahuinya.


Pulang dengan rasa kecewa, hampa dan rasanya ingin menjatuhkan diri di hamparan laut luas agar tak merasakan penderitaan ini lagi.


"Dev, aku harap kau mengambil keputusan yang bijak dan terbaik untuk semua orang."


Seperti dugaannya Rey sudah tau dan sudah tentu, dia tak akan mengizinkan adik kesayangannya menderita.


"Aku tau Rey, aku tak akan mengorbankan adikmu hanya untuk kebahagiaanku." jawab Dev berusaha tegar.

__ADS_1


"Aku akan mendukung semua keputusanmu, kau harus kuat dan jangan berputus asa." Rey mencoba memberi semangat.


"Terimakasih." Dev mencoba tersenyum walau hatinya hancur, terlebih lagi tak mungkin menikahi gadis pujaan yang ia jaga sejak tiga tahun lamanya.


__ADS_2