MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Keputusan Aileen


__ADS_3

Samuel yang menyadari perubahan ekspresi istrinya itu langsung berkomentar, “Memangnya kenapa kalau aku menceritakannya terus terang sama Papa, Leen? Beliau kan orang tuaku. Wajib tahu apa yang terjadi pada calon cucunya. Papa dan Mama senang sekali lho, waktu tahu kamu sedang mengandung. Aku kan sudah kasih tahu Mama lewat telepon.”


“Aku tahu, Sam. Tapi…,” kata Aileen masih cemas. “Aku takut mamamu nanti keburu heboh duluan. Padahal…padahal kan belum tentu janin dalam kandunganku beneran kosong. Apa bisa kamu cerita sama Papa saja tapi nggak usah beritahu Mama dulu? Tunggu sampai kita sudah selesai menemui dua dokter lainnya dan mendapatkan kepastian tentang kondisi janin ini.”


Samuel menatap geli pada istrinya itu. Kelihatan sekali Aileen takut kalau ibu mertuanya tahu tentang kemungkinan bahwa janin yang dikandungnya mengalami masalah.


Barangkali dia takut disalahkan oleh Mama, batin pria itu menduga-duga. Biasanya ibu mertua kan memang kurang cocok dengan menantu perempuan. Kalau ada hal-hal yang tidak beres, sang   menantulah yang disalahkan.


“Jangan kuatir, Leen,” ucap Samuel menenangkan perempuan itu. “Aku cuma akan memberitahu Papa. Karena aku nggak mau berbohong tentang kenapa hari ini tidak datang ke kantor. Dan nanti aku akan berpesan pada Papa supaya tidak memberitahu Mama tentang masalah dalam kandunganmu itu. Papa bisa dipercaya, kok. Tenang saja, ya.”


Aileen manggut-manggut mendengarkan penjelasan suaminya itu. Yah, tak apalah kalau Cuma  papanya Sam yang tahu, pikir perempuan itu pasrah. Selama ini orang itu nggak pernah mempersulit aku. Beda dengan istrinya yang kadang suka bertindak seenaknya sendiri!


Selanjutnya pasangan suami-istri itu melanjutkan sarapan mereka sambil bercakap-cakap seperti biasanya. Kedua insan itu bersikap seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa. Pun tak menyinggung-nyinggung momen saat mereka berciuman waktu itu.


Sehabis makan, Samuel menawarkan diri untuk mencuci piring-piring kotor. Aileen mengangguk saja mengiyakan. Dia memang sudah lelah telah bersih-bersih lantai satu tadi dan memasakn sarapan.


Selesai mencuci piring, Samuel langsung menelepon sang ayah di kantor untuk meminta izin cuti. Kemudian pria itu  bergegas menyapu dan mengepel lantai dua.

__ADS_1


Sementara itu Ruben yang tengah sendirian di ruang kerjanya di kantor tampak termenung. Pria setengah baya yang masih tampak gagah itu mendesah pelan.


“Mudah-mudahan diagnosa dokter kemarin terhadap kandungan Aileen itu keliru,” ucapnya pada dirinya sendiri. “Aku dan Tina sudah telanjur bahagia sekali akan segera menimang cucu. Tak mudah bagiku mendapatkan seorang menantu sebaik Aileen. Dan kulihat Sam juga semakin memperhatikan istrinya itu. Kalau sampai kehamilan yang pertama ini mengalami masalah, aku kuatir hal itu akan berpengaruh buruk pada hubungan mereka. Bagaimanapun juga akulah yang telah menjodohkan Sam dengan Aileen. Kalau sampai terjadi apa-apa pada perkawinan mereka, ah…akulah orang yang merasa paling bersalah….”


***


Rupanya harapan Ruben itu tak menjadi kenyataan. Dua dokter spesialis kandungan yang ditemui anak dan menantunya hari ini memberikan diagnosa yang sama dengan dokter yang sebelumnya menangani kandungan Aileen.


Janin dalam rahim perempuan itu memang blighted ovum. Kosong dan tak akan berkembang. Hal itu bisa terjadi akibat pembelahan sel yang tidak sempurna ataupun karena kualitas ****** dan sel telur pada waktu pembuahan sedang tidak bagus.


Sementara itu Samuel sejak tadi diam saja. Dia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan sang istri. Pria itu sendiri sudah pasrah kalau kandungan Aileen harus dikuret. Baginya tak menjadi masalah kalau mereka masih tetap harus mengadopsi anak demi mewujudkan impian orang tuanya mempunyai penerus keluarga Manasye.


Akhirnya Aileen-lah yang membuka percakapan. “Tuhan sudah memberikan jawabanNya, Sam,” ujar perempuan itu lembut. “Memang nggak sesuai dengan harapanku. Tapi yah, sudahlah. Aku sudah berjanji akan menuruti kehendakNya. Besok pagi akan kutelepon dokter yang kemarin. Akan kukatakan bahwa…aku sudah siap lahir-batin untuk menjalani kuretase secepatnya.”


Samuel mendelik. Tak disangkanya istrinya akan begitu tenang mengambil keputusan sebesar ini.


Aileen sudah dewasa, pujinya dalam hati. Dia sudah dapat bersikap bijaksana menghadapi masalah yang berat dalam hidupnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu menatapku seperti itu, Sam?” tanya Aileen geli. “Apa kata-kataku ada yang aneh?”


Suaminya itu menghela napas panjang. Ditatapnya perempuan di hadapannya itu lekat-lekat. “Kamu sudah yakin dengan keputusanmu ini, Leen?” tanyanya hati-hati. “Tidak akan menyesalinya kelak?”


Aileen menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Sudah jelas bahwa janin ini tidak dapat dipertahankan lagi, Sam. Kalau dibiarkan saja, cepat-lambat akan gugur dengan sendirinya atau kalaupun membesar malah jadi hamil anggur. Justru semakin merepotkan saja. Orang tua kita juga  akan kecewa berkepanjangan. Waktu kutelepon tadi, papa dan mamaku sudah pasrah. Mereka menyerahkan keputusan di tangan kita berdua. Kata mereka kita adalah orang tua janin ini. Kita berdualah yang paling berhak menentukan nasibnya. Dan bukankah kamu sendiri yang kemarin mengusulkan agar kita mencari second and third opinion dari dokter-dokter lain? Ternyata dokter yang kedua dan ketiga itu mempunyai pendapat yang sama dengan dokter yang pertama. Berarti kita harus kembali pada dokter yang pertama itu untuk melakukan tindakan lanjutan. Yaitu kuretase….”


Samuel takjub sekali menyaksikan ketegaran Aileen. Dia merasa bersyukur persoalan ini tak menjadi berkepanjangan. Setelah menjalani kuretase, istrinya ini akan segera pulih secara jasmani dan rohani. Sudah tak ada lagi yang membuatnya kuatir. James dan buah cinta mereka sudah pergi jauh dari kehidupannya. Aileen bisa menjalani hidup ini dengan semangat yang baru.


“Baiklah kalau begitu, Leen,” ucap Samuel ringan. “Besok pagi kamu hubungi dokter yang kemarin, ya. Katanya dia akan segera menjadwalkan operasi kuret itu begitu kamu bilang setuju, kan? Aku siap menemanimu kapanpun. Tinggal beritahu aku kapan jadwalnya dan apa saja persyaratan yang dibutuhkan.”


“Terima kasih banyak, Sam,” ucap sang istri setulus hati. “Aku benar-benar berhutang budi padamu. Entah gimana aku bisa membalas semua kebaikanmu, Sam….”


Samuel terpana menyaksikan sorot mata Aileen yang tak seperti biasanya. Kali ini sorot mata itu tak hanya penuh rasa syukur, tapi juga mengandung makna yang berbeda. Pria itu mengenalinya. Hatinya tergetar sekaligus menangis pedih.


Ya Tuhan, jangan sampai perempuan ini jatuh cinta padaku! jeritnya dalam hati. Aku tak sanggup membahagiakannya sebagaimana layaknya seorang suami terhadap istrinya. Aku tak mampu memberinya nafkah batin. Aku ini impoten!


***

__ADS_1


__ADS_2