Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
162. Masa lalu yang aduhai


__ADS_3

"Aku dengar anak itu adalah anak Dev dan mantan pacarnya, apa itu kakakmu?" tanya Adi tak sanggup menahan penasaran.


"Hah! Aku tidak tau tentang hal itu, yang aku tahu kak Reva menikah dengan pak Aldo dan punya anak satu, yaitu yang di asuh adikku." jawabnya jujur, pria itu tak pernah mendengar tentang hal itu, dan lagi ia tak percaya.


"Oh, mungkin aku salah informasi saja." sambungnya lagi.


"Tapi aku yakin kak Reva tidak begitu, aku tahu persis keluarganya adalah orang yang baik-baik. Apalagi kakak laki-lakinya, dia adalah seorang militer yang beragama kuat." Aji mengatakan yang sejujurnya.


Adi hanya mengangguk-angguk saja, ia tak tahu kebenarannya tapi jika di lihat dari kejadian yang lalu, pria itu benar-benar masih mencintai istri bosnya. Atau Reina yang salah? Ah entahlah.


"Besok pagi aku sudah bekerja kak, kita harus siap-siap untuk acara satu tahun Cafe kita berdiri. Kedua bos kita akan datang bersama keluarganya juga rekan-rekan mereka, dan sepertinya akan ada diskon besar untuk pelanggan." ucap Aji, pantas saja dia harus pulang untuk mendapatkan stok kopi yang baru.


"Iya, aku tahu." Adi tersenyum sedikit, partner kerjanya cukup pintar walaupun penampilannya masih sangat polos dan lucu.


Lama keduanya diam, hingga sudah dekat dengan Cafe tempat mereka bekerja.


"Kak, sebaiknya kau jauhi wanita yang tadi, bukankah di Cafe banyak wanita cantik yang mau denganmu." ucap Aji dengan wajah polosnya.


Adi menoleh, tersenyum sedikit dengan kening berkerut sedikit memikirkan kata-kata rekan kerjanya. Adi jadi berpikir, mungkin Aji tahu sesuatu tapi tidak berniat untuk mengatakan padanya.


*


Sedangkan di rumah Reva, Erita dengan telaten menjaga Zahira, gadis desa yang sederhana itu tampak sepenuh hati menjaga keponakan jauhnya itu.


"Erita, dua hari lagi kita Cafe tempat kakakmu bekerja akan mengadakan acara, kita akan ke sana juga dirimu." Reva menunjuk gadis itu sambil sibuk memilih pakaian ganti, karena dia baru saja selesai mandi.


"Apa sebaiknya aku di rumah saja kak?" tanya gadis itu, dia merasa tak percaya diri untuk ikut bersama orang-orang kaya.


"Ikut saja, mana tahu nanti kau bertemu jodoh di sana." Reva menggodanya.


Gadis itu tersipu malu, kesederhanaan itu yang terkadang dicari seorang pria, bukan sikap sombong dan bangga.


"Nanti kakak akan mengirim gaun untukmu, atau kalau kau mau pilih saja di lemari kakak, bahkan masih ada yang bermerek belum di pakai sama sekali. Kau tahu, sekarang banyak yang kekecilan." bisik Reva mendekati gadis polos itu.


Erita melihat benar adanya, tubuh gadis cantik, kecil dengan bahu tipis itu dulu kini berisi dan seksi.


"Kak Aldo sangat menyayangimu kak, jika aku menikah nanti aku juga ingin seperti kakak." ungkapnya sambil memperhatikan wajah Reva yang cantik.

__ADS_1


"Kuncinya tidak banyak, yaitu saling menerima. Biarkan dia mencintaimu sepenuh hati, dan cintai dia sepenuh hati juga." Reva tersenyum sambil mengambil beberapa lembar pakaian.


"Ini bagus sekali kak." Erita melihat gaun yang Reva berikan.


"Ambil saja, itu semua tak jadi ku pakai karena aku sudah gendut." jawabnya halus.


"Aku akan memakainya." Erita tersenyum senang sekali, diam-diam dia sering mengagumi cara Reva berpakaian bahkan berniat suatu saat akan mengikuti cara wanita cantik itu memakai baju dan kerudung.


"Jika ingin memakai hijabnya juga ada yang belum kakak pakai, kau pasti akan lebih cantik." Reva memancing gadis itu mana tahu dia menyukainya juga.


"Tidak usah kak, nanti aku akan membelinya sendiri." Erita terlihat malu, tapi Reva tetap memberikan beberapa kerudung untuknya.


"Jika kau suka silahkan di pakai saja, tapi jika tidak, tidak apa-apa." Reva tersenyum.


"Terima kasih kakak." jawabnya sangat senang.


"Iya."


Dua hari kemudian, malam gemerlap dengan banyak hiasan di Cafe Black White, tampak ramai sekali dengan kehadiran seluruh karyawan dan tak terkecuali David dan Aldo beserta istri.


"Aku menghubunginya tadi, selain tetangga dia juga sahabatku sayang. Lagi pula kasihan anak itu, dia begitu menyayangimu."


"Harusnya bukan aku mas." Reva merasa tak enak.


"Itu perasaan sayang, bahkan kita yang dewasa ini tak bisa memilih pada siapa kita merasa sayang dan cinta." ucapnya lagi, tak ketinggalan pelukan hangat itu di pinggang istri tercinta.


"Seperti aku padamu." Reva merayunya sedikit.


"Tentu saja." Aldo semakin gemas dengan rayuan kecil itu.


"Kau tahu, aku sering melihat Dimitri mengintip di pagar rumah kita." Aldo melihat anak laki-laki itu mendekati mereka.


"Ibu." panggilnya dengan suara keras, membuat semua orang menoleh dan menatap heran pada Reva juga Dimitri.


"Hay sayang." Aldo meraihnya, walaupun yang di panggilnya adalah Reva.


"Dimana Zahira?" tanya Dimitri.

__ADS_1


"Sedang tidur di kamar sayang." Reva ikut menyapanya dengan lembut.


"Dimitri, jangan mengganggu sayang." Dev mendekat dan meminta Dimi ikut dengannya.


Entah dari mana asalnya membuat semua orang berbisik-bisik melihat ke arah Dimitri dan Reva juga Aldo.


"Itu anaknya?" pegawai cafe itu sendiri yang terdengar sedang berbicara.


"Wajahnya mirip pria yang memukul bos kita waktu itu." ucap yang satunya lagi.


"Aku pernah mendengar, istri bos kita punya anak lain dengan mantan pacarnya."


"Pantas saja waktu itu sempat berkelahi, mereka punya masa lalu yang aduhai!" seru salah satu wanita berseragam pegawai Black White.


Aldo mendengarkan itu semua, walaupun bisik-bisik itu pelan tapi ia tahu persis yang mereka bicarakan adalah istrinya. Sudah pasti itu membuat hatinya mendidih!


Aldo mendekati mereka perlahan, memperhatikan dengan tajam dan kemudian,


"Kalian membicarakan istriku!" tanya Aldo dengan wajah dingin.


"Tidak pak." jawab salah satunya ketakutan. Mereka semua terkejut tak menyangka Aldo mendengarnya.


"Siapa yang mengatakan istriku punya anak dengan orang lain?" tanya Aldo lagi.


"Tidak pak, kami hanya_"


"Jawab atau pergi dari sini sekarang juga!" Aldo geram sekali.


"Ka_ kami, kami mendengar dari orang lain." jawabnya gugup.


"Tunggu di ruanganku!" perintahnya pada ke empat orang pegawai itu.


"Sebaiknya kau ajak Dimitri menjauh dari istriku, aku tidak ingin istriku menjadi bahan gosip di kantorku sendiri." bisik Aldo, ia menatap tajam pada sahabatnya itu.


"Apa maksudmu?" Dev ingin tahu walau percuma, sahabatnya itu sudah di selimuti amarah.


"Sayang ayo!" Aldo meraih tangan Reva untuk segera menghindari Dev yang masih terpaku. "Duduk di sana saja sayang, nanti pegawaiku akan mengantarkan makanan padamu." Aldo sengaja tak memberitahunya, dan langsung menemui ke empat karyawannya yang sedang ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2