
Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, Nara keluar dari ruangan kerjanya secara diam-diam agar tak ketahuan oleh Rey. Ia berencana pulang menaiki taxi. Tapi, rencana Nara gagal, karena Rey sudah menunggunya di depan gerbang. Betapa terkejutnya Nara melihat mobil Rey sudah terparkir di sana, Nara pun memutar balik. Lagi-lagi niatnya digagalkan oleh Rey.
"Nara!!" teriak Rey. "Kamu mau menghindar dari saya?"
Duh, pakai ketahuan segala ...
Nara membalikkan badan dan berjalan ke arah Rey dengan wajah lesu.
"Kenapa kamu? Mau beralasan supaya gak pulang bareng saya?" tanya Rey.
"Ah, sudahlah Rey jangan ngajak ribut mulu. Bete tau!!" jawab Nara dengan kesal.
Nara pun masuk ke dalam mobil, Rey juga ikut menyusul. Pria itu menawarinya minuman kesukaan Nara. Gadis itu terlihat cemberut, tapi saat Rey memberi minuman kesukaannya, sudut bibirnya mulai membentuk senyuman.
"Nih minum dulu," ucap Rey.
"Wah, makasih ya, Rey ...," jawab Nara.
Bisa aja dia ya bikin mood aku jadi bagus ...
Rey menyalakan mobilnya, tiba-tiba ponsel Rey berbunyi. Ia meminta Nara untuk melihat siapa yang meneleponnya saat itu.
"HP kamu bunyi tu, ada yang nelepon," ucap Nara.
"Tolong lihat siapa yang menelepon itu, Nara ...," lirih Rey.
"Clara, dalam kurung ada emot hati warna me ..."
"Oh, Clara," potong Rey. "Ya sudah, abaikan saja ..."
"Kenapa? Jangan bilang dia pacar kamu, iya kan?" tanya Nara.
Nara dengan cepat mengangkat telepon yang sejak dari tadi berbunyi.
"Apa yang kamu lakukan, Nara!!" teriak Rey.
"Hallo, dengan Nara di sini ...," sapa Nara dari ponsel Rey.
"Nara? Nara siapa? Perasaan Rey gak punya adik perempuan ...," jawab Clara.
"Kakak siapanya Rey? Oh, pacar ya? Terus kapan Kak Clara pulang?"
"Rey mana? Aku mau ngobrol sama Rey," ucap Clara.
__ADS_1
Nara pun memberikan ponsel itu kepada Rey.
"Nih, pacar kamu ...," lirih Nara.
"Ada apa?" tanya Rey ke Clara lewat telepon.
"Sayang, aku besok udah sampai di Indonesia. Kamu bisa jemput aku di bandara, kan?" tanya Clara dengan manja.
"Aku sibuk ..."
Telepon dimatikan Rey. Ia melanjutkan perjalanan menuju rumah Nara. Tiba-tiba, muncul ide diotaknya untuk membawa Nara ke sebuah toko baju yang terkenal dengan harganya yang luamayan mahal.
"Loh, kok malah berhenti di toko baju?" tanya Nara.
"Buruan turun, jangan banyak protes kamu!!" perintah Rey.
Akhirnya, mereka pun turun dan masuk ke toko baju itu. Nara masih bingung dengan tingkah Rey yang mendadak perhatian kepadanya.
"Ini toko baju cewek, mana mungkin ada baju cowok di sini, hey!!" teriak Nara.
"Kamu bawel banget, jelas-jelas saya ingin membelikan baju buat kamu," jawab Rey dengan kesal.
"Alasan, bilang aja kamu minta bantu pilihkan baju buat Clara ...," ucap Nara dengan berbisik.
"Saya dengar ya, Nara. Saya dengan Clara tidak ada hubungan apa-apa lagi, ini buat kamu bukan buat dia," cetus Rey.
"Rey, saya rasa baju di sini bagus semua. Kenapa kamu tidak suka? Saya suka kok, kan saya yang mau pakai baju itu, ribet banget ya," tutur Nara dengan wajah lelah.
"Nah, ini ni baju terbaru. Lebih bagus kamu pakai yang ini," ucap Rey dengan tersenyum.
Nara mengambil baju yang sudah Rey tunjuk, lalu mencobanya ke ruang ganti. Sebelum itu ia melihat harga yang sudah tertera dibaju. Nara terkejut dengan nominal harganya.
"Hah? Baju gini doang 400rb, kalau aku yang biasanya belanja baju udah dapat 2 pasang nih ...," lirih Nara sambil memegang kepala.
Setelah Nara mencoba baju itu, ia pun keluar menemui Rey. Betapa kagumnya pria itu melihat Nara begitu anggun dan cantik memakai baju yang ia pilih. Rey mematung, menatap gadis itu hingga tak berkedip. Nara beberapa kali memanggil Rey, tapi ia tak menjawabnya. Dengan terpaksa, Nara memukul lengannya.
"Hei, dari tadi saya manggil. Melamun aja sih kamu, mikirin Clara, ya?" tanya Nara sambil merapikan rambutnya.
"Bukan ...," lirih Rey.
"Lah, terus?"
"Mikirin ... ah, sudahlah ganti lagi sana baju kamu," ucap Rey.
__ADS_1
Aku curiga, dia perhatian sampai-sampai beliin baju mahal gini pasti ada sesuatu. Bisa jadi dia minta ganti uang baju ini. Enggak, pokoknya aku harus nolak pemberian dia kali ini ...
"Eh, Rey. Saya tidak mau terima baju ini. Kamu berikan ke Clara saja," cetus Nara.
"Apalagi sih gadis tengil, Clara ke Clara. Udah dibilang, gak ada hubungan dengan yang namanya Clara," jawab Rey.
"Saya tidak mau berhutang pada anda!!" bentak Nara.
"Hutang? Saya tidak mengatakan ini hutang, kamu makin nyebelin, ya," ucap Rey. "Bawa baju itu ke kasir sekarang juga, jangan membantah!!"
Akhirnya, Nara membawa baju mahal itu menuju kasir. Walaupun ia masih berat menerima pemberian dari pria itu. Rey memberikan senyuman ke Nara. Seketika ia gugup melihat senyuman itu. Nara menunduk karena tak ingin terlihat gugup dihadapan Rey. Begitu sampai mobil, Rey heran dengan tingkah Nara yang tak berhenti menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa?" tanya Rey. "Gak sakit apa nunduk terus? Dasar cewek aneh!!"
Terserah kamu mau ngatai saya, Rey. Saya gugup itu gara-gara kamu. Kenapa coba harus senyum ke saya. Mending kamu jutek aja, aku lebih aman.
"Hei, kamu gak dengerin omongan saya!!" ucap Rey dengan mengeraskan suaranya.
Nara pun mengarahkan wajahnya ke arah Rey. Tanpa sengaja, mereka saling bertatap mata dan wajah mereka berdekatan. Jantung Nara tiba-tiba berdebar kencang.
Tolong, kenapa aku berdebar gini saat menatap mata Rey. Nara sadar, atur nafasmu ...
"Hei, tolong menjauh sedikit," ucap Nara.
"Kamu yang dekat ke saya, kok," balas Rey.
Nara pun mengalihkan pandangannya kearah depan sambil menepuk pelan wajahnya dengan kedua tangan. Rey hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol gadis itu. Begitu sampai di depan rumah Nara, Rey memberikan sebuah bingkisan berukuran lumayan besar.
"Sebentar, Nara ...," lirih Rey lalu memberikan bingkisan ke Nara.
"Apa ini, Rey?" tanya Nara heran.
"Buat Mama kamu," jawab Rey. "Ya udah, saya permisi pulang. Nanti malam saya jemput kamu untuk menemani saya ke acara perusahaan."
"Tapi, Rey ..."
Belum selesai Nara berbicara, Rey pun melajukan mobilnya. Lalu, ia pun masuk membawa bingkisan itu dan menaruhnya di meja ruang tengah. Mama begitu heran dengan apa yang Nara bawa.
"Nara, kamu habis dari mana?" tanya Mama. "Banyak sekali belanjaan kamu."
"Ini pemberian dari Rey, Ma ...," jawab Nara dengan wajah lesu.
"Rey yang bos kamu itu? Ya ampun, Nara. Baik kali dia, kenapa kamu gak pacaran aja, kayaknya dia juga suka sama kamu," ucap Mama.
__ADS_1
"Apaan sih, Ma ...," lirih Nara sambil berjalan menuju kamar.
Begitu sampai kamar, Nara mengganti pakaiannya lalu melanjutkan untuk beristirahat.