
Dengan perasaan getir mempelai pria itu menelan ludah. Ditepuk-tepuknya tangan pasangannya lembut. “Tenanglah, Aileen. Kalaupun ada yang harus mendapat hukuman dari Tuhan, akulah satu-satunya orang yang akan menanggungnya. Karena aku yang mengusulkan sandiwara pernikahan ini. Bukankah begitu?”
Aileen menatapnya ragu. Samuel menganggukkan kepalanya tegas. Sorot matanya begitu teduh. Membuat hati Aileen berangsur-angsur tenang kembali.
“Thank you, Sam,” ucap perempuan itu tulus.
“For what?” tanya sang pria heran.
“For…being a very good friend to me,” jawab Aileen sambil tersenyum manis.
Hati Samuel luluh seketika. Aku duduk di samping bidadari yang hatinya tak kumiliki, batin pemuda itu nelangsa. Ya sudahlah. Yang penting dia bisa bahagia dan tak merasa tertekan menikah denganku.
***
Hari itu terasa bagaikan mimpi bagi Aileen. Dia melangkah ke altar gereja didampingi oleh Samuel yang dalam hitungan menit akan resmi menjadi suaminya di mata agama dan hukum negara ini. Ketika dia mengucapkan janji setia sehidup semati dengan pria yang bukan kekasihnya itu, hatinya merasa terluka. Maafkan aku, James. Maafkan aku, ucapnya berkali-kali dalam hati. Perasaannya sedih sekali.
Demikian juga saat dirinya dan Samuel disahkan oleh pendeta sebagai pasangan suami-istri yang sah di mata Tuhan, Aileen tak henti-hentinya memohon ampun kepada Tuhan di dalam hatinya. Sungguh dirinya berdosa besar telah menodai kesucian rumah Bapa dengan bersandiwara menikahi pria yang tak berarti apapun baginya.
Aku bagaikan berdiri di atas panggung sandiwara. Bukan altar Bapa yang Maha Kudus, batinnya pedih.
__ADS_1
Dan jantung wanita itu berdegup kencang tatkala Samuel mengenakan cincin kawin emas putih bertahtakan berlian pada jari manisnya. Ya ampun, pikir Aileen gemas. Seharusnya James yang memasukkan cincin itu pada jariku. Bukan orang ini!
Selanjutnya dengan terburu-buru wanita itu mengenakan cincin berlian yang sama persis pada jari manis mempelai pria. Samuel yang merasakan kegugupan istrinya hanya tersenyum canggung. Terima kasih, Aileen, batinnya lega. Kamu sudah berusaha keras menjalankan sandiwara ini dengan baik.
Dan ketika pria itu mencium kedua pipi istrinya sebagai ritual lanjutan peresmian perkawinan mereka, Aileen hanya dapat tersenyum kecut. Hatinya kembali merasa bersalah kepada James.
Demikian pula waktu dia harus menandatangani dokumen perkawinan secara agama maupun catatan sipil, tangan kanannya bergetar hebat. Samuel sampai menepuk tangannya sekilas dan berbisik, “It’s ok, Aileen. Tenang saja. Cuma dua tahun, kok….”
Sang mempelai wanita mengangguk pelan. Ya, cuma dua tahun, Aileen Benyamin, batinnya tegas. Tanda tangan saja. Setelah dua tahun, kamu bebas!
Setelah menghela napas panjang, ditandatanganinya dokumen-dokumen tersebut. “Good job, Aileen. Thank you,” bisik Samuel lagi.
***
Resepsi pernikahan Samuel dan Aileen berlangsung dengan sangat meriah di sebuah hotel bintang lima termewah di kota Surabaya. Grand ballroom tempat diadakannya pesta tersebut didekorasi dengan berbagai rangkaian bunga hidup yang tampak sangat elegan. Tema acara adalah suasana outdoor taman kerajaan Perancis. Selain aneka tanaman hias juga disediakan sebuah kolam air mancur besar di tengah-tengah ruangan yang menambah semarak suasana.
Acara dibuka dengan kehadiran dua orang MC yang merupakan presenter pria dan wanita ternama ibukota. Mereka menyapa para tamu dengan ceria. Kemudian berbasa-basi sebentar dengan melontarkan jokes yang membuat hadirin merasa terhibur.
Saat kedua MC tersebut berseru menyambut kedatangan pasangan mempelai, segenap pandangan tamu-tamu langsung terarah pada pintu utama grand ballroom yang terbuka lebar. Muncullah sebuah kereta kuda beroda yang dikendarai seorang pengemudi berkostum ala punggawa kerajaan Perancis. Kereta tersebut berbentuk bulat, berwarna putih dengan kombinasi emas, dan dipenuhi teralis-teralis tipis berbentuk hati. Di dalamnya tampak duduk pasangan pengantin pria dan wanita yang merupakan raja dan ratu sehari pada pesta itu.
__ADS_1
Para tamu bagaikan tersihir dengan suasana yang bagaikan kisah pernikahan Cinderella dalam dongeng anak-anak. Belum lagi gaun pesta yang dikenakan ibu mempelai pria juga mengundang perhatian hadirin. Gaun mewah berwarna hijau kombinasi emas dengan ekor panjang dan lebar bagaikan burung merak!
Dua orang MC di atas panggung tak henti-hentinya memuji kecantikan mempelai wanita dan keglamoran ibu mertuanya itu. Tante Tina benar-benar nggak mau kalah dariku malam ini, pikir Aileen geli. Sang ibu suri berhasil menunjukkan taringnya dengan mengenakan gaun burung merak yang fenomenal!
Sementara itu Ernie mengenakan gaun dari bahan yang sama persis dengan besannya namun modelnya lebih sederhana. Aileen menatap ibunya penuh kasih sayang. Di matanya wanita itu selalu tampak anggun dengan baju model apa saja. Aura kecantikannya terpancar dari kepribadiannya yang sederhana dan bijaksana. Betapa beruntungnya Papa mendapatkan Mama yang begitu sabar dan setia mendampinginya dalam suka dan duka, batin putri Ernie itu terpesona.
Diliriknya pria yang duduk di dalam kereta bersamanya. Seandainya orang ini bukan Samuel, tapi James…. Alangkah bahagianya hatiku, keluh perempuan itu dalam hati. Dia mengakui bahwa pernikahannya ini dirancang dengan begitu sempurna oleh Tina. Bahkan mungkin jika dirinya kelak bercerai dari Samuel dan menikah dengan James, pernikahan keduanya itu takkan segemerlap ini. Bahkan mungkin jauh di bawahnya! Namun, biar bagaimanapun juga bagi Aileen yang terpenting adalah pria yang bersamanya mengarungi riak-riak perkawinan. Bukan pesta serba glamor yang hanya terjadi dalam satu malam!
Demikianlah sang mempelai wanita yang dianggap para hadirin begitu beruntung karena dipinang seorang crazy rich Surabaya, ternyata tidak merasakan kebahagiaan sedikitpun dalam hatinya. Dia bahkan menguatkan hatinya untuk menjalani ritual demi ritual pernikahan di hadapan orang banyak demi mengukuhkan statusnya sebagai istri sah Samuel Manasye, pewaris tunggal perusahan peralatan dapur yang sangat ternama di negeri ini.
***
Akhirnya selesailah acara pernikahan yang fenomenal itu. Sekujur tubuh Aileen terasa pegal sekali akibat terlalu lama berdiri di atas panggung untuk menyalami para tamu. Di akhir acara dia masih harus tersenyum bahagia dan berdiri lagi untuk berfoto dengan segenap keluarga, handai taulan, dan tamu-tamu lainnya.
Teman-temannya sendiri yang diundang tidak banyak. Hanya tujuh orang. Mereka rata-rata datang dengan pasangan masing-masing. Belum ada satu orang pun dari mereka yang telah menikah. Aileen tersenyum saja menanggapi ucapan selamat kawan-kawannya dan harapan mereka agar dirinya hidup bahagia dengan Samuel. Disalaminya tangan teman-temannya itu satu per satu lalu diajaknya mereka berfoto bersama. Tak satupun dari anak-anak muda itu menyadari betapa sang mempelai wanita sebenarnya sangat tidak menikmati acara pernikahannya sendiri.
Setelah acara foto-foto selesai dan para tamu meninggalkan grand ballroom tersebut, Aileen mengajak suaminya untuk segera meninggalkan tempat itu.
“Aku sudah nggak kuat berdiri lama-lama, Sam,” keluhnya sambil meringis. “Sekujur badanku pegal sekali. Apalagi kakiku. Sepatu hak tinggi ala Cinderella pilihan mamamu membuatku tersiksa.”
__ADS_1