MARRIAGE AGREEMENT

MARRIAGE AGREEMENT
Konseling dengan Psikiater


__ADS_3

Begitu keluar dari ruang ibadah, Aileen berjalan menuju ke kantin. Dia merasa haus dan ingin membeli minuman. Ketika melewati papan pengumuman gereja, perempuan itu berhenti sejenak untuk mengetahui informasi terkini yang berkaitan dengan tempat ibadahnya tersebut.


Tiba-tiba pandangannya terarah pada sebuah poster berwarna biru terang yang berjudul Tips-tips Jitu Menjaga Keharmonisan Pasutri. Judul tersebut membuat Aileen semakin tertarik untuk membaca lebih lanjut. Ternyata poster itu merupakan promosi tentang seminar rumah tangga yang akan diadakan di aula gereja  pada hari Minggu depan. Narasumbernya adalah seorang psikiater yang berpengalaman dalam menangani persoalan-persoalan yang kerap dihadapi pasangan suami-istri.


Aileen menatap foto wajah psikiater tersebut dengan rasa ingin tahu. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahunan dengan rambut pendek sebahu, wajah tirus, dan sorot mata bijaksana. Senyuman yang tersungging dari bibirnya tampak pas. Tidak terlalu lebar namun kelihatan ramah dan menyejukkan hati.


"Barangkali ini jawaban Tuhan atas doaku di dalam ruang ibadah tadi," ujar Aileen pada dirinya sendiri. "Coba kucari info dulu tentang psikiater ini di internet. Aku kok tertarik untuk berkonsultasi dengannya tentang masalah Sam. Semoga dokter ini bisa memberiku masukan yang berharga."


Disimpannya nama psikiater tersebut dalam memori ponselnya. Kemudian istri Samuel itu melanjutkan kembali berjalan menuju ke kantin gereja.


***


Dua hari kemudian Aileen sudah berada di klinik pribadi psikiater yang dilihatnya di poster gereja. Dokter jiwa tersebut rupanya ramah sekali. Dengan sabar diajaknya si pasien bercakap-cakap dengan rileks.


Aileen merasa nyaman sekali berbicara dengan psikiater perempuan setengah baya tersebut. Aura kebijaksanaan memancar dari sikap dokter itu yang tenang dan nada bicaranya yang menenteramkan jiwa.


Lambat-laun Aileen mulai menceritakan kisah hidupnya semasa kecil, remaja, dewasa, hingga menikah. Berlanjut dengan latar belakang pernikahannya yang dijodohkan oleh orang tua kedua belah pihak. Juga perjanjian yang disepakatinya bersama sang suami di awal pernikahan mereka. Hingga hubungan terlarangnya dengan James, diselingkuhi, hamil, sampai dikuret karena janin yang dikandungnya tidak berkembang.


"Hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup saya itu pada akhirnya justru menumbuhkan benih-benih cinta saya pada suami," tutur Aileen kemudian. "Rupaya dia sendiri malah sudah jatuh cinta duluan sama saya, Dok. Saking tidak berani mengungkapkannya. Yah, singkat cerita kami berdua akhirnya sepakat untuk menjalani rumah tangga sungguhan sebagai pasangan suami-istri yang saling mencintai. Sayangnya ada sebuah kendala yang sedikit mengganggu  keharmonisan hubungan kami, yaitu...."

__ADS_1


Tanpa malu-malu, istri Samuel itu mengutarakan gangguan impotensi yang dialami suaminya. Sikap psikiater di hadapannya tampak lebih perhatian lagi sekarang. Dokter jiwa tersebut menanyakan hal-ikhwal penyebab Samuel mengalami gangguan itu.


Aileen lalu mengungkapkan trauma yang dialami suaminya di masa lalu. Juga tentang upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini untuk menyembuhkan lemah syahwaat yang dialami Samuel.


"Jadi begitulah, Dok," kata perempuan itu mengakhiri kisahnya. "Terus terang saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Menerima keadaan suami saya apa adanya kok rasanya terlalu pasrah. Ada sebuah perasaan yang mengganjal dalam hati ini. Bahwa sebenarnya suami saya bisa pulih asalkan kami berdua berusaha seoptimal mungkin. Lalu saya berdoa dengan sungguh-sungguh di gereja. Memohon hikmat Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap kondisi suami saya. Sesudah berdoa, saya membaca poster iklan seminar pasutri yang mendatangkan Dokter sebagai narasumber. Entah kenapa hati ini langsung tergerak untuk berkonsultasi dengan Dokter."


Psikiater tersebut tersenyum mendengar kalimat terakhir pasien barunya ini. Dia lalu mempersilakan Aileen untuk meminum air mineral yang tersedia di atas meja agar merasa lebih tenang. Si pasien menurut. Setelah menyeruput air mineral dalam gelas dengan sedotan, hati istri Samuel itu terasa lebih tenteram.


Selanjutnya dokter jiwa itu menanyakan kenapa Aileen datang sendirian. Alangkah lebih baik jika suaminya diajaknya juga untuk berkonsultasi. Karena dialah yang sebenarnya mengalami gangguan yang perlu ditangani.


"Suami saya sudah pernah menjalani terapi dengan dokter spesialis andrologi dan psikiater setelah kejadian itu, Dok. Di Ohio, Amerika Serikat," jawab Aileen terus terang. "Tapi karena upayanya itu lama tak membuahkan hasil, dia akhirnya tak mau menjalani terapi semacam itu lagi di manapun juga. Jadi saya sekarang diam-diam datang ke sini tanpa sepengetahuannya. Saya pribadi percaya bahwa dengan bantuan tenaga profesional, peluang suami saya untuk pulih jauh lebih besar dibanding jika saya yang amatir ini berupaya sendiri...."


Dokter tersebut manggut-manggut setuju. Dia senang pasien barunya ini bersikap terbuka dan sungguh-sungguh berniat memulihkan kondisi pria yang dicintainya.


Dia menyukai pasiennya ini. Orangnya terbuka dan serius mencari solusi yang terbaik bagi keharmonisan rumah tangganya. Tuhan biasanya memberkati orang-orang seperti ini, cetus wanita itu dalam hati. Aku hanyalah sarana yang dipakaiNya untuk mewujudkan hal itu.


Selanjutnya psikiater yang telah banyak makan asam-garam kehidupan itu mulai memberi masukan pada Aileen untuk menghadapi persoalan rumah tangganya dengan bijak.


***

__ADS_1


Satu setengah jam setelah konseling dengan psikiater, Aileen merasa beban di hatinya berkurang banyak. "Ternyata curhat dengan orang yang profesional di bidangnya itu banyak membantu memulihkan kondisi hati," katanya ceria. "Meskipun aku belum mendapatkan solusi untuk menyembuhkan Sam, tapi setidaknya perasaanku menjadi jauh lebih ringan sekarang."


Terngiang-ngiang dalam benak perempuan itu petuah dokter jiwa tadi, "Anda terobsesi mencari kesembuhan bagi suami. Akibatnya kesehatan psikis Anda sendiri agak terabaikan. Sekarang waktunya untuk menebus hal itu. Beristirahatlah sejenak dari aktivitas mencari pengobatan alternatif buat suami Anda. Obatilah dulu psikis Anda, Bu Aileen. Berjalan-jalan ke mal, makan enak, membaca atau menulis sesuatu, dan lain sebagainya sesuai kegemaran Anda. Siapa tahu inspirasi justru datang di momen-momen Anda sedang membahagiakan diri sendiri."


Aileen manggut-manggut saja waktu itu. Dan sekarang dia bermaksud mengikuti saran psikiater tersebut.


"Nge-mal aja deh, sekarang," kata Aileen pada dirinya sendiri. "Sudah lama juga aku nggak me time. Makan cheese cake dan minum coklat panas di kafe kue favoritku. Hmm..., yummy!"


Dengan penuh semangat istri Samuel itu lalu menyetir mobilnya menuju ke mal tempat kafe kue favoritnya berada.


***


Siang itu Aileen menghabiskan waktunya dengan bersantai di kafe kue kegemarannya. Disantapnya sepotong classic cheese cake  dengan lahap. Minuman coklat panas yang diteguknya pelan-pelan terasa nikmat sekali melewati lidah dan tenggorokannya.


"Ah, ini nih, yang namanya hidup nyaman. Hmmm..., nambah kue lagi, ah. Rasanya aku sanggup melahap dua potong cake lagi. Hehehe...."


Benar juga. Tak lama kemudian sepotong Japanese cotton cake dan red velvet cake sudah habis tak tersisa di atas piringnya. Perempuan itu menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan. Ekspresi wajahnya tampak puas sekali. Benar-benar me time yang menyenangkan, batinnya bahagia.


Setelah puas menghabiskan waktu di toko kue tersebut, Aileen lalu berjalan-jalan mengelilingi mal. Saat naik eskalator perempuan itu baru menyadari sesuatu.

__ADS_1


Ya ampun, restoran masakan Jawa punya om-nya James kan berada di lantai ini, cetusnya dalam hati. Aduh, malas aku kalau tiba-tiba ketemu James waktu melewati resto itu!


Tapi sudah terlambat. Dia sudah telanjur berada di tengah-tengah tangga berjalan itu. Kalau mau naik atau turun satu lantai lagi, dirinya mesti berjalan beberapa ratus meter lagi jauhnya dan tetap melewati restoran tempat James bekerja.


__ADS_2