Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
186. Akhirnya.


__ADS_3

Setelah melewati berbagai macam pertimbangan, akhirnya Aji dan ayah Erita memutuskan untuk menurut saja dengan keputusan Erita. Jika boleh jujur Aji tidak ingin adiknya menikah dengan pria yang sakit seperti Dev, tapi sepertinya pria itu benar-benar berniat baik, juga Erita seakan tak mau menerima laki-laki lain untuk menjadi ayah dari anaknya. Erita selalu menjawab jika pria yang bersedia menikah dengannya hanya memanfaatkan dirinya saja, entah benar ataupun tidak tapi pemikiran adiknya itu selalu saja menjadi alasan untuk menolak. Berbeda dengan Dev, adiknya malah menerima dengan alasan di hanya ingin menolong.


Hari yang sudah di tentukan sudah tiba, Erita dan Dev akan menikah pagi itu, di mesjid tak jauh dari rumah mereka, keduanya sepakat untuk melaksanakan niat baiknya di mesjid dan tidak ada acara apapun di rumah mereka, bahkan makan bersama beberapa yatim piatu itu semua di laksanakan di masjid tersebut.


"Alhamdulillah"


Ucap syukur itu terlontar dari sekian para saksi dan sejumlah keluar, tak banyak yang hadir, hanya beberapa rekan Dev, Aldo dan Reva, David, dan beberapa tetangga Dev.


"Aku tidak pernah menyangka akhirnya akan seperti ini." Aldo berbicara pada istrinya, mereka tampak menikmati suasana damai di mesjid itu.


"Alur kehidupan itu penuh misteri Mas, hanya Tuhan saja yang mengetahui alasannya." Reva ikut bahagia, tersenyum menyaksikan Erita kini terlihat bahagia, juga Dev yang terlihat bersemangat mengobrol dengan beberapa orang di sana.


"Benar juga." Aldo meraih bahu istrinya, sungguh kemesraan itu tak pernah berkurang dengan hadirnya seorang anak. Pria berlesung pipi itu selalu dan selalu mencintainya dengan sepenuh hati, seperti baru mengenalnya dan baru saja mencintainya.


*


"Aku akan mengantarmu pulang." ucap Dev, sore itu Erita pulang ke rumahnya, karena siang tadi ia ikut bersama ayahnya dan David juga ada di sana.


"Ajak Dimitri juga." pintanya melirik anak kecil itu datang mendekat padanya.


"Baiklah."


Mereka melaju menuju rumah Erita, yang tak berapa lama sudah tiba di sana.


"Ayo masuk!" Erita mengajak Dimitri masuk dengan meraih tangan kecilnya.


"Rumah Bibi bagus!" ucap anak itu polos.


"Ini rumah adikmu, bukan rumah Bibi, tapi saat ini akan menjadi rumah kita." ucapnya tersenyum manis.


"Apa aku boleh menginap di sini bersama Bibi?" tanya anak itu lagi.


"Tentu saja kau akan di sini menemani Bibi." jawab Erita lagi. "Ini kamarmu Sayang." Erita menunjukan sebuah kamar berukuran sedang.


Terimakasih Bibi." ucapnya tersenyum senang, langsung menuju ranjang miliknya.


"Erita!" suara Dev memanggilnya.


"Iya." Erita menutup pintu kamar Dimitri dan segera mendekati Dev.


"Apa ada yang perlu ku bantu?" tanya Dev melihat sekeliling rumah.


"Tidak ada." jawab Erita halus, ia tersenyum duduk di sofa.


"Aku hanya ingin kau baik-baik saja sepeninggalku nanti." Dev ikut duduk dengannya.


"Aku akan baik-baik saja." jawab Erita yakin.


"Minggu depan aku akan pergi. Aku lega tak lagi risau dengan keadaanmu sekarang ini, tinggal kau menjaga kesehatan dengan baik."

__ADS_1


"Tentu, apalagi ada Dimitri. Aku rasa dia bisa membantuku jika usia kandunganku sudah besar nanti, Mungkin hanya sekedar mengambil air putih aku kan kesulitan kesana-kemari." Erita tersenyum kecil membayangkan hal itu.


"Boleh saja, tapi tidak untuk tinggal menetap di sini." Dev menatapnya serius.


"Kenapa?" Erita juga balas menatapnya.


"Ini rumah Adi Sayang, bukan rumah kita. Bahkan sepantasnya kau tinggal di rumahku bersama Dimitri." ucap Dev lembut dan terdengar romantis.


"Aku tahu." jawabnya menunduk, entah jika karena panggilan sayang itu.


"Aku menyayangimu Erita." ucapnya lagi, meraih tangan kecilnya dan memeluknya sejenak. "Maaf aku tidak bisa menjadi suami sesungguhnya untukmu." ucapnya terdengar sedih.


"Jika kau memintanya aku bersedia." jawab Erita di luar dugaan.


Dev melonggarkan pelukannya, menatap mata bening bulat itu begitu tulus. "Aku tidak akan pernah melakukannya, kau istriku di dunia dan di akhirat nanti." ucap Dev juga sangat tulus.


"Hidup kita masih panjang." jawab Erita.


"Kau boleh melanjutkan hidupmu nanti setelah anak ini besar, menikahlah lagi jika ada laki-laki yang tulus mencintaimu. Tapi untuk diriku cukup kau saja menjadi istriku, tidak akan ada yang lain lagi selain dirimu."


"Mengapa kau berkata begitu?" tanya Erita sedih.


"Meskipun aku pulang dengan selamat, aku tetap akan meninggal Erita. Saat itu Dokter memvonis usiaku tinggal Tujuh tahun lagi, dan sekarang tinggal Lima tahun lagi itu juga jika aku rutin terapi dan tidak melupakan obatku, bahkan hati dan ginjalku sudah mulai terasa sakit karena aku tidak menjaga pola hidup sehat, ada banyak penyakit lain yang menggerogoti diriku."


"Bagaimana kau bertugas jika semua terasa sakit?" Erita sungguh tidak tega.


"Kau membuatku bersedih." Erita menangis.


"Aku mencintaimu istriku." Dev memeluknya erat, menikmati indahnya pernikahan dengan rasa cinta, tidak hanya pelarian dan pura-pura. Dia benar-benar mencintai Erita, wanita baik-baik yang selalu menjadi impiannya untuk di jadikan istri, walaupun bukan Reva, tapi Erita tak kalah baik seperti dia.


Bahagianya bisa melakukan hal yang baik untuk seorang yang dia sayangi, meskipun akhirnya hanya bisa melepasnya dengan penuh cinta, menjalani hari dengan setumpuk rindu, itu lebih baik dari pada dekat tapi tak bisa menyentuh, rindu yang jauh akan selalu menghiasi hari dan membuat rasa menjadi indah. Ikatan halal itu akan menghubungkan mereka hingga hidup setelah mati, dia yakin akan bersama setelah itu.


"Bisakah menemaniku di akhir kepergianmu ini?" Erita meminta, tentu pria itu sangat senang melakukannya.


"Aku akan bersamamu istriku."


Ah, kata-kata istriku! itu sungguh indah terdengar bila di katakan dengan tulus.


"Sayang apa sudah siap?" Dev membuka pintu kamar mereka, melihat istrinya sedang memakai hijab dengan tersenyum, dia terlihat cantik sekali di pagi itu.


"Sudah." Erita meraih tasnya keluar dengan membawa tas dan memeluk lengan Dev yang terasa hangat.


"Nanti aku akan menjemputmu, kita akan periksa ke dokter hari ini." Dev memeluk pinggang Erita dan sedikit mengelus perut yang terlihat sudah mulai penuh itu.


"Iya." jawabnya senang.


"Sekalian kita akan ke bengkel yang di depan sana, jika kau butuh uang atau Dimitri butuh uang lebih kau bisa mengambilnya di bengkel itu, itu milik kita."


"Kau membelinya?" tanya Erita.

__ADS_1


"Iya, agar anak dan istriku tidak kelaparan jika tak punya uang." ucapnya tersenyum.


"Ada-ada saja." Erita tertawa.


"Yang mengelolanya adalah sepupuku." tambahnya lagi.


Terlihat seperti pasangan serasi, bahagia, saling menerima, saling mengerti dan menghormati, itulah cinta yang sebenarnya.


Hari-hari singkat itu berlalu, seakan mengalami Dejavu.


Di Pelabuhan laut Bengkulu, para militer sedang bersiap untuk kepergiannya mengemban tugas negara. Seorang gadis berkerudung panjang juga ikut mengantar dengan seorang anak kecil di sampingnya. Dia tersenyum manis dengan mata hampir menyipit, tangan kecil dan halusnya meraih dan memeluk pria yang sudah memakai seragam lengkap itu.


"Terimakasih sudah menjadi istriku, ingatlah aku selalu mencintaimu. Aku akan menunggumu di surga sana, kita akan kembali bersama." Dev memeluknya begitu erat dan hangat.


"Aku juga mencintaimu, terimakasih sudah menjadi suamiku, memberiku status yang mulia sebagai istri." Erita membalas pelukannya tak kalah erat dan hangat.


Mereka berpelukan cukup lama, juga bocah kecil itu tak ketinggalan memeluk erat.


Soal kapan kematian itu datang tentu manusia tak akan pernah ada yang tahu, Dev hanya berniat untuk pergi, bukan untuk kembali.


Jika sebenarnya nanti ia tidak gugur dalam tugasnya, ia juga tetap tidak ingin bersama mereka. Entah jika suatu saat dia berubah pikiran, jika hidupnya tak serumit itu.


...TAMAT...


...***************...


*


*


*


...Terimakasih sudah membaca Novel sederhana ini hingga selesai....


...Jangan lupa membaca Novel lanjutannya berjudul...


..."Dua Cinta Milik Zahira(Ceraikan Istriku)"...


...Terimakasih banyak...


...Semoga para readers sekalian sehat selalu...


...😘😘😘😘😘😘😘😘😘...


...❤️❤️❤️💖💖💖...


jangan lupa singgah juga di novel baru


👇👇

__ADS_1


__ADS_2