MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
FLIGHTS TO VALENCIA


__ADS_3

Alvaro menggengam erat jemari tangan Lethicia setelah keduanya turun dari mobil yang di kendarai sopir.


Mereka langsung menuju executive lounge, yang menyediakan fasilitas seperti check-in dan boarding. Hector mengikuti di belakangnya.


Tiba di executive lounge, terlihat teman-temannya sedang menikmati makanan buffet yang tersedia dengan bebas di atas meja.


Sementara Liam duduk seorang diri dekat kaca yang terhubung dengan charging area dan coworking space. Dengan kacamata hitam bertengger diwajahnya, laki-laki tampan itu terlihat tidak bersemangat dengan wajah tertekuk ia menyesap kopi pahit miliknya.


"Kalian sudah tiba, dude", sapa Fernandez pada Alvaro saat melihat temannya baru saja masuk ruangan itu.


Ia dan Carla baru saja mengambil makanan.


"Hai Lethicia, kau cantik sekali", sapa Carla sambil memeluk Lethicia.


"Terimakasih Carla, kau juga sangat cantik", jawab Lethicia tersenyum ramah. Keduanya duduk terpisah dengan para lelaki. Carla dan Lethicia berbincang akrab seputaran masalah wanita.


"Liam, kenapa kau menyendiri seperti itu. Sejak kapan kau jadi laki-laki pendiam begitu", seru Alvaro sesaat duduk satu meja dengan Fernandez.


"Liam sedih karena Raffaella menolak ajakannya pergi bersama ke Valencia. Kau seperti itu, seperti bukan diri mu, bastard. Apa kau mencintai Raffaella? Hingga merubah mu jadi tidak semangat begitu", seru Fernandez.


"Ah kalian ini membuat kepalaku semakin pusing saja", balas Liam sambil beranjak dari tempat duduknya untuk bergabung dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Kau yang membuatku pusing, kau dan Carla tak henti berciuman mesra di hadapan ku", umpat Liam dengan nada mengejek Fernandez.


Disambut tawa semuanya. "Harap maklum Liam, Fernandez dan Carla sedang di mabuk cinta. Kau pun akan melupakan sekeliling mu jika sedang di mabuk cinta juga", balas Alvaro sambil meminum air mineral.


"Raffaella menolak ajakan ku ke Valencia bersama-sama kita. Terakhir aku mengantarnya pulang ke apartemennya, ia mendapatkan telpon mesra dari seorang bernama Manuel. Saat aku tanya siapa itu Manuel, katanya seseorang yang sangat disayanginya. Uhh, ternyata Raffaella sudah punya kekasih", ucap Liam tidak bersemangat.


"Kenapa kau tidak membawa wanita lain, jika kau kesepian. Kau bisa membawa ja*ang, seperti yang sering kau lakukan", seru Alvaro.


"Aku tidak akan menghabiskan waktu ku seperti itu lagi, kalian semuanya akan berbahagia. Aku juga menginginkan hal yang sama. Saat ini aku ingin menjalin hubungan yang serius dude. Masalahnya semua wanita yang aku sukai ternyata milik orang lain. Sementara kalian tahu, aku tidak mau berurusan dengan wanita yang terikat baik kekasih orang lain apalagi jika istri orang", jawab Liam dengan tegas.


"Kenapa kau tidak terima saja perjodohan bisnis yang dilakukan orang tua mu. Siapa tahu cinta bisa tumbuh di pernikahan kalian, Liam?", ujar Fernandez sambil menyesap wine dari gelas miliknya.


"Yang benar saja, sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju dengan perjodohan bullshit itu. Dan orang tua ku memintaku kembali ke Korea. Hal yang tidak bisa aku lakukan. Aku mencintai pekerjaan ku dengan perusahaan yang aku bangun sendiri. Jika aku kembali ke negara ku sudah pasti aku akan memegang perusahaan keluarga ku dengan konsekuensinya, hidup ku tidak bisa bebas lagi karena akan terus mengikuti aturan keluarga", jawab Liam jengah.


Alvaro dan teman-temannya menuju pesawat pribadi miliknya. Jam keberangkatan menuju kota Valencia pun sudah tiba.


Lethicia duduk di dekat kaca di sebelah Alvaro. Alvaro memilih duduk di bagian depan. Sementara Fernandez dan Carla duduk beberapa jarak dari Álvaro dan Lethicia.


Pesawat mewah itu terbagi dua bagian. Bagian depan terdiri beberapa set kursi bertaraf layanan kelas bisnis jika di pesawat komersil. Sementara di bagian belakang tempat duduknya terlihat lebih banyak. Yang saat ini ditempati Héctor dan beberapa bodyguard yang di bawa Alvaro. Di bagian paling belakang, merupakan ruangan awak kabin atau flight attendan.


Sementara Liam memilih duduk di bagian depan tapi duduk di kursi paling belakang cukup berjarak dengan dua temannya yang masing-masing membawa pasangan. Kacamata hitam tetap setia bertengger di wajah tampannya.

__ADS_1


Di pesawat itu terdapat dua buah kamar tidur yang bisa di jadikan tempat beristirahat.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara pramugari yang mengatakan bahwa pesawat segera akan tinggal landas dari bandara El Prat Barcelona menuju bandara Manises Valencia. Jarak tempuh penerbangan satu jam lebih.


Sesaat pesawat sudah berada di ketinggian. Terlihat Lethicia menyandarkan kepalanya pada bahu Alvaro begitu juga dengan Carla yang menyandarkan kepalanya pada Fernandez. Bahkan sesekali Fernandez berciuman mesra dengan Carla.


Liam terlihat jengah melihat pemandangan itu. Berulangkali ia mengalihkan pandangan matanya ke luar jendela. "Sangat membosankan hanya ada awan", umpatnya.


Liam menurunkan kursinya, ia menyandarkan kepalanya pada punggung kursi hendak memejamkan kedua matanya sambil kedua tangan bersedekap di dadanya.


"Selamat pagi tuan...tuan ingin meminum apa?". Suara lembut pramugari bertanya pada Liam yang terlihat begitu boring. Liam tidak menggubris pertanyaan itu.


"Permisi tuan, anda ing..."


"Shitt, kau ini mengganggu ku saja", teriak Liam mendudukkan tubuhnya membuka kacamata hitamnya dan mengangkat wajahnya menatap tajam pramugari yang telah mengusiknya.


"Kau...


...***...


KAU? SIAPA HAYO?

__ADS_1


VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏


__ADS_2