
Malam semakin larut...
Orang-orang masih ramai menikmati pesta. Namun Lethicia dan Alvaro sudah masuk ke kamar mereka. Varo tidak mau istrinya kelelahan.
Tak lama setelahnya, Raffaella pun pamit pada Audri, Tatiana dan Carla untuk beristirahat. Padahal yang ada di pikirannya, ia harus duluan masuk kamar sebelum Liam masuk juga. Namun Liam yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya, melihat Raffaella pergi menuju lift. Laki-laki itu terlihat mengetuk-ngetuk meja dengan tangannya.
Setelah di kamar, sejenak Rafaella duduk di tepi tempat tidur. Gadis itu menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
Raffaella beranjak ke walk in closet dan membuka koper pakaiannya. Ia terdiam menatap baju-baju yang di bawanya.
"Oh my God apa yang harus aku lakukan dengan pakaian tidur ku ini", gumam Raffaella melebarkan baju tidur tipis dan sangat minim itu di depan wajahnya.
"Aku tidak tahu bakal begini", gumamnya lagi.
Pada saat memasukkan pakaiannya semalam ia pikir akan tidur sendirian atau dengan perempuan lain yang akan satu kamar dengannya. Tapi ternyata ia harus tidur bersama Liam.
"Tidak mungkin aku tidur dengan pakaian tidur minim Begini. HM... tapi tidak mungkin pula aku tidur memakai gaun ataupun jeans", ucap Raffaella tidak berminat.
"Ahh, kenapa juga aku membawa baju tidur begini. Aku tidak mau Liam menganggap ku wanita tidak benar yang menggodanya. Uhhh..."
Raffaella membersihkan tubuhnya di kamar mandi, membersihkan makeup yang dipakainya dari sore hari tadi. Tubuhnya terasa lengket.
Pada akhirnya Raffaella tetap memakai pakaian tidur berbahan satin tipis dengan tali spaghetti dan celananya sangat pendek sekali.
Raffaella lega karena Liam belum masuk ke kamar itu. Cepat-cepat Raffaella menuju ke tempat tidur dengan berlari-lari kecil.
Ceklek
"Kenapa kau berlari seperti itu? Apa ada yang mengejar mu?"
Raffaella terkejut pintu kamar di buka Liam, buru-buru ia hendak mengambil selimut tebal yang terpasang diujung tempat tidur. Namun ternyata selimut itu tertata dengan menyelipkan sebagian selimut ke bawah kasur. Karena terburu-buru Raffaella kesulitan melepaskannya.
"Tutup mata mu atau kalau tidak aku akan menghukum mu Liam! Jangan melihat ku sekarang", teriak Raffaella.
Dengan menahan tawanya Liam menuruti gadis itu. Ia mengerti. "Baik aku menuruti mu. Mataku sudah terpejam, aku tidak melihat mu sekarang", jawab Liam yang masih berdiri di belakang pintu kamar.
__ADS_1
"Aku akan tidur di sofa, kau silahkan tidur di tempat tidur", ucap Raffaella melewati tubuh Liam sambil membawa bantal dan selimut menuju sofa.
Bukan Liam namanya jika mau di diatur-atur wanita. Tanpa sepengetahuan Raffaella, ia membuka matanya dan menatap tubuh Raffaella dari belakang yang memakai pakaian tidur sangat seksi berwarna silver. Punggung putih mulus dan paha benar-benar terekspos.
"Apa kau memakai pakaian tidur yang seksi?", tanya liam pura-pura tidak tahu. Ia melangkahkan kakinya menuju walk in closet.
Huhh... Raffaella menarik nafas dalam-dalam.
"Aku pikir aku tidur sendirian atau tidur dengan wanita lain, kau tahu itu", jawab Raffaella yang sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tak terdengar sahutan dari Liam. Raffaella berusaha memejamkan matanya. Sofa itu terasa tidak nyaman baginya. Keras dan sempit. Ia tahu Liam sedang di kamar mandi, Raffaella bangkit dan menepuk-nepuk sofa. "Bagaimana mungkin resort mewah dengan sofa seburuk ini. Tubuhku bisa sakit semua", ucap Raffaella kesal.
Terdengar suara pintu terbuka, cepat-cepat Raffaella merebahkan tubuhnya lagi dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya.
Liam tersenyum melihatnya. "Kau yakin tidur disana Raffaella? kau yakin tidak mau tidur di tempat tidur? Tempat tidur ini sangat luas kita bisa berbagi", ucap Liam. Ia tahu gadis itu pura-pura tidur.
"Jangan salahkan aku jika bangun tidur tubuh mu sakit-sakit semua", ujar Liam sambil merebahkan tubuhnya terlentang ditengah-tengah ranjang. "Ahh nyaman sekali tidur sendirian di tempat tidur empuk berukuran besar begini", ucap Liam tertawa kecil.
Raffaella mendudukkan tubuhnya menatap laki-laki itu. "Brengsek.." ternyata memang ini yang diinginkannya. Kau akan tahu siapa aku sebenarnya", gumam Raffaella tersenyum penuh arti.
Raffaella bangkit dari sofa mengambil bantal dan selimut. Ia tidak menutupi tubuhnya lagi. "Minggir, kau mengambil tempat tidur ku", ketus Raffaella sudah berdiri di samping tempat tidur.
Raffaella merebahkan tubuhnya di samping Liam dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. "Bagaimana mungkin resort mewah tempat tidurnya tidak menyediakan guling seperti ini. Sofanya sangat keras", ketus Raffaella berusaha memejamkan matanya.
"Kau bisa memeluk ku kalau kau mau", jawab Liam tertawa.
"Kau jangan macam-macam atau kau akan terima akibatnya. Kau tidur jangan menghadap pada ku", seru Raffaella.
"Wow...aku sangat takut. Kau seperti singa buas yang akan memangsa anaknya sendiri", balas Liam mengolok Raffaella. Namun ia menuruti gadis itu, tidur menyamping membelakangi Raffaella.
"Diamlah, aku lelah dan mengantuk", ucap Raffaella dengan suara terdengar begitu pelan.
Sesaat kemudian tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya. Liam bisa mendengar nafas Raffaella sudah teratur menandakan gadis itu sudah terlelap.
Liam membalikkan tubuhnya menghadap Raffaella yang tidur menyamping menghadapnya. Mengamati wajah polos Raffaella. Liam membawa jemari tangannya mengusap lembut wajah putih mulus itu. Perlahan jemari Liam mengusap lembut bibir Raffaella. "Kau sangat cantik Raffaella".
Seakan merasakan ada yang menyentuhnya, tubuh Raffaella bergerak. Bahkan selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap memperlihatkan dada putihnya.
__ADS_1
"Ahh shitt..."
Sekuat tenaga Liam menahan dirinya. Pada akhirnya dirinyalah yang tertekan tidur bersama ini.
Liam mematikan lampu tidur yang ada di nakas. Tubuhnya terasa panas. "Shitt.."
Berulangkali Liam mengumpat dalam hatinya. Ia bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju kolam renang. Liam menghidupkan rokoknya.
"Bagaimana mungkin hanya melihatnya begitu saja sudah mempengaruhi ku", batin Liam. Padahal Liam sudah sering melihat tubuh wanita telanjang dihadapannya tapi tak satupun yang bisa menguasainya pikirannya seperti sekarang, Raffaella sangat berbeda.
Menit berikutnya Liam kembali kedalam kamar dan bergabung dengan Raffaella. Laki-laki itu berusaha memejamkan matanya. Hingga akhirnya benar-benar tertidur dengan lelapnya sama seperti Raffaella. Entah karena penat atau apa keduanya tidak menyadari keadaan sekitarnya lagi.
*
Raffaella tersenyum ia merasakan begitu nyaman dan hangat. Kedua matanya masih terpejam namun pikirannya setengah sadar. Hanya terdengar gumamnya saja. "Ah, rasanya nyaman sekali".
Menit berikutnya gadis itu merasa ada yang mengusap punggungnya. Raffaella terkejut dan membuka matanya. Dalam gelap yang hanya mengandalkan pantulan cahaya luar kamar membelalakkan matanya. Ketika menyadari dirinya sedang berada dalam dekapan seseorang.
"Apa yang kau lakukan pada ku!", teriak Raffaella melonjak bangun mendudukkan tubuhnya sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
Liam yang masih terlelap, terkejut mendengar teriakan Raffaella. "Ada apa denganmu? mengganggu tidur ku saja".
"Brengsek kau, berani menyentuh ku!", ketus Raffaella memukul wajah Liam dengan bantalnya.
"Hei, hentikan. Aku tidak melakukan apa-apa pada mu", seru Liam mencengkram lengan Raffaella.
"Lihat posisi tidur ku, aku tidur di tempat ku, di bagian ku sendiri. Kau yang sudah melewati tempat tidur mu. Jadi bukan aku yang menyentuh mu tetapi kau yang menyentuh ku", seru Liam.
"Kau ini mengganggu tidur ku saja, hari masih gelap begini", ketus Liam memejamkan kembali matanya.
Raffaella terdiam mendengar balasan menohok Liam padanya. Apa yang di katakan Liam benar adanya. Ialah yang berada ditempat laki-laki itu.
Raffaella mengusap wajahnya. "Saat tidur aku tidak pernah bisa diam pasti bergerak nakal. Uhh, sebaiknya nanti aku minta guling saja sebagai pembatas", batin Raffaella berusaha memejamkan matanya lagi.
...***...
__ADS_1
CHAPTER PANJANG LAGI, JANGAN LUPA VOTE LIKE KOMEN KOPI DAN BUNGA YA π