MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Pemeriksaan dan Peringatan


__ADS_3

Sang menantu menggeleng. “Nggak ada, Ma. Segar semua cabenya.”


“Kalau begitu, ikannya yang kurang segar,” kata Tina menyimpulkan. “Kamu belinya di mana? Jangan di pasar. Lebih baik beli ikan yang masih hidup di supermarket. Mahal sedikit tapi fresh.”


“Iya, Ma. Belinya di supermarket, kok. Masih hidup juga. Terus Aileen minta pegawai supermarket menangkap ikan itu dan membersihkannya. Sam lihat juga waktu itu, Ma.”


Tina masih tak puas mendengar pernyataan Aileen. Dicecarnya terus menantunya itu.


“Terus kapan kamu belinya?”


“Dua hari yang lalu, Ma.”


“Dua hari yang lalu?!” pekik sang mertua kaget. “Itu namanya nggak fresh, Leen. Lain kali kalau beli ikan di supermarket, paling lama dua puluh empat jam kemudian harus dimasak. Biar nggak sakit perut kayak kamu tadi.”


“Baik, Ma,” jawab Aileen dengan sikap menurut. Whatever you say, Mother in Law, batin perempuan itu sebal. Yang penting kebawelanmu segera berhenti. Kepalaku sakit rasanya dicecar banyak pertanyaan olehmu!


“Jangan-jangan anakku tadi juga kamu kasih makan ikan itu ya, Leen?” tuduh Tina sambil mendelik. “Kasihan kalau dia sampai sakit perut di kantor. Jadi nggak bisa fokus kerja.”


“Oh, tadi Sam makan nasi goreng kok, Ma. Kalau sarapan dia kan nggak mau makan berat-berat. Ikan gurami gorengnya Aileen makan siang hari.”


Jawaban menantunya itu membuat hati Tina lega. Syukurlah anakku nggak ikut makan ikan gurami pembawa petaka itu, cetusnya dalam hati. Kalau tidak, dia bisa sakit perut seperti Aileen. Aku nggak rela anak tunggalku yang sudah kubesarkan dengan susah payah jatuh sakit akibat kecerobohan istrinya ini!


“Oya, silakan duduk, Ma. Aileen mau bikinkan minuman dulu. Mama mau minum apa?” tanya sang menantu menawarkan.

__ADS_1


“Nggak usah. Mama minum air mineral ini saja,” jawab Tina datar.


Tangannya meraih gelas air mineral yang ditata rapi di atas meja ruang tamu. Direbahkannya tubuhnya di atas sofa yang empuk. Setelah itu dikeluarkannya sedotan dari dalam bungkus plastik dan ditusukkannya pada permukaan tutup plastik gelas air mineral tersebut. Diteguknya air itu. Lega sekali rasanya membasahi kerongkongannya yang agak kering.


Kemudian pandangannya terarah pada menantunya lagi. Hatinya mulai tenang kembali. Dia lalu berkata, “Mama nggak lama kok di sini, Leen. Cuma mau antarkan gorden-gorden baru buat rumah ini. Coba kamu minta Pak Sopir menurunkannya dari dalam mobil.”


“Baik, Ma.”


Aileen bergegas keluar rumah untuk menemui sopir yang telah memasukkan mobil ke carport rumah. Begitu melihat sosok menantunya tak kelihatan lagi, Tina memanfaatkan kesempatan itu untuk memeriksa kamar yang terletak di lantai bawah tersebut. Yaitu kamar kerja Samuel.


Hmm…, tidak ada yang mencurigakan di kamar ini, batin wanita itu saat berada di dalam ruangan tersebut. Coba aku periksa kamar-kamar di lantai atas. Aku tidak percaya Aileen sakit perut akibat makan ikan goreng buatannya sendiri. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan anak itu.


Ditutupnya pintu kamar kerja Samuel. Lalu dia berjalan menuju tangga. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada meja makan.


Ketika kakinya mulai melangkah menaiki anak tangga, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan wanita itu. “Mama, banyak sekali gordennya. Aileen sampai tidak kuat membawanya. Jadi minta tolong Pak Sopir menaruhnya di atas sofa.”


Kalimat menantunya itu terhenti begitu melihat ibu mertuanya tampak kaget melihatnya. Sikap ibu kandung suaminya itu kelihatan canggung. Aileen sendiri terpaku menyaksikan tamu tak diundangnya itu sudah berdiri di anak tangga pertama.


“Hmm…, Mama mau naik ke atas?” tanyanya kikuk.


Keringat dingin keluar di pelipis perempuan itu. Tenang, Aileen. Tenang, batinnya menenangkan diri sendiri. Mamanya Sam ini tidak akan curiga kalau kamu bersikap biasa-biasa saja.


Tina sendiri mulai dapat menguasai dirinya. Dia memutuskan tidak jadi naik ke lantai dua rumah itu.

__ADS_1


Percuma saja aku naik kalau sudah ada Aileen, gumam wanita itu dalam hati. Aku takkan bebas melakukan pemeriksaan. Lebih baik kuperingatkan saja anak ini supaya tidak berulah macam-macam di rumah anakku. Bagaimanapun juga takkan kubiarkan putra tunggalku disakiti oleh siapapun!


Dengan sikap tenang wanita itu menuruni anak tangga. Dia lalu berjalan mendekati menantunya.


“Maksud Mama mau melihat-lihat barangkali masih ada yang perlu dipermanis lagi di sudut-sudut lantai dua,” kata wanita itu diplomatis. “Kamu dan Sam kan belum berpengalaman dalam menghias rumah. Apa salahnya kalau Mama bantu sedikit-sedikit. Meskipun kalian sudah memakai jasa desainer interior, tapi orangnya kan juga masih muda. Pengalamannya belum sebanyak desainer senior yang sering bantuin Mama.”


Sang menantu manggut-manggut saja. Dia berusaha untuk tersenyum tenang. Pahadal dadanya berdebar-debar. Dia takut mertuanya itu curiga akan tindak-tanduknya kala ditinggal suami pergi  bekerja.


“Mama pulang dulu ya, Leen. Itu gorden-gordennya sudah bersih di-laundry sama tokonya. Nanti Mama WA no HP toko itu supaya kamu bisa bikin janji kapan pegawainya bisa datang kemari untuk memasang gorden di sini. Kan sudah dua bulan ya, gorden di rumah ini belum diganti? Nanti gorden yang lama di-laundry saja di toko itu. Mereka mau, kok. Karena Mama kan langganan tetap. Jadi dikasih pelayanan spesial.”


“Siap, Ma. Terima kasih banyak, sudah repot-repot menguruskan gorden baru buat Aileen,” sahut sang menantu sopan.


Tina menganggukkan kepalanya. Ditepuk-tepuknya bahu menantunya itu pelan.


“Aileen,” ucapnya lembut tapi berwibawa. “Kamu adalah satu-satunya menantu keluarga Manasye. Mama tahu kamu berasal dari keluarga baik-baik. Bisa menjaga sikap dan perilaku sebagai wanita terhormat.”


Kata-kata yang keluar dari mulut mertuanya itu bagaikan belati yang mengoyak-ngoyak segenap sudut sanubari Aileen. Sikapnya menjadi gugup seketika. Dia menundukkan wajahnya. Tak berani bertatapan dengan Tina.


Mertuanya itu lalu melanjutkan ucapannya, “Walaupun perkawinanmu dengan anakku terjadi atas dasar perjodohan, tapi aku bisa melihat dan merasakan bahwa Samuel mulai menaruh hati padamu. Aku jadi merasa tindakan suamiku menjodohkan kalian berdua itu tidak salah. Jadi…jangan sampai perasaanku ini berubah lagi ya, Leen. Cintailah anakku dengan sepenuh hati. Bahagiakanlah dia. Kamu tahu sendiri Sam itu orang yang baik dan berhati lembut….”


Aileen menelan ludah. Dia merasa sedang diberi peringatan oleh ibu mertuanya ini. Sebagai sesama wanita, Tina pasti dapat merasakan bahwa menantunya belum dapat menerima sang suami sepenuhnya.


“Mama dan Papa sudah tidak muda lagi,” lanjut Tina kemudian. “Seperti yang kamu tahu, kami bisa dikata sudah memiliki segala yang diinginkan orang di muka bumi ini. Harta, pasangan hidup, anak, menantu…. Tinggal satu yang sangat kami dambakan dan belum tercapai hingga saat ini. Yaitu….”

__ADS_1


Kata-kata Tina terhenti sejenak. Aileen mengangkat wajahnya. Dilihatnya mata ibu mertuanya itu berkaca-kaca.


__ADS_2