MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Sakit


__ADS_3

Semenjak kejadian itu hubungan Aileen dan James renggang. Pemuda itu jadi sukar dikontak. Setiap kali sang kekasih meneleponnya, selalu tidak diangkat. Pesan WA yang dikirimkan pada pemuda itu pun dibaca saja tanpa dibalas.


Hati Aileen sedih sekali. Hampir setiap hari dia menangis sendirian. Tak ada seorangpun yang dapat dijadikannya tempat mengadu. Bayangkan, bagaimana mungkin dia bercerita pada orang lain tentang kejadian memalukan yang terjadi tempo hari? Ibu mertuanya tiba-tiba datang saat dirinya sedang asyik bercinta dengan sang kekasih! Bahkan kepada Samuel pun dia tak berani mengungkapkan kegundahan hatinya.


Meskipun suaminya itu dapat menduga tindak-tanduk istrinya di rumah mereka bersama James, tapi pria itu bersikap pura-pura tidak tahu. Tak pernah satu kalipun dia menyebut-nyebut nama pemuda itu di depan istrinya. Pun tak pernah menyinggung-nyinggung kegiatan Aileen selama ditinggal sendirian di rumah.


Samuel seorang lelaki yang mempunyai integritas tinggi. Dia tak mau mencampuri urusan orang lain. Juga tak ingin mencari tahu hal-hal yang hanya akan membuat hidupnya semakin runyam.


Dinikmatinya saja kehidupannya berdua dengan sang istri apa adanya. Sebagai partner yang tinggal di bawah atap yang sama. Bahu-membahu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mengurus rumah tangga. Saling menghormati privasi masing-masing. Hubungan yang benar-benar harmonis sebagai sepasang sahabat.


Samuel sebenarnya dapat merasakan hati istrinya itu tidak enak akhir-akhir ini. Matanya sembab, wajahnya murung, juga cenderung pendiam. Makannya hanya sedikit. Kalau ditanya jawabannya singkat saja, sedang tidak enak badan. Namun pria itu memutuskan untuk tak bertanya lebih jauh. Diamat-amatinya saja sikap dan perilaku Aileen secara diam-diam.


Hingga suatu sore Samuel pulang dari kantor dalam keadaan rumah sepi sekali. Tak tampak sosok sang istri yang biasanya mondar-mandir mengerjakan ini-itu.


Tumben, batin pria itu keheranan.


Kemudian dia mencuci tangan di wastafel. Setelah itu pandangannya tertuju pada meja makan yang bersih mulus. Tak tersaji hidangan apapun.


Barangkali Aileen masih nggak enak badan, pikir Samuel kuatir. Jadi belum sempat masak buat makan malam. Biar aku mandi dulu saja. Habis itu kudatangi dia di kamarnya. Aku ingin tahu keadaannya bagaimana sekarang. Tadi pagi sih, mukanya memang agak pucat. Juga seperti malas diajak ngomong. Kelihatannya dia memang kurang sehat, sih.


Demikianlah suami yang sangat perhatian itu bergegas membersihkan diri di dalam kamar mandi. Setelah mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek selutut berwarna biru tua, Samuel melangkah dengan mantap menuju ke kamar istri tercinta.

__ADS_1


Diketuknya pintu kamar itu dua kali. Tak ada reaksi dari penghuninya. Samuel lalu berkata dengan suara agak lantang, “Aileen, Aileen…. Kamu ada di kamar? Boleh aku masuk?”


Tak terdengar jawaban. Pria itu mulai merasa cemas. Tak biasanya sang istri tak memberi respon   kalau diketuk pintu kamarnya. Apalagi tak menjawab pertanyaan darinya yang jelas-jelas meminta izin untuk bertemu.


Samuel tak patah arang. Diketuk-ketuknya lagi pintu berwarna coklat tua tersebut. Nama istrinya pun disebutkannya lagi. Tetap tak terdengar jawaban. Sepertinya kamar itu kosong atau…tiba-tiba rasa cemas singgah dalam hati pria itu. Jangan-jangan Aileen tidak mendengar kedatanganku karena…pingsan? batinnya panik.


Tangannya sontak membuka pintu kamar tersebut. Dilihatnya Aileen tengah berbaring di atas ranjang dengan mata tertutup rapat. Selimut menutupi tubuhnya mulai dari ujung kaki hingga pangkal leher.


Samuel menelan ludah. Rupanya istrinya sedang tidur. Perasaan cemas dalam hatinya berangsur-angsur hilang. Tapi…ini kan sudah hampir petang hari? pikir pria itu tersadar. Nggak biasanya Aileen masih tidur jam segini!


Didekatinya perempuan itu. Wajah Aileen masih kelihatan pucat seperti tadi pagi saat sarapan. Tangan Samuel spontan menyentuh dahi istrinya itu.


Hangat, gumam pria itu dalam hati. Seperti sedang meriang.


Tiba-tiba terdengar erangan halus istrinya itu. Samuel segera menarik tangannya. Sepasang mata indah di hadapannya terbuka.


“Sam…,” cetus Aileen pelan. “Kamu sudah pulang?”


Suaminya itu mengangguk. “Iya, Leen. Aku nggak melihatmu di bawah tadi. Jadi kuberanikan diri masuk ke kamarmu ini. Aku kuatir kamu sakit.”


Aileen menelan ludahnya getir. Pacarku sendiri tak peduli aku sehat apa nggak, batin perempuan itu pilu. Tapi orang yang tak terbayangkan sama sekali olehku malah begini perhatian!

__ADS_1


“Thanks, Sam,” jawab Aileen pelan. “Aku memang tidak enak badan. Tapi sebenarnya masih bisa beraktivitas, kok. Cuma rasanya malas saja mengerjakan ini-itu. Sori ya, aku belum sempat menyiapkan makan malam. Kubelikan aja sekarang lewat aplikasi. Kamu mau makan apa?”


“Eh, nggak usah,” tolak Samuel. “Biar aku yang order sendiri nanti. Kamu sekalian kuorderkan jug, deh. Mau makan apa?”


Perempuan di hadapannya tersenyum geli. Kok rebutan pesan makanan, sih, cetusnya dalam hati. Aileen tidak tahu betapa girangnya hati sang suami melihatnya sudah bisa tersenyum. Pertanda kondisi kesehatan istnya itu tidak begitu buruk.


“Aku nggak pengen makan apa-apa, Sam. Selain badanku meriang, perutku juga mual. Badan ini rasanya malas sekali digerakkan. Aneh, ya? Belum pernah aku mengalami sakit kayak begini. Gejalanya nanggung. Panas nggak, tapi meriang. Maag nggak, tapi malas makan. Flu nggak, tapi badan ini pegal-pegal semua.”


Kening Samuel berkerut. Dia juga tak tahu penyakit apa yang menyerang istrinya ini. Akhirnya tercetus dalam benaknya jalan keluar yang paling mudah.


“Kuantar ke dokter aja, yuk. Daripada main tebak-tebakan kayak gini. Memangnya sudah berapa lama kamu merasa badanmu nggak enak?” tanyanya penuh perhatian.


“Tiga hari terakhir rasanya, ya,” jawab Aileen lemas. “Dan hari ini yang paling parah. Tadi aku sampai muntah-muntah terus sehabis makan. Perutku sampai kosong lagi. Tapi nggak merasa lapar sama sekali. Malah sebal gitu rasanya melihat makanan. Pengen minum aja.”


Penyakit apaan, sih? pikir Samuel gemas. Kok nggak pengen makan, tapi malah haus terus. Apa dehidrasi?


“Kamu kalau sakit biasanya pergi ke dokter mana, Leen?” tanya pria itu akhirnya. “Kuantar saja sekarang ke sana. Supaya bisa ketahuan kamu sebenarnya sakit apa. Jadi bisa segera diobati.”


“Aku sudah lama nggak pergi ke dokter, Sam,” jawab sang istri jujur. “Kalau sakit paling dikerokin sama Mama, minum banyak air putih, lalu istirahat cukup. Gitu aja cepat sembuh.”


“Oh, gitu,” komentar suaminya singkat. Tidak mungkin dirinya mengeroki Aileen. Bisa marah-marah dia nanti.

__ADS_1


Akhirnya Samuel menawarkan solusi. “Aku juga sudah lama nggak pergi ke dokter, Leen. Kurasa sebaiknya kamu kubawa berobat saja langsung ke dokter umum di rumah sakit terdekat. Jadi kalau butuh pemeriksaan darah atau apa gitu bisa segera dilakukan. Gimana?”


Aileen mengangguk. Yah, sudah waktunya aku pergi ke dokter, batinnya pasrah. Daripada menderita terus seperti ini. Gini nggak enak, gitu nggak enak. Pusing!


__ADS_2