
Mobil yang di tumpangi Ayu melaju lebih cepat, Reva tampak gelisah menatap kedepan.
"Bisa lebih cepat!" Reva meminta dengan hati-hati. Dev tidak menjawab hanya menambah kecepatannya sedikit dan kembali mengikuti mobil Ayu.
Reva semakin cemas melihat jalan yg sudah mereka lewati, sepertinya dia tau itu jalan menuju kemana. Hingga mobil di depannya melambat dan berhenti di depan rumah mewah bertingkat.
Tampak rumah itu sedikit ramai, sepertinya ada acara. Terlihat para penjaga berbaris di depan gerbang masuk dan beberapa tamu datang meski tidak banyak. David turun bergegas dan meminta penjaga membuka pintu, dan kemudian David masuk.
Reva yang penasaran ikut turun dan ingin masuk tapi di larang penjaga. "Pak, izinkan saya masuk, saya teman David dan mengenal Bella dengan baik." Reva mencoba membujuk penjaga itu.
"Maaf nona, hanya orang yang penting saja di bolehkan masuk." Jawabnya.
"Memangnya di dalam ada acara apa?" Reva ingin tahu.
"Anak bos kami sedang melangsungkan pernikahan." Jawabnya pendek.
Reva tampak berfikir, "Kenapa rasanya aku ingin masuk?"
Sementara di dalam David masuk terburu-buru menuju Aula besar melewati ruang tamu dan ruang keluarga yang sangat luas.
"Sah. Sah." Terdengar suara serentak dari saksi yang ada di dalam.
Aldo melepaskan kopiahnya dan berlari keluar, dia berjalan cepat lewat jalur belakang ingin meluapkan kekesalannya sejenak.
Di bersandar di tembok yang tinggi, sepeti sedang bermimpi sayup terdengar suara lembut yang selalu dia rindukan. Semakin memasang telinganya, seperti nyata dia ada disini. Aldo menyusuri gerbang itu semakin ke depan, dan sungguh dia terkejut melihat wanita tercintanya ada di depan sana. Aldo sudah tidak dapat menahan diri, dia berlari dan menemui Reva didepan.
"Sayang kau sudah bebas." Aldo melewati para penjaga itu dan mendekatinya
Reva tercengang menatap tidak percaya, Hatinya bergejolak hebat dengan pikiran yang sudah tidak menentu.
"Kenapa kau ada di sini mas?" Pertanyaan itu membuat Aldo sadar seharusnya dia tidak menemui Reva di sini.
"Aku..." Aldo tidak tau harus menjawab apa.
"Mas." Reva memeluknya erat sekali menangis terisak di dadanya. Aldo diam membeku menyadari kesalahannya, hatinya juga tak kalah bersedih.
"Maaf sayang." Ucapnya sedih.
"Maaf tuan muda, nona Bella memanggil anda." Suara wanita itu memanggil Aldo.
__ADS_1
"Mas jangan katakan kau _!"Ucapannya terputus dengan tangis yang begitu dalam.
"Aku tidak mungkin membiarkanmu mendekam di dalam sana terlalu lama." Aldo mengucap lirih.
"Aku lebih rela selamanya di sana dari pada kau meninggalkan aku mas." Tangisnya semakin keras dan terdengar memilukan. "Tinggalkan dia mas." Reva memohon.
"Reva ayo pulang." Dev mendekati kedua orang di hadapannya.
"Mas aku tidak mau." Tangisnya lagi, tangannya mencengkeram erat kemeja yang di pakai Aldo.
"Kak, kita pulang dulu." Ayu menarik tubuh yang terlihat genduk itu menjauh dari Aldo.
"Mas, aku tidak mau." Kata-kata menyayat hati itu berulang-ulang dia ucapkan, Aldo terpaku menyaksikan tangis yang tak pernah dia bayangkan. Kedua kalinya menyaksikan tangis yang membuatnya lemas, dan kali ini sungguh membuatnya ingin pergi dari dunia ini.
"Reva ayo pulang." Dev sedikit membentak dan menarik tangannya di ikuti Ayu yang memeluknya dan berusaha menjauhkan dia dari Aldo.
"Jangan kasar padanya!" Aldo melotot menatap pria yang menarik lengan istrinya itu.
"Aku perlu memukulmu lagi." Dev menyeringai.
Reva semakin tidak terkendali, tangannya tidak mau lepas di kemeja Aldo yang dia remas, tarikannya mengikuti tubuhnya yang di paksa menjauh, membuat kancing kemeja itu berhamburan entah kemana, Aldo masih terpaku dengan nafasnya yang sesak, sesekali tubuh yang kokoh itu terhuyung karena tarikan tangan istrinya yang masih menangis.
Hingga kelelahan menangis, tubuhnya lemas dan melepaskan baju yang di genggamnya erat, Ayu merangkulnya, menahan tubuh yang lemah itu hingga masuk ke dalam mobil. Tangisnya masih tak berhenti, sungguh hatinya sangat letih, menyandarkan kepalanya di bahu lembut sang adik yang membeku.
Kurang dari satu jam mereka sudah sampai di kediaman ibu. Tampak Alisa tergopoh-gopoh mendekati mobil Aldo yang masuk ke halaman rumahnya.
"Reva, Ayu." Alisa berteriak tak percaya adik-adiknya ada di depan mata. "Rey, Reva dan Ayu sudah pulang." Alisa sangat bahagia.
Rey keluar terburu-buru melihat adiknya yang sudah keluar dari mobil bersama Ayu, wajah yang sangat lemas dan sembab itu langsung di peluk Rey dan mengajaknya ke dalam.
"Ibu baru saja istirahat, dia baru di izinkan pulang siang ini, dia sakit karena memikirkan mu." Rey meminta adiknya duduk.
"Aku ingin kekamar kak." Ucapnya.
Rey merasa dia sedang tidak baik-baik saja. Rey menoleh pria yang mengantarnya.
"Dimana Aldo?" Tanya Rey penuh selidik.
"Dia sudah menikah dengan wanita lain." Jawabnya ketus.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Rey terkejut, berusaha menahan nafas.
"Dia menikah dengan wanita lain." Dev mengulang ucapannya penuh penekanan.
"Lebih baik kau diam." Reva menatap marah pada Dev.
"Kenapa kau marah, bukankah itu memang kenyataan?" Dev mendebatnya.
"Itu bukan urusanmu." Reva kembali menangis.
"Sia-sia kau menangisi orang yang sudah menyakiti dirimu." Dev tampak kecewa melihat Reva masih menangis.
"Lalu kau apa, kau juga pernah menyakiti hatiku, dan suamiku yang menyembuhkan sakit hatiku karenamu." Reva menemukan pelampiasan kekesalannya kali ini.
"Aku hanya ingin kau bahagia apa kau tidak mengerti!" Jawabnya sangat menahan emosi.
"Apa sekarang aku bahagia? Jika tidak orang yang paling bersalah dalam hidupku adalah dirimu." Reva benar-benar kehilangan kendali, dia kesal dan berlari ke kamar.
Dev masih belum selesai dengan amarahnya mengejar hingga ke atas.
"Dev, kendalikan dirimu, dia istri orang!" Rey ikut mengejarnya ke atas.
"Aku hanya tidak terima dia menikahi wanita lain apapun alasannya!" Dev menyusul Reva hingga di depan kamar.
"Kau pikir aku menerima, bagai mana dengan anakku?" Isaknya terdengar berat di sela nafasnya. "Aku benci dirimu, aku benci kalian semua, aku benci dengan semua ini!" Reva berteriak, tangannya meraih buku kecil di atas nakas tepat di belakang dia berdiri dan melemparnya kepada Dev.
Sakit.
Sakit.
Tentu saja sakit, buku itu mengenai pipinya tapi lebih sakit yang di dalam sana. Hatinya hancur dengan kalimat kebencian dari wanita yang dulu adalah tunangannya.
Dia menatap kecewa lemas seluruh tubuhnya, menyadarkan dia akan satu hal, dia merasa bersalah.
Reva masuk ke dalam kamar duduk berlutut dan menangis, tangannya memegang erat tiang ranjang tempat dia bertumpu.
"Dev jaga batasanmu, dia bukan istrimu, tidak layak kalian terlibat pertengkaran." Rey mencegah Dev yang melangkah pelan menuju pintu.
Dia berhenti. "Maaf." Ucapnya melihat Reva yang masih menangis.
__ADS_1
"Pergilah." Rey berucap tegas kali ini.
Dev meletakkan kunci mobil Aldo dan berlalu dengan hati yang kacau.