Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
45. Layangannya putus


__ADS_3

Puas memandangi wajah cantik yang memerah itu, David melewatinya dengan sengaja. David ikut melihat bunga-bunga ibu yang sedang bermekaran.


"Bunganya cantik sekali." David menatap mawar yang merekah.


"Tentu saja, aku selalu merawatnya." Ayu menyelesaikan kegiatannya.


"Kau menyukai bunga?" David menoleh wajah yang polos tanpa riasan itu.


"Iya." Jawabnya berusaha untuk tidak menatap mata pria yang sedang memandanginya. Tentu membuat David menjadi semakin bersemangat. Ingin sekali David merayunya, tapi cepat-cepat ia urungkan salah sedikit bisa saja salah satu pot cantik ini melayang. Oh itu mengerikan, jadi lebih baik bermain aman.


"Apa kita bisa jalan-jalan hari ini?" David kembali memulai obrolan.


Ayu menoleh. "Kita mau kemana?" Ucapnya kemudian.


"Kemana saja, menurut keinginanmu. Sekalian kita mengobrol tentang Ayahmu." Jelas David mendekati Ayu.


"Baiklah. ehmm, apa tak keberatan menungguku mandi dulu?" Ayu tampak ragu.


"Tidak masalah. Aku punya banyak waktu untukmu." David tersenyum manis menatap wajah Ayu. Ayu bergegas naik keatas dan bersiap untuk pergi.


*


"Assalamualaikum sayang." Aldo menjawab telepon istrinya.


"Wa'alaikum salam mas." Tak ada kata-kata selain salam. Aldo berfikir pasti sedang kesal atau menginginkan sesuatu.


"Ada apa sayang, atau mau makan sesuatu?" Suaranya terdengar hangat.


"Aku bosan mas." Seperti sedang merajuk.


"Baiklah nanti sore kita jalan-jalan, selesai ashar aku pulang, sekalian kita belanja."


"Iya." Jawabnya singkat.


*


Sore hari yang cerah, mobil berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama dia sudah sampai di rumah untuk menjemput istrinya.


"Sayang." Aldo mengecup keningnya yang sudah menunggu diruang tamu, tampak cantik sekali dengan hijab pink muda yang sederhana. Aldo duduk di sampingnya sambil memeluk tubuh kecil itu dengan mesra.


"Aku mau jajan mas, aku tidak suka makan nasi." Pintanya sambil menyandarkan kepalanya di dada Aldo

__ADS_1


"Iya, kita akan membeli banyak makanan untuk stok di rumah, kau bisa makan apa saja walaupun bukan nasi. Tapi.. tetap harus yang sehat." Sambil mengelus kepala dan menciumi pipi mulus kesukaannya.


"Aku mau buah yang banyak." Jawabnya dengan menyelipkan tangan kecil itu di pinggang.


"Apapun itu, kita akan beli sesuai keinginanmu." Aldo menciumnya." kita berangkat sekarang?" Ucapnya melihat wajah yang selalu membuatnya rindu, dan itu di angguki istrinya.


Reva beranjak, tangannya tak mau lepas menggandeng dan memeluk lengan kokoh. Hingga di dalam mobil dia masih menyandarkan kepalanya dengan manja. Aldo tetap fokus menyetir walaupun sesekali tangannya mengelus kepala yang menimpa lengannya.


Hingga tiba di sebuah pusat perbelanjaan mereka berhenti. Aldo turun dan selalu menggandeng istrinya, tiba di dalam dan memilah belanjaaan dan makanan.


"Sayang, mau buah apa?" Aldo bertanya, tangannya sudah sibuk mengambil buah-buahan dan di masukkan ke dalam keranjang belanjaan.


"Aku mau pir hijau sama kiwi juga mas!" Reva mengambil buah pilihannya.


"Ambillah yang banyak sayang, sepertinya pir hijau itu enak." Aldo ikut memegang salah satunya.


"Aku tidak suka yang ini mas." Reva mengeluarkan semangka dari keranjang


"Ah baiklah, apapun maumu." Aldo mendorong keranjang belanjaan menuju kue dan makanan ringan.


"Mas, aku mau yang besar." Aldo mengambilkan beberapa makanan ringan dengan bungkus yang besar, termasuk makanan yang lain yang menurut Aldo Reva akan menyukainya.


"Aku mau yang ini mas, black forest." Reva menunjuk kue kesukaannya, dan langsung diambilkan penjaga toko kue.


"Ada lagi?" Aldo merapikan belanjaan yang sudah penuh, tak ada jawaban sepertinya sudah selesai.


Aldo mendorongnya ke kasir, selesai membayar Aldo memintanya masuk ke mobil lebih dulu. Di susul pegawai toko yang membantu membawakan semua belanjaannya ke mobil.


"Mas, kita beli sate di dekat taman ya?" Pintanya dengan wajah yang memelas. Aldo tersenyum melihat wajah yang tampak lelah, mungkin karena sedang hamil dia jadi cepat lelah dan lemas.


"Iya." Jawabnya tersenyum lalu mengemudikan mobilnya.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di dekat taman untuk makan makanan kesukaan istrinya, Reva makan lahap dengan nasi yang hangat. Tak di duga jika di rumah tidak mau makan nasi, tapi jika di luar dia malah menghabiskannya. Aldo ikut makan sambil menikmati pemandangan di hadapannya, ibu hamil yang sedang fokus dengan makanan.


"Mau di bungkus?" Aldo menatap wajah cantik yang sudah kekenyangan itu.


"Tidak mas." Reva mencari sandaran karena merasa kepalanya berat. Aldo mendekat dan meraih kedalam pelukannya.


"Kita ke dokter sayang, mungkin kau kelelahan." Aldo khawatir.


"Aku kekenyangan mas." Jawabnya. Aldo masih tampak khawatir walaupun dia juga tau istrinya kekenyangan. Pengunjung yang lain jadi berbisik-bisik melihat kemesraan mereka berdua. Aldo pura-pura tidak mendengar dan segera membayar makanannya.

__ADS_1


"Kita pulang ya!" Aldo merangkulnya dengan mesra. Wajah cantik itu sudah tidak terlihat lelah, sepertinya makan sesuatu yang di inginkan membuatnya sehat dan bersemangat.


"Mas, itu David dan Ayu!" Reva menunjuk di sisi taman tampak dua orang yang sedang bermain layangan. "Aku juga ingin main mas!" Rengeknya sambil menarik kemeja Aldo.


"Baiklah." Aldo menuruti semua kemauannya.


"Kakak, selamat atas kehamilanmu." Ayu langsung memeluknya setelah Reva mendekat.


"Iya, terimakasih. Aku harap kau cepatlah menikah agar bisa merasakan kebahagiaan yang sama." Reva mengusap pipi adik angkatnya yang sudah pasti bersemu merah.


"Jika kakak sudah merestui, aku akan segera melamarnya." David menyela dengan sedikit bercanda memanggil kakak pada Reva. Itu sudah pasti membuat tawa untuk semuanya. Dan Ayu jadi semakin salah tingkah.


"Itu benar sekali. Dan jangan lupa, aku kakak iparmu." Aldo semakin membuat suasana ramai sekali.


"Boleh aku meminjam layanganmu?" Reva memintanya pada David.


"Ah tentu saja kakak ipar. Apa yang tidak ku berikan untukmu." David menyerahkan gulungan benang itu pada Reva. Itu membuatnya senang sekali.


Aldo mengambil benang itu lalu membantu istrinya mengendalikan layang-layang yang sudah tinggi di atas sana. Keduanya larut dengan menarik ulur benang yang berusaha melawan angin, sesekali di gulung, tapi sekali kemudian harus di ulur. Seperti kehidupan yang kita jalani, ada kalanya harus mengikuti arah angin, ada kalanya juga terpaksa melawan untuk bertahan.


"Mas, layangannya berputar." Wajahnya tegang takut layangan mereka terputus.


"Jika terputus artinya angin di atas lebih kencang. Kita tidak bisa melawannya hanya dengan tarikan sayang."


"Apa harus mengulur lebih panjang?" Reva menatap wajah suaminya yang sedang sibuk mengulur benang.


"Jika masih bisa, jika tidak kita harus merelakannya." Aldo tersenyum menoleh menatap wajah cantik yang sangat penasaran bermain layangan. Kemudian Aldo memberikan benangnya kembali dengan memeluknya dari belakang, membiarkan tangan kecil Reva bebas mengendalikannya.


"Tarik sedikit sayang." Aldo membantunya menarik. "Ulur sedikit." Ucapnya lagi. Hingga beberapa kali dan akhirnya layangan itu putus.


"Putus mas." Reva tampak kecewa.


"Biarkan saja, toh sudah jauh." Aldo menggulung benang yang tersisa sambil mencium pipi istrinya.


"Seperti drama mas, Layangannya terputus!" Ucapnya tanpa berfikir. "Itu mengerikan suaminya selingkuh." Ucapnya lagi.


"Kalau mengerikan tidak usah dipikirkan sayang." Satu tangannya masih memeluk erat.


"Apa nanti setelah aku memiliki anak yang banyak kau akan selingkuh dengan yang masih muda mas?" Tanyanya dengan tatapan ingin tahu.


"Untuk apa aku selingkuh, melawanmu saja aku hampir tidak sanggup." Aldo menggoda setengah berbisik di telinga istrinya sambil terus memeluk.

__ADS_1


__ADS_2