
Tidak jauh dari kendaraan yang di tumpangi Reva dan Ayu, Aldo terus mengikuti. Matanya tak sedikitpun lepas dari mobil yang ada di depannya. "Seharusnya aku tidak melamarnya, karena kebodohan ku dia jadi marah, aku menciptakan jarak antara aku dan dia." Aldo menghembuskan nafas kasar. "Jika Dev saja bisa melepasnya agar dia bahagia, bagai mana dengan aku? Aku sangat egois!!" Batinnya lagi.
Suara Adzan Maghrib berkumandang tapi Reva tak juga berhenti, biasanya dia akan sholat terlebih dulu, membuat Aldo semakin cemas dengan kekasih hatinya yang sedang marah. Sampai di depan satu Rumah mewah mobil mereka berhenti, tampak mereka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah itu, Aldo masih setia mengamatinya dari jauh.
"Assalamualaikum." Reva disambut ibu Ani dan seorang wanita cantik, tampak perutnya yang sedang membuncit, dialah Alisa istri Rey yang merupakan seorang mualaf.
"Mengapa mendadak sekali sayang." Ibu menyapa anak-anak nya, memeluk dan menciumnya satu persatu begitupun dengan Alisa.
"Aku merindukan mu adikku yang cantik-cantik." ucapnya.
"Aku juga kak, maaf baru sempat datang kemari." Reva mengelus perut Kakak iparnya yang sedang hamil tua.
"Kami sholat dulu kak." Ayu pamit bersama Reva untuk menunaikan sholatnya. Alisa dan Ibu saling memandang tapi tidak bicara apapun mereka hanya menduga-duga dengan kedatangan kedua putrinya.
Tak lama kemudian Reva dan Ayu sudah selesai. "Kak, Aku datang kemari karena ingin menemui Dev!" Reva berucap lirih.
"Untuk apa sayang? bukankah sudah jelas dan kau harus mengikhlaskannya." Alisa menjelaskan.
"Aku tau kak, tapi aku akan tetap menemuinya, agar semua ini berakhir baik-baik." Reva tetap dengan keinginannya membuat Alisa hanya menarik nafas.
"Tadi Rey bilang dia sedang dirawat, sepertinya dia demam tinggi." Ibu menjelaskan.
"Aku akan ke sana Bu." Reva beranjak, tak ketinggalan ayu akan selalu mengikutinya.
"Baiklah, Rey sedang ada di sana, biar ibu yang menghubungi kakakmu." Ibu mengizinkan anak gadisnya, mungkin memang benar, ini semua harus jelas dan berakhir dengan baik.
Reva dan Ayu kembali terlihat akan pergi, Aldo masih terus mengikuti dari jarak yang tak terlihat oleh mereka. Mobil mereka meluncur dan Aldo juga ikut menyalakan mobilnya hingga tak lama kemudian mobil mereka berhenti. Tampak Rey sudah menunggu kedatangan adiknya.
"Kenapa mendadak sekali Dik?" Rey terlihat khawatir.
"Dia ada dimana kak?" Tanya Reva tak mau menunda.
"Ada di dalam." Mereka masuk ke dalam rumah sakit khusus tentara.
Ruangannya tidak begitu jauh, Rey dan Ayu menunggu di luar hanya Reva saja yang masuk menemui Dev. Di dalam ruangan rawat, tampak seorang pria yang sedang berbaring, Reva memandanginya dari wajahnya yang pucat hingga tubuhnya yang kian mengurus. Dulu tak sekurus ini, dan saat ini pria itu terlihat begitu lemah. Reva terus mendekat dengan langkah yang pelan, matanya tak lepas dari sosok di hadapannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mas!" Panggilnya lirih.
Perlahan Dev membuka mata, suara yang begitu familiar mana mungkin tak dapat di dengarnya.
"Kau disini?" Ucapnya pelan.
"Maaf mengganggu istirahatmu." Reva menunduk.
"Tidak, aku malah senang kau datang." Ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Sejak kapan kau sakit mas?" Ucapnya lembut.
"Sejak semalam, ini sudah biasa bagiku kau tak usah cemas." Dev menyandarkan tubuhnya.
Reva memandangi wajah kurus itu lagi.
"Apa ada yang penting sehingga membuatmu datang kesini?" tanya Dev, Reva masih tak menjawab.
"Katakanlah, aku akan mendengarkannya."
Reva mengangkat kepalanya."Mas, aku ingin menanyakan sesuatu." Ucapnya berusaha menguatkan diri.
"Apa."
"Apa benar, kau meminta Aldo untuk melamarku?" Nafasnya sudah tak beraturan.
Dev diam, menatap kekasihnya yang sedang menahan gejolak. "Iya! " Dev menjawab, membuat Reva memeteskan air mata di wajah cantiknya.
"Lalu??" Tanya Reva lagi.
"Kau tau, Aku bukan lah orang yang baik untukmu aku ingin kau bahagia. Dia juga sangat mencintaimu."
"Kau anggap aku apa mas?" masih dengan suara pelan.
"Reva, aku bukan lah laki-laki yang baik, dulu sebelum aku mengenal mu, aku pernah dekat dengan seorang wanita. Aku dan dia pernah melakukan kesalahan." Dev menjeda ucapannya. "Aku rasa aku tertular darinya." sambungnya lagi.
"Aku akan mencarinya." Ucap Dev lagi.
"Jadi kau akan mencarinya dan membuangku?"
Dev kebingungan harus bagaimana menjelaskannya.
"Kau anggap aku barang yang bisa kau berikan pada temanmu?" Air matanya semakin deras.
"Tidak begitu sayang!" Ucap Dev lirih
"Kamu Jahat mas!" Reva menatap Dev dengan penuh amarah dan luka. Reva sudah tak tahan lagi, dia pergi meninggalkan ruangan itu.
"Reva tunggu" Dev bangun tapi tangannya tersangkut infus. Sadari hal itu Dev langsung menarik infusnya, lalu pergi mengejar wanitanya.
Reva menangis sambil berjalan cepat keluar.
"Reva tunggu..!!"
Dia tetap tak mau mendengarnya hingga di halaman rumah sakit Dev berhasil menghadangnya.
__ADS_1
"Reva aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, aku hanya tau diri aku bukanlah yang pantas untukmu!!"
"Memang kau tak pantas untukku mas, kau ingin mencari mantan kekasihmu, carilah dan menikahlah dengannya aku tidak peduli."
"Reva kau salah faham."
"Aku sangat faham mas, kau membuangku dan kau meminta temanmu untuk memungutku, kau anggap aku sampah mas!!" Reva sudah di kuasai emosi.
"Aku tidak membuang mu, aku hanya tidak ingin kau menjadi Korban keegoisanku, aku tidak ingin menyeret mu kedalam penderitaan ku, ini dosa ku biarlah aku yang menanggungnya, tidak dengan mengajak mu merasakannya."
"Aku tidak peduli mas..!!" Reva menutup telinganya.
"Reva, Aku bersumpah Demi Allah aku tidak akan menikahimu, atau perempuan manapun di dunia ini Sampai aku mati!!!" Ucapnya lantang.
Reva berbalik menatap pria kesayangannya.
"Mas.....!! apa maksudmu?" pekiknya setengah tertahan, tangisnya pecah semakin menjadi, matanya lurus menatap pria yang mematung. "Tarik kata-kata mu itu mas!!" Ucapnya memohon dan terdengar memilukan.
"Aku mohon, jangan begitu mas!" ucapnya lagi, Reva mendekati Dev yang masih diam membisu. "Aku yang akan menikah dengan mu, tarik kata-kata mu!" Reva menatap nya dengan memohon.
"Itu Dosa mas....!!!" pekiknya lagi dengan nada semakin sedih.
Kakinya lemas, lututnya terjatuh ketanah, matanya menatap lurus ke depan dimana kekasihnya berada. Air matanya terus mengalir dengan suara tangisan yang sangat memilukan, dadanya sesak membuat isakkannya begitu menyedihkan. Bahkan seperti lupa bagaimana caranya bernafas.
Rey memeluk adiknya, sungguh dia tidak tahan dengan keadaan seperti itu. "Sayang jangan begini" Rey memeluknya semakin erat, mencium kepala adiknya dengan menahan air mata.
Ayu yang hanya menyimak pertengkaran kakak angkatnya itu diam membisu, terpaku tidak bergerak sedikitpun hatinya ikut terluka.
Sementara tak jauh dari mereka Aldo terduduk lemas menyandar di mobil, matanya ikut berkaca-kaca, dadanya sesak menyaksikan penderitaan sahabatnya juga kekasih pujaan hatinya.
Hening. Tapi yang terdengar hanyalah isakan gadis yang hatinya sedang menderita.
"Menikahlah dengannya. Dia juga sangat mencintaimu, kau akan bahagia dengannya, dia bisa memberimu segalanya tidak seperti diriku." Ucap Dev lembut sekali. "Dulu saat pertama kali aku melihat mu, aku seperti melihat surga, dan memang benar surga ku hanya bisa kulihat, tidak untuk ku miliki. Kau bilang, orang baik untuk orang yang baik, orang yang buruk untuk orang yang buruk pula. Tadinya aku ingin memantaskan diriku untukmu, tapi nyata nya, aku memang tidak pantas untukmu. Maafkan aku!!" Ucap Dev lagi.
Lama
Hingga Reva berdiri, dia sudah tidak menangis lagi, membuat Rey sedikit lega melihat adiknya.
Tapi tiba-tiba Reva berlari menuju mobil masuk dan dan menyalakan mobil, membuat Rey dan Dev sangat terkejut, mereka mengejarnya tapi terlambat kendaraannya sudah melaju.
Ayu berlari beruntung Aldo ada disana membuka pintu mobil Aldo dan langsung menyalakannya.
"Masuk !!!" Ucap Ayu pada Aldo, mereka berdua mengejar Reva dengan sangat khawatir.
****
__ADS_1
Bersambung dulu ya... 😁😁 esok kita lanjut lagi nangis-nangisnya