Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
158. Semakin benci


__ADS_3

"Bukan menebak sayang, tapi itu sangat nyata." jawab Aldo.


"Ah baiklah, terserah kalian berdua saja." Reva menatap Ayu dan Aldo bergantian.


"Lusa aku akan ke rumahmu." ucap Ayu lagi, sudah tentu wanita itu sedang penasaran terhadap wanita yang suka mengganggu itu. Bagi Ayu wanita yang paling sabar di dunia adakah Reva seorang, tapi jika sampai dia marah maka sudah dapat di pastikan orang itu sudah keterlaluan.


"Kita makan bersama dan mengundang teman-temanmu saja mas sekalian, ajak Adi, Aji dan Erita sekalian." tiba-tiba Reva memiliki ide, mungkin dia bosan.


"Itu tidak buruk, sudah lama kita tidak kumpul bersama." Aldo menyukai ide istrinya.


"Kau ajak dua asisten kembar itu, biar suasana menjadi seru." David sudah tertawa lebih dulu mengingat kelakuan dua orang tampan dan aneh itu.


"Aku hanya kasihan pada Anggara jika mengundang mereka berdua." Aldo ikut tertawa.


"Biarkan saja, dia sendiri yang memilih asisten tidak tahu diri itu." David terkekeh geli.


"Rasa-rasanya aku butuh satu orang seperti itu." ucap Aldo tampak berpikir.


"Untuk apa?" tanya David.


"Hanya untuk hiburan." Aldo tertawa lepas.


"Gaji mereka besar, sama seperti kita waktu bekerja dengan almarhum mertuaku." David mengingat masa itu.


"Tentu saja, mereka mengingatkan kita pada masa itu." Aldo tersenyum membayangkan semuanya.


"Masa-masa tidak takut mati." tambah David lagi.


"Benar." jawab Aldo.


Malam itu habis dengan obrolan yang seru, baik tentang masa lalu juga masa sekarang. Hingga larut malam Aldo mengajak istrinya pulang ke kediaman mereka, bercanda dan membicarakan banyak hal membuat Reva sedikit melupakan kekesalannya.


Hari Minggu pun, biasanya hari-hari di rumah itu begitu damai dan menyenangkan, gerbang depan di buka lebar setiap jam enam pagi, tapi tidak mulai hari ini, gerbang besar itu tertutup rapat dan tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali sudah memiliki janji pada tuan rumah.


"Gara-gara nenek sihir ini." pak Dwi bergumam sendiri, pria itu tau jika masalahnya adalah tetangga baru.


"Demi keamanan dan kenyamanan pak Dwi." Titi menyahut.


"Iya juga ya, takutnya nyonya yang baik hati itu jadi darah tinggi." pak Dwi tertawa dengan memperlihatkan satu gigi ompong di bagian depan.

__ADS_1


"Benar sekali pak Dwi." mereka terlihat kompak.


"Reva!" suara itu memanggil Reva yang sedang berkeliling halaman mendorong sepeda bayi.


"Iya?" jawabnya halus, Reva mencoba melihat keluar gerbang dari celah pagar besi.


"Bisa bicara sebentar?" Dev tampak sedang berdiri dengan melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Bicara apa mas? Aku tidak mau istrimu kembali mengatai aku yang tidak-tidak, aku tak masalah jika hanya mengatai aku, tapi dia mengatai suamiku." wajah cantiknya tampak mengerucut.


"Ini juga tentang istriku, maaf atas kesalahan yang di buatnya. Aku yang tidak bisa mendidik istriku sehingga membuatmu marah juga kesal." Dev tersenyum sedikit, dengan wajah yang menyesal.


"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu." Reva enggan berbicara banyak.


"Baiklah, terimakasih." Dev meninggalkannya, tampak ia setengah berlari menyeberangi jalan berukuran dua meteran itu.


Sedangkan di rumah depan, wanita berwajah bulat itu tampak sedang berdiri di balkon dan menatap kesal pada Dev yang baru saja mendatangi rumah Reva.


"Dari mana saja?" tanya Reina pada Dev, wajah sinis dan sombongnya tak pernah lepas.


"Dari depan." jawab Dev tak mau memperpanjang pembicaraan, pria itu masuk ke kamarnya.


"Untuk apa kau datang ke rumah depan? kau sengaja membuatku malu dan marah?" Reina melipat tangan di dada.


"Tidak, hanya aku minta maaf untuk yang kemarin, agar kesalahpahaman antara kita semua tidak berlanjut." Dev mencoba tak terbawa emosi.


"Tapi aku tidak salah Dev?" ungkapnya kesal.


"Iya, apapun itu Reina, kita sudah dewasa jadi jangan sampai memelihara salah paham itu terlalu lama, dan ada baiknya kita sedikit mengalah, kita sudah dewasa bukan anak kecil lagi." Dev berusaha menasehati dengan cara yang lembut.


"Terserah kau saja, tapi aku tak akan mau mengalah dengan wanita sok itu." Reina masih kesal dan tidak mau mengalah.


"Yang penting jangan kau ulangi lagi sikapmu yang seperti kemarin. Jadilah wanita baik dan pintar." Dev tersenyum menghiburnya.


Reina tersenyum sedikit.


"Kau sedang memuji wanita di seberang sana, kau pikir aku tidak tau kau masih menyukainya. Aku harus buat perhitungan dengannya, aku tidak mau di nomor duakan suamiku."


"Ada apa Reina?" Dev melihat wajah istrinya, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak." jawabnya singkat.


"Baiklah, aku mau istirahat." Dev berbaring di ranjang miliknya, tidur membelakangi Reina.


Hari-hari mereka lalui dengan Reina semakin kesal saja, sikap Dev tak lagi romantis seperti kemarin saat bulan-bulan pertama menikah. Kini pria tampan itu tampak biasa saja, menyentuhnya pun dapat di hitung dengan jari, nyaris tak ada kehangatan di dalam rumah tangga mereka.


Reva!


Lagi-lagi Reina berpikir itu sebab kemarin Reva mengadu pada suaminya, dia semakin benci dengan wanita berhijab itu, ia sungguh tak suka bahkan dengan hijabnya Reina benar-benar benci.


*


Pagi itu, para ibu-ibu kompleks berbelanja sayur tak terkecuali Tuti, wanita itu ikut memborong karena majikannya menyukai sayuran hijau.


Keributan dan keriuhan biasa terjadi, terlebih lagi saat Tuti berbelanja, mulutnya akan heboh dengan berbagai macam gurauan. Tapi ada yang lain kali ini, para tetangga berbisik-bisik dan sedikit melirik pada Tuti.


"Ada apaan sih?" wanita itu tau mereka semua sedang membicarakan dirinya.


"Itu, tadi pada heboh ngomongin majikan kamu Ti, katanya tetangga baru itu mantan pacarnya? Terus mereka sempat punya anak gitu? Dan lagi katanya majikan kamu itu masih cinta sama mantannya." salah satu asisten tetangga berbicara dengan tanpa ia tutup-tutupi.


"Astaga! Enggak bener itu, yang ada malah kebalik suaminya tetangga noh yang sering datang ke rumah kita!" Tuti kesal dan langsung membela.


"Katanya Ti, kita ga tau." sahut meraka saling mengangguk.


"Jangan percaya, itu wanita stress!" Tuti kesal sekali, hingga akhirnya membawa semua belanjaannya masuk, Tuti harus bersiap untuk acara nanti malam, Reva akan mengajak rekan dan teman-teman suaminya datang ke rumah itu.


*


Malam itu, ada cukup banyak orang yang datang, tak terkecuali orang kepercayaan suaminya di cafe, mereka semua sudah datang dan sedang mengobrol.


Tak lupa Dev dan istrinya ikut di undang, sebab Aldo merasa tak enak hati dengan keramaian di rumahnya dan melupakan sahabatnya, walaupun tak suka dengan Reina.


Reina berjalan dengan membusungkan dada di tengah keramaian namun tak sengaja bertabrakan dengan seseorang laki-laki, mereka sama-sama terkejut dan lebih terkejut saat sudah saling melihat wajahnya.


"Reina?"


"Adi?"


Keduanya menatap dengan mulut terbuka.

__ADS_1


__ADS_2