
Mobil yang dikendarai Reva dan Ayu berhenti melaju, sejenak hanya untuk berpamitan Aldo turun mengetuk kaca mobil.
Reva membukanya, tampak Aldo sedang tersenyum. Kalau boleh jujur dia sangat tampan sekali. "Tidurlah, jangan lupa hubungi aku." Ucapnya lembut dan meluluhkan hati.
"Iya." jawab Reva singkat matanya yang redup dan menyejukkan, tersenyum sedikit tapi begitu menghanyutkan. Kemudian menutup kaca dan mobilnya melaju masuk ke halaman rumah.
Reva naik ke atas, segera mandi dan tak lupa sholat isya dia lakukan. Reva merebahkan diri di kasur kesayangannya, perjalanan yang membuat begitu lelah tapi menyenangkan, sudah lama sekali tidak ada hal yang menyenangkan hari-harinya.
"Anda kelelahan?" Tanya ayu khawatir.
"ahh tidak juga, hanya sedikit lelah."
"Anda mau makan apa, apa perlu beli di luar?"
"Kita makan masakan bibi saja. Aku sudah ingin makan!" Reva turun dari ranjang, menuju kebawah di iringi Ayu di belakangnya.
Berbeda dari biasanya, Reva makan lebih banyak dan terlihat bersemangat. Dia tidak lagi bermain dengan sendok dan garpu di dalam piringnya.
Ayu tersenyum melihat itu, berarti suasana hati bos nya sudah membaik. "Aldo memang luar biasa, dasar oppa KW ." Ayu ingin sekali mengatakan itu pada Aldo. Hatinya menghangat menyaksikan Bosnya kembali seperti sedia kala dia sangat bersyukur.
"Aku jadi mengantuk." Ucap Reva setelah menghabiskan makanannya.
"Duduk lah sebentar, makanan didalam perut anda belum turun." Timpal Ayu, padahal dia geli menyaksikan bosnya kekenyangan.
***
Sementara itu Aldo dan David baru tiba di rumahnya.
"Aku mandi dulu!" Aldo langsung menuju kamarnya sedangkan David masih duduk di Sofa dengan wajah yang kusut.
Tak lama kemudian Aldo sudah keluar tampak begitu segar dan wangi.
"Kau belum mandi juga?"
"Belum, sedang tidak ingin mandi." Jawab David.
"Ayu menyukai orang yang bersih dan fresh." Aldo mencoba memprovokasi.
David tampak berfikir sejenak, lalu tanpa menjawab dia segera ke kamar untuk mandi.
Aldo hanya geleng-geleng melihat tingkah rekannya. Dia duduk bersandar menarik nafas memejamkan mata sejenak, lelah, tapi bahagia itulah yang dirasakannya. Membayangkan wajah yang teduh, lembut dan menggemaskan, mengingat Reva mengerjainya itu membuatnya ingin bertemu lagi, padahal baru setengah jam yang lalu terakhir melihatnya, tapi sudah merindukannya lagi, lagi dan lagi. "Begini ternyata rasanya jatuh cinta." gumamnya sambil tersenyum.
"Dasar Bucin." David mengejek, mengusap-usap rambutnya yang basah. Sedangkan Aldo membuka matanya hanya tertawa saja.
"Aku lapar." David memegang perutnya.
"Kita keluar, sekalian melancarkan misi kita." Aldo beranjak mengambil jaketnya.
"Kau tidak lelah, atau besok saja." David terlihat malas.
"Kalau begitu makan nya juga besok!"
"Tega sekali." David menggerutu.
Mereka berangkat dengan mobil David, menuju Restoran cepat saji.
__ADS_1
"Aku lapar sekali." David langsung menyantap makanan yang baru saja di letakkan oleh pelayan.
"Berdoa lah dulu, nanti kau tertelan kepala ikan." Ucap Aldo.
"Itu terlalu besar." timpalnya sambil mengunyah. Keduanya makan bersama.
"Ah akhirnya, lega sekali rasanya jika perut sudah kenyang." David mengelus perutnya.
"Kita duduk sebentar, lalu kita ke kantor."
"Yang masuk siapa?" David menatap wajah sahabatnya itu.
"Kau saja."
"Kau lebih gesit, bukankah kau sudah biasa?" David terlihat malas.
"Kau ingat aku Satpam, aku yang akan berjaga!" Tegas Aldo.
"Baiklah." David mengalah.
"Ayo!" Aldo beranjak menuju mobil di ikuti David, dan keduanya berangkat ke kantor.
"Ada apa pak David, ada yang bisa saya bantu ??" petugas keamanan di kantor pak Hartawan terlihat siaga.
"Ah begini, Pak hartawan besok ada urusan keluarga, dia memintaku untuk mengambil barang ketinggalan di ruangannya!"
"Baiklah saya Telepon bos dulu!" David mengeluarkan ponselnya.
"Baiklah, saya percaya anda adalah orang kepercayaan beliau, mari saya bukakan pintunya."
David mengikuti petugas itu di belakang, setelah membuka pintu petugas itu kembali ke pos jaga.
"Itu betul sekali, aku baru saja menjemput anak bos kita dari rumah orang tuanya, tempatnya jauh sekali, jadi aku di beri bonus." Ucapnya dengan semangat.
"Benarkah, kau beruntung sekali!" Kedua satpam itu sangat kagum.
"Kali ini aku akan membaginya untuk kalian, ini aku punya tiga ratus ribu, kita bagi tiga."
"Wah kau baik sekali, aku mau, kebetulan aku sangat lapar, istriku tidak masak, jadi tidak ada bekal untukku." Ucapnya sedih.
Aldo membagikan uang kepada dua rekannya.
"Aku akan membeli makanan, apa kau bersedia berjaga sebentar?" Pintanya pada Aldo.
"Tentu saja, pergilah beli yang enak-enak mumpung ada rezeki." Aldo menyemangati.
"Tapi aku juga ingin membeli sesuatu. Apa tidak apa-apa jika ku tinggal sendirian?" Pria gendut yang satunya memohon.
"Tidak apa-apa. Tapi jangan lama-lama, aku mau pulang!"
"Kalau begitu aku pergi dulu, aku janji tidak akan lama." Dia bergegas pergi dengan sangat bahagia.
Aldo segera membuka komputer dan mengecek cctv. Di Sana tampak David sedang masuk di ruangan salah seorang pegawai.
Tak lama kemudian David keluar. "Sudah." Ucapnya.
__ADS_1
Aldo hanya mengangguk. "Itu mereka sudah datang, kau duluan saja." Aldo memberi saran.
"Terima kasih. Maaf sudah mengganggu." David memberikan kuncinya.
"Sama-sama pak David."
"Saya permisi." Ucap David lagi.
"Aku juga mau pulang, kalian lama sekali?" Ucap Aldo.
"Maaf, kami mengantri."
"Ya sudah, aku pulang. Aku mau tidur." Aldo meninggalkan mereka.
"Aldo, Terimakasih ya!" Ucap kedua petugas itu.
"Iya, sama-sama." Aldo berjalan kaki, tak jauh dari sana David sudah menunggu.
***
Di dalam kamar bernuansa putih. Ayu menatap wajah Reva yang yang sudah terlelap, seperti nya nyenyak sekali.
Ayu melangkah keluar melihat pemandangan kota yang indah, penuh dengan cahaya gemerlap. Dia teringat dengan ibunya. Dimanakah dia berada, bagaimana keadaannya? Mengapa pamannya tidak ikut membawanya pergi, padahal saat itu dia ingin sekali ikut.
Dia harus sekolah, juga bekerja untuk kebutuhan sehari-hari. Masih teringat jelas bagai mana saat itu paman menatapnya penuh benci. Sampai saat ini Ayu tidak pernah tau apa alasannya.
"Apa salahku?" Gumamnya lirih.
"Kenapa kau belum tidur?" Suara lembut itu menyapa.
"Kenapa anda bangun?" Ayu balik bertanya.
"Mungkin tidurku terlalu sore, sekarang aku jadi tidak mengantuk." Jelasnya
"Kau memikirkan sesuatu?" Reva bertanya, tapi gadis itu hanya menunduk. "Ceritakan padaku, aku akan membantumu." Reva duduk mendekati nya
"Aku teringat ibuku." Jawabnya sedih.
"Bagai mana jika kita mencari ibu mu, kita sewa seseorang untuk menelusuri keberadaannya." Reva memberi usul.
Ayu menatap wajah Bosnya itu. "Mengapa tidak terpikirkan dari dulu." Ayu menyukai idenya.
"Baiklah, kalau begitu, besok kita cari orang yang bisa kita bayar jasanya."
"Aku tau siapa !!" Ayu tersenyum misterius.
"Siapa?" Reva penasaran.
"Besok saja. Mari kita tidur." Ayu beranjak duluan menuju kasurnya.
Reva heran melihat tingkah sekretaris kesayangannya itu, dia menatapnya penuh tanya.
"Ada apa?" Ayu melihat ekspresi bosnya.
"Kenapa tingkahmu menjadi seperti Aldo?"
__ADS_1
Ayu jadi bingung mendengar kata-kata itu. "Mungkin Anda sedang jatuh cinta, jadi semua terlihat mirip dengannya." Jawab ayu ketus.
Membuat Reva berfikir, apa benar dia jatuh cinta. "Ah tidak... cintaku hanya Dev seorang." Reva menggeleng-gelengkan kepalanya.