MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Pengakuan Aileen


__ADS_3

Sementara itu pandangan Harris menerawang ke langit-langit ruangan. Kepedihan tergambar jelas pada raut wajahnya.


Pria itu lalu berkata, “Perjodohan kalian memang terjadi karena ayahmu membantu Papa melunasi hutang di bank. Disamping itu Papa juga bisa melihat bahwa kamu adalah laki-laki yang baik, Sam. Jadi Papa tidak kuatir mempercayakan anak Papa satu-satunya padamu. Tapi kemudian musibah yang dialami Aileen ini membuat pikiran Papa terbuka. Jangan-jangan…ini merupakan pertanda bahwa Tuhan tidak merestui pernikahan kalian. Dan dalam hal ini Papalah orang yang patuh disalahkan….”


Samuel segera menyela kalimat ayah mertuanya itu, “Sudahlah, Pa. Tak perlu menyalahkan diri sendiri. Sam tidak menyesal menikah dengan Aileen, kok. Sungguh….”


Harris menatap menantunya itu serius. “Benarkah apa yang kamu katakan barusan, Sam?” tanya laki-laki itu kemudian. “Kamu bahagia menikah dengan anak Papa?”


Samuel mengangguk mantap. Sorot mata ayah mertuanya masih tampak tidak percaya. Akhirnya suami Aileen itu mengutarakan isi hatinya. “Aileen itu seorang istri yang baik, Pa. Saya merasa beruntung bisa menikahinya. Perkara hutang Papa, itu mungkin hanya cara Tuhan untuk mempertemukan saya dengan Aileen.”


“Apakah kamu mencintai anak Papa, Sam?” tanya Harris sungguh-sungguh.


Samuel tanpa ragu menganggukkan kepalanya. Ayah mertuanya menjadi tenang. Dia tersenyum bahagia. “Papa minta maaf kalau selama menjadi istrimu, Aileen melakukan hal-hal yang tidak pantas. Papa tahu dia terpaksa menyetujui perjodohan ini demi menyelamatkan Papa dari kebangkrutan. Aileen itu anak yang baik. Seandainya Papa tidak terlalu ambisius mengembangkan bengkel dan berhutang begitu banyak pada bank.…”


“Papa,” sela Samuel lagi. “Kehidupan perkawinan kami selama ini baik-baik saja, kok. Tak ada yang perlu dikuatirkan. Musibah janin kosong ini merupakan cobaan yang memang harus kami berdua hadapi sebagai pasangan suami-istri. Kalaupun tidak terjadi kegagalan kehamilan ini, pasti ada cobaan lainnya yang mewarnai kebersamaan kami. Bukankah hal itu juga dialami oleh setiap pasangan suami-istri dalam menjalani kehidupan berumah tangga?”


Harris memandang pria itu takjub. Tak disangkanya anak muda ini begitu dewasa. Semoga anakku bisa menghargai suaminya yang baik hati ini, batin pria itu penuh harap. Setidaknya aku yakin Sam jauh lebih bisa membahagiakan Aileen dibandingkan mantan pacarnya yang bernama James itu.


“Terima kasih atas kerendahan hatimu, Nak Sam,” ucap ayah Aileen itu tulus. “Hati Papa kini terasa lebih tenang, telah mempercayakan anak Papa satu-satunya kepadamu.”


Samuel tersenyum tulus. Dia senang bisa membuat ayah mertuanya ini tidak merasa cemas lagi.


***


Malamnya Aileen dan  Samuel tidur di dalam kamar yang sama. Hal itu mereka lakukan demi mencegah timbulnya kecurigaan Harris dan Ernie.

__ADS_1


“Aku tidur di lantai saja, Leen,” ucap Samuel tahu diri. “Pintu kamar kita kunci dari dalam. Jadi Papa dan Mama nggak tahu.”


“Jangan, Sam,” cegah Aileen buru-buru. “Kamu bisa masuk angin kalau tidur di lantai. Di kamarku ini nggak ada matras maupun tikar, lho.”


“Kamu punya selimut tebal lagi, nggak?” tanya suaminya tenang. “Aku bisa pakai itu sebagai alas tidurku.”


Sang istri dengan tegas menggelengkan kepalanya. “Mama yang selalu menyimpan semua selimut tebal cadangan di rumah ini. Nanti kalau aku mau pinjam, takutnya Mama curiga kenapa kita tidur  memakai dua selimut tebal.”


Samuel terdiam mendengar penjelasan istrinya. Lalu aku harus bagaimana? pikir pria itu bingung. Masa harus tidur seranjang dengan Aileen?


“Tidur saja di sini, Sam,” ucap istrinya malu-malu. “Ranjang ini kan cukup besar….”


Untuk kita berdua, lanjut perempuan itu dalam hati. Dadanya berdebar-debar membayangkan dirinya tidur berdampingan dengan suaminya. Aku sudah benar-benar jatuh hati pada Sam rupanya, pikirnya gundah. Apakah dia bisa merasakannya, ya?


“Kalau begitu nanti kita taruh guling saja di tengah-tengah,” usul pria itu. “Supaya aku nggak mengganggu tidurmu, Leen.”


Sang istri mengangguk setuju. Terserahlah, pikir perempuan itu tak ambil pusing. Yang penting kita berdua tidur di atas ranjang yang sama, Sam. Aku mau kita menjadi suami-istri yang sesungguhnya. Tak ada lagi pura-pura. Tak ada lagi perjanjian pernikahan….


***


Selama tiga malam berturut-turut Samuel dan Aileen tidur seranjang dengan diberi pembatas sebuah guling di tengah-tengan mereka. Kecanggungan di antara dua insan itu membuat tak terjadi percakapan apapun menjelang tidur. Demikian juga di pagi hari sang suami selalu bangun terlebih dahulu. Dengan ringan tangan dia  membantu ibu mertuanya membersihkan rumah.


“Apakah Sam selalu bangun pagi setiap hari untuk menyapu dan mengepel rumah kalian, Leen?” tanya Ernie pada anaknya.


Harris dan Samuel sudah pergi bekerja. Tinggal dirinya dan Aileen yang berada di rumah. Anaknya itu tengah menyantap menu makanan sehat buatannya. Tim ayam kampung beserta  dua butir telur  yang direbus setengah matang.

__ADS_1


Aileen menjawab pertanyaan ibunya itu dengan santai, “Yah, nggak mesti sih, Ma. Tergantung siapa duluan yang bangun. Tapi memang sejak Aileen hamil, Sam lebih rajin bangun pagi untuk bersih-bersih rumah.”


Ernie menatap anaknya dengan serius. “Leen, sebenarnya ada hal penting yang mau Mama tanyakan. Dan ini juga merupakan pertanyaan Papa. Tapi Mama bilang sebaiknya Mama saja yang bicara dari hati ke hati denganmu. Karena kita kan sama-sama wanita….”


Aileen menatap ibunya dengan perasaan heran. Ada persoalan apa lagi ini? pikirnya penuh tanda tanya. Baru juga tiga hari aku kehilangan janin dalam kandunganku. Tolong  beri aku waktu untuk menenangkan diri dulu dong, Tuhan!


Terdengar helaan napas panjang Ernie. Lalu wanita itu berkata, “Papa  dan Mama menyadari bahwa kamu sebenarnya menikah dengan Sam karena terpaksa. Setelah terjadi kemalangan dalam kehamilanmu kemarin, tiba-tiba kami tersadar bahwa mungkin itu adalah pertanda bahwa…bahwa….”


Tiba-tiba ibu kandung Aileen itu terdiam. Dia merasa berat sekali meneruskan kata-katanya. Ernie menelan ludahnya getir. Raut wajahnya tampak sedih. Aileen menatap ibunya penasaran.


“Pertanda apa, Ma?” tanyanya lembut.


Ernie berusaha untuk menguatkan hatinya. “Pertanda…bahwa kamu dan Sam semestinya tidak menikah, Nak.”


Aileen terbelalak. Tak disangkanya kata-kata itu akan terlontar dari mulut ibunya. Sudah terlambat, Ma, batinnya perih. Anakmu ini sudah mengalami banyak hal. Dan akhirnya aku menyadari sudah jatuh cinta pada suami pilihan Papa dan Mama!


“Papa dan Mama merasa bersalah sudah membuatmu menikah dengan orang yang belum kamu kenal baik, Leen. Maafkan kami, ya.”


Air mata jatuh bercucuran membasahi wajah wanita separuh baya yang masih tampak ayu itu. Aileen merasa terenyuh. Direngkuhnya sang ibu ke dalam pelukannya. Dihiburnya wanita yang paling dicintainya di dunia itu dengan kata-kata yang menyentuh hati.


“Mama jangan sedih. Aileen bahagia kok, menjadi istri Sam. Sungguh. Dia seorang suami yang baik dan pengertian. Perhatiannya pada Aileen besar sekali. Justru Aileen yang harus berterimakasih karena sudah dijodohkan dengan Sam.”


“Kamu memang anak yang baik, Leen. Bahkan sampai pada kondisi seperti inipun kamu masih bisa berbohong demi membahagiakan Mama.”


“Aku nggak bohong, Ma. Semula aku memang jengkel karena dipaksa menikah dengan orang yang nggak kucintai. Tapi ternyata waktu membuktikan bahwa…bahwa Sam adalah suami yang terbaik buatku. Aku mencintainya, Ma.”

__ADS_1


__ADS_2