
"Pa..
"Bagaimana kondisi papa ku pagi ini?", tanya Alvaro pada perawat. Ia dan Lethicia masuk ke kamar ayahnya dan melihat Montana sedang duduk di kursi roda berada di teras kamarnya dengan syal tebal melingkar di lehernya.
Sementara tubuhnya semakin kurus. Namun perjuangan untuk sembuh masih sangat kuat. Sebenarnya Alvaro sedih melihat ayahnya seperti itu. Namun menurut dokter sekarang kondisinya stabil.
"Pa...
Montanta menolehkan kepalanya menatap Alvaro dan Lethicia. Ia berusaha tersenyum. "Nak, kemarilah".
Alvaro berjongkok di hadapan Montana sambil mengusap lembut tangan ayahnya. "Apa papa tidak lelah duduk di kursi roda?".
"Papa harus meluangkan waktu menikmati udara segar seperti ini Varo. Papa harus menikmati setiap helaan nafas yang masih di berikan pada papa. Papa tidak mau hanya di tempat tidur, apalagi jika tubuh papa baik-baik saja seperti sekarang", jawab Montana tersenyum.
Alvaro dan Lethicia tersenyum melihat semangat papanya untuk sembuh.
"Pa...Ada sesuatu yang akan aku sampaikan pada papa. Semoga apa yang aku sampaikan ini akan membuat kondisi mu semakin membaik".
"Berita apa nak?".
"Besok Assensio dan istrinya akan menemui papa. Adikku masih belum sembuh dari amnesia tapi ia sudah tidak sabar untuk melihat mu", ucap Alvaro menatap lekat wajah ayahnya.
Tiba-tiba Alvaro melihat air mata ayahnya keluar. "Pa, kenapa papa menangis? Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu melindungi keluarga kita", ucap Alvaro mengusap lembut air mata Montana yang tiba-tiba keluar begitu saja.
"Papa tahu nak, kau akan selalu melindungi keluarga kita. Papa tidak tahu harus mengucapkan kata-kata apa saat mengetahui bahwa adikmu masih hidup Varo. Dan besok papa bisa memeluknya lagi", ucap Montana terbata-bata. Montana mengusap air matanya dengan syal yang melilit di lehernya.
"Walaupun dalam suasana berbeda. Assensio hilang ingatan, kau dan Lethicia bersama dan adikmu menikah dengan Istrinya yang sekarang. Papa bersyukur keluarga kita besama dan bersatu lagi Varo".
"Apalagi sebentar lagi kalian akan memberikan papa cucu kembar. Papa merasakan orang yang paling berbahagia di dunia ini anak ku", Ucap Montana tersenyum dengan linangan air mata. Air mata bahagia.
Alvaro dan Lethicia memeluk Montana. Benar yang di katakan papanya. Mereka akan terus bersama.
__ADS_1
*
Madrid, Spanyol
"Sayang, perut ku sudah sangat lapar. Kenapa kau lama sekali Nikolas?", ucap Tatiana membuka handle pintu kamar mereka.
Kedua netranya mencari suaminya Nikolas namun tidak ada di kamar itu. "Nik..", panggil Tatiana melangkahkan kakinya masuk ke kamar hingga ke kamar mandi Tatiana mencari keberadaan Nikolas namun tidak ada.
Kedua netra Tatiana melihat pintu kamar yang mengarah ke balkon dengan kondisi terbuka. Tatiana ke sana, tapi ia tidak menemukan keberadaan Nikolas di balkon.
"Kemana Nikolas?", ucap Tatiana pelan. Kedua matanya terasa panas. Entahlah, beberapa hari ini Tatiana merasakan ketakutan dalam dirinya teramat sangat. Otaknya selalu di penuhi pikiran kekuatiran tentang suaminya Nikolas.
Beberapa hari ini Tatiana selalu cemas. Takut jika suatu hari nanti ingatan Nikolas kembali dan lupa padanya. Takut jika ingatan Nikolas kembali, laki-laki itu meninggalkan dirinya seorang diri.
"Kemana Nikolas kenapa ia tidak ada di kamar? Sementara aku ada di pantry dan di ruang makan menunggunya ia belum keluar dari kamar", gumam Tatiana. Tiba-tiba ia ingin menangis. Tangisan itu membuat tubuhnya bergetar. Terdengar isakan Tatiana. Bahkan makin lama isakan wanita itu menjadi tangisan yang menyayat hati dan tersedu-sedu.
"Kenapa kau menangis sayang?". Suara berat yang sangat di kenal Tatiana ada di belakangnya. Cepat-cepat Tatiana membalikkan tubuhnya. "Nikolas kemana saja..." Tatiana tidak melanjutkan ucapannya. Ia berdiri dengan mulut terbuka menatap Nikolas.
Nikolas berdiri dengan sebuket bunga mawar merah dan cake ulang tahun lengkap dengan lilin yang menyala di atasnya.
"Oh, Nik.."
Air mata Tatiana yang sudah sedari tadi menganak di pelupuk matanya turun menyentuh wajahnya yang terlihat pucat pasi karena tiba-tiba rasa takut dan cemas menguasai dirinya beberapa saat yang lalu ketika tidak menemukan keberadaan Nikolas di kamar mereka. Entahlah... Tatiana sudah berpikiran yang tidak-tidak karenanya.
Tatiana menangis tersedu-sedu sementara kedua tangannya menutup mulutnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nik...", ucapnya terkejut.
Nikolas tersenyum melihat tingkah istrinya itu, ia memberikan sebuket bunga mawar yang sangat indah dan harum semerbak pada Tatiana. Saat bunga itu pindah ke pelukan istrinya, Nikolas memeluk erat tubuh Tatiana dan mengecup lembut pucuk kepalanya dan keningnya. Turun kebawah me*umat bibir Tatiana yang bergetar. Keduanya berciuman mesra.
"Sekarang tiup lilinnya sayang. Lihatlah lilinnya hampir habis mencair", ucap Nikolas membawa cake ulang tahun ke hadapan Tatiana yang terlihat sangat terharu menerima kejutan dari laki-laki yang sangat di cintainya itu.
Tatiana mengusap air matanya. Dan tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Terimakasih Nik, kau sudah memberikan kejutan yang sangat romantis seperti ini kepadaku", ucap Tatiana saat keduanya duduk di sofa yang ada di balkon.
Tatiana memotong cake ulang tahun dan menyuapkannya pada Nikolas yang duduk disampingnya. "Te Amo, Nik".
Nikolas juga menyuapkan cake itu kemulut Tatiana. "Yo también te amo, Tatiana". (Aku juga mencintaimu)
Nikolas mencium lembut bibir istrinya. Begitupun Tatiana membalasnya dengan mesra.
"Sayang kau kemana saja? Aku mencari keberadaan mu tapi tidak ada di kamar kita. Dan kapan kau memesan bunga dan cake ini Niko?
Kau berhasil membuat kejutan untuk ku. Kau juga berhasil membuat istri mu menangis pagi-pagi Nik.. Terimakasih sayang".
...***...
VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA 🙏
*
YUK BACA JUGA:
PENGANTIN PENGGANTI
MENJADI YANG KEDUA
FIRST LOVE LAST LOVE
AIR MATA SCARLETT
SERPIHAN HATI ELLENA
__ADS_1