
Tiba di rumah, kedua pria itu langsung masuk dan mengunci pintu. Mereka terlihat terburu-buru.
"Cepat buka, aku sudah tidak sabar !!" David penasaran.
"Iya , kita akan segera mengetahuinya." Aldo mengambil card memory di dalam kamera kecil seukuran ibu jari, memindahkan dan memasukkannya ke laptop. Di dalam rekaman tampak aktifitas yang dilakukan seseorang, tapi sepertinya yang dilakukan adalah rahasia. Cukup lama keduanya memperhatikan gerak geriknya berulang kali.
"Tadi aku tidak sengaja menemukan ini...!!" David mengeluarkan sebuah foto dari dalam jaket nya.
"Ini......???!!!" Aldo terkejut melihat orang yang ada di dalam foto.
"Aku menemukannya di bawah meja Bos kita !"
"Apa hubungannya pak hartawan dengan wanita ini, mengapa dia begitu mirip dengan Ayu ?" Aldo masih belum berhenti terkejut.
Sementara David hanya diam tak tau harus menjelaskan apa.
"Dev, iya aku harus menghubunginya." Aldo mengambil ponsel dan menelepon sahabatnya.
"Iya, ada apa ? " suara di seberang sana.
"Dev, aku ingin menanyakan sesuatu, tentang Ayu." Jawab Aldo serius.
"Memangnya ada apa ?"
"Apa ayu punya saudara ??"
"Ada, tapi setahuku sudah meninggal."
"Tapi foto ini tidak seusia kita, tampak seperti foto lama !" Sela David.
"Kalau ibunya ..??" tanya Aldo lagi.
"Ibunya di bawa pamannya entah kemana, ayahnya seorang pemabuk berat. Dia itu seperti sebatang kara." Kelas Dev lagi.
"Oh begitu !" Aldo tampak berfikir.
"Ada apa ?" Dev jadi penasaran.
Lalu Aldo menceritakan semuanya dari awal sampai akhirnya Aldo menelponnya.
"Aku mohon jangan libatkan Reva .!!" suara Dev terdengar sangat khawatir.
"Tidak akan, aku akan jamin dengan nyawa ku." Aldo menjawabnya dengan yakin.
Dia tidak sadar bahwa orang yang mendengarnya akan terluka. Hati Dev sakit mendengar orang yang di cintainya saat ini sedang di perjuangkan orang lain, meskipun itu sahabat sekaligus saudaranya sendiri.
Dev terdiam menahan nafas yang sesak. Tapi apalah daya, itu memang sudah seharusnya terjadi, Sungguh Dev merasa dia tak ada lagi artinya untuk Reva yang dia cintai.
"Maaf, maksud ku ?" Aldo segera menyadari ucapannya.
"Tidak apa-apa, seperti nya kau sudah sangat mencintai tunangan ku." dia berusaha menguasai diri, menutupinya dengan bergurau.
"Apa kau cemburu ..??" Aldo membalasnya.
"Tentu saja, aku tunangannya, !!"
"Kapan kau akan melepaskannya ??"
"Setelah kau menikahinya .."
Dan keduanya tertawa. Tapi David tidak, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang mereka bicarakan, apa ada cerita seperti itu.. ??" gumamnya sambil pergi ke kamar mandi.
***
"Bunganya layu, . !?" Reva terlihat panik.
__ADS_1
"Saya lupa nyiram non, maaf." Bi Inah menunduk takut.
"Ah tidak apa-apa, ambilkan air saja bi. Biar aku yang menyiramnya..!!"
Bibi segera mengambil air.
"Ini non, !" Inah menyerah kan ember dan gayung.
Reva mulai sibuk menyiram dan mencabut rumput di dalam pot bunga, bahkan dia membelai-belai bunga yang bermekaran.
"Reva lagi ngapain, rajin amat ??" emak-emak tetangga sedang menunggu Abang tukang sayur.
"Cari kesibukan Bu, karena hari libur." Jawabnya ramah.
"Oh iya Reva, katanya kamu mau nikah, tapi kok ga jadi ?? " ibu berdaster itu kepo.
"Iya, lagian pacar kamu ga pernah kelihatan ya, kalo ga salah kan udah pulang dari Papua. Keponakan saya aja udah pulang ?? " Ibu yang satunya ikut menyahut.
"Apa jangan-jangan nikah sama orang lain ?" ibu-ibu jadi sahut-sahutan .
Reva hanya diam mendengarkan ocehan ibu-ibu. Sungguh ucapan ibu-ibu itu membuat suasana hatinya sedih.
"Mau nikah atau enggak bukan urusan kalian. lagian ni ya, non Reva itu cantik, banyak yang mau.!!" BI inah jadi emosi.
"Udah Bi, enggak apa-apa." Reva menengahi.
"Belum waktunya ibu-ibu. sebaik nya jangan terlalu ibu-ibu pikirkan, nanti kalian lelah. Kan yang batal menikah Bos saya, kalian ga usah repot, urus saja uang belanja ibu-ibu, cukup apa tidak untuk beli kebutuhan sehari-hari. .!!" Ayu jadi geram. Tatapannya yang tajam membuat ibu-ibu itu membubarkan diri.
Reva menunduk tak mengatakan apa-apa. Sungguh malu jika anak perawan gagal menikah, padahal belum tentu gagal itu karena kesalahan dirinya. Mereka hanya memandang luarnya saja tanpa tau sebab asal masalah nya. Lagi pula jodoh adalah pengaturan mutlak yang maha kuasa, andai bisa memilih... "Aku ingin menikah dengan mu mas " batinnya.
"Non, ponselnya bunyi, " Bi Inah memberikan ponselnya.
"Assalamualaikum," Reva mengangkatnya.
"Waalaikumsalam " Ternyata Aldo, Reva bahkan lupa menyimpan nomor ponselnya.
"Hanya menyiram bunga." jawabnya terdengar sedih.
"Jangan sedih, kalau kau sedih aku jadi merindukanmu !!" Aldo mulai menggodanya.
"Aku tidak sedih." Reva mengelak, pipinya sudah merona.
"Oh iya, apa sedang bersama Ayu ??" tanya Aldo.
"Iya. Dia ada di sini, ada apa ??" Reva jadi penasaran tak biasanya dia menanyakan Ayu, karena mereka tak pernah akur.
"David titip salam untuknya."
"Wahhh... Benarkah ?" Reva senang walau tak percaya, akhirnya ada laki-laki yang Memberanikan diri untuk mendekati sekretarisnya yang galak ini.
Ayu mengambil handphone Bosnya. "Apa yang kau katakan ??" Suara Ayu terdengar marah.
"David menyukaimu, semalam dia tidak bisa tidur memikirkanmu !!" Aldo semakin menggodanya.
"Kau mencoba merayuku ??"
"Bukan aku, tapi David yang merayumu."
"Aku tidak mau "
"Benar kau tidak mau ??" tambahnya lagi
"Aku tidak suka pria gombal seperti kalian." Ucapnya
"Tapi dia tampan, ada banyak gadis yang mengejar nya." Aldo sengaja memancing emosinya.
"Dasarr murahan...!!!" Ayu langsung mengembalikan ponselnya pada Reva.
__ADS_1
Terdengar Aldo tergelak di seberang sana.
"Apa yang kau katakan. Kenapa dia marah begitu ??" Reva jadi semakin penasaran.
"Ah tidak ada, aku hanya menggodanya. "
"Kau sedang apa ?? tanya Reva.
""Aku sedang memikirkan mu."
"Kau sangat suka merayu."
"Tidak, hanya padamu "
Reva tersenyum mendengar nya. Entahlah, setiap ucapannya selalu membuat ia melupakan kesedihan.
"Kenapa diam, Apa kau marah ??" Sambung Aldo lagi.
"Tidak, aku tidak mungkin marah padamu. Terimakasih karena selalu menghiburku." Jawab Reva
"Tidak usah berterima kasih, aku senang melakukannya. Bahkan jika selamanya aku akan bisa melakukannya untukmu."
"Kau akan bosan."
"Tidak akan. Aku tidak akan bosan."
"Apa semua gadis kau rayu begitu ?" tanya Reva
"Tidak. Aku belum pernah punya kekasih."
"Jangan merayuku lagi, nanti aku bisa jatuh."
"Aku akan membantumu berdiri."
"Ahhh ... Pandai sekali kata-kata mu." Reva tertawa mendengarnya.
Keduanya tertawa, bercanda dan terkadang Aldo menggodanya hingga panggilan selesai.
"Ingin sekali aku melamar mu saat ini juga, Reva Aku mencintaimu.." Aldo hanya memikirkannya.
***
"Hari ini aku akan mengambil sepeda motor yang baru. Pak Hartawan sudah membayarnya." Aldo sedang mengganti pakaian.
"Aku ikut .!" David juga beranjak mengganti baju.
"Baiklah. Sekalian kita belanja."
"Tapi mengapa tidak di antar saja, biasanya kan begitu ??" tanya David.
"Aku tidak ingin orang kantor tau rumah ku ada di sini."
"Ah begitu rupanya." David sambil menyisir rambutnya.
"Ayo .."
Mereka sengaja memesan taksi. entah apa lagi yang akan mereka lakukan hari ini.
bersambung....
🙋 Hay semua pembaca sekalian ...
"Jodoh Pilihan Untuk Reva"
ini karya pertama ku
Terimakasih sudah membaca, mohon tinggalkan jejak ya,...
__ADS_1