Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
165. Talak untuk Reina


__ADS_3

Lama pria itu menunggu di teras rumah, sengaja ia tak mengganggu dan juga tak mau mendengar suara-suara aneh yang membuatnya ingin muntah. Pria itu hanya melihat sekitar memang tampak sepi, wajar saja jika Adi berani mengajak wanita dengan bebas kerumahnya.


Teringat saat itu Dev juga mengajak Reina menginap di rumahnya, namun ia berusaha untuk tidak terpancing dengan tingkah Reina yang manja, ternyata itu sudah biasa. Malam yang gelap semakin membuat pria itu banyak berpikir, betapa ia merasa sakit ketika kehilangan Mey, dan betapa tersiksanya ia saat kehilangan Reva, dan sekarang ia akan menceraikan Reina. Hidup sedang bermain-main dengan kisahnya, entah apa yang bisa dipetik dari sejuta rasa sakit berkali-kali kehilangan ini, tapi yang jelas saat ini ia tidak merasakan itu lagi, mungkin karena cintanya sudah terbagi pada Dimitri.


Terdengar suara pintu di buka, kedua orang pasangan mesum itu keluar dengan wajah puas dan Reina dengan rambut sedikit masih berantakan.


"Apa sudah selesai?" tanya Dev terdengar mengejek.


Reina sungguh terkejut, ia tak menyangka akan mendengar suara itu di rumah Adi.


"Apa rasanya sangat nikmat?" Dev kembali tersenyum remeh pada keduanya.


Adi terdiam, tak ada sepatah kata yang berani dia ucapkan. Tentu karena dia juga salah!


"Seru sekali aktivitas yang kalian lakukan, aku sampai menunggu lebih dari satu jam di sini. Oh iya, lain kali tirai jendela itu harus ditutup rapat agar tak terlihat dari luar." Dev menunjuk tirai di balik dinding tempat ia bersandar.


Keduanya tampak serba salah, sungguh kali ini Reina tak mungkin bisa mengelak. Tapi bukanlah Reina namanya jika tak bisa menjawab.


"Aku sengaja, agar kau tahu aku bukan batu yang hanya kau jadikan ganjalan pagar di rumahmu." Reina mendengus kesal, ia berjalan menuju mobil Dev.


"Sungguh, istri orang itu memang lebih enak, aku juga pernah merasakannya." ucap Dev pada Adi, yang akhirnya berkata dengan pelan.


"Aku minta maaf, aku baru tahu jika dia sudah menikah denganmu." Adi mencoba berkilah.


"Tidak masalah, aku akan membuangnya untuk mu, silahkan kau jadikan keset yang membersihkan kotoran milikmu. Tapi sebaiknya kau nikahi dia, kita tidak tau kapan ajal menjemput, pastikan saat itu kau tidak sedang tidur dengan istri orang." ucap Dev sinis.


Andai istrinya bukan Reina, mungkin ia akan menghajar pria itu sampai mati, tapi pada Reina ia hanya merasakan benci.


Dev masuk ke dalam mobil dan mulai melaju dengan Reina ada di sampingnya. Wanita itu terlihat serba salah dengan mata melihat kesamping, membuang muka karena ulahnya sendiri.


"Mulai malam ini aku menceraikanmu, kau bukan lagi istriku." ucap Dev dengan suara datarnya.

__ADS_1


"Tidak kah kau pikirkan lagi Dev, hanya aku yang bisa menerima kekuranganmu. Bahkan mantan kekasihmu pun tak akan mampu menerima dirimu." Reina menatap Dev penuh harap.


"Reva menerimaku, aku yang tidak ingin dia menderita bersamaku."


"Kau yang membuat aku begini, kau yang tidak menyentuhku dan lebih memilih tidur dengan anakmu." teriak Reina marah sekali.


"Sudah ku katakan padamu Reina, aku sakit dan_"


"Bilang saja kau masih menginginkan tubuh wanita itu, kau hanya menjadikan aku pembantu untuk mengurus hidupmu." ucap Reina lagi.


"Sekarang tidak lagi Reina, aku sudah menjatuhkan talak padamu, dan aku akan mengurus semuanya."


"Aku tidak mau, dan ingat itu rumahku Dev!" ucapnya menunjuk arah jalan pulang.


"Ambilah jika kau menginginkannya, itu juga baru aku bayar separuhnya dan silahkan kau lunasi sisanya. Kami akan pulang ke rumah orang tuaku, memang sejak awal itu adalah tempat tinggalku." ucapnya tak peduli.


"Dev harusnya tidak begini." ucap Reina tidak terima.


"Memang seharusnya kita tak pernah menikah, itu adalah kesalahan." Dev malas melihat wajah wanita itu.


"Tentu saja, aku tidak suka barang bekas yang bisa di pinjam sembarangan orang." Dev ingin sekali menyadarkan wanita itu, tapi percuma.


"Kau tidak lebih baik daripada aku, kau hanya laki-laki yang tak berguna." balas Reina.


"Tentu saja aku masih berguna, aku bekerja, punya anak yang harus ku hidupi." Dev menahan niatnya untuk menghina mantan istri, itu tak ada gunanya.


"Dev kau tidak bisa membuangku begitu saja, bagaimana jika aku tertular darimu?" Reina terlihat takut.


"Jika kau tertular, artinya Adi juga tertular, kau bisa menikah dengannya dan memuaskan hasrat gilamu itu." Dev membuka pintu mobil dan turun lebih dulu, tidak terasa pertengkaran mereka membuat waktu terasa singkat.


"Dev, beri aku kesempatan." pintanya dengan suara pelan.

__ADS_1


"Aku akan pulang ke rumah lama, kita tak perlu bertengkar seperti anak kecil. Cukup kau ingat saja kesalahanmu dan tidak usah berusaha membela dirimu yang sudah jelas bersalah. Kita berpisah Reina!" ucap Dev tegas.


Ia naik ke atas dan segera mengemas pakaian miliknya juga milik Dimitri, mengangkat semua barang itu masuk ke dalam mobilnya, tak peduli Reina mengikutinya dan berusaha mencegahnya.


Dan terakhir Dev menggendong Dimitri beserta bantal untuk anak itu tidur di mobil. Ia sudah tak peduli apapun termasuk rumah yang baru saja ia beli.


"Dev aku akan ikut denganmu." Reina mengejar Dev menuju mobil.


"Tidak Reina, tinggallah di sini. Kau ingin melihat kebahagiaan mereka? Kau akan gila memikirkannya." Dev menunjuk rumah di depan mereka lalu masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Reina.


"Dev!" panggilnya berteriak, namun Dev tak peduli, ia tak mau menoleh masa lalu terburuknya itu.


Menikah itu tidak sulit, tapi menjadikan istri ibu tiri itu sangat sulit. Dev berpikir lagi dan lagi.


*


Satu Minggu sudah berlalu, kehidupan Dev lebih tenang tanpa Reina, ia sudah mengurus perceraiannya dengan alasan istrinya takut tertular penyakit yang di deritanya, itu sedikit memudahkan.


"Dimitri!" Erita memanggil anak laki-laki yang sedang bermain di luar rumah.


"Iya Bibi!" jawabnya mendekat dengan senyum masih berhiaskan gigi ompongnya.


"Ayo kita makan!" ajak Erita dengan tersenyum seperti biasa.


"Bibi tidak ke rumah ibu?" tanya Dimitri, karena sore biasanya Erita belum pulang dari rumah Reva.


"Ibumu istirahat hari ini, jadi Bibi juga istirahat." jawabnya menyiapkan makanan di meja makan rumah Aldo itu.


"Aku kesepian jika Bibi tak ada di rumah, aku bermain sendiri sambil menunggu ayah pulang." dia berbicara seperti biasa sambil meraih sendok di piringnya yang lebar.


"Apa ibumu tidak pulang kemari?" tanya Erita.

__ADS_1


"Kata ayahku, ibu tak akan pernah pulang, dan tidak akan pernah bertemu denganku lagi." jawabnya polos.


"Memangnya dia kemana?" tanya Erita penasaran.


__ADS_2