
Namanya Kinara Zea Ardelia, biasa orang memanggilnya Nara atau Zea. Usianya baru beranjak 19 tahun. Merupakan anak tunggal pewaris perusahaan Papanya. Ia adalah anak yang rendah hati, pemberani dan periang. Walaupun begitu, Mama sangat menginginkan Nara untuk bekerja di perusahaan besar seperti Bobby, anak teman Papanya. Nara pun mengirimkan lamaran pekerjaan ke perusahaan itu. Dengan berbesar hati pemilik perusahaan menerimanya untuk bekerja di sana.
Dua bulan Nara bekerja, perusahaan Papa bangkrut dan Papa membuat ulah, ia menggadaikan surat tanah rumah yang sudah berpuluh tahun mereka tempati demi bermain judi. Alhasil, saat Papa kalah, rumah itu akan berpindah tangan ke orang lain jika mereka tidak bisa membayar tagihan yang menunggak. Mama begitu terpukul dengan keadaan ini. Nara melihat kertas tagihan yang tertulis sebesar seratus juta rupiah. Dan kolektor itu meminta waktu paling lama tiga bulan untuk membayarnya.
"Apa yang harus kita lakukan, Nara...," lirih Mama.
"Sudahlah, Ma. Nara akan cari pinjaman ke bos besar besok, Ma...," jawab Ara dengan wajah sedih.
"Tapi... Mana mungkin bos kamu mau memberi pinjaman sebanyak itu. Ini semua ulah Papa kamu!!!" ucap Mama dengan nada kesal.
Nara segera berangkat menuju kantor, lalu menemui kepala perusahaan itu. Nama si pemilik perusahaan itu adalah Reynand, karyawan perusahaan sering memanggilnya dengan sebutan Rey. Sebelumnya Nara sangat takut untuk bertemu dan bertatap muka dengannya. Karena dia begitu dingin, cuek dan angkuh terhadap bawahan. Tapi, dengan hati terpaksa, ia memberanikan diri mencoba memasuki ruangannya. Perlahan Nara membuka pintu.
"Permisi...," ucap Nara dengan pelan.
"Ya, masuk saja!!" jawabnya sedikit keras.
Nara pun berjalan kearahnya, dengan rasa takut dan deg-degan. Karena ini kali pertamanya ia berhadapan secara langsung dengan pemilik perusahaan yang angkuh itu.
"Sehebat itu kah kamu berani masuk ke ruanganku?" tanyanya.
Lihatlah, begitu sombongnya dia. Belum saja aku bercerita, dia sudah mengeluarkan kalimat yang membuatku sakit hati.
"Maaf... Jika kedatangan saya mengganggu waktu anda, Tuan ...," lirih Nara.
"Sudah, katakan apa mau kamu? Jangan bertele-tele," ucap Rey dengan kasar.
"Sa... Saya... Mau mengajukan pinjaman. Apakah bi... bisa?" tanya Nara dengan gugup.
"Apa? Pinjaman? Kamu kerja baru dua bulan di sini. Beraninya kamu mengajukan pinjaman!!" bentak Rey.
"Maaf saya lancang, Tuan Rey...," lirih Nara. "Tapi saya janji akan membayarnya, terserah Tuan Rey mau perlakukan saya bagaimana, saya siap nurut. Sekalipun menjadi babu anda Tuan Rey."
"Kamu sudah gila? Saya tidak semudah itu memberikan uang kepada bawahan. Apalagi seperti anda!!" bentaknya sekali lagi. "Sebaiknya kamu keluar dari ruangan saya sekarang!!"
Nara pun tertunduk saat keluar ruangan Rey. Tak tahu harus bagaimana membayar tagihan itu. Ia hanya tidak tega melihat Mama bersedih saat mendengar ucapanku nanti. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata Mama menelepon menanyakan masalah uang itu. Nara hanya bisa berbohong, demi kebahagiaan Mama. Tak sengaja Rey menguping pembicaraan Nara. Telepon dimatikan, Rey secara sengaja memunculkan diri dihadapannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu berbohong?"
"Eh, Tuan Rey," jawab Nara dengan sedikit terkejut. "Saya terpaksa, agar Mama saya tidak sedih, Tuan Rey..."
"Apa masalahnya? Sampai-sampai kamu harus meminjam uang," ucap Rey.
Nara menunjukkan surat hutang dari kolektor ke Rey. Betapa terkejutnya Rey saat melihat nominal dikertas itu.
"Sebanyak itu? Emang kalian pakai apa uang itu? tanya Rey sedikit kaget.
"Saya tidak mengetahui hal ini, terakhir Papa mengakui bahwa dia menggadaikan surat tanah itu untuk bermain judi. Sekarang Papa pergi melarikan diri. Mau tak mau saya harus berjuang sendirian...," lirihku sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
"Berikan nomor ponselmu, agar sewaktu-waktu saya bisa menghubungi kamu," ucap Rey menyodorkan ponselnya.
Nara pun memberikan nomor ponselnya kepada Rey. Dengan penuh harap, ia dapat menolong. Rey pergi meninggalkan Nara. Ia begitu heran, kenapa Rey bersikap dingin. Apa karena dia juga punya masalah, sehingga dia tak pernah tersenyum kepada bawahannya. Nara melanjutkan langkah kaki keluar dari kantor menuju rumah.
Baru saja beberapa langkah Nara berjalan menuju parkiran, ia melihat Rey sedang berdiri berbicara serius dengan dua pria. Ternyata pria itu adalah Papa dan Adik kandungnya Rey.
"Bagaimana, bulan depan kamu sudah bisa mengenalkan calon tunangan kamu?" tanya Papa Rey.
"Kamu sudah berjanji dihadapan keluarga besar, Rey. Jangan bikin Papa malu!!" bentaknya. "Jika kamu batalkan, kamu akan tau sendiri akibatnya. Perusahaan ini akan jatuh ke Willy Adik kamu."
Rey mengepalkan tangan, ia begitu geram dengan paksaan Papanya. Lalu, dua pria itu pergi meninggalkan Rey sendirian. Nara langsung menghampiri Rey.
"Tuan Rey...!!!" teriak Nara sambil berjalan mendekatinya.
"Kamu lagi... ngapain masih di sini, bukannya sudah pulang dari tadi?" tanya Rey.
"Tadi ada yang ketinggalan, Tuan. Jadi saya balik ke ruang kerja," jawabnya dengan beralasan. "Ini untuk Tuan Rey..." Nara menyodorkan minuman yougurt kehadapan Rey.
"Apa ini? Ini bukan minuman level saya, kamu saja yang minum, bisa-bisa saya sakit setelah minum minuman dari kamu!!" bentak Rey.
Nara pun menundukkan kepala dan menaruh minuman itu di meja pos. Lalu, berjalan kembali kearah parkiran untuk mengambil sepeda motornya.
Padahal niatku baik, segitu jijiknya dia dengan minuman murah itu.
__ADS_1
Rey melirik minuman yang berada diatas meja. Begitu Nara pulang, Rey mengambil minuman itu. Dengan rasa penasaran ia mencoba mencicipi minuman itu.
"Lumayan," gumamnya sambil meneruskan minum.
"Lama kelamaan kok makin enak, ah apa-apaan kamu ini Rey. Demi gadis itu rela meminumnya ....," lirih Rey. Apa sudah gila aku?"
Rey berjalan menuju mobilnya, lalu melanjutkan untuk pulang ke rumah. Diperjalanan, tak sengaja berjumpa dengan gadis yang bernama Nara itu. Ia sedang berhenti di toko roti, Rey pun memberhentikan mobilnya di area parkiran. Nara begitu menginginkan sebuah roti itu, tapi apalah daya hargnya cukup mahal. Sementara ia belum gajian, dan hanya memegang selembar lima puluh ribu. Nara pun bergegas meninggalkan toko roti itu. Rey segera turun untuk menanyakan kepada pelayan toko.
"Selamat datang, Tuan ...," sapa pelayan toko.
"Gadis yang baru saja pergi tadi kenapa tidak jadi beli?" tanya Rey.
"Oh, dia mau membeli roti yang baru rilis di toko ini. Tapi uangnya kurang, Tuan ...," jawab pelayan toko.
"Ya udah, saya mau beli yang itu juga. 2 box ya," ucap Rey.
Rey membawa 2 box roti itu ke dalam mobil. Ia mencoba menelepon Nara. Tapi, sayangnya teleponnya mati saat itu. Rey pun kembali melanjutkan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, terlihat Mama dan Papa sedang duduk di ruang tamu membahas pertunangannya. Rey sejenak menghentikan langkah untuk mendengarkan pembicaraan itu.
"Jadi gimana Rey, Pa? Apa Papa udah jumpia di kantor?" tanya Mama.
"Sudah, anak itu memang harus dikeraskan. Keluarga besar juga sudah menanyakan tentang pertunangan itu, Papa pusing harus bagaimana, Ma," jawab Papa.
Rey pun membuka pintu, mata Mama dan Papa tersorot padanya. Rey tak mempedulikan itu, ia terus melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Belum habis melewati ruang tamu, Papa bersuara keras membuat Rey menghentikan langkahnya.
"Pokoknya kamu harus membawa calon tunangan kamu bulan depan, Rey!!" teriak Papa.
Rey menghela nafas sejenak, lalu ia melanjutkan untuk menuju ke kamar. Sesampainya, ia langsung merebahkan tubuh diatas kasur. Tiba-tiba saja teringat 2 box roti yang ia beli tadi. Rey mencoba meneleponnya kembali, tak lama kemudian Nara mengangkat teleponnya.
"Hallo," sapa Nara dari ponselnya. "Siapa ini?"
"Aku Reynand, bisa kita bertemu?" tanya Rey.
"Oh, Tuan Rey ternyata. Bisa Tuan," jawabnya.
Mereka pun membuat janji bertemu di Mall yang letaknya tak jauh dari rumah mereka berdua.
__ADS_1