Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
148. Hanya kau saja


__ADS_3

Reva menoleh kamar Dimi, ia takut anak itu keluar dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Belum tahu sayang, mungkin kesalahan itu bisa menjadi sebuah keberuntungan untuknya, bukankah Tuhan sudah mengatur semuanya dengan baik, sangat baik, seperti pertemuan dan pernikahan kita. Percayalah aku tidak pernah melakukan apapun dengan wanita manapun, aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih, hanya kau saja kekasihku, istriku dan ibu dari anakku." Aldo mengecup pipi mulus itu begitu mesra.


"Aku tidak bisa membayangkan suamiku pernah tidur dengan wanita lain, apalagi sampai memiliki anak, sungguh aku akan sangat sedih sekali." ucapnya pelan dengan mata tak henti menatap ke dalam mata bening suaminya.


"Hanya kau saja sayang, seperti halnya dirimu hanya aku yang menyentuh dan mengambil mahkota berhargamu. Tak terbayangkan betapa bahagianya aku malam itu, melihat kau tertidur lelah dengan keringatku mengalir di tubuhmu. Kau terlihat sangat cantik dengan bercak yang mengotori sprei berwarna putih, aku sengaja memasangnya karena ku yakin kau tidak tersentuh." Aldo mengeratkan pelukannya, mengecup seluruh wajah cantik itu dengan penuh kasih sayang.


"Aku memang milikmu mas, aku sangat bahagia bisa menikah denganmu." suaranya terdengar merdu dengan tarikan nafas di penuhi rasa cinta luar biasa.


*


Sementara di tempat lain pria tampan itu sedang duduk melamun, matanya tampak berkaca-kaca dengan layar ponsel masih menyala. Ia menatap wajah polos yang mirip sekali dengannya, sesekali ia menarik nafas berat dan menghembuskan berharap rasa sesak itu ikut keluar.


Ponselnya berbunyi, suara pesan membuyarkan lamunannya. 'Meisya nama ibunya.' begitu isi pesan dari Aldo.


Dev begitu terkejut menatap layar ponsel dengan mata yang basah, tangannya bergetar dengan nafas sesak di dadanya.


"Mey." Nama itu terucap dari bibir tipisnya, sungguh itu bukan kebetulan dan dia harus memastikan.


Lama ia duduk lemah tak bisa beranjak dari duduknya hingga beberapa saat kemudian ia memutuskan untuk pulang ke rumah, mungkin jika bertemu Reina dia dapat menghilangkan kegelisahan tentang anak itu.


"Reina sayang." panggilnya berusaha menyembunyikan kesedihan dan kegelisahan.


"Kau sudah pulang." Reina keluar dari kamarnya dan memeluk suami tercinta Baru saja tiba.


"Aku pulang cepat, aku sedang merindukanmu." ucapnya dengan begitu mesra.


"Benarkah? Aku tidak percaya kau merasakan hal yang sama." Reina masih bergelayut manja dengan tangan Dev melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Tentu saja benar." ucapnya lagi dengan senyum manis tak henti ia pamerkan.


Gadis itu sangat bahagia mendengarnya, hingga membuatnya memulai serangan terlebih dahulu. Dia begitu menikmati hari-harinya dengan perlakuan Dev yang lembut dan menghanyutkan. Dia bahkan tidak pernah menyangka pria itu begitu romantis dengan senyum manis yang selalu membuatnya tergila-gila.


Hingga di sore itu, Dev masih diselimuti rasa penasaran akan hadirkan anak kecil yang di bawa Aldo, dia bahkan kerap terbangun tengah malam memikirkan kemungkinan bahwa ia adalah anaknya bersama Mey. Terakhir ia menyatakan hal kehamilan pada gadis itu ia hanya menangis, apa artinya ia sedang mengandung? Lalu mengapa Mey tak mau jujur saat itu, dan mengapa sampai anak kecil itu tinggal sendirian di Bali, bukankah dia tinggal bersama pria tua yang menjadikannya simpanan? Berbagai macam pikiran mengganggu hari-harinya.


"Reina, aku pergi sebentar menemui Aldo, tidak akan lama." Dev berpamitan dengan istrinya.


"Aldo atau istrinya?" jawab Reina terlihat kesal.


"Aldo sayang, ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Kau tak perlu khawatir aku bertemu dengan Reva, sudah tentu Aldo tidak suka aku bertemu dengannya." Dev memeluknya sejenak, wanita itu memang pencemburu, dan cenderung ingin tahu segala hal.


"Baiklah, tapi jangan lama. Dan_"


"Dan apa sayang?" tanya Dev menoleh dan mendekatkan wajahnya.


"Tidak ada." jawabnya memaksa untuk tersenyum.


Tak butuh waktu lama, tiga puluh menit setelahnya ia sudah sampai di rumah Aldo.


"Pak, apa Aldo ada di rumah?" Dev bertanya pada satpam yang berjaga di depan.


"Baru saja pulang mas." jawabannya sopan.


"Oh, terimakasih." Dev langsung masuk ke dalam rumah dua lantai itu.


"Dimi, bisa tolong jaga adikmu nak!" sayup-sayup suara merdu wanita yang pernah dicintainya itu memanggil nama putra yang kemungkinan anaknya.


"Iya ibu." jawabnya, melepaskan mainan yang begitu banyak dan segera menaiki tangga.

__ADS_1


Dev yang baru saja tiba di ruang tamu melihat itu dengan rasa tidak menentu, dia sedang berpikir bahwa hubungan antara Dimi dan Reva begitu baik, wanita itu selalu di penuhi kasih sayang, ia tidak pernah membedakan orang lain dengan keluarganya.


"Andai saja yang aku nikahi adalah dirinya." Dev mengusap wajahnya dengan kasar mencoba menyegarkan otak yang sedang berpikir tanpa meminta izin, bahwa itu sudah tidak mungkin terjadi.


Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, tampak wanita cantik itu menggendong bayi di ikuti bocah laki-laki mengiringinya di belakang.


"Mas!" soalnya sedikit terkejut, tak kalah terkejut anak kecil di belakangnya terpaku di tengah-tengah tangga.


"Maaf, apa suamimu ada?" Dev berusaha untuk tidak terlihat canggung.


"Mas Aldo sedang mandi, tunggulah sebentar dia akan segera turun." jawab Reva berlalu menuju ruang keluarga bersama Dimi.


Dev memandangi anak laki-laki itu sesekali dia menoleh dan Dev langsung tersenyum, ada rasa hangat menjalar saat kedua pasang bola mata itu bertemu.


"Sayang bawa kemari mainanmu." Reva meletakkan Zahira di box bayi, anak kecil umur tiga bulan itu sangat senang melihat Dimi bermain dengan suara robot yang berbunyi.


Tak lama kemudian Aldo turun mencari keberadaan istri dan anaknya.


"Dev, apa kau sudah lama?" sapanya sebelum ia melihat Reva sedang ada di ruangan lain.


"Belum, aku ingin bicara denganmu." jelasnya tanpa berbasa-basi.


"Apa?" tanya Aldo singkat.


"Aku ingin melakukan tes pada anak itu, aku khawatir dia terinfeksi sama seperti aku, juga aku ingin memastikan bahwa dia adalah anakku." ungkapnya terlihat gugup, sungguh ia malu mengakui itu dengan suami mantan tunangan yang begitu ia cintai, dengan segudang kelebihan yang membuat dia selalu mengingatnya. Namun tak ada pilihan, jika dia tidak memberanikan diri untuk mengatakannya dia kan kehilangan kembali, ini adalah kesempatannya untuk memiliki anak.


"Kau mengenal ibunya Dev?" tanya Aldo.


"Iya, aku pernah melakukan kesalahan bersamanya dan aku juga tertular darinya." jawabnya begitu yakin.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengajaknya jalan-jalan bersamamu, kita ke rumah sakit untuk memastikan itu." Aldo mengerti sahabatnya itu sedang memikirkan banyak hal, terlihat dari wajahnya tampak kusut, mungkin ia tidak bisa tenang karena adanya Dimi, akan sangat bagus jika anak itu adalah benar anaknya.


__ADS_2