Jodoh Pilihan Untuk Reva

Jodoh Pilihan Untuk Reva
153. Mirip sekali


__ADS_3

"Kau membelanya?" Reina masih menyukai perdebatan itu.


"Aku tidak membelanya, dan tolong bersikaplah baik walaupun itu hanya pura-pura." Dev meninggalkan Reina keluar, sungguh malas harus selalu berdebat dengannya.


Reina membuka kamar yang sudah tertutup itu, sengaja ia buka pelan-pelan tanpa suara dan tidak membuka seluruhnya. Ia melihat wajah anak kecil yang sedang tertidur pulas itu dengan teliti.


"Mirip sekali!" gumamnya sediri masih berdiri di antara pintu. "Aku yakin dia anak Dev dan wanita itu, tidak mungkin mereka sangat kompak jika bukan anak kandung mereka."


Hingga pagi hari, Dimi bangun dan mencari Dev atau siapa saja di rumah itu, ia mencari ke beberapa kamar namun tak ada. Terdengar suara dentingan alat dapur seperti orang yang sedang memasak, ia langsung mendekat.


"Ibu!" panggilnya pelan.


"Kau sudah bangun?" tanya Reina.


"Iya, dimana Ayah?" tanya Dini polos.


"Dia ada di kamar mungkin?" jawab wanita itu masih sibuk sekali dengan masakannya.


Dimi berbalik dan segera mencari dimana Dev berada, anak kecil itu menoleh ke sana-kemari dan pandangannya beralih ke pintu depan, Balkon samping itu sebagiannya berhadapan dengan rumah Aldo. Ia membuka pintu dan berdiri di sana, walau terhalang tembok dan hanya terlihat sebatas mata, ia tetap berdiri dengan berjinjit melihat suasana di rumah depan sana.


"Sayang ada apa kau di luar?" Dev menyusulnya.


"Aku hanya melihat apakah Zahira sudah bangun." jawabnya dengan berbalik menghadap Dev.


Dev tersenyum dan menggendong Dimitri, ya namanya Dimitri. Mereka berdua melihat rumah di depan mereka, hanya ada dua satpam saja yang terlihat, mungkin mereka masih sibuk.


"Ibu pasti sedang membantu ayah mengganti baju, dan Zahira bermain sendiri." Dimi tertawa mengingat aktivitas di rumah itu.


Dev sedikit tersenyum, membayangkan tangan lentik wanita yang pernah ia cintai itu sedang membantu Aldo memakai baju, itu pasti sangat menyenangkan, ia tak mampu membayangkan betapa bahagianya keluarga di seberang sana. Wanita cantik dan sopan, selalu pandai menyenangkan hati suaminya, wajar saja jika sahabatnya itu akan rela mati mempertahankan dirinya.


"Apa Ayahmu itu pernah memarahi ibu?" tanya Dev ingin tahu.

__ADS_1


"Tidak." jawab anak kecil itu sangat jujur.


Lucu sekali, terkadang rasa ikhlas itu mendadak menguap begitu saja jika membayangkan betapa bahagianya kehidupan mereka. Ingin menghindar dan tidak melihat namun sudah terlanjur ada di tempat ini, jadi untuk saat ini hanya bisa pasrah dan menikmati semua yang ada.


"Antar aku pulang Ayah, aku harus sekolah." pinta anak kecil itu.


"Oh, baiklah. Mulai hari ini Ayah akan mengantar juga menjemputmu." Dev mengangkat tubuh kecil itu sangat tinggi, hingga wajah mungilnya menunduk untuk menatap Dev dan tertawa bahagia, gigi susu yang sedikit hitam itu berbaris walau tidak sama tinggi, membuat ia semakin terlihat lucu.


Hanya mereka berdua yang tahu rasanya bahagia itu, anak yang sudah lama ingin bertemu, dan ayah yang sudah lama putus asa lalu menemukannya sebagai pengobat rindu. Sekelebat bayangan bersama Mey kembali melintas, betapa senyum dan tawanya masih teringat jelas begitu manis dan menenangkan. Hubungan yang mereka lalui selam enam bulan itu sangat membuat Dev bahagia, walau akhirnya membuat ia jatuh dan terluka, dan akhirnya luka itu sembuh dengan hadirnya buah hati, seperti yang Mey minta 'Aku ingin mengandung anakmu.'


"Mey, aku sudah menemukan anak kita, aku sangat bahagia dengan harta yang kau tinggalkan, dan Tuhan sungguh masih berbaik hati pada kita, ada Dimi yang masih bisa meneruskan kehidupan kita di dunia ini, ada Dimi yang bisa kita harapkan untuk menjadi orang yang baik tidak seperti kita yang penuh dengan dosa dan kesalahan, dan aku sangat bersyukur anak kita sehat, tidak menderita penyakit yang menyiksa seperti kita. Aku harap kau bahagia di sana, tenang di sana, mungkin sebentar lagi aku pun akan menyusulmu ke sana. Lepas dari semua kisah yang menguras hatiku, kaulah wanita yang memberiku kesan sakit, perih, dan juga bahagia. Cinta pertamaku, dan Dimitri Cinta terakhirku."


Mereka pergi menyeberangi jalan di depan rumahnya menuju rumah Aldo, di halaman rumah Dimi turun dari gendongan Dev dan segera berlari masuk ke dalam.


"Ibu!" teriaknya begitu tak sabar ingin bertemu.


"Ayo mandi!" suara Tuti juga sedikit berteriak meminta anak kecil itu segera mandi.


Dev terdiam, namun akhirnya ia kembali ke rumah dan menyiapkan diri untuk bekerja.


"Sarapan lah!" Reina sedang menyiapkan makanan di atas meja.


Dev duduk dengan tangannya masih sibuk memasang kancing baju.


"Reina, nanti kau belanja sayur dan apapun kebutuhan lainnya. Dimi akan tinggal di sini dan jika kau tidak keberatan kau juga siapkan bekal untuk dia sekolah, ku lihat setiap hari dia membawa bekal walaupun hanya sepotong roti." ucap Dev sambil memulai sarapan.


"Iya." jawab Reina singkat.


Dev tersenyum sedikit, mungkin ia sedang bersyukur di pagi ini tak ada perdebatan.


"Aku pergi!" ucapnya, dia sudah selesai sarapan dan segera berangkat bekerja.

__ADS_1


Tampak di halaman rumah depan sedang ramai dan sangat sibuk di pagi ini, itu sebabnya Reva meminta Erita untuk datang membantu bahkan harus ikut ke kantor. Seperti saat ini Reva akan bekerja, karena Aldo harus berangkat ke luar kota mengurus proyek mereka bersama Anggara.


"Dimi, kau berangkat bersama Ayahmu ya." Aldo menujuk Dev yang sudah siap dengan seragam militernya.


"Iya." dia mengangguk, setengah berlari menuju pria berbaju loreng itu yang merupakan ayah kandungnya.


"Sayang, nanti kau hanya perlu memimpin rapatnya saja, setelahnya kau bisa pulang." seperti biasa pria tampan yang sudah berjas itu memeluk dan mengecup pipi istrinya begitu mesra.


"Iya mas." jawabnya tersenyum melihat kecupan itu kini beralih pada pipi gembul Zahira, pipi putih mulus dan berlesung pipi itu tampak lezat sekali saat dicium ayahnya.


"Ayo cepat!" Anggara yang sudah menunggu sedikit berteriak.


"Ish, dia senang sekali menggangguku." Aldo segera melepaskan Reva juga Zahira dan menuju mobilnya.


"Lama sekali." gerutunya lagi.


"Makanya kau segera mencari istri, agar tidak pusing melihat aku bermesraan dengan istriku!" Aldo menatap kesal padanya.


Mobil mereka telah melaju namun masih terdengar perdebatan dari keduanya.


"Aku masih mencarinya." jawab Anggara tak mau kalah.


"Setelah dapat kau langsung menikah." Aldo masih tak habis kesal, mereka sedang duduk berdekatan di belakang.


"Aku masih sangat muda, tidak perlu terburu-buru."


"Harus buru-buru." Aldo sedikit memaksa.


"Diam!" Ricky membentak mereka berdua.


"Kau membentakku?" Anggara menatap tajam padanya.

__ADS_1


__ADS_2