Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
42. Aku yang salah


__ADS_3

Sementara di tempat yang berbeda, Seorang gadis belia sedang melamun menatap bintang yang jauh. Duduk seorang diri di balkon kamarnya dengan wajah yang begitu menyedihkan.


"Sayang, jangan melamun sendirian." Suara pria paruh baya itu membuatnya menoleh.


"Papa." Jawabnya.


"Apa yang membuatmu bersedih?" Pria itu ikut duduk bersamanya.


"Oppa Aldo mengundurkan diri papa." Ucapnya sedih, wajahnya begitu sayu dan lesu.


"Sayang, kau harus berhenti memikirkannya dia sudah menikah. Kau lihat papa!" Pria itu memegang bahu anak gadisnya. "Papa dan mamamu menikah karena orang tua, mamamu mencintai papa tapi tidak sebaliknya. Kau lihat hasilnya sayang, papa tidak bisa membahagiakan mamamu, bahkan dirimu juga ikut menjadi korban. Jika kau memaksanya menikah denganmu, papa tak yakin kau akan bahagia. Jadi papa mohon, cobalah untuk ikhlas." Mengelus kepala putri kesayangannya.


"Sudah ku coba papa, tapi aku tidak bisa." Ungkapnya lagi.


"Papa akan memberi waktu tida bulan, jika dalam waktu tiga bulan kau tidak berhasil melupakannya, papa akan mengirimmu keluar negeri. Mungkin di sana kau bisa memulai hidup baru."


"Aku akan berusaha." Jawabnya pelan, menyandarkan kepalanya di dada hangat sang papa, berharap esok kesedihannya akan berubah.


***


"Sayang, apa kakimu sudah tidak sakit?" Aldo melihat pergelangan kakinya tidak bengkak atau memerah.


"Tidak mas, hanya semalam terasa nyeri mungkin karena sudah pernah sakit waktu kecelakaan." Ungkapnya.


Aldo menatap wajah polos di hadapannya. "Aku minta maaf sayang. Tak seharusnya aku pergi meninggalkanmu tadi malam."


"Aku juga minta maaf mas, aku yang salah karena tak mendengarkan ucapanmu." Reva melihat mata suaminya, mata yang selalu mengandung magnet menarik hatinya hingga jatuh cinta teramat dalam.


"Aku sangat takut kehilanganmu, aku tidak bisa membayangkan jika harus jauh darimu, apalagi menyaksikanmu bersama orang lain." Aldo membelai wajah cantik itu.


"Aku faham mas karena aku juga pernah merasakannya, kau menarik tangan Bella hingga sampai kedalam kamar saat di Vila. Aku bahkan membayangkan yang lebih dari itu." Kemudian dia menunduk.


"Aku salah sayang, maafkan aku. Sekarang aku tak akan berurusan lagi dengan mereka, aku sudah keluar dari perusahaan itu. Dan aku mohon jangan lakukan hal kemarin lagi, Aku takut dan tidak akan sanggup kehilanganmu. Aku bisa gila." Aldo menangkup kedua belah pipinya menatap sangat dalam di mata bening itu.


"Kau tidak boleh berkata begitu mas, bagaimana jika Tuhan memanggilku lebih dulu." Jawabnya lembut.


"Aku akan ikut bersamamu." Pria itu menjawab dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Reva menggeleng pelan. "Kita tak bisa melawan takdir mas, entah jika sebaliknya."


"Aku ikhlas jika aku yang meninggalkanmu lebih dulu, tapi akan sangat bersedih jika setelahnya aku menyaksikanmu hidup dengan orang lain." Jelasnya lagi dengan wajah yang sendu.

__ADS_1


"Insyaallah Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya ingin bersamamu di dunia dan akhirat. Aku hanya akan menikah denganmu tidak dengan siapapun setelahnya. Aku mencintaimu mas." Ucapnya dengan meneteskan air mata. Aldo memeluknya erat sekali.


"Aku lebih mencintaimu sayang, bahkan sebelum kau mengetahuinya." Mengelus rambut yang halus dan menciumnya tanpa henti. Tak pernah puas ia lakukan setiap saat seakan esok tak pernah ada lagi.


"Aku ingin kau istirahat sampai minggu depan sayang." Aldo masih memeluknya.


"Kaki ku tak apa-apa mas, apa harus istirahat selama itu?" Reva mendongak menatap wajahnya.


"Aku ingin kita menghabiskan waktu sepanjang hari, agar kau cepat mengandung sayang. Aku sudah tidak sabar memiliki anak yang cantik sepertimu." Aldo membalas tatapan istrinya.


"Aku ingin matanya seperti milikmu." Reva tak melepaskan manik mata hitam pekat yang selalu menggetarkan hatinya.


"Tentu saja, apapun yang kau suka walaupun hanya mata ini." Masih saling menatap seperti sedang menyelami kedalaman hati masing-masing.


"Aku menyukai semuanya mas. Hanya saja setiap kali aku menatap matamu, aku merasa jiwaku tertarik hingga masuk kedalam sana, hatiku selalu bergetar menyaksikan cinta yang kau pancarkan, itu membuatku tak bisa jauh darimu." Kata-kata indah yang membuat Aldo melayang hatinya di penuhi sejuta kupu-kupu.Dia sangat bahagia.


"Aku tak akan pernah jauh darimu, kau kesayangan." Ucapnya mencium pipi. "Atau kita pergi keluar untuk liburan?" tanyanya kemudian.


"Tidak usah mas, aku lebih suka di rumah asalkan bersamamu." Reva tersenyum menggoda suaminya.


Aldo tertawa lebar mendengarnya. "Kau sudah pintar menggombal sekarang, Aku jadi ingin memakanmu." Sambil menciumi pipi dan lehernya hingga ia tertawa menahan rasa geli karena kejahilan suaminya, dia berusaha melepaskan diri walaupun percuma karena tubuh kecilnya sudah di kunci oleh tangan kokoh dan hangat.


"Itu berapa jam mas." Reva membalas godaannya sambil tertawa.


"Setengah hari sayang." Aldo memulai aksinya.


"Mas dua saja ya." Reva memohon, membayangkan setengah hari membuatnya bergidik.


"Baiklah, Empat kali." Aldo tak mau ditawar.


"Ah iya Tiga kali." Reva berbaring pasrah menikmati permainan yang sudah tak bisa dihindari, bahkan kemeja Pink yang di pakai sudah kehilangan kancingnya.


***


Sore itu Ayu menemui orang yang sudah berjanjian dengannya.


"Hai, maaf aku datang mengganggumu." Pria gagah dengan kulit hitam manis itu terlihat gugup.


"Tidak, aku sudah selesai." Ayu duduk berhadapan dengan tamunya.


"Apa kau sudah membaca surat wasiat ayahmu?" David mulai menguasai diri.

__ADS_1


"Belum. Memangnya ada apa?" Ayu menatapnya heran.


"Aldo sudah mengundurkan diri dari perusahaan sekarang tinggal aku sendiri. partner ku yang baru sepertinya tak cocok untukku. Aku harap kau segera membacanya agar aku tenang jika besok atau lusa keluar dari sana." David memberanikan diri menatap wajah cantik di hadapannya.


"Aku meninggalkannya di rumah. Apa kita pulang saja sekarang, aku penasaran?" wajahnya menjadi serius.


"Ayo." David beranjak menuju mobilnya, tapi kemudian Ayu datang dengan membawa kunci mobilnya.


"Kita beriringan saja." Ayu enggan meninggalkan mobil di kantor. David mengangguk kemudian keduanya melaju beriringan.


"Duduklah, aku akan mengambilnya sebentar." Setelah sampai di rumahnya, Ayu segera mengambil kertas penting yang di berikan Ayahnya.


"Bukalah." David sudah tak sabar melihat kertas yang di bawa Ayu dari kamarnya.


Ayu tampak ragu, dan pada akhirnya Ayu duduk mendekat dengan David. Tentu itu membuat pria gagah itu salah tingkah, seorang sekretaris bermuka es kini tepat disampingnya. Hatinya gemetar seperti sedang berada di kutub.


"David, aku takut " Ungkapnya kemudian menatap wajah David.


David berusaha menguasai diri, berkali-kali menelan paksa ludahnya. Kegugupannya membuat ia sulit bicara.


"David." Ayu kembali memanggilnya dengan wajah khawatir.


"Ah.. aku_. Kau tidak usah takut, ada aku bersamamu." Jawabnya sedikit meyakinkan. Tampak Ayu menarik nafas, sepertinya kata-kata yang di ucapkan David cukup berhasil.


Mereka membuka Amplop coklat itu bersama-sama. "David, ini banyak sekali." Ayu kembali menatap David, tak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Mereka tak akan memberikannya dengan mudah!" David juga tak kalah khawatir.


"Aku harus bagaimana, apa ku kembalikan saja?" Ayu meminta jawaban dari David.


"Kau simpan saja dulu, nanti aku akan menemui papamu. Biarkan papamu yang mengurusnya." David mencoba menenangkan kekasihnya.


"Sebenarnya aku tak membutuhkan ini." Ayu menunduk sedih.


"Aku merasa kau akan membutuhkannya." David menatap wajah yang menunduk itu dengan yakin. "Menghadapi orang yang kuat, tentu kau harus kuat, menghadapi orang yang berkuasa, kau juga harus berkuasa. Selama ini mereka mencarimu karena takut hartanya di bagi."


"Kau akan membantu ku?" Tanya Ayu kemudian mengangkat wajahnya.


"Tentu saja. Aku akan bersamamu." Ungkapnya tulus, sedikit tersenyum manis untuk gadis yang ada disampingnya.


Dan setelah beberapa detik, senyumnya dibalas. Indah sekali....

__ADS_1


__ADS_2