MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
RAFFAELLA NYARIS TENGGELAM


__ADS_3






Kapal Yacht mewah yang di kendarai Moreno berhenti di tengah laut dangkal.Moreno mematikan mesin kapal pesiar mewah itu. Ia bersama istrinya bergabung dengan teman-temannya Fernández dan Liam yang duduk santai di dak kapal.


Terlihat Fernandez dan Liam tidur terlentang di atas handuk berwarna biru yang sudah menggunakan Swimshorts dan kacamata hitam bertengger diwajah keduanya.


Sementara Carla dan Raffaella duduk di kursi sambil berbincang-bincang. Carla sudah memakai bikini dengan bagian bawa tertutup kain pantai. Sementara Raffaella masih menggunakan kaos longgar berwarna putih model one shoulder yang memperlihatkan satu bahunya, di padukan dengan short pants pendek.


"Ayo kita berenang", ucap Audri sudah memakai bikini.


"Sayang sekali Lethicia tidak bisa ikut bersama kita", ujar Raffaella menyesap minumannya.


"Iya. Tapi kita harus maklum Lethicia hamil anak kembar, Varo pasti tidak mau istri dan anaknya kenapa-napa. Bagaimana pun di sini pasti akan terus ada guncangan, tidak baik untuk kondisi Lethicia", ujar Carla yang baru saja selesai memakai sunblock di wajah dan tubuhnya.


"Kau benar Carla. Pastinya bisa membahayakan kandungan Lethicia jika ia ikut bersama kita", ucap Audri


"Ayo kita berenang", seru Carla membuka kain pantainya.

__ADS_1


"Kalian saja yang berenang aku di sini saja", ujar Raffaella menolak secara halus ajakan Audri dan Carla yang sudah siap-siap menceburkan diri ke air laut berwarna biru terang.


Begitupun Moreno, Liam dan Fernandez sudah bergabung bersama Audri dan Carla. Bahkan Carla dan Fernandes berciuman mesra.


Raffaella menyandarkan kedua tangannya pada besi dak kapal, melihat dua pasangan berbahagia itu dengan tersenyum. Ia senang melihat teman-temannya sangat romantis sekali. Sekarang teman-temannya sudah bermain Jet ski di tengah laut.


Raffaella tidak menyadari Liam dengan tubuh basah kuyup ada di belakangnya. Dengan wajah tersenyum Raffaella membalikkan tubuhnya hendak duduk. "Kenapa kau tidak berenang Raffaella?".


"Liam..."


Raffaella sangat kaget. Keberadaan Liam membuat Raffaella terkejut. Tubuhnya tidak bisa menjaga keseimbangan karena tangannya tidak berada di besi pagar lagi. Raffaella limbung dan kakinya terperosok hingga tubuhnya terjatuh kelaut.


"L-Liam...", Teriak Raffaella.


Liam tersenyum melihat Raffaella nyemplung dengan sendirinya ke laut. "Akhirnya kau berenang juga, Raffa", ucap Liam dari atas kapal melihat Raffaella yang tersengal-sengal di air. Sementara kedua tangannya terlihat meminta tolong. "T-TOLONG..", sayup terdengar suara Raffaella.


Tanpa pikir panjang Liam melompat ke air, mencari Raffaella yang sudah tidak terdengar lagi suaranya.


Liam masuk ke air, menyelam dan melihat Raffaella. Beruntung tidak jauh darinya. Liam segera menarik tubuh gadis itu dan membawanya mendekati kapal. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau tidak bisa berenang, Raffaella?", ucap Liam merebahkan tubuh Raffaella yang tak bergerak.


Liam menekan dada Raffaella. Hingga beberapa kali, barulah air keluar dari mulut gadis itu. Raffaella terbatuk-batuk dengan matanya yang memerah ia memeluk erat tubuh Liam.


"A-ku takut, Liam", ucap Raffaella dengan suara bergetar.


"Liam, ada apa?", teriak Moreno di atas jetski.

__ADS_1


Liam memberikan isyarat dengan tangannya, mengatakan semuanya baik-baik saja.


"Sebaiknya kita ke atas mengeringkan tubuh mu", ucap Liam membantu Raffaella berdiri menuju dak bagian atas yacht. Liam membantu Raffaella duduk dan menyelimuti tubuhnya dengan handuk tebal. "Kau tunggu di sini", ucap Liam membalikan tubuhnya.


Tubuh Raffaella masih gemetaran. Bahkan air matanya menetes dengan sendirinya tanpa ia sadari.


"Minum teh ini, tubuh mu akan hangat", ucap Liam sambil memberikan cangkir pada Raffaella yang terlihat begitu trauma.


Raffaella mengambil cangkir itu dan meminumnya. Liam benar teh hangat mampu membuatnya sedikit tenang.


Liam menolehkan kepalanya, menatap Raffaella yang duduk di sampingnya. Keduanya duduk di atas dak paling atas yacht. "Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau tidak bisa berenang Raffaella?", tanya Liam menatap wajah Raffaella yang terlihat pucat.


Raffaella menundukkan wajahnya, melihat isi gelas yang dipegangnya.


Huhh... Raffaella menarik nafas dalam-dalam.


"Sebenarnya berenang membuat ku trauma. Saat kecil aku dan keluargaku sedang liburan ke pantai. Aku dan adikku bermain dan berenang dipinggir pantai, tiba-tiba ombak datang dan menyeret tubuh Javier ketengah. Aku hendak menolongnya, tapi Javier semakin menjauh hingga tak terlihat lagi. Penjaga pantai mencarinya, sementara aku di selamatkan ayah ku".


"Kala itu Javier berusia delapan tahun sementara aku masih berusia sepuluh tahun. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menolongnya. Andai saja aku genggaman tangan ku tidak terlepas aku bisa menyelamatkannya", ucap Raffaella sambil mengusap air matanya yang mengalir menyentuh wajahnya.


Liam melihat itu, dengan sigap Liam memeluk erat tubuh Raffaella yang bergetar. "Kejadiannya sudah sangat lama Raffa, tentu saja itu bukan kesalahan mu. Saat ombak ganas menghantam, sekuat apapun diri mu tak kan mampu melawannya. Apalagi saat itu kau masih kecil berusia sepuluh tahun. Kau tidak boleh menyalakan diri mu. Adik mu meninggal itu karena takdir, bukan kesalahan mu", ucap Liam bijak.


Terdengar isakan Raffaella." Kau harus tenangkan diri mu". Liam mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya. Terlihat kedua mata Raffaella yang memerah. Entah apa yang ada di otak Liam, yang pasti ia ingin menenangkan Raffaella.


Liam mendekatkan bibirnya pada bibir Raffaella yang bergetar dan mencium lembut bibir itu. Entah karena sedang sedih terbawa suasana atau apa, Raffaella membalas ciuman Liam. Ciuman bibir Liam benar-benar mampu membuat tenang perasaan Raffaella hingga ia mencengkram kuat lengan Liam yang memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Apa kalian sudah jadian sekarang, Liam-Raffaella?..


...***...


__ADS_2