
Satu bulan kemudian...
Lethicia memangku Darien putra bungsunya, ia sedang menyu*uinya. Tampak bayi mungil itu dengan lahapnya menyedot pu*ing Lethicia. Sementara Danilo tertidur pulas di dalam box bayi khusus untuknya dan saudara kembarnya.
Terdengar suara Alvaro di depan pintu kamar Danilo-Darien sedang berbicara dengan pelayan, mencari keberadaan istrinya.
Semenjak ada Danilo-Darien, Alvaro merubah jam pulang kerjanya menjadi pukul empat sore, hot daddy itu tidak bisa berlama-lama berjauhan dengan kedua putra kembarnya dan istrinya.
Ceklek.. Alvaro membuka pintu kamar Danilo-Darien. Wajah tampan itu tersenyum melihat istrinya sedang men*usui putra bungsunya Darien.
"HM...boy, sekarang daddy ada saingan di sana", ucap Alvaro mendekati istrinya. Mengecup lembut pucuk kepala Lethicia dan juga menundukkan kepalanya mencium pipi Darien yang terlihat semakin berisi.
Lethicia mengusap lembut wajah Alvaro. "Apa kau selalu merindukan anak-anak mu sayang? Kau selalu pulang cepat semenjak ada Danilo-Darien", ucap Lethicia.
Alvaro yang masih menciumi pipi Danilo mengangkat wajahnya menatap lekat Lethicia. "Tentu saja. Aku juga merindukan mommy nya", bisik Alvaro sambil mencium lembut bibir Lethicia yang terbuka.
"Aku akan menidurkan Darien ke tempat tidurnya. Kemudian kita kekamar", ucap Lethicia.
Alvaro menghentikan ciumannya. Ia membantu Lethicia ketika berdiri dari kursi. Perlahan membawa Darien kedalam box yang bersebelahan dengan box Danilo. Alvaro membuka tirai box Danilo, ia memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Terimakasih sayang, kau memberiku dua putra tampan Danilo-Darien. Kehidupan ku menjadi lebih sempurna. Aku sangat bahagia", bisik Alvaro sambil mengecup lembut leher Lethicia.
"Anak-anak kita sudah tertidur, perutnya juga sudah kenyang. Sekarang ayo kita kekamar", ucap Lethicia sambil menutup kembali tirai berwarna putih pada box anak-anaknya.
Lethicia menarik tangan Alvaro masuk ke kamar mereka yang terhubung langsung dengan kamar putranya. Hanya pintu penghubung sebagai sekat antara kamar itu.
Di dalam kamar Lethicia membingkai wajah suaminya dan mencium bibir Alvaro dengan lembut. Sementara jemari-jemari tangannya melepaskan jas kerja Alvaro.
Berikutnya jemari lentik itu membuka sabuk celana kerja Alvaro hingga teronggok di lantai.
Alvaro membalas buaian Lethicia. Perlahan ia mendorong tubuh istrinya duduk di tepian tempat tidur. Alvaro menundukkan kepalanya memperdalam ciumannya. Menyusuri rongga mulut Lethicia yang manis seperti Cherry.
Jemari Lethicia menurunkan boxer penutup milik Alvaro yang sudah terlihat sesak di dalamnya. Setelah berhasil menurunkan boxer berwarna hitam itu, milik Alvaro berdiri tegak tepat dihadapan nya.
Tanpa ragu Lethicia menyentuhnya. Mengusap dan menjilati hingga mengulum milik suaminya itu. Hal yang sering Lethicia lakukan selama suaminya belum bisa memasuki tubuhnya. Tentu saja Lethicia tetap ingin memuaskan Alvaro bagaimanapun caranya. Ia tidak mau kebutuhan biologis suaminya terabaikan setelah kehadiran anak kembar mereka yang akan mempengaruhi keharmonisan mereka kelak.
Bagi Alvaro Lethicia adalah wanita segalanya dalam hidupnya. Selain ia sudah membuat hidupnya bahagia dengan memberikan Danilo-Darien, Lethicia masih memikirkan kepuasan suaminya walaupun tidak di pinta.
*
__ADS_1
Moreno menjemput istrinya Audri di galeri. Moreno ingin mengajak Audri kontrol ke dokter karena sudah beberapa hari ini setiap bangun tidur istrinya itu selalu mendorong jauh tubuh Moreno darinya.
Audri juga menjadi lebih emosian. Ia tiba-tiba tidak mau Moreno sentuh, ia bilang tidak menyukai parfum yang biasa Moreno pakai. Katanya membuat perutnya mual mencium aroma tubuh Moreno juga membuatnya mual. Yang berakhir menimbulkan pertengkaran hebat antara keduanya kemarin pagi.
Tingkah berlebihan Audri benar-benar Membuat Moreno marah besar pada istrinya kemarin. Hingga Moreno membanting pintu kamar dan meninggalkan apartemen mereka dengan perasaan kesal. Moreno mengatakan istrinya itu kekanak-kanakan dan mencari-cari masalah padanya.
Karena yang Moreno tahu selama ini Audri sangat menyukai aroma tubuhnya. Dari beberapa hari yang lalu Moreno mengajak istrinya untuk kontrol ke dokter, tapi bukannya setuju dengan ide suaminya.. Audri malah marah-marah. Katanya ia tidak sakit dan baik-baik saja.
Puncaknya pagi tadi, Audri berulah lagi membuat Moreno habis kesabarannya. Pergi kekantor dengan perasaan dongkol pada istrinya. Bahkan Moreno berencana akan bermalam di kantornya saja hari ini, karena masih kesal dengan istrinya.
Namun beberapa saat yang lalu tiba-tiba Audri menelponnya dan mengatakan mau ke dokter bersama Moreno. Akhirnya sekarang Moreno menjemput istrinya di galeri.
Saat mobil yang di kendarai sendiri oleh Moreno melaju membelah jalanan kota Barcelona tak satu di antara keduanya memulai pembicaraan.
Audri merasakan Moreno masih kesal kepadanya, seperti pagi tadi. Audri menundukkan kepalanya sambil meremas jemari tangannya. Moreno melihat tingkah istrinya itu.
Moreno menggenggam tangan Audri. "Ada apa denganmu, hem?".
"Aku tidak tahu Reno, ada apa dengan diri ku. Tiba-tiba aku membenci mu. Aku tidak mau kau sentuh, aku juga tidak mau mencium aroma tubuh mu. Membuat ku tiba-tiba mual", ucap Audri dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
"Kita akan segera mengetahuinya", jawab Moreno sambil mengusap lembut wajah istrinya.
"T-Tapi aku sudah menyakiti mu, Reno. Aku seharian ini berpikir di kantor ku. Aku benar-benar menyakiti mu. Maafkan aku", ucap Audri lagi sambil menatap suaminya yang tetap fokus mengendarai mobilnya.
*
Moreno bertanya dengan petugas resepsionis, ia menjelaskan kondisi istrinya. Wanita yang bertugas itu menyarankan pada Moreno memeriksakan Audri ke dokter kandungan saja. "Melihat dari ciri-cirinya sepertinya istri tuan sedang hamil".
Perkataan petugas itu membuat Moreno kaget. Ia menolehkan kepalanya pada istrinya yang sedang berbincang dengan salah satu ibu hamil yang duduk di sampingnya. "Oh my God, kenapa aku tidak memikirkan hal itu", batin Moreno.
Ia segera menemui istrinya dan mengajaknya memeriksakan diri ke dokter kandungan yang ada di salah satu rumah sakit mewah itu.
Audri terkejut begitu mengetahui Moreno mengajaknya ke dokter kandungan. "Sayang kenapa kau mengajak ku ke dokter kandungan. Bukannya sebaiknya aku ke Psikiater atau ke dokter internis saja karena emosi ku tidak bisa terkendali", ucap Audri merasa aneh.
Namun Audri tidak mau membuat Moreno marah lagi, ia menuruti suaminya itu kali ini. Karena Audri merasakan sudah melakukan kesalahan beberapa hari ini pada suaminya.
*
"Selamat sore tuan-nona, apa yang bisa saya bantu?", tanya dokter paruh baya bernama dokter Casandra dengan ramah pada Audri dan Moreno.
__ADS_1
Moreno menjelaskan kondisi istrinya beberapa hari ini dengan mendetail.
"Kapan terakhir kali, nona mendapatkan menstruasi?", tanya dokter Casandra pada Audri.
Audri melihat jam tangannya. "Oh Tuhan, kenapa aku bisa melupakan hal ini", lirihnya sambil menatap suaminya.
"Terakhir aku mendapatkan mentruasi awal bulan kemarin dok. Dan..bulan ini aku belum mendapatkannya. Sudah terlambat dua minggu", jawab Audri pelan.
Huhhh... Moreno menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya.
Terlihat dokter Casandra tersenyum mendengarnya. "Baiklah sekarang kita periksa dulu untuk memastikan kondisi nona", ucap dokter.
Seorang perawat membantu Audri merebahkan tubuhnya di ranjang pasien.
Dokter Casandra memberikan gel di perut bagian bawah Audri. Audri merasa perutnya sedikit di tekan.
Beberapa saat kemudian, terlihat dokter Casandra tersenyum. "Selamat tuan, istri anda hamil. Dan usia kehamilan nona Audri sudah enam minggu", ucap dokter Casandra.
Mendengar perkataan dokter membuat Moreno segera beranjak dari kursinya dan mendekatkan wajahnya pada monitor.
Dokter menjelaskan dengan mendetail untuk menjawab keingintahuan Moreno.
Sementara kedua mata Audri menghangat karena haru. "Aku hamil. Maafkan mama nak sudah lalai tidak menyadari kehadiran mu di perut mama", batin Audri sambil menatap Moreno yang masih bertanya-tanya dengan dokter.
"Sayang kau dengar itu, kita akan segera memiliki anak sayang", ujar Moreno bahagia
Audri yang masih duduk di atas ranjang pasien, menganggukkan kepalanya pelan. "Iya sayang", ucapnya pelan.
Moreno semakin bahagia kala dokter Casandra mendengarkan detak jantung anak mereka.
Setelah di dalam mobil. Moreno tak henti menggengam erat jemari tangan Audri. "Maafkan aku pagi tadi begitu emosi pada mu sayang. Aku benar-benar tidak tahu ternyata kau sedang hamil".
Audri memeluk lengan suaminya. "Seharusnya aku yang meminta maaf pada mu, karena aku sudah lalai dengan siklus ku. Maafkan aku karena membuatmu kesal dan menolak mu beberapa hari ini sayang", ujar Audri pelan sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Moreno.
"Aku mencintaimu dan calon anak kita sayang, kau harus menjaganya untuk ku".
Tentu saja aku akan menjaga kandungan ku sayang, jangan pernah ragukan itu. Aku juga sudah sangat menginginkan anak kita, Reno".
...***...
__ADS_1
LAMA UP KARENA BINGUNG MILIH NAMA SPANYOL π
ALLETHI...ADA YANG TAHU ARTINYA?